
"Aku gak bisa membayangkan, jika sampai aku kehilangan anak kita." Cici meneduhkan pandangannya ke arah Haris dengan mata berkaca kaca."Padahal aku sudah berusaha berdamai dengan kenyataan. Menerima dia menjadi maduku, mengingat sebelumnya kami adalah teman. Tapi dia...." Cici menangis terisak, tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Melihat Cici menangis, Haris pun meletakkan piring di tangannya di atas meja nakas, kemudian menarik tubuh Cici ke dalam pelukannya dan mengusap usap lembut rambut wanita itu.
"Ssst!, dia tidak akan berani menyakiti kamu lagi" ucap Haris.
"Ini semua salahku, seharusnya aku tidak membohongimu sebelum kita menikah" ucap Cici di dalam isak tangisnya." Tapi aku sangat mencintaimu Haris, aku ingin bisa hidup bersama mu. Meski aku harus hidup di madu sekali pun."
"Aku juga minta maaf. Seharusnya malam itu aku bertanya baik baik sama kamu, kenapa sampai kamu tidak suci lagi. Seharusnya juga malam itu aku gak ninggalin kamu di kamar pengantin kita" balas Haris, seperti sudah menyesali apa yang sudah terjadi diantara nya dan Widuri malam itu.
Cici yang berada di dalam pelukan Haris, mengulas senyumnya atas kemenangannya memperebutkan hati Haris. Cici yakin setelah ini, Widuri akan di ceraikan setelah melahirkan. Haris tidak akan pernah lagi menyentuh Widuri.
'Untung di dalam toilet karyawan itu tidak ada cctv. Dan cctv di luar toilet sedang rusak, sehingga aku bisa membohongi Haris, kalau akulah yang menyerang Widuri duluan. Pas saat aku menampar Widuri, juga di toilet itu sudah tidak ada orang' batin Cici.
Sebenarnya tadi dia hanya mengalami sedikit keram perut, hanya saja Cici memanfaatkan itu untuk membuat nama baik Widuri rusak. Dan Cici berhasi, dengan melakukan kebohongan kepada Haris. Mengatakan jika Widuri ingin menghabisi bayi nya di toilet karyawan itu, Karena mengetahuinya hamil. Widuri tidak ingin Cici mengandung anak Haris, supaya harta Haris semuanya jatuh ke tangan anak yang di lahirkan Widuri.
"Tapi Haris, kasihan Widuri. Biarkan dia tetap tinggal di sini. Dan aku tinggal di rumah orang tuaku aja" ucap Cici menghentikan tangisnya." Biar bagaimana pun, anak di dalam kandungannya adalah anakmu, bayi itu juga butuh perhatian dari kamu."
"Jangan memikirkannya, biar Widuri menjadi urusanku. Lebih baik kamu fokus untuk memikirkan bayi kita ini" ujar Haris sambil tangannya mengelus perut Cici.
'Kenapa kamu seperti itu, Wid?. Padahal aku sangat mencintaimu. Kamu bukan seperti Widuri yang ku kenal lagi, Wid. Wanita yang memiliki baik, dan sangat peduli sama orang lain' batin Haris kecewa.
'Maaf, Wid. Aku harus melepasmu setelah bayi kita lahir. Aku gak bisa menerima wanita yang bisa bertindak kasar, Wid' batin Haris lagi. Meski berat hati untuk melepas Widuri, tapi Haris tidak bisa memberi toleransi kepada Widuri yang bisa melakukan tindak kekerasan.
**
Tok tok tok!
__ADS_1
Widuri yang masih berbaring di atas kasur, mengerutkan keningnya mendengar pintu rumah yang di tempati nya di ketok dari luar.
'Siapa?' batin Widuri mendudukkan tubuhnya dan turun dari atas tempat tidur melangkahkan kakinya untuk membuka pintu rumah itu.
'Pak Haris' batin Widuri saat membuka pintu rumah itu, Widuri melihat Haris berdiri di depan pintu dengan gaya kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana. Pria itu memandangnya dengan wajah tanpa ekspresi sama sekali.
"Ada yang perlu saya bicarakan" ucap Haris melangkahkan kakinya masuk tanpa perlu meminta ijin pada Widuri.
"Silahkan!" balas Widuri masih berdiri di dekat pintu.
Haris mengeluarkan sebuah kartu dari saku celananya, lalu meletakkannya di atas meja sofa.
"Di dalam kartu itu, ada uang untuk biaya hidupmu sampai kamu melahirkan. Dan di dalamnya juga saya tambahkan uang ganti rugi yang sudah merenggut kesucian mu. Dan uang tambahan sebagai permintaan maaf ku. Dan ada juga uang sebagai ucapan trimakasih ku karena kamu mau mempertahankan anak itu sampai lahir" ucap Haris tanpa melepas netranya dari wajah Widuri yang mengeraskan rahangnya.
"Setelah anak itu lahir, anak itu menjadi hak milik ku sepenuhnya. Jangan mencoba coba membawanya kabur" ancam Haris.
"Aku gak butuh uang Mu, dan pergi dari sini!" geram Widuri tidak segan mengusir Haris.
"Cih! bagaimana dengan Anda, Ibu Anda dan istri tercinta Anda?. Apa kalian sudah termasuk orang yang baik?. Sepertinya Anda sedang lupa ingatan, Tuan." Widuri berdecih mengejek Harus yang telah menghinanya.
"Tapi sudah lah, saya rasa, saya tidak perlu mengatakan satu persatu keburukan orang, untuk mendapat penilaian yang baik dari orang lain. Cukup saya tau, siapa Anda, Ibu Anda, dan Istri Anda" ucap Widuri lagi.
"Apa maksud mu?" Haris tidak terima mendengar perkataan Widuri. Bukankah wanita itu yang sudah menyakiti istri dan bayi nya. Kenapa seolah olah Widuri tidak terima di tuduh bersalah.
"Maksudku.... cepat pergi dari sini. Perutku mual jika berlama lama melihat muka Anda" jawab Widuri, kemudian mendekati Haris, mendorong pria itu keluar rumah, dan langsung menutup pintunya dan menguncinya rapat rapat.
"Aku tidak akan memaafkan mu seumur hidupku Pak Haris!" teriak Widuri sambil menangis di balik pintu itu.
__ADS_1
Haris yang masih berada di depan pintu pun terdiam. Mendengar Widuri berteriak sambil menangis pilu.
'Ada apa dengannya?' batin Haris, tidak sadar dengan kata katanya tadi yang sudah menyakiti hati Widuri sesakit sakitnya.
Tak ingin hatinya goyah untuk melepas Widuri karena mendengar wanita itu menangis, Haris pun segera meninggalkan tempat itu, kembali ke rumahnya.
"Kenapa aku yang jadi bersalah?. Kenapa aku aku harus menanggung penderitaan ini?. Padahal aku tidak melakukan kesalahan kepada mereka" ucap Widuri lirih.
Widuri pun kembali ke dalam kamar, membaringkan tubuhnya di atas kasur. Mumpung hari ini hari Minggu, Widuri memanfaatkannya untuk istirahat lebih banyak.
**
Oek oek oek!
Widuri yang baru bangun pagi, langsung memuntahkan isi perutnya di kamar mandi rumah itu. Setiap hari Widuri selalu mengalami muntah setiap bangun tidur. Dan untuknya keadaannya akan membaik setelah itu. Mungkin bayi di dalam kandungannya mengerti dengan keadaannya, yang hamil tanpa ada suami yang perhatian.
Setelah selesai memuntahkan isi perutnya, Widuri pun langsung mandi. Karena pagi ini ia harus berangkat kerja seperti biasanya.
"Wid! kamu udah sampai?" Widuri yang sudah duduk di kursi kerjanya menoleh ke arah wanita yang berjalan ke arahnya itu.
"Baru" jawab Widuri terus berusaha mengulas senyumnya.
"Ini aku bawain kamu sarapan sehat untuk dedek bayi nya" ujar Marya, meletakkan sebuah kotak makan di atas meja Widuri.
"Pasti kamu bawain sayuran. Aku gak mau" tolak Widuri memasang wajah cemberut. Dalam keadaan hamil begini, hanya kepada Marya lah dia bisa bermanja dan meminta perhatian.
"Itu telor dadar tanpa kuningnya. Terus di kasih bayam sama irisan wortel" ucap Marya. Semenjak hamil Widuri tidak menyukai kuning telor. Jadi dia makan putihnya aja." Ada nasi goreng tanpa bawang putih juga" tambah Marya.
__ADS_1
"Trimakasih!" balas Widuri wajahnya nampak ceria mendengar nasi goreng.
*Bersambung