Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Terkena karma


__ADS_3

Haris dan Widuri kembali ke meja dimana Kanzo dan Marya beserta rekan mereka berada. Sampai di sana, sudah tidak ada wanita yang Haris duga adalah Bella, mantan istri Kanzo. Haris pun langsung pergi setelah membisikkan sesuatu ke telinga Widuri.


"Pak Haris mau kemana?" tanya Marya melihat interaksi suami istri itu.


"Katanya ke toilet" jawab Widuri, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecil miliknya, mengetik sesuatu di layarnya dan mengirimnya pada Marya.


Marya yang merasakan telephon genggamnya bergetar dari dalam tas, langsung mengeluarkannya dan membaca pesan tersebut.


’Wanita yang mengantar minuman tadi sepertinya Ibu Bella. Papa Noah pergi mencarinya, untuk memastikannya.'


Begitulah pesan yang di kirim Widuri ke ponsel milik Marya.


"Ada apa?" tanya Kanzo melihat Marya membaca sebuah pesan di ponsel wanita itu.


Marya pun menunjukkan pesan Widuri pada Kanzo. Seketika kening Kanzo mengerut saat membaca pesan itu.


'Bella? Kenapa tadi aku gak mengenalinya?' batin Kanzo.


Terlalu sibuk selama ini, sehingga Kanzo lupa untuk membereskan wanita itu. Dan juga wanita itu selama ini tidak berulah, membuat Kanzo melupakan masalahnya dengan Bella, mantan istrinya.


Sementara Haris yang masih berada di sekitaran club, mendekati seorang wanita yang sempat duduk di pangkuannya tadi. Haris terus memperhatikan bentuk tubuh wanita itu yang sangat mirip dengan bentuk tubuh Bella, mantan istri dari Kanzo. Tapi wajahnya terlihat sangat berbeda dari wajah Bella yang dulu.


Dengan tangan nakalnya, Haris pun meraba bokong wanita itu dari belakang sembari duduk di kursi yang ada di meja bartender.


Wanita itu langsung tersenyum ke arah Haris, tidak keberatan sama sekali di perlakukan seperti itu.


'Sepertinya Haris tidak mengenaliku' batin wanita itu.


"Tuangkan minuman untuk saya" ujar Haris tanpa melepas tangannya dari bokong wanita itu.


"Okeh!" patuh wanita dan segera menuang minuman ke dalam gelas, meminumkannya ke mulut Haris.


Haris langsung menerimanya, hanya menyesap sedikit minuman itu. Kemudian Haris mengambil gelasnya dari tangan wanita itu, meminumkannya ke mulut wanita itu.


"Temani saya bersenang senang malam ini" ujar Haris meminta wanita itu untuk menghabiskan minuman di dalam gelas.

__ADS_1


"Tapi Tuan, bukankah wanita tadi istri Tuan?" tanya wanita itu tak ingin tubuhnya di dorong lagi sampai terjatuh. Itu sangat memalukan.


"Ayolah, aku yang memintamu, dia bisa apa?." Kini Haris yang menuang minuman ke dalam gelas itu, lalu meminumkannya ke mulut wanita itu lagi." Jangan memikirkannya, bukankah kamu juga ingin mencari kesenangan" ucap Haris lagi.


"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan bertanggung jawab dengan kemarahan istrimu."


Setelah meneguk banyak minuman, wanita itu mulai tidak waras. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya ke leher Haris dan ingin mencium bibir Haris, namun dengan sigap Haris langsung melepas tangan wanita itu dari lehernya.


"Bersabarlah, pasti nanti aku akan memberimu imbalan yang besar" ujar Haris terus mencekoki wanita itu dengan minuman.


"Haris, cukup, perutku sudah terasa penuh. Aku gak kuat lagi" rancau wanita itu tak sadar menyebut nama Haris.


Haris menarik satu sudut bibirnya ke samping, mendengar wanita itu menyebut namanya. Benar, wanita itu adalah Bella.


"Kau tau namaku?" tanya Haris, masih memaksa wanita itu terua meneguk minuman yang di berikannya.


"Tentu aku tau, kau sahabatnya Kanzo" Jawab wanita itu lagi menatap Haris dengan mata yang sudah mulai berat.


"Baguslah kalau kamu tau" balas Haris lalu menoleh ke arah kedua pria yang berdiri di belakang wanita itu, memberi perintah dengan menggoyangkan dagunya ke arah wanita yang di duga bernama Bella itu.


"Hei, siapa kalian? Kenapa membawaku?" rancau wanita itu meronta minta di lepas.


"Tuan itu memesan kamar untukmu Nona. Tunggu dia di sana, katanya kalian akan bercinta malam ini" jawab salah satu yang membawa wanita itu.


"Benarkah?"


"Iya, Nona"


Melihat Bella sudah di bawa, Haris kembali ke meja tadi, dimana Widuri, Kanzo dan Marya berada. Namun sampai di sana, Widuri tidak ada membuat Haris langsung panik dan khawatir.


"Zo, istriku mana?."


"Katanya tadi menyusul kamu ke toilet" jawab Kanzo dengan santai."Kamu dari mana?" tanya Kanzo balik.


Haris tidak menjawab, pria itu langsung berputar arah ke arah toilet dengan berjalan cepat, tanpa menyadari kalau Widuri dari tadi berada di belakangnya.

__ADS_1


"Dasar kadal, bisa bisanya dia meraba pantat Bu Bella" gemas Widuri memaki Haris, sembari mendudukkan tubuhnya di sofa. Kini hanya tinggal mereka bertiga di meja itu, karena teman teman suami mereka sudah bubar, ada yang sudah pulang, dan ada yang masih berpencar di dalam club itu.


Menjebak sih menjebak, tapi gak usah pakai raba raba segala. Haris benar benar pria yang tidak ada munafik munafiknya. Lihat wanita body bahenol, tangannya langsung gatal.


Widuri terus memberengut kesal, dengan bibir manyun menahan rasa cemburu. Lihat saja sampai di rumah, Widuri akan memberi hukuman pada suaminya itu.


"Sabar Wid, udah resiko dapat suami kadal. Sikapnya gak jauh jauh beda sama buaya" goda Marya, melirik pria di sampingnya dari sudut matanya.


Jika Haris masih berani meraba bokong wanita, berbeda dengan buaya yang duduk di samping Marya. Pria itu selalu tidak bisa menjaga pandangannya dari wanita wanita berpakaian terbuka. Kanzo akan menikmati wanita itu dengan mata jahatnya. Tapi meski pun begitu, hati kedua pria itu masih setia dengan istri mereka.


"Tapi aku tidak menyentuh wanita lain selain kamu, sayang"ujar Kanzo, meski suka melihat wanita cantik lainnya, tapi Kanzo hanya sebatas mencuci mata saja, tidak sampai berniat mengajaknya tidur.


Marya mendengus, sudah punya istri dan anak cewek, masih saja suaminya genit." Kamu punya anak cewek loh, bagaimana jika nanti putrimu di perlakukan orang seperti itu?."


Kanzo menarik Marya supaya duduknya lebih rapat lagi ke tubuhnya, kemudian tangan pria itu mengusap usap rambut Marya dari belakang."Makanya aku gak mau kamu dan Areta memakai baju terbuka" jawabnya.


Begitulah, Kanzo berpikir jika dirinya akan sama dengan pria lain. Suka menikmati wanita wanita berpakaian terbuka. Sehingga ia tidak mengijinkan Marya dan putrinya Areta memakai baju seksi.


Jika Widuri duduk manyun di samping Marya dan Kanzo. Berbeda dengan Haris yang sudah sampai di toilet wanita. Pria yang nekat masuk ke dalam toilet wanita itu langsung di kerumuni para wanita yang ada di sana. Haris menjadi santapan para wanita tidak waras di dalam toilet itu.


"Tolong!" teriak Haris saat wanita wanita disana menciuminya."Wid, apa kamu di dalam? Tolong!" seru Haris lagi, berharap Widuri berada di salah satu kamar toilet dan menyelamatkannya dari mangsaan wanita wanita itu.


"Wah, dia sangat tampan dan menggemaskan" ucap salah satu wanita di sana.


"Tubuhnya sangat kekar" rancau wanita lainnya sambil meraba perut Haris yang dipisi kemeja tipis.


"Wah! juniornya sangat besar" salah satu wanita itu memegang senjata Haris dari luar celana, membuat Haris merasa seperti tersengat listrik.


"Hei, lepaskan saya, saya ke sini untuk mencari istri saya!" seru Haris lagi mencoba melepas tangan tangan para wanita itu dari tubuhnya.


'Ya Tuhan, sepertinya aku terkena karma' batin Haris mengingat bagaimana tadi tangan nakalnya mengusap bokong Bella.


"Ayolah Tuan, bersenang senang dengan kami. Kami jamin, Tuan tidak akan kecewa." Para wanita itu menciumi wajahnya secara bergantian.


'Gila' batin Haris terpaksa menghempaskan kasar wanita wanita yang memegangi tubuhnya itu, membuat semua wanita itu terhempas ke lantai. Haris langsung lari terbirit dari sana.

__ADS_1


*Bersambung.


__ADS_2