Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Tidak memberimu ampun


__ADS_3

"Menerimaku kamu bilang?" Widuri berbicara merapatkan gigi giginya. Jika saja Cici tidak dalam keadaan tak berdaya. Sudah pasti Widuri melempar wanita itu keluar dari dalam mobil." Asal kamu tau, aku yang tidak menerima kamu sebagai istri pertama Pak Haris" lanjut Widuri tersenyum mengejek.


"Aaa!!" Cici menjerit kuat saat merasakan sesuatu keluar dari dalam rahimnya."Ya Tuhan! ini sakit banget hiks hiks hiks. Sepertinya anakku keluar. Tidak!!! aku gak mau kehilangan anakku. Haris! anak kita, maafkan aku, aku gagal menjaganya dengan baik. Ini semua gara gara Widuri." Cici terus berbicara berteriak teriak dan meraung raung.


"Kak Wid" Nala menggigil dan menelan air ludahnya dengan susah saat melihat sesuatu di selah kaki Cici.


Begitu juga dengan Widuri yang masih memangku kepala Cici. Kepalanya terasa pusing dan rasanya ingin pingsan.


"Dasar kamu biadap, Ci" lirih Widuri.


Sampai di rumah sakit, Haris langsung menghentikan laju kendaraannya tepat di depan ruang UGD. Turun dari dalam mobil, bergegas Haris membuka pintu penumpang belakang mobilnya dan memerintahkan perawat yang menunggu mereka untuk mengurus Cici. Dan Haris langsung menghampiri Widuri yang terlihat tegang dan wajahnya pucat.


"Tenanglah" ucap Haris membantu Widuri keluar dari dalam mobil dan langsung memeluk wanita itu, mengusap usap kepalanya.


"Aku takut" gumam Widuri. Jelas Widuri ketakutan dengan apa yang sudah di lihatnya. Apa lagi saat ini Widuri sedang hamil, membuat pikirannya kemana mana.


"Ada aku, jangan takut."


"Ada apa? Apa yang terjadi?."


Suara Kanzo berhasil mengalihkan pandangan Haris dan Widuri. Tanpa mengurai pelukannya, Haris membawa Widuri masuk ke dalam gedung rumah sakit.


"Cici keguguran. Aku belum tau penyebabnya. Bantu aku Zo. Widuri lagi membutuhkan ku sekarang" ujar Haris pada Kanzo yang mengikuti langkahnya.


Kanzo menepuk pelan pundak Haris, lalu berbicara." Bawa istrimu keruangan Marya. Biar aku yang mengurus masalah Cici."


"Trimakasih" Haris mengulas senyumnya pada Kanzo.


"Kamu adalah Adikku" balas Kanzo.


Haris mendengus lantas meninggalkan Kanzo di lorong rumah sakit itu. Tanpa mengingat Nala yang masih berada di dalam mobil dengan keadaan tak sadarkan diri.


"Pak Haris, Nala mana?" tanya Widuri yang tiba saja mengingat adiknya itu.

__ADS_1


Haris yang di tanya menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang untuk mencari Nala. Namun di lorong rumah sakit itu tidak ada wanita yang berwajah mirip dengan istrinya itu.


"Kemana dia?" gumam Haris.


"Apa dia gak ikut turun dari mobil?."Meski Adiknya itu sudah besar dan dewasa. Sebagai seorang Kakak, tetap aja Widuri khawatir karena tidak melihat Nala. Apa lagi sekarang ini Nala berada di tempat yang baru.


"Aku akan mengantarmu ke ruangan Nona Marya. Baru aku akan mencarinya" ujar Haris membawa Widuri masuk ke dalam lif.


**


Ceklek


Marya yang sedang berbaring di atas brankar langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka. Marya mengerutkan keningnya melihat wajah pucat Widuri yang masuk bersama Haris.


"Wid, kamu kenapa? Kamu sakit?" cerca Marya sambil berusaha mendudukkan tubuhnya.


"Dia sedang shok melihat Cici keguguran" jawab Haris sambil menuntun Widuri ke arah sofa di ruangan itu dan membantunya duduk.


"Cici keguguran?" ulang Marya.


Melihat laptop milik Kanzo di atas meja sofa. Haris langsung membuka laptop itu dan menghidupkan layarnya untuk melihat rekaman cctv di kamar Cici dan rumahnya.


Di dalam kamar, nampak Cici sedang menghubungi seseorang lewat telephon, tak lain adalah salah satu pembantu rumah itu. Meminta pembantu itu mengantarkan air minum ke dalam kamar. Dan tak lama kemudian pembantu itu datang membawa teko berisi air dan satu gelas di atas nampan. Namun yang menjadi kecurigaan Haris, pembantu itu memberikan sebuah botol obat kepada Cici, dan Cici langsung membuka botol obat itu dan mengkonsumsinya.


"Obat apa yang di minumnya?. Apa dia sengaja menggugurkan kandungannya?" gumam Haris. Seketika jantung Haris berdenyut, berpikir bagaimana jika janin yang di bunuh Cici itu adalah miliknya.


'Aku tidak akan memberimu ampun, Ci. Jika benar bayi itu milikku.'


Haris mengeraskan rahangnya sembari membatin.


Setelah pembantu itu keluar dari dalam kamar yang di tempati Cici. Haris pun memantau cctv di ruangan lain rumah itu. Terutama tempat Cici terjatuh.


Haris mengerutkan keningnya saat melihat seorang pembantu menumpahkan minyak di lantai. Dan Cici yang merasakan perutnya mulai sakit, terlihat mondar mandir di ruang keluarga rumah itu, kemudian sengaja menginjak lantai yang sudah ditumpahi minyak goreng.

__ADS_1


"Kau memang Iblis, Ci. Aku sudah tertipu dengan sikap ramah dan lemah lembut mu selama ini." Selama ini Cici sangat pintar mengambil hatinya dengan segala sikap Cici yang selalu lemah lembut dan mengalah di depannya. Tapi ternyata itu semua adalah tipuan Cici.


Haris pun menghubungi seseorang lewat telephon genggamnya. Meminta orang itu untuk memproses Cici ke jalur hukum. Perbuatan Cici sudah tidak bisa diberi toleransi lagi.


**


Di ruang IGD, Cici sudah selesai di tangani Dokter. Dua orang petugas dari pihak berwajib langsung masuk ke ruangan itu. Cici yang melihatnya langsung panik tapi tidak bisa melakukan apa apa karena tubuhnya masih lemah.


"Ibu Cicilia Calestra, kami mendapat laporan dari Pak Haris, kalau Ibu sengaja menggugurkan Janin Ibu" ujar polisi itu menunjukkan surat panggilan polisi kepada Cici.


Cici menggeleng gelengkan kepalanya dan perlahan mengeluarkan air matanya sebagai jawaban kalau tuduhan polisi barusan tidak benar. Perlahan Isak tangis Cici pun terdengar.


"Aku baru kehilangan bayi ku. Kenapa kalian malah menuduhku menggugurkannya?. Padahal aku sangat menyayangi bayiku itu. Aku sedang dalam keadaan berduka seperti ini, malah kalian memfitnahku. Ya Tuhan, cobaan apa ini?" ucap Cici di dalam tangisnya.


'Sial, kenapa Haris bisa tau kalau aku sengaja menggugurkan bayiku?. Aku harus bisa kabur dari sini' batin Cici.


Kedua polisi itu pun saling berpandangan, sama sama mengagumi kemampuan akting wanita itu begitu natural. Tidak terlihat sama sekali kalau dibuat buat. Tapi karena semua bukti sudah ada di tangan mereka, kedua polisi itu sudah tidak bisa di tipu lagi.


"Kami hanya menjalankan tugas. Nanti bisa Anda jelaskan di kantor setelah kesehatan Anda pulih Nyonya. Dan kamu akan mengawasi Anda di sini selama dua puluh empat jam" ucap polisi wanita itu.


Tangis Cici semakin pecah, perlahan bola matanya berputar ke atas dan matanya pun tertutup.


'Lebih baik aku pura pura pingsan, menunggu kedua polisi sialan itu lengah. Aku gak mau sampai masuk penjara. Tidak tidak tidak. Awas kamu Wid. Ini semua gara gara kamu. Aku yakin, kamu sudah menghasut Haris untuk menyingkirkan ku' batin Cici.


Dokter yang masih berada di ruangan itu, pun langsung memeriksa keadaan Cici. Tentu Dokter itu tau kalau Cici sedang pura pura pingsan.


"Dia hanya pingsan" Dokter itu mengerlingkan mata ke arah dua polisi itu sembari tersenyum.


"Kalau begitu kami akan berjaga di luar Pak Dokter" pamit Polisi itu dan segera melangkah keluar dari ruang Instalasi gawat darurat itu.


Mendengar kedua polisi itu keluar dari ruangan itu. Cici langsung membuka matanya.


"Aku gak mau tau, kamu harus berhasil membuatku kabur dari sini."

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2