Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Menjadi gembel


__ADS_3

"Kita masak apa Kak Wid?" tanya Nala pada Widuri yang sibuk mengeluarkan bahan masakan dari dalam kulkas.


Siang ini Widuri dan Nala akan memasak untuk makan siang mereka di rumah Haris.


"Aku pengen makan opor ayam" jawab Widuri tanpa melihat Nala.


"Tapi kenapa semua bahan masakan di keluarin dari dalam kulkas?" tanya Nala lagi.


Haris yang duduk di kursi meja makan langsung menoleh ke arah Widuri. Dan benar saja, di lantai sudah menumpuk bahan masakan.


"Aku sedang mencari sesuatu yang bisa di makan. Tapi ternyata di kulkas ini isinya hanya bahan masakan." Meski Widuri sempat tinggal di rumah itu, tapi Widuri tidak pernah menyentuh dapur sama sekali karena Ibu mertuanya dulu tidak mengijinkan, jadi Widuri tidak mengerti dengan dapur itu.


"Sayang, makanan berada di kulkas sebelahnya." Haris berdiri dari tempat duduknya, mendekati kulkas khusus untuk menyimpan makanan dan minuman."Pengen makan apa?."


"Entah! apa aja yang ada, yang penting bisa di makan" Widuri menutup kembali kulkas di depannya dan beralih ke kulkas sebelahnya.


Haris mengusap lembut ujung kepala Widuri saat tangannya berhasil membuka pintu kulkas di depannya, kemudian mengambil sepotong kue dan langsung menyuapkannya ke mulut Widuri membuat mulut wanita itu terlihat penuh. Haris pun mengulas senyum melihat Widuri menatapnya dengan sorot mata tajam dan kedua pipi wanita itu nampak mengembang.


"Rakus banget istriku."


Bukh!


"Awu" Haris langsung mengeluh kesakitan saat Widuri menginjak kuat kakinya.


"Pak Haris membuatku susah menelan." Widuri mengerucutkan bibirnya, imut. Berhasil membuat Haris semakin merekahkan senyumnya sampai memperlihatkan giginya yang berjejer rapi.


"Mau makan apa?" tanya Haris mengalihkan pandangannya ke dalam isi kulkas.


"Emm..." tanpa menjawab Widuri mengambil Kue yang disuapkan Haris barusan ke mulutnya dan membawanya ke meja makan dan menikmati kue itu di sana. Haris mengikutinya lalu menyuapi Widuri memakan kue.


Nala yang melihatnya menghela napas, kemudian mengembalikan bahan masakan yang menumpuk di lantai ke dalam kulkas. Sepertinya Kakaknya itu sudah lupa kalau mereka akan memasak opor ayam yang di inginkan wanita hamil itu.


“Kenyang" keluh Widuri mengusap usap perutnya setelah menghabiskan kue yang di ambilnya dari dalam kulkas.


"Ayo minum, biar kita ke kamar aja."

__ADS_1


"Jadi masaknya gimana?." Nala berseru dengan cepat karena tidak mau di tinggal sendiri memasak di dapur itu.


“Kakak mu harus istirahat siang. Pembantu yang akan membantu mu“ jawab Haris, lalu mengangkat tubuh Widuri dari kursi.


“Turunin, aku gak mau di gendong" Widuri meronta untuk turun dari gendongan Haris.


"Gak usah malu kali Kak Wid" goda Nala melihat wajah Widuri merona karena di gendong Haris.


Setelah berbaikan tadi, entah kenapa wanita hamil itu menjadi pemalu jika di perlakukan romantis oleh Haris, apa lagi di depan Nala.


"Kenapa kamu harus malu, kita ini suami istri." Haris mengecup gemas bibir Widuri sambil membawa wanita itu keluar dari dapur.


Bukh!


"Di sini ada orang, main nyosor nyosor aja." Widuri memukul dada Haris dan menyembunyikan wajahnya ke dada bidang pria itu.


Banyak pembantu lalu lalang di rumah itu, pria itu adal nyosor aja, apa lagi ada Nala yang melihatnya, tentu Widuri malu bermesraan di depan Adiknya.


“Tidak perlu khawatir, mereka pasti menutup mata melihat kita bermesraan." Haris kembali menempelkan benda kenyal miliknya ke bibir manis Widuri sambil melangkah ke arah tangga rumah itu.


'Kurang ajar, aku sibuk mengerjakan pekerjaan ku yang menumpuk. Ternyata mereka bermesra mesraan di sini. Dan tadi bukankah kaki Haris sedang sakit, bagaimana bisa dia menggendong Widuri?.'


Cici yang baru masuk ke dalam rumah, mengeram sambil membatin melihat Haris menggendong Widuri dan berciuman mesra.


’Aku harus mengganggu mereka.'


Cici pun melangkahkan kakinya mengikuti Haris yang sudah mulai menapakkan kakinya ke anak tangga rumah itu. Namun langkah Cici terhenti seketika saat seseorang menarik lengannya. Cici langsung menoleh ke arah wanita yang berani menghentikan langkahnya itu.


“Jangan mengganggu mereka."


Cici terdiam memperhatikan Nala, kemudian menghempaskan tangan Nala yang berani memegang tangannya. Tapi sayang, Cici tidak berhasil melepas tangannya dari genggaman Nala.


"Ini rumahku, tidak ada yang bisa mengaturku di sini. Dan kamu..."


"Dan mulai sekarang saya adalah Asisten pribadi Kak Haris. Dan saya juga berhak membuat peraturan apa saja di rumah ini. Bahkan mengatur pengeluaran di rumah ini dan juga mengatur keuangan Anda, Nyonya Cicilia Calestra“ potong Nala dan berbicara dengan bibir tersenyum ke arah Cici yang menatapnya marah.

__ADS_1


Nala semakin mengencangkan cengkeramannya ke tangan Cici, berhasil membuat Cici meringis kesakitan."Cukup! cukup sampai di sini kau berusaha menyingkirkan Kak Wid dari hidup Kak Haris. Kalau tidak...." Nala menjeda sebentar kalimatnya." Aku juga bisa menyakiti mu dan Ibu mu."


"Berani kau mengancam ku?." Cici berusaha menarik tangannya namun tidak berhasil.


"Kenapa aku harus takut?" Nala tersenyum meremehkan."Bersiap siaplah menjadi gembel." Setelah mengatakan itu, Nala melepas cengkramannya dan kembali ke dapur untuk lanjut memasak opor ayam keinginan Kakaknya.


'Apa maksudnya?. Kenapa aku harus menjadi gembel?. Justru Widuri lah yang akan menjadi gembel. Dan siapa wanita itu? Kenapa dia begitu leluasa di rumah ini?. Benarkah dia asisten pribadi Haris? Kenapa Haris tidak mengatakannya padaku. Kenapa wanita itu membela Widuri? Apa mereka memiliki hubungan?.'


Pertanyaan pertanyaan itu bermunculan begitu saja di benak Cici. Entah kenapa kali ini Cici sangat takut dengan ancaman wanita yang baru di kenalnya itu.


'Aku harus menemui Haris. Aku gak mau sampai Haris berpihak pada Widuri. Aku harus tetap bisa menguasai Haris sepenuhnya supaya aku bisa menyingkirkan Widuri dengan mudah.'


Cici membantin sembari melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah tangga rumah itu untuk naik ke lantai dua. Sampai di depan pintu kamar Widuri yang berada di rumah itu, Cici mengurungkan tangannya untuk memutar knop pintu kamar itu saat mendengar suara suara aneh dari dalam.


Perlahan rahang Cici mengeras, membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam kamar tersebut.


"Apa yang mereka lakukan di dalam?." Pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari mulut Cici."Tidak, kamu hanya milik ku Haris. Kamu tidak boleh melakukan itu dengan Widuri. Aku bisa memuaskan mu, kenapa kamu masih melakukannya dengan wanita lain" gumam Cici lirih tak terasa air matanya mengalir begitu saja dari sudut matanya.


Cici menggeleng gelengkan kepalanya, tidak terima dengan kenyataan kalau dia menjadi istri yang di madu.Cici pun memundurkan langkahnya dari pintu, tidak kuat mendengar suara merdu Widuri yang terus berteriak memanggil nama Haris.


"Aku harus melakukan sesuatu. Haris harus menceraikan Widuri." Cici berlari masuk ke dalam kamarnya. Sampai di dalam kamar, Cici menelepon seseorang.


Sedangkan di dalam kamar sebelah. Haris terlihat begitu bersemangat memanjakan wanita yang berada di bawah kungkungannya itu. Meski peluh sudah membasahi tubuh keduanya, namun sepertinya pria itu masih enggan menyudahi permainannya. Haris masih ingin terus menikmati tubuh wanita berperut buncit itu. Sangat nikmat, apa lagi untuk pertama kalinya Widuri ikhlas mempersembahkan tubuhnya kepada Haris. Tidak ada penolakan sama sekali dari Widuri, dan bahkan Widuri terlihat begitu menikmati perlakuannya, terdengar dari nada suara Widuri memanggil namanya, sangat merdu.


Pergulatan itu pun terus berlanjut, sampai keduanya merasa lemah tak berdaya setelah menemukan titik kenikmatan. Haris menggulingkan tubuhnya di samping Widuri yang bernapas ngos ngosan.


"Trimakasih sayang. Trimakasih, Trimakasih" ucap Haris sangat bahagia.


Tok tok tok!


"Kak Wid!, opor ayamnya udah masak!" seru suara wanita dari luar kamar, tak lain pemilik suara itu adalah Nala.


"Ya! kami akan segera turun!" balas Haris terdengar napasnya memburu.


'Apa yang mereka lakukan di dalam?' batin Nala, pikirannya mulai terkontaminasi dengan urusan ranjang.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2