
"Trimakasih!" balas Widuri, wajahnya nampak ceria mendengar nasi goreng.
"Sama sama, sayang ku" balas Marya mencubit gemas pipi sahabatnya itu.
"Sakit!" keluh Widuri." Kamu itu kelihatan di luar lembuuuuut banget, tapi ternyata seperti kalajengking!" ucap Widuri sengaja menekan kata' lembut, dan kalajengking' karena melihat Cici dan Haris sama sama masuk ke perusahaan itu. Nampak Cici berjalan sambil bergelayut manja di lengan Haris.
"Ya begitulah mantan pelakor, harus bisa menyingkirkan istri perrrtama" balas Marya melirik Cici dari sudut matanya.
Sedikit banyaknya, Widuri sudah menceritakan masalahnya kepada Marya. Tapi Widuri meminta Marya untuk merahasiakannya kepada Kanzo dan Ibu Liana, mertua Marya sendiri. Karena tak ingin hubungan kedua keluarga itu retak karena dirinya.
"Itu karena Bu Bella bukan siluman, makanya kamu berhasil menyingkirkannya" ucap Widuri dengan santai, sengaja untuk menyindir Cici.
'Yang penting Haris menjadi milikku, terserah kamu aja Wid, mau menganggapmu apa? meski siluman sekali pun' batin Cici yang merasa tersindir.
"Nah aku!, mana bisa menyingkirkan siluman. Apa lagi silumannya bisa berubah wujud, kadang menjadi kucing, kelinci, marmut, hamster, siamang, panda, beruang, harimau, singa...."
"Stop!"
Mulut Widuri langsung berhenti mengoceh setelah Marya menutup mulutnya dengan tangannya.
"Kamu lagi hamil, sayang. Jangan mengabsen nama nama satwa di kebun binatang. Gak baik untuk si cabang bayi. Mending mengabsen nama nama makanan, biar Pak Kanzo menyuruh orang mencarikannya sampai ke lubang semut" ucap Marya.
"Iya juga ya. Ya udah deh! aku tulis aja nama makanannya, nanti aku kasih ke kamu. Sana, tuh suami kamu udah datang menjemput" tunjuk Widuri dengan dagunya ke arah Kanzo yang baru keluar dari dalam lif.
Tadi suami sahabatnya itu pergi duluan ke ruangannya. Namun sudah sepuluh menit, istri dari pemilik perusahaan itu masih nyangkut di meja resepsionis, menggibah bersama sahabatnya.
"Sayang!" panggil pria berwajah tampan itu.
"Iya, sayang" balas Marya, mengulas senyumnya ke arah Kanzo.
"Mana tadi berkas yang di bawa dari rumah?" tanya pria itu, mengambil beberapa map yang berada di genggaman istrinya itu.
__ADS_1
"Setelah gedung perusahaan pusat berhasil di bangun. Aku yang akan memimpin anak cabang perusahaan ini. Widuri akan menjadi Asistenku" ucap Marya kepada Kanzo yang sibuk mencari berkas di dalam map.
"Terserah kamu saja, kamu bos nya" ujar Kanzo. Yang penting baginya istrinya itu happy, terserah istrinya itu maunya apa.
"Wid, aku pergi dulu, semangat bekerja!" pamit Marya, begitulah dia memberi semangat dan dukungan kepada sahabatnya itu. Dan sebenarnya Widuri tidak perlu harus bekerja, Marya pasti mau dan mampu memberikan kehidupan kepada Widuri. Tapi kalau tidak kerja, Widuri pasti bosan sendiri kalau hanya di rumah saja.
**
Sore Hari, Widuri merapikan meja kerjanya Karena sudah waktunya pulang. Selesai merapikannya, Widuri berdiri dari tempat duduknya melangkahkan kakinya keluar gedung perusahaan. Di depan gedung sudah ada sebuah mobil pribadi menantinya. Seorang supir yang berdiri di samping mobil, langsung membukakan pintu untuknya.
"Trimakasih, Pak!" ujar Widuri tersenyum ramah.
"Sama sama Non" balas Supir itu. Setelah menutup kembali pintunya, supir itu pun menyusul masuk ke dalam mobil dan segara melakukannya.
Biasanya Widuri akan pulang bersama Marya dan Kanzo. Tapi karena hari ini suami istri itu bekerja lembur. Jadi, sahabatnya itu sengaja mengirim mobil jemputan untuk mengantarnya pulang.
Sampai di rumah, Widuri langsung masuk ke dalam kamarnya. Dan keluar lagi melangkah ke arah kamar mandi yang berada di dekat dapur rumah itu.
Tok tok tok!
"Ngapain lagi Pak Haris ke sini?. Aku rasa urusan kita sudah selesai" ujar Widuri yang masih berusaha mendorong pintu itu.
"Tentu untuk memastikan anakku apakah baik atau tidak" jawab Haris. Sudah tiga hari sejak kejadian itu, Haris selalu bersama Cici. Dan menurut Haris, sekarang gilirannya menemani Widuri, untuk membagi perhatian pada bayi di dalam perut Widuri. Tentu itu atas permintaan Cici yang sudah berhasil menguasai hatinya, dengan sikap baik dan lemah lembut wanita itu.
"Dia sangat baik, jadi pergilah" usir Widuri.
Pria itu Aneh, bukankah pria itu sudah memutuskan hubungan mereka dengan memberinya satu cart ATM yang berisi uang yang sangat banyak?. Lalu kenapa lagi pria itu datang menemuinya?.
"Saya harus memastikannya sendiri." Setelah berhasil membuka pintu itu dengan sempurna, Haris pun melangkah masuk.
Widuri yang tidak mungkin menang melawan pria itu. Memilih masuk ke dalam kamarnya dan mengurung dirinya di dalam.
__ADS_1
Sedangkan Haris yang merasa di abaikan, mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu rumah itu. Mengeluarkan laptopnya dan memilih sibuk mengerjakan pekerjaannya. Dari sore sampai hampir jam sepuluh malam, Widuri tidak pernah keluar sama sekali di dalam kamar.
'Apa dia sudah tidur?' batin Haris. Makanan yang di pesannya untuk Widuri tadi sudah dingin. Tapi sepertinya wanita di dalam kamar itu tidak akan keluar kamar sampai pagi.
Haris yang khawatir dengan anaknya di dalam perut Widuri pun, berdiri dari sofa melangkah ke arah kamar Widuri.
"Wid! Widuri!" panggil pria itu, tegas.
Namun Widuri yang kelaparan di dalam kamar, tetap memilih diam. Meski sebenarnya ia sudah memakan roti dan cemilan sih, tapi itu belum cukup untuk mengenyangkan perutnya dengan sempurna, karena sudah terbiasa makan nasi.
"Widuri!" panggil Haris lagi sedikit meninggikan suaranya.
"Buka atau pintu ini ku dobrak!" seru Haris sambil menendang pintu itu.
"Dobrak aja!" balas Widuri tidak takut sama sekali.
"Ya Tuhan, dia pelawan sekali, tidak seperti Cici" gumam Haris.
Widuri yang mendengarnya di dalam kamar, tersenyum miring. Hati Haris benar benar sudah buta karena sifat Cici yang pura pura baik dan lembut, padahal aslinya, sangat kejam.
"Jangan lupa, aku juga tidak seperti Anda, Tuan Haris!. Bodoh dan buta!" seru Widuri sengaja menyindir Haris yang menurutnya memang bodoh.
'Apa katanya? Aku bodoh dan buta?.Kurang ajar sekali dia mengatakan aku bodoh dan buta' batin Haris mengeraskan rahangnya.
"Jaga bicara mu, Wid!" geram Haris dari luar kamar.
"Gak terima di katakan bodoh?. Sana pergi! aku gak butuh kehadiran mu di sini!" usir Widuri malah.
Siapa coba yang terima di katakan bodoh?. Bahkan orang bodoh sekali pun akan marah kalau di bilang bodoh. Apa lagi seorang Haris, yang memiliki otak pintar, lulusan universitas luar Negri, seorang petinggi di salah satu perusahaan ternama. Jelas pria itu tidak terima di katakan bodoh.
"Aku udah berbaik hati datang ke sini untuk menemani mu, Wid!. Kalau bukan karena permintaan Cici, aku malas datang ke sini !" seru Haris lagi.
__ADS_1
"Dia benar benar pria yang bodoh" gumam Widuri, menggeleng geleng, heran.
*Bersambung