
Turun dari dalam mobil yang mengantar jemput nya, Widuri langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu rumah yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama ini. Saat membuka pintu dengan kunci di tangannya, pintu itu langsung terbuka sebelum sempat Widuri memutar knopnya. Widuri langsung terdiam saat melihat Haris lah yang membuka pintu itu dari dalam rumah.
"Aku udah memindahkan barang barang mu ke apartement milikku. Mulai sekarang kamu tinggal di sana bersama seorang perawat dan Dokter yang akan mengurus mu" ujar Haris terdengar seperti sebuah perintah.
"Baiklah" balas Widuri tanpa berniat membantah. Membuat Haris terdiam dan memandangi wajah Widuri. Biasanya wanita itu akan membantah dan selalu menolak permintaannya. Tidak seperti sekarang, Widuri mengiyakannya begitu saja.
'Pak Haris menyukai istri yang patuh, Kan?. Baiklah, aku juga bisa seperti Cici, istri kesayangan mu itu' batin Widuri membalas tatapan Haris yang tak berkedip.
'Apa yang direncanakan Widuri?' batin Haris, berpikir kalau Widuri, Marya dan Kanzo sedang melakukan persekongkolan.
Lama Haris dan Widuri saling berpandangan, akhirnya Haris pun mengedipkan matanya terlebih dahulu.
"Ayo kita berangkat." Haris melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu, dan langsung menutup pintunya dan menguncinya, kemudian meraih tangan Widuri membawanya masuk ke dalam mobil yang membawa Widuri tadi. Mereka sama sama duduk di kursi penumpang belakang.
Mulai roda kenderaan itu berputar, tidak ada ada yang mengeluarkan suara di dalam ruangan sempit itu, baik Widuri, Haris, maupun supir perempuan yang mengendalikan setir mobil itu. Sehingga membuat suasana di dalam mobil menjadi hening sampai mobil itu terparkir di basement sebuah apartement.
Haris pun membuka pintu di sampingnya dan langsung turun, melangkahkan kakinya ke arah pintu yang berada di samping Widuri.
Bukh!
"Awu!" keluh Harus tiba tiba merasa sakit dan kaget dengan pukulan pintu mobil yang di buka Widuri dari dalam saat Haris akan membukanya.
"Maaf, aku gak sengaja" ucap Widuri meneduhkan pandangannya ke arah Haris yang menatap malas dirinya.
Tanpa bicara, Haris pun menarik lengannya, membawanya masuk ke dalam lif untuk naik ke lantai dimana letak unit apartemennya berada. Sampai di dalam apartement, Haris menunjukkan kamar untuk Widuri.
"Ini kamar mu, masuklah" ucap Haris sambil membuka salah satu pintu kamar di apartement itu.
"Trimakasih" Widuri langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar tersebut. Dan Haris langsung pergi meninggalkannya. Pasti pria bodoh itu ke rumah sakit untuk menemani istri tercintanya, pikir Widuri.
Widuri pun menghela napasnya, setelah menutup pintu kamar itu, Widuri memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan kamar itu. Kamar yang terlihat mewah dan luas, lengkap dengan prabot nya. Kasur dengan ukuran super king size, lemari empat pintu setinggi dinding kamar itu, ada tv LED berukuran lima puluh inc, dilengkapi dengan sofa, meja rias, ada meja nakas di samping kiri dan kanan tempat tidur. Tapi yang paling mencuri perhatian Widuri adalah pemandangan indah yang terlihat dari dinding kaca bening kamar itu. Dari sana jelas terlihat, indahnya pemandangan kota.
Tanpa sadar Widuri mengulas senyumnya dan melangkahkan kakinya ke arah dinding kaca yang mengarah ke balkon kamar itu. Dan yang lebih membuat Widuri kagum. Di luar dinding kaca itu ternyata terdapat kolam renang pribadi. Di pinggirnya di tanam tanaman hias, sehingga suasananya terlihat alami dan sejuk.
__ADS_1
Namun ketika mengingat hubungannya dengan Haris tidak baik baik saja. Dan bahkan sudah memutuskan akan bercerai setelah melahirkan, senyum Widuri yang tadinya sempat merekah, kini perlahan memudar. Berpikir, sepertinya Haris sedang menguji keteguhannya.
'Aku gak boleh hanyut dengan kemewahan ini' batin Widuri, kemudian memejamkan matanya, membayangkan hidupnya nanti setelah bercerai dengan Haris.Mampukah ia menjalani hidup berdua dengan anaknya nanti?.
Widuri mengusap usap lembut perutnya yang sudah mulai terlihat menonjol dengan pandangan lurus ke depan seperti menerawang kehidupannya di masa depan.
**
Malam hari, Widuri keluar dari dalam kamarnya melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk mencari makana, karena perutnya sudah terasa lapar.
"Selamat malam Nona, apa Nona ingin makan? Biar saya siapkan" sapa perawat yang bertugas untuk mengurus Widuri di apartement itu.
"Kalian memasak apa?" tanya Widuri mendudukkan tubuh ya di kursi meja makan di ruangan itu.
"Opor ayam, dan ada sayur bening juga, Nona" jawab perawat itu.
Widuri pun menganggukkan kepalanya, sembari tersenyum, pertanda ia menyukai makanan yang di masak perawat itu.
"Kalau begitu, sebentar saya siapkan, Nona." Perawat itu langsung bergegas menyiapkan peralatan makan di meja makan dan menyiapkan makanan yang di masaknya tadi bersama Dokter yang di tugaskan untuk mengatur makanan yang akan di konsumsi Widuri dan bayi di dalam kandungannya.
"Pulang, Nona, Dokter Sindy akan datang ke sini jika di perlukan untuk memastikan kandungan Nona baik baik saja. Dan untuk mengantarkan bahan makanan yang akan di masak untuk Nona" jawab Perawat itu.
"Sebenarnya aku tidak membutuhkan seorang Dokter setiap saat. Hanya saja, bos kalian itu yang terlalu berlebihan" ucap Widuri mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
Perawat itu pun diam dan tersenyum hambar, tidak tau bagaimana harus menanggapi ucapan majikannya itu.
"Oh ya, bagaimana kabar istri Pak Haris dan bayi nya?" tanya Widuri mengarahkan pandangannya ke wajah perawat yang masih berdiri di sampingnya.
"Nona Cici dan bayi nya baik, Nona" jawab perawat itu.
"Kenapa Cici bisa pendarahan?" tanya Widuri lagi.
"Saya dengar kabar, supir yang mengantar Nona Cici untuk pulang ke rumah, tiba tiba melakukan rem mendadak, Nona. Sampai Nona Cici terhempas dari kursinya" jawab perawat itu lagi.
__ADS_1
Widuri pun terdiam dan mengerutkan keningnya. Berpikir kalau Haris marah padanya karena Brandon hampir saja membuat Haris kehilangan bayi nya.
"kalau begitu istirahatlah. Biar nanti aku aja yang membereskan bekas makan ku ini."
"Tapi Nona...."
"Gak apa apa, santai saja" Widuri mengulas senyumnya ke arah perawat itu.
"Trimakasih Nona, kalau begitu saya permisi" pamit perawat itu dengan sopan.
"Oh ya, siapa nama kamu?. Dari wajah mu, sepertinya usia mu masih sangat muda. Mulai sekarang panggil aku Kakak aja ya."
Wanita yang berprofesi sebagai perawat itu pun semakin mengulas senyumnya."Saya memang masih muda Nona, baru lulus kuliah, dan saya juga baru bekerja satu Bulan."
"Siapa nama kamu?" tanya Widuri sekali lagi.
" Nuha, Nona" jawab Perawat itu.
Widuri mengangguk tanpa menyurutkan senyumnya dari tadi.
"Oh ya Nuha. Besok pagi bisa gak buatin pergedel kentang?.tapi jangan di kasi bawang putih ya. Dan celupin adonannya jangan pakai kuning telur, putihnya aja."
"Bisa Nona"
"Panggil Kakak aja."
"Ah iya Kak, bisa."
"Ya udah, sana istirahat. Kamu juga pasti lelah, setelah bekerja di rumah sakit, kamu juga harus bekerja di sini. Besok pagi juga kamu harus bengun cepat." Setelah menghabiskan makanan di piringnya, Widuri langsung berdiri dari tempat duduknya, membawa piring dan gelasnya ke washtapel dan langsung mencucinya.
Selesai mencuci piringnya, Widuri langsung meninggalkan ruang dapur itu, melangkahkan kakinya ke arah kamar yang di tempatinya. Namun saat Widuri ingin memutar kenop pintu di depannya, tiba tiba pintu masuk apartement itu terbuka dari luar. Widuri langsung menoleh ke arah pria yang baru masuk itu.
'Pak Haris.'
__ADS_1
Bersambung