Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Siapa Anda


__ADS_3

"Aku boleh kan ikut gabung makan siang?."


Haris, Widuri dan Nala yang sedang menikmati makanan di meja makan refleks menoleh ke arah Cici yang ingin ikut bergabung bersama mereka.


Baik Haris, tidak ada yang menjawab pertanyaan wanita itu. Pria labil itu sepertinya sudah mulai menunjukkan sikapnya, jika ia tidak menyukai Cici lagi.


Seperti biasa, untuk menaklukkan hati Haris, Cici memasang wajah sedihnya dan memandang Haris meneduh.


"Kalau gak boleh, gak apa apa." Cici mengurungkan niatnya untuk duduk di samping Haris, dan memutar tubuhnya untuk meninggalkan dapur.


"Tunggu!" seru Haris, berhasil menghentikan langkah Cici. Cici langsung memutar tubuhnya dan mengulas senyum ke arah Haris.


"Trimakasih" ucap Cici melangkahkan kakinya kembali ke meja makan dan mendudukkan tubuhnya di samping Haris.


Widuri langsung memutar bola mata, malas melihat Haris memanggil Cici.


"Mulai sekarang Widuri dan Nala akan tinggal di rumah ini. Nala akan menjadi asisten pribadiku. Dia yang akan mengurus semua keperluan kita, karena aku akan sangat sibuk mengurus perusahaan. Dan Minggu depan aku akan ke luar kota mengurus anak cabang perusahaan. Tolong patuhi semua peraturan yang aku serahkan pada Nala. Satu lagi, tolong kosongkan kamar mu. Widuri akan pindah ke kamar itu. Kamar sebelahnya akan di tempati Nala, supaya Nala mudah untuk mengurus Widuri selama aku di luar kota" ujar Haris panjang lebar.


"Kenapa seperti itu? Bukankah aku sudah menempati kamar itu semenjak kita menikah?. Lagian di sini aku yang menjadi istri pertama, wajar aja kalau aku yang menempati kamar utama rumah ini. Dan juga sekarang kamar ku yang mana?. Aku gak mau jika aku harus menempati kamar di lantai bawah rumah ini, sejajar dengan kamar pembantu" protes Cici tidak terima.


"Kalau kamu tidak mau menempati kamar bawah. Pindah aja ke rumah orang tua mu" balas Haris.


Cici langsung terdiam menajamkan pandangannya ke arah Haris. Cici tidak percaya jika Haris berkata seperti itu padanya. Apa salahnya? Kenapa Haris berubah?.


"Haris" lirih Cici.


"Widuri yang akan menempati kamar utama rumah ini. Dan ingat, kamar itu adalah kamarku. Aku yang berhak menentukan siapa yang boleh menempati kamar itu" ulang Haris sekali lagi.


"Kenapa? kenapa kamu berubah seketika, Ris?. Bukankah selama ini aku sudah berusaha menjadi istri yang baik?" Cici mengarahkan pandangannya ke arah Widuri yang duduk di samping kiri Haris, menatap wanita itu marah." Karna Widuri kan Ris?. Karena Widuri kamu berubah Ris. Apa yang sudah di berikannya padamu sampai kamu menyingkirkan ku dari kamar kita?" Cici murka, lalu berdiri dan berbicara membentak Haris.


"Dia sengaja menjebak kamu, Ris. Supaya kamu menikahinya. Supaya pernikahan kita hancur. Dan dia juga sudah menyebabkan Ibu kamu meninggal" ucap Cici lagi mencoba meracuni pikiran Haris.


"Tutup mulut mu. Kakak ku tidak seperti itu!" marah Nala juga berdiri dari tempat duduknya.


Cici langsung menoleh ke arah Nala, menatap wanita itu dengan mata memicing." Siapa Anda? Kenapa Anda harus ikut campur masalah di keluarga ini?."

__ADS_1


"Seperti yang sudah saya jelaskan tadi. Saya ini asisten pribadi Kak Haris" jawab Nala.


"Kak Haris?" ulang Cici mengerutkan keningnya mendengar Nala memanggil Haris dengan sebutan Kak.


Nala mengulurkan tangannya ke arah Cici." Perkenalkan sekali lagi. Nama saya Nala Diva, Adik kandung dari Kak Widuri."


Cici langsung terdiam tanpa menerima uluran tangan Nala.


'Oo ternyata dia Adiknya Widuri' batin Cici sembari memperhatikan wajah Nala dengan intens. Cici baru menyadari kalau wajah Nala ada miripnya dengan Widuri.


'Sepertinya mereka bekerja sama untuk menyingkirkan ku. Baiklah, aku akan meladeni kalian. Tapi jangan harap kalian bisa mengalahkan ku' batin Cici lagi.


Cici pun segera berlalu dari tempat itu dan Haris membiarkannya begitu saja tanpa ada niatan untuk mencegahnya.


"Coba dari awal menikah Kak Haris mengabaikannya. Pasti wanita siluman itu akan mundur sendiri dari pernikahan kalian" ujar Nala mendudukkan kembali tubuhnya. Semua ide untuk menyingkirkan Cici adalah idenya. Dengan cara menindas Cici perlahan seperti yang di lakukan wanita itu selama ini pada Widuri.


"Ya kali Pak Haris mengabaikannya. Kalau Pak Haris nya sendiri gak punya iman menahan godaan wanita siluman itu" cibir Widuri.


"Kamu selalu menyalahkan ku. Tapi kamu sendiri bagaimana?. Coba aja kamu mau melayaniku, pasti aku gak akan tergoda dengannya." Haris tidak terima jika Widuri menyalahkannya terus.


Haris mendengus. Istri keduanya itu memang sangat gengsian.


Mereka bertiga pun melanjutkan makan siang mereka bersama opor ayam buatan Nala sambil di selingi obrolan ringan. Namun tiba tiba....


"Aaaa! brukh!"


"Cici" gumam Widuri langsung berdiri dari kursinya dan berlari mendengar suara teriakan Cici dan suara orang terjatuh. Dan langsung di ikuti Haris dan Nala dari belakang.


Sampai di ruang tamu, Widuri sudah melihat Cici tergeletak di lantai dalam keadaan pingsan.


"Cici" panggil Widuri menurunkan tubuhnya di samping Cici.


"Kak Haris, ayo kita bawa dia ke rumah sakit" ujar Nala.


Tanpa menjawab Haris langsung mengangkat tubuh Cici, bergegas membawanya keluar rumah dan memasukkannya ke dalam mobil.

__ADS_1


"Sayang, tolong pangku Cici ya" ucap Haris saat meletakkan Cici ke kursi penumpang belakang mobilnya.


Tanpa menjawab Widuri pun menganggukkan kepalanya dan segera masuk ke dalam mobil dan memangku kepala Cici.


"Dia pendarahan" ucap Widuri melihat darah mengalir di kaki Cici.


'Semoga aja aku ke guguran. Jadi aku gak perlu khawatir memikirkan siapa ayah biologis dari bayi ini. Aduh, tapi ini sakit banget. Aku harus bisa menahan sakitnya dan berpura pura pingsan' batin Cici.


Setelah Haris dan Nala menyusul masuk, mobil itu pun melaju dengan kecepatan tinggi ke arah rumah sakit terdekat.


"Cepat Pak Haris. Itu darahnya keluar semakin banyak" ucap Widuri melihat darah di kaki Cici semakin mengalir.


"Hm...aaa...sakit" ringis Cici tak tahan menahan rasa sakitnya.


"Cici, kamu sudah sadar. sabar ya, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit" ucap Widuri dengan lembut dan mengusap usap kelapa Cici.


"Sakit, Aaaa!" teriak Cici.


'Aduh ini sakit banget. Kalau aku tau menggugurkan kandungan itu sesakit ini, aku gak akan mau meminum obat penggugur itu. Tapi aku harus kuat demi menyingkirkan Widuri dan Adiknya itu dari kehidupan Haris' batin Cici di dalam rintihannya.


Sebelum Cici keluar dari dalam kamarnya tadi, Cici meminum obat penggugur kandungan yang diberikan pembantu padanya, demi untuk menyingkirkan Widuri. Cici tidak menyangka jika menggugurkan kandungan itu sangat sakit dan bisa membuat nyawa melayang. Apa lagi kini kandungannya sudah berusia hampir lima Bulan.


"Sakit!" Cici terus berteriak teriak kesakitan dan sampai mencengkram tangan Widuri. Berhasil membuat Haris panik dan khawatir kepada Widuri.


"Ini gara gara kamu, Wid. Kamu menyuruh pembantu untuk menjebak ku kan?. Kamu menyuruh pembantu menumpahkan minyak di lantai kan?. Supaya aku terjatuh dan kehilangan anak ku!" ucap Cici.


"Apa maksud mu, Ci?." Jelas Widuri tidak terima di tuduh melakukan tindak kejahatan.


"Aku tau kamu itu ingin menguasai harta Haris. Setelah membunuh Ibu, kamu juga ingin menghabisi ku dan anak ku kan?. Kamu jahat, Wid. Padahal aku sudah menerima kamu sebagai maduku."


"Kamu bicara apa? jangan sembarangan menuduh" sergah Nala dari kursi penumpang depan.


"Menerima ku kamu bilang?" Widuri berbicara merapatkan gigi giginya. Jika saja Cici tidak dalam keadaan tak berdaya. Sudah pasti Widuri melempar wanita itu keluar dari dalam mobil.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2