
Widuri dan Pak Solihin sama sama turun dari mobil yang mengantar mereka dari bandara. Widuri melangkahkan kakinya ke arah rumah yang di tempati nya selama ini, di ikuti Pak Solihin dari belakang.
"Cepat simpan barang mu itu, kita ke rumah laki laki kurang ajar itu sekarang!" tegas Pak Solihin tak ingin di bantah.
"Ayah!, biarkan Widuri yang menyelesaikan masalah Widuri Yah. Ayah pulang aja ya" bujuk Widuri.
"Cepat Widuri, jangan membantah Ayah" geram Pak Solihin tak sabar untuk menonjok wajah pria yang telah menodai putrinya itu.
"Tapi Yah, jangan menyuruh Widuri menikah sama Pak Haris."
"Kalau dia tidak menikahi mu, lalu bagaimana dengan bayi di dalam perut mu itu?. Ayah gak mau tau, kalau laki laki itu tidak mau bertanggung jawab, Ayah akan membunuhnya. Jangan membuat malu Ayah Widuri, kamu dan anak itu harus mendapat status yang jelas. Atau kamu tidak Ayah ijinkan lagi pulang ke kampung?" cerca Pak Solihin. Dia adalah salah satu pengurus masjid di kampungnya. Mau Tarok dimana mukanya, jika orang tau putrinya hamil tanpa suami.
'Ya Tuhan!' batin Pak Solihin.
Melihat Ayahnya terlihat begitu murka menandingi Ibunya. Widuri pun tidak berani membantah lagi. Terpaksa Widuri membawa Pak Solihin ke rumah Haris.
Sampai di depan rumah di salah satu kawasan perumahan elit itu. Widuri pun mendekati security yang berjaga di pos satpam rumah itu. Menanyakan apakah Haris ada atau tidak. Yang sebenarnya Widuri bisa menanyakan sahabatnya Marya, dimana keberadaan Haris saat ini.
"permisi, Pak!" ucap Widuri.
"Iya Mbak, ada yang bisa di bantu?" tanya Security itu.
"Pak Haris nya ada?" tanya Widuri.
"Oo Pak Haris. Lagi gak ada Mbak!. Pak Haris sudah sebulan gak di sini. Pak Haris nya sama istrinya lagi di luar tugas di luar Negri" jawab satpam itu.
Berhasil membuat Widuri langsung terdiam, kemudian mengulas senyumnya.
"Gak ada ya. Kira kira kapan Pak Haris nya pulang?" tanya Widuri lagi.
"Masalah itu saya gak tau, Mbak" jawab satpam itu lagi.
Kalau begitu trimakasih, Pak!." Widuri tersenyum hambar, lalu melangkahkan kakinya menjauhi satpam itu.
__ADS_1
"Yah, Pak Haris nya lagi di luar Negri" ucap Widuri pada Ayahnya.
"Benar ini rumahnya?." Dari tadi Pak Solihin terus memperhatikan rumah mewah berlantai dua itu. Rumah yang memiliki halaman luas dan asri, dengan bangunan besar dan terlihat megah.
"Iya, Yah" jawab Widuri." Kita gak usah menuntut apa apa ya, Yah. kita gak ada apa apanya dari mereka. Dan kita tidak akan menang bermain main sama Pak Haris. Lebih baik kita mengalah aja" ujar Widuri lagi.
"Tapi bagaimana dengan nasib anakmu itu, Nak?. Dia akan tubuh besar dengan status yang tidak jelas siapa Ayah kandungnya. Bagaimana nanti akta lahirnya? Setelah dia besar dia akan malu, jika mengetahui kalau dia anak di luar nikah. Dan bagaimana dengan mu. Punya anak tanpa suami. Pasti nanti kamu menjadi bahan gunjingan masyarakat dimana pun kamu tinggal. Setidaknya, kamu dan anak itu mendapat status yang jelas, Nak. Itu yang Ayah pikirkan. Setelah anak itu lahir, kamu bisa bercerai nanti."
Widuri menundukkan kepalanya dengan air mata yang sudah menetes dari sudut matanya, kerena mendengar penuturan Ayahnya yang begitu peduli dan sayang sama dia. Awalnya Widuri kira, Ayahnya marah karena malu, tapi ternyata Ayah nya itu lebih memikirkan masa depannya dan anak yang tumbuh di rahimnya.
Tit tit tit!
Suara klakson mobil yang membelok memasuki gerbang rumah itu, berhasil mengalihkan pandangan Widuri dan Pak Solihin yang masih berdiri di depan pagar rumah itu.
'Apa yang datang itu Pak Haris dan Cici?' batin Widuri.
"Ayah, ayo kita pergi. Nanti setelah aku mendapat informasi, baru kita datang ke sini lagi" ajak Widuri menarik Ayahnya masuk ke dalam taxi yang masih menunggu mereka. Sebenarnya Widuri ingin menghindar, tak ingin Ayahnya ribut ribut di rumah itu.
Setelah supir yang menjemput mereka ke bandara memarkirkan kenderaan nya tepat di depan pintu masuk rumah. Baru Cici membangunkan Haris yang ketiduran menyender di bahunya.
"Ris, ayo bangun! kita udah sampai." Cici mengelus lembut wajah Haris.
'Untung tadi Haris tidur, jadi dia tidak melihat Widuri datang' batin Cici.
Haris yang langsung terbangun, menguap dengan menutup mulutnya dengan telapak tangan. Wajar saja dia ketiduran, tubuhnya sangat lelah Karena full bekerja selama sebulan ini, belum lagi Haris harus memenuhi permintaan Cici yang begitu banyak selama di luar Negri.
"Sudah sampai ya?" tanya Haris mengarahkan pandangannya ke luar kaca mobil.
"Sudah, ayo turun" ajak Cici membuka pintu di sampingnya dan langsung turun.
Haris yang masih di dalam mobil, bukannya turun, malah menyuruh supir di depan untuk melakukan kendaraannya.
"Jalan, Pak!"
__ADS_1
"Baik, Pak!" patuh sang supir itu.
Cici yang melihat mobil itu pergi bersama Haris di dalamnya, langsung merapatkan gigi giginya sampai menggemeletuk. Tau jika Harus akan pergi menyusul Widuri, bahkan Haris tidak peduli dengan tubuhnya yang lelah.
Cici yang tidak ingin tinggal diam pun, melangkahkan kakinya ke arah garasi. Cici langsung masuk ke dalam mobil miliknya dan melakukannya. Cici akan menemui Widuri, sebelum Haris menemuinya.
Sampai di rumah yang biasa di tempati Widuri. Tepat sekali, Widuri dan Ayahnya juga baru sampai. Seperti nya Haris tidak tau kalau Widuri sudah kembali ke kota, dan Haris pun menyusulnya ke kampung.
"Widuri!" panggil Cici.
Widuri dan Pak Solihin yang hendak masuk ke dalam rumah, sama sama menghentikan langkah mereka dan menoleh ke arah Cici yang mendekat.
"Ada apa?" tanya Widuri dengan wajah datarnya.
"Ngapain kamu datang ke rumah?" tanya Cici bernada ketus.
"Ngapain lagi kalau bukan untuk membunuh suami mu?" tanya balik Pak Solihin tanpa takut sama sekali melihat Cici yang terlihat angkuh.
Cici langsung terdiam.
'Kurang ajar!" geram Cici dalam hati.
"Suami kamu harus bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Widuri. Kalau tidak, saya pastikan laki laki kurang ajar itu mati sekarang juga" ancam Pak Solihin.
Widuri sudah bercerita kepadanya, jika Haris, pria yang merenggut kesuciannya itu, sudah memiliki istri. Itu sebabnya Widuri tidak ingin meminta pertanggung jawaban Haris, Widuri tidak mau jika harus menjadi istri ke dua. Tapi, demi status dan masa depan bayi di dalam perutnya, Widuri terpaksa harus bersedia menjadi istri kedua Haris.
"Pintar kamu Wid" ucap Cici menatap Widuri dengan sebelah sudut bibir tertarik ke atas." Kamu dan Ayahmu sama sama licik" ucap Cici lagi."Kamu sengaja menjebak Haris kan?. Kemudian kamu berpura pura menjadi korban. Padahal itu trik kamu dan Ayah kamu untuk merebut Haris dariku!, iya kan!?" teriak Cici di akhir kalimatnya.
Plak!
"Jaga bicara mu, Ci" geram Widuri setelah melayangkan satu tamparan ke wajah Cici.
*Bersambung
__ADS_1