
"Haris!" teriak seorang wanita dari arah depan.
Berhasil membuat Haris, Widuri dan Nala kaget dan menghentikan kunyahan makanan di mulut mereka dan menoleh ke arah pintu masuk ruang makan.
"Haris, kamu tidak bisa menceraikan Cici begitu saja" ujar seorang wanita paru baya, tak lain wanita itu adalah orang tua Cici.
"Kenapa?" Haris menatap wanita itu dengan kening mengerut sebelah.
"Karena dulu aku sudah membuat kesepakatan dengan Ibu kamu. Kalau saya mendonorkan ginjal saya, sebagai imbalannya adalah kamu menikahi Cici. Kamu tidak boleh menceraikannya apa pun alasannya. Jika kamu menceraikannya, makan kamu harus mengembalikan ginjalku" jelas wanita itu. Lalu memberikan surat perjanjian yang di sepakati Ibu Ilona dengan wanita itu.
Begitu dulu perjanjian wanita itu dengan Ibu Ilona, Ibu Haris sendiri. Saat Ibu Ilona hampir di ujung kematian, wanita itu meminta supaya putrinya di nikahkan dengan Haris. Dan tidak boleh menceraikan Cici apa pun alasannya. Itu sebabnya Cici tidak menikah selama ini, dan memilih menikah sirih sebelum bisa mengait cinta Haris dan akhirnya bersedia menikahi Cici.
Haris mengambil surat perjanjian itu dan membacanya. Dan benar, di surat perjanjian itu terdapat tanda tangan Ibu Ilona di atas materai, menandakan surat perjanjian itu resmi.
Haris menghela napasnya, tidak menyangka jika Ibunya membeli ginjal orang dan menjadikan dirinya sebagai jaminan di masa depan.
"Jika bukan karena aku, mungkin dari dulu Ibu mu sudah tiada. Apa kamu tidak ingin berterimakasih dengan pertolongan ku?. Hanya tetap menjadi suami Cici, aku rasa itu tidak sulit" ujar wanita itu lagi.
Srreeeek!
Haris menyobek kertas perjanjian itu dan membuangnya ke lantai.
"Lebih baik aku kehilangan sebelah ginjalku, dari pada tetap memperistri wanita seperti Cici. Wanita iblis yang tidak punya perasaan, tega memusnahkan anaknya sendiri." Haris berbicara merapatkan gigi giginya, geram melihat mantan Ibu mertuanya itu.
"Terserah kamu saja. Tapi jangan pikir setelah ginjal mu di ambil. Kamu akan bisa sehat dan bugar seperti sekarang. Lihat aku, setelah mendonorkan ginjalku, aku tidak kuat bekerja lagi. Dan saat proses pengambilan ginjal, bisa berakibat patal dan meninggal." Wanita itu mencoba menakuti Haris, supaya Haris tetap mempertahankan Cici menjadi istrinya. Karena di banding Harta Haris, harga ginjal tidak seberapa jika di jual.
"Apa Anda berpikir, saya akan mengambil ginjal saya dan memberikannya pada Anda, Mantan Ibu mertua." Haris berdecih dan tersenyum miring ke arah wanita itu.
"Anda melakukan transaksi dengan Ibu saya. Dan kalau Anda merasa dirugikan dengan transaksi itu, silahkan tuntut Ibu saya ke kuburannya. Kalau perlu, gali kuburannya, ambil kembali ginjal Anda" lanjut Haris.
"Ada ya orang tua seperti Anda?. Mendukung anaknya ke jalan yang tersesat" celetuk Nala.
Wanita bernama Ibu Yanti itu langsung menoleh pada Nala, karena mendengar gadis muda itu mencibirnya.
__ADS_1
"Apa kamu pikir, kamu itu lebih baik dari saya dan putri saya?. Lihat sendiri, kamu juga mendukung Kakak mu menjadi pelakor" balas Ibu Yanti mencibir.
"Setidaknya kami bukan pembunuh, penipu, dan pemeras harta Kak Haris" jawab Nala.
"Kau...."
"Silahkan Anda keluar dari rumah saya Nyonya Yanti yang terhormat." Belum sempat Ibu Yanti melanjutkan kalimatnya, Haris sudah mengusirnya.
Namun Ibu Yanti tidak langsung beranjak dari tempatnya berdiri. Wanita itu belum puas sebelum mendapatkan apa yang dia mau.
"Haris,kalau kamu tetap menceraikan Cici. Atau tidak mengembalikan ginjal saya yang di donorkan pada Ibu mu. Saya akan menuntut kamu ke jalur hukum."
"Silahkan keluar" usir Haris sekali lagi. Tidak takut sama sekali dengan ancaman wanita bodoh itu. Sepertinya wanita itu belum tau, jika Harus juga melaporkan wanita itu ke pihak berwajib, karena terlibat kasus penipuan. Ya Haris merasa di tipu, karena Ibu Yanti menyembunyikan status Cici saat dinikahinya.
"Dengar itu, silahkan keluar Nyonya besar yang terhormat" celetuk Nala lagi, tanpa takut sama sekali membalas tatapan tajam wanita itu.
"Diam kau!" bentak Ibu Yanti, tidak terima melihat Nala dan Widuri sudah menguasai rumah besar milik Haris. Apa lagi mendengar Nala berani mengusirnya dari rumah itu.
Widuri berbicara sambil berkacak pinggang, sudah persis seperti preman palak. Namun yang membuatnya terlihat lucu sampai membuat Haris tersenyum adalah tubuhnya yang kurus dan perutnya yang besar, sudah seperti badut memakai kostum binatang tawon. Kaki dan tangannya kecil kecil, dan tengah tengahnya melendung.
"Sayang, ayo lanjut sarapannya. Biar wanita ini menjadi urusanku." Haris mendekati Widuri, mengangkat tubuh wanita itu dan mengembalikannya ke kursinya. Setelah itu, Haris mendekati wanita itu dan tanpa aba aba menyeret wanita itu keluar dari rumahnya.
"Haris!, kurang ajar kamu Haris!. Dasar gak tau terima kasih!. Dulu aku sudah menyelamatkan nyawa Ibu mu, ini balasan mu!" teriak teriak Ibu Yanti meronta, tidak terima di seret Harus ke luar rumah.
"Aku sudah menerima Cici dengan baik dengan segala kekurangannya dan keburukannya. Tapi kalian lupa diri, karena terlalu serakah untuk menguasai hartaku" balas Haris menghempaskan wanita itu sampai terjatuh di lantai teras rumah.
"Security!" panggil Haris pada petugas keamanan di rumah itu. Satpam yang berjaga pos gerbang masuk rumah, pun langsung datang." Aman kan wanita ini, jangan biasakan dia lolos, sebentar lagi pihak berwajib akan datang menangkapnya" perintah Haris pada pria berpakaian sapari itu.
"Baik, Pak" patuh Pak Security itu, dan langsung membekuk tangan Ibu Yanti ke belakang dan memborgolnya.
"Haris, awas kamu Haris!. Aku gak terima kamu perlakukan seperti ini!" teriak Ibu Yanti saat Security itu menyeretnya dan membawanya ke arah salah satu ruangan di sudut rumah itu.
Haris yang sudah masuk kembali ke dalam rumah, menulikan telinganya. Masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan, membuatnya tidak punya waktu untuk bermain main dengan wanita tidak tau di untung itu.
__ADS_1
"Sayang, sarapannya udah siap?Ayo kita berangkat" ajak Haris melihat Widuri sudah selesai sarapan.
"Pak Haris gak sarapan lagi?" tanya Widuri, karena tadi Haris baru sarapan satu sendok.
"Sudah gak sempat, sayang. Nanti aja aku sarapan di kantor" jawab Haris mengambil tas kerjanya dari kursi sebelahnya, kemudian meraih lengan Widuri untuk membawanya berangkat bareng.
"Aku gimana?" tanya Nala.Dia baru di kota itu, tidak mengerti naik angkot atau bus.
"Kamu berangkat bersama supir." Tentu Haris tidak ingin Nala ikut bersama mereka. Karena Haris ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Widuri.
"Nala itu bisa nyetir. Biar dia berangkat sendiri aja. Dia bisa mengikuti kita dari belakang" ujar Widuri.
"Terserah dia saja. Yang penting dia sampai tepat waktu di kantor" balas Haris, merangkul pinggang Widuri dari belakang, membawanya keluar rumah. Dan Nala langsung mengikuti dari belakang.
Haris memiliki beberapa kenderaan, tentu tidak masalah jika Nala memakai satu kenderaannya, apa lagi untuk di pakai bekerja.
**
"Aku mau di bawa kemana? Hei! aku ini masih sakit!." Cici terus berusaha melepaskan diri saat kedua polisi yang bertugas menjaganya menyeretnya keluar dari kamar perawatan. Kedua polisi itu akan membawa Cici ke kantor polisi, karena kesehatannya sudah mulai pulih. Dan Cici bisa menjalani rawat jalan di sel tahanan.
"Tentu memindahkan Anda ke kantor polisi" jawab Polisi itu.
"Aku gak mau. Kenapa aku harus di bawa ke kantor polisi?. Aku gak melakuka kesalahan apa apa. Aku juga sedang berduka, baru kehilangan bayi ku. Dimana perasaan kalian!."
"Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi Nona."
"Aku gak mau di bawa, aku gak bersalah." Cici menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan menarik tangannya, tidak mau sama sekali di bawa ke kantor polisi.
"Lebih baik Nona menurut, dari pada hukuman Nona semakin berat nantinya" ujar teman polisi itu kepada Cici.
Cici menggeleng gelengkan kepalanya sambil menangis.
*Bersambung
__ADS_1