
Sampai di perusahaan, Widuri langsung mendudukkan tubuhnya di kursi meja kerjanya. Sejak tadi dari rumah sakit, berkali kali Widuri menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan mengingat tadi ia sempat melihat Haris dan Cici berciuman. Sampai saat ini, hati Widuri terasa panas terbakar api cemburu.
Mungkin selama ini, Widuri hanya bisa membayangkan apa yang terjadi ketika Haris berada di ruangan yang sama bersama Cici. Tapi tadi Widuri melihat langsung bagaimana Haris dan Cici berciuman, Haris begitu dalam dan mesra mencium bibir Cici.
'Katanya dia tidak mencintai Cici' batin Widuri.
Ya Tuhan, napas Widuri seperti memburu, sampai dadanya terlihat kembang kempes karena cemburu.
"Selamat pagi!"
Widuri langsung tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah Marya yang baru masuk ke gedung perusahaan itu bersama Kanzo.
"Mar, bantu aku" Widuri langsung berdiri dari kursinya, mengikuti langkah Marya dan Kanzo ikut masuk ke dalam lif.
"Kamu kenapa?, kamu terlihat sangat emosional" tanya Kanzo yang berdiri di belakang kedua wanita hamil itu.
"Tadi aku ke rumah sakit, aku tak sengaja melihat Pak Haris dan Cici berciuman" ketus Widuri.
Kanzo malah tertawa kecil.
Bukh!
"Malah ketawa" cetus Marya memukul lengan suaminya itu.
"Katanya keinginannya untuk bercerai udah bulat, kok masih cemburu" cibir Kanzo.
Widuri memanyunkan bibirnya. Kan belum bercerai, wajar dong cemburu melihat suami sendiri bercumbu dengan wanita lain. Meski wanita itu juga istri dari suami sendiri.
"Iya, kamu mau di bantu apa?" tanya Marya.
Pak Kanzo yang terhormat itu tidak bakalan paham menjadi istri kedua. Karena sebelum menjadi buaya jinak, pria bernama Kanzo itu pernah menjadi buaya ganas.
Sampai di ruang kerja Kanzo dan Marya, Widuri pun menceritakan apa yang di lihatnya tadi di rumah sakit. Tentang Cici dan Brandon yang bertemu di parkiran rumah sakit.
"Sepertinya mereka punya rahasia. Tadi aku melihat Cici memberikan amplop kepada Brandon. Sepertinya isi amplop itu uang" ujar Widuri.
Marya mengarahkan pandangannya ke arah Kanzo, setelah mendengar cerita Widuri tentang Brandon dan Cici.
__ADS_1
Kanzo yang duduk di kursi kerjanya, menghela napasnya kasar. Sebenarnya dia sudah tau, kalau Brandon lah yang menyuruh orang mengambil foto mereka dan Widuri saat di pasar malam, dan menyuruh orang itu mengirimnya kepada Haris. Dan orang itu adalah sala satu suruhan Haris, atau tepatnya salah satu orang yang di percaya Haris. Sehingga membuat Haris langsung percaya saja dengan foto itu, kalau foto yang di kirim kepadanya adalah foto perselingkuhan.
"Wid, kamu yakin Sama aku kan?" ujar Kanzo.Widuri menajamkan pandangannya ke wajah Brandon.
"Jangan tinggalkan Haris, tetaplah bertahan" ujar Kanzo lagi.
"Kenapa?" bukan Widuri yang bertanya, melainkan Marya. Sedangkan Widuri memilih diam dan menunggu Kanzo menyelesaikan apa yang akan di sampaikan pria itu.
"Kalau kamu mencintai Haris, saranku, tetaplah bertahan" tambah Kanzo..
Berpikir, kasihan Haris nanti jika Widuri meninggalkan Haris. Karena Cici tidak benar benar mencintai Haris, wanita itu hanya berniat mengeruk kekayaan Haris saja.
"Aku gak setuju" bantah Marya. Melihat sikap Haris yang tidak bisa adil pada Widuri, Marya berpikir lebih baik Widuri bercerai dengan Haris.
"Aku akan membereskan Cici dari hidup Haris."
"Wid, kamu bisa mencari pria lain yang lebih baik, lebih tampan dan yang lebih kaya di luar sana. Jadi menurutku, lebih baik kamu tetap bercerai dengan Pak Haris, si pria bodoh itu" ucap Marya kepada Widuri yang duduk di sampingnya.
"Sayang, jangan mempengaruhi Widuri" tegur pria tampan nan gagah perkasa itu.
"Kamu sayang yang mempengaruhi Widuri" kesal Marya.
"Widuri sudah memutuskan untuk bercerai, tapi kamu sayang yang mempengaruhi Widuri. Menyuruhnya untuk tetap mempertahankan pernikahannya dengan Pak Haris. Marya berbicara dengan merapatkan gigi giginya ke arah Kanzo, gemas.
"Iya, tapi jangan mengompori Widuri dong untuk bercerai. Kasihan anak mereka nanti. Kalian mau anak yang tidak jelas yang di kandung Cici itu menguasai harta Hari?."
"Masa bodo" jawab Marya cepat."Itu resiko dia, kenapa dia mau di tipu" ucap Marya lagi.
Kanzo menghela napasnya, istrinya itu selalu bawaannya emosi jika sudah menyangkut masalah Haris. Istrinya itulah lebih emosional dibandingkan Widuri, istri Haris sendiri.
"Sudah sudah sudah, gak usah di bahas lagi. Aku cuma memberimu saran, Wid. Kalau kamu mencintai Haris, tetaplah bertahan. Aku berjanji akan menyingkirkan Cici dari hidup Haris. Tapi tidak sekarang, kita lihat saja dulu, sampai dimana permainan Cici dan Brandon. Kita biarkan saja Haris sendiri nanti yang menangkap basa Cici dan Brandon" ujar Kanzo sekali lagi, kemudian berdiri dari kursinya.
Kanzo keluar dari ruangan itu, karena pagi ini ada rapat penting. Dia yang akan memimpin sendiri rapat itu karena Haris dan Cici tidak hadir hari ini.
"Aku akan bertahan, Mar" ucap Widuri lirih dengan pandangan lurus ke depan.
"Untuk apa Wid?."
__ADS_1
Begitulah kalau orang yang sudah jatuh cinta. Menelan pahit kehidupan pun akan sanggup.
"Aku harus bisa mengalahkan Cici dalam permainannya sendiri" jawab Widuri.
"Kalau kamu kalah nantinya, itu akan membuat semakin sakit hati" nasehat Marya mengusap lembut punggung Widuri.
"Setidaknya aku berusaha mempertahankan rumah tanggaku. Kalau aku kalah, itu berarti takdir pernikahan kami sampai di situ saja" ucap Widuri.
"Kamu sangat mencintai Pak Haris, Wid. Tapi Wid, mencintai juga harus ada logikanya."
"Aku tau" Widuri mengarahkan pandangannya ke wajah Marya yang menatapnya iba.
"Aku bertahan demi harga diriku yang mendapat hinaan dari Soodam. Aku akan membuktikan, jika Haris juga mencintaiku, buka semata mata menikahi ku karena bayi kami ini." Widuri meneteskan air matanya mengingat tadi Soodam menghina fisiknya.
"Soodam menghinamu?" Marya mengerutkan keningnya. Widuri menganggukkan kepalanya.
"Tubuhku jelek banget ya?." Widuri menekuk bibirnya ke bawah.
Hanya sahabatnya Marya lah yang bisa menjadi tempatnya bermanja saat ini. Sebagai pengganti orang tuanya yang sudah mengusirnya dari rumah karena kehamilannya itu.
Marya mengulas senyumnya, lalu mengulurkan tangannya untuk menghapus lelehan bening yang mengalir di pipi Widuri.
"Kurang berisi" jawab Marya.
Widuri semakin menekuk bibirnya ke bawah, dan air matanya pun kembali mengalir desar di pipinya.
"Tapi wajah mu cantik" puji Marya semakin mengembangkan senyumnya.
"Tapi kata Soodam Pak Haris tidak selera melihat tubuhku. Tubuhku gak ada apa apanya. Dia lebih berselera dengan Cici" lirih Widuri.
"Biarkan aja dia menjadikan Cici pelampiasan nafsunya. Kamu gak perlu mikirin itu. Di luar san pasti nanti ada laki laki yang bisa menerima kekurangan mu Wid. Sekarang lebih baik kamu fokus dengan dirimu dan kehamilan mu. Jangan terlalu memikirkan Pak Haris, dia aja gak mikirin kamu. Dan juga, kalau dia mencintai kamu, dia pasti akan menerima kamu apa adanya, bukan ada apanya." Marya menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan.
Meski terlihat keras dan arogan dari luar, tapi bagian dalam diri sahabatnya itu sangat lemah, hatinya sangat lembut dan mudah tersentuh.
"Dengarkan aku, Wid." Marya menyentuh lengan Widuri dengan lembut."Aku mengerti diposisi kamu, aku tau kamu sangat membutuhkan Pak Haris di saat hamil begini. Tapi Wid, kalau kamu sedih begini terus, itu sangat berpengaruh dengan kesehatan bayi kamu."
"Aku juga gak pengen seperti ini, Mar. Aku juga pengen bisa membuang Pak Haris dari hati ini. Tapi saat ini aku gak bisa."
__ADS_1
"Dengarkan aku, Wid. Kalau memang kamu dan Pak Haris di takdirkan berjodoh selamanya. Pak Haris akan tetap menjadi suami kamu, apa pun yang terjadi sekarang ataupun besok. Tapi sekarang yang paling perlu kamu pikirkan adalah bayi kamu."
*Bersambung