
'Aduh! kemana jatuhnya?.'
Widuri membatin sambil mencari cari benda pipih itu di lantai kamar mandi.
"Kak! udah gak tahan nih!" seru Nala dari luar kamar mandi.
"Iya iya!" balas Widuri, menghela napasnya lalu membuka pintu kamar mandi itu. Nala yang kebelet langsung menerobos masuk.
Sedangkan Widuri yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi menggigit gigit ujung kukunya, gelisah. Sampai tak sadar, Nala sudah selesai dari dalam kamar mandi.
"Kak Wid, kok masih di sini?." Nala mengerutkan keningnya, heran.
"oh A- a itu, Kakak sakit perut lagi" gugub Widuri karena kaget dan langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.
'Kak Widuri kenapa?.' Nala membatin sambil melangkahkan kakinya menjauhi pintu kamar mandi itu.
Widuri yang sudah berada di dalam kamar mandi menarik napasnya dan menghembuskan nya kasar. Kemudian mencari benda pipih bergaris dua itu. Jangan sampai ada yang menemukannya, itu artinya Widuri harus siap menghadapi kemarahan orang tuanya. Namun sudah lelah Widuri mencari, benda pipih itu tidak di temukan ya juga. Akhirnya Widuri pasrah dan berdoa, semoga tidak ada yang menemukan benda pipih itu.
Namun, ternyata nasib malang sedang berpihak pada Widuri.
"Widuri ! Nala !, cepat kalian berdua kemari!."
"Iya Ma! ada apa?" sahut Nala dari dalam kamarnya dan langsung keluar dari kamarnya.
Sedangkan Widuri yang berada di dalam kamarnya, terdiam, membeku duduk di atas tempat tidurnya. Mendengar suara keras Ibu nya memanggil, Widuri menjadi takut sendiri.
"Widuri!" panggil wanita paru baya itu lagi dari ruang tamu. Suara Ibunya terdengar sedang menahan amarah.
"Iya Ma!" sahut Widuri bergegas turun dari atas tempat tidur. Kalau suara Ibunya sudah besar seperti itu, sudah tidak ada lagi yang berani berkutik di rumah itu. Ibu Widuri dari dulu sangat galak, bahkan mau memukul kalau mereka nakal atau melakukan kesalahan.
Ibunya adalah seorang guru SD, wajar saja sih bawaannya marah terus. Karena setiap hari harus menghadapi murid murid yang bandel di sekolah.
"Ada apa Ma?" tanya Widuri setelah keluar dari dalam kamarnya, merubah raut wajahnya serileks mungkin.
"Milik siapa ini?."
Widuri dan Nala yang berdiri di depan wanita paru baya bernama Ratna Anjani itu, langsung menoleh ke arah tangan wanita itu.
"Milik siapa ini?." Ibu Ratna mengangkat benda kecil itu ke atas sejajar dengan wajah Widuri dan Nala.
__ADS_1
"Aku gak tau, Ma. Emang itu apa?" tanya Nala polos.
Pandangan Ibu Ratna pun langsung beralih ke arah Widuri yang menunduk. Menatap putri surungnya itu dengan mata memicing.
"Widuri !"
Tanpa sadar Widuri terlonjak karena kaget mendengar suara keras Ibunya memanggil namanya. Widuri pun menelan air ludahnya bersusah payah.
"Apa nama benda ini?" tanya Ibu Ratna menatap putrinya itu horor.
"Mama sudah tua, dan selama ini Mama memakai pengaman, gak mungkin rasanya kalau ini milik Mama." Wanita bertubuh gemuk itu berbicara dengan merapatkan gigi giginya. Sudah menebak, kalau benda pipih bergaris dua itu milik Widuri.
"Widuri minta maaf Ma" lirih Widuri langsung menjatuhkan tubuhnya di kaki Ibu Ranta dan langsung menangis terisak.
Ibu Ratna langsung mendorong tubuhnya sampai terjungkal ke belakang.
"Mama gak mau tau. Pergi dari rumah ini, dan jangan pernah kembali tanpa membawa Ayah dari bayimu itu. Jangan bikin malu Mama Widuri !" bentak Ibu Ratna, marah dan meneteskan air matanya.
"Mama malu, kamu membuat malu Mama" lirih Ibu Ratna.
Widuri yang sudah mendudukkan tubuhnya di lantai, semakin menangis terisak, tidak bisa berkata apa apa.
Ibu Ratna menangis di dalam kamarnya, merasa bersalah sudah gagal mendidik putrinya.
"Kakak gak sengaja Nala. Kakak diperk*s*" ucap Widuri dalam tangisnya.
Nala menurunkan tubuhnya, lalu memeluk tubuh Kakaknya itu. Meski Kakaknya itu bersalah, tetap saja Nala kasihan melihatnya.
"Kenapa Kakak gak meminta pertanggung jawaban cowok itu?" tanya Nala sambil mengusap usap punggung Widuri.
"Kakak pikir, kakak gak akan hamil" jawab Widuri.
"Tetap aja Kakak butuh status yang jelas. Apa kata orang nanti, kalau Kakak menikah dengan pria lain. Di bilang janda, gak. Di bilang gadis, kok sudah bolong."
"Jadi Kaka harus gimana?. Kakak gak mau nikah sama cowok itu. Lebih baik Kakak gugurin aja bayi ini" ucap Widuri.
"Ya Allah Kak!, kemana pikiranmu?. Anak itu gak bersalah Kak. Dan juga kalau Kakak menggugurkannya, apa Kakak gak kasihan melihat bayi Kakak nanti!. Apa nanti Kakak gak nyesal. Biar bagaimana pun, bayi itu anak Kakak. Darah daging Kakak sendiri" oceh Nala.
Widuri pun semakin menangis terisak."Tapi Kakak gak mau bertemu cowok itu lagi. Makanya Kakak pulang kampung."
__ADS_1
"Ada apa?. Kenapa kamu menangis, Widuri?" tanya Pak Solihin yang baru pulang dari kebun.
Widuri langsung menghentikan tangisnya dan menghapus air matanya. Sedangkan Nala, memilih diam, dan membiarkan Kakaknya yang akan menjelaskan.
"Kamu kenapa, Nak!. Kenapa kamu menangis?." Pak Solihin mendekati Widuri dan Nala.
"Putri mu itu sedang hamil sekarang." Ibu Ratna yang mendengar suaminya sudah pulang, kembali keluar dari dalam kamar.
Pak Solihin pun langsung terdiam dan menajamkan pandangannya ke arah Widuri yang masih duduk di lantai.
"Widuri gak sengaja, Yah!" lirih Widuri.
Pak Solihin semakin membeku di tempatnya berdiri, tidak bisa berkata apa apa lagi.
"Dulu sudah Mama bilang, gak usah pergi merantau. Cari pekerjaan di sini aja, tapi kamu ngeyel tetap ingin merantau" oceh Ibu Ratna galak.
"Widuri gak sengaja Ma" lirih Widuri.
"Nala, kemas barang barangnya" perintah Pak Solihin tiba tiba. Berhasil membuat Widuri mendongak ke arah Ayahnya. Berpikir apakah Ayahnya juga mengusirnya?.
"Cepat Nala!" bentak Pak Solihin kepada putri keduanya itu, melihat Nala masih tidak bergerak dari tempatnya.
"I- iya Yah" patuh Nala langsung beranjak, melihat tatapan horor Pak Solihin ke arahnya.
Setelah selesai menyusun barang barang Widuri di dalam kamarnya, Nala langsung keluar dengan membawa koper di tangannya.
"Maaf kak Wid" ucap Nala merasa bersalah kepada Kakaknya itu.
"Gak apa apa" balas Widuri berdiri dari lantai, melangkahkan kakinya ke arah kopernya yang di keluarkan Nala dari dalam kamar. Widuri menghapus air matanya, lalu menarik koper itu ke arah pintu keluar rumah itu.
"Ayah akan mengantar mu. Dan memberi pelajaran kepada pria itu" ucap Pak Solihin menyusul Widuri keluar dari dalam rumah, dan menarik tangan Widuri membawanya masuk ke dalam mobil miliknya.
"Ayah gak usah ikut, biar aku saja yang menyelesaikan masalahku" ucap Widuri setelah duduk di dalam mobil.
"Ayah ingin memberi pelajaran kepada pria yang berani menyentuh putriku" geram Pak Solihin, kemudian melajukan kenderaan kesayangannya itu.
"Pria itu orang hebat, Yah. Gak mungkin Ayah bisa mengalahkannya" ujar Widuri lagi. Tak ingin Ayahnya mendapat masalah atau kenapa kenapa Karena melawan Haris.
"Ayah gak takut!" bentak Pak Solihin, berhasil membuat Widuri pasrah.
__ADS_1
*Bersambung