Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Jangan ikut campur


__ADS_3

"Pak Haris, aku minta maaf soal semalam" ucap Widuri menatap Haris yang masih berdiri di depan mejanya.


"Aku pikir kamu itu lebih baik dari Cici, Wid. Ternyata aku salah menilai mu. Masa lalu Cici memang tidak baik, tapi semenjak menikah denganku, dia tidak pernah pergi dengan laki laki mana pun hanya berdua. Dia tidak pernah melawanku, atau membangkang. Dia selalu patuh terhadapku, dan selalu mengurusku dengan baik. Baik perutku, pakaianku, dan kebutuhan biologis ku. Tidak seperti kamu yang enggan melayaniku, tapi tidak segan pergi jalan dengan laki laki lain" ucap Haris panjang lebar.


Haris benar benar tidak terima, Widuri memeluk laki laki lain. Widuri miliknya, hanya dia yang berhak mendapat pelukan dari istri keduanya itu. Tapi Widuri enggan melakukan itu padanya.


"Setelah anak kita itu lahir, aku akan membebaskan mu, Wid."


Air mata Widuri langsung luruh begitu saja mendengar penuturan Haris barusan.


"Aku minta maaf, Wid." Haris melangkahkan kakinya meninggalkan Widuri yang sedang menangis di kursi kerjanya. Haris tidak mau hatinya luluh melihat air mata Widuri.


**


"Setelah keluar dari rumah sakit, aku akan melunasi bayaranmu. Dan ingat Brandon, Jangan pernah mengakui kalau aku pernah menikah denganmu. Kalau kamu masih ingin aku membiayai pengobatan Ibu mu" ucap Cici kepada pria yang meneleponnya.


"Jangan mengancam ku, Ci. Aku tidak takut dengan mu. Aku juga bisa membongkar rahasia mu. kalau anak di dalam perutmu itu adalah anakku. Aku belum menceraikan mu Ci. Tapi kamu berani beraninya menikah dengan pria lain." balas Brandon dari dalam telephon.


"Jaga mulut mu bicara, ini bukan anak mu. Dan juga kita hanya menikah sirih. Kau tidak punya bukti untuk mengatakannya pada Haris. Kalau kamu berani macam macam. Aku akan menghentikan biaya pengobatan Ibumu. Dan juga, aku terpaksa menikah dengan mu karena kamu memperkosaku" geram Cici.


"Dasar kau wanita brengsek!" maki Brandon.


"Terserah kau saja" balas Cici.


"Waktu aku masih kaya, aku juga memberimu banyak uang. Setelah aku bangkrut, kamu langsung menjauh dan malah tidak mengakui pernikahan kita" ucap Brandon lagi.


"Di Dunia ini tidak ada yang gratis Brandon!. Salah mu sendiri, kenapa kamu jatuh miskin. Coba aja kamu masih kaya, aku tidak mungkin mencari pria lain."


"Cih!" Brandon berdecih." Kamu pikir aku masih mau sama kamu?. Kamu itu wanita menjijikkan. Jangan pikir aku mau membantumu karena masih mencintaimu, tidak!. Aku melakukannya demi pengobatan Ibuku."


"Aku juga tidak membutuhkan pria miskin sepertimu."

__ADS_1


Ceklek!


Cici langsung mematikan sambungan teleponnya dan menyembunyikan handphonnya ke bawah bantal saat mendengar pintu ruang perawatannya di buka dari luar.


"Permisi Bu, sudah waktunya makan siang" ucap seorang perawat sambil mendorong troli masuk ke dalam ruang perawatan Cici.


"Trimakasih, saya akan memakannya nanti" ucap Cici tersenyum ramah.


"Tapi Bu, Pak Haris berpesan saya tidak boleh keluar dari ruangan ini sebelum memastikan Ibu menghabiskan makanan ini" ujar perawat wanita yang di khususkan untuk menyiapkan makanan untuk Cici.


"Baiklah, aku akan memakannya sekarang."


'Demi kamu, Ris. Apa sih yang gak.'


Cici membatin sambil mengambil nampan yang di berikan perawat itu untuknya. Kemudian menyuapkan makanan ke mulutnya dengan wajah tersenyum.


**


"Widuri, kenapa kamu menangis?. Ada apa? Siapa yang membuat mu menangis seperti ini?" cerca Marya yang baru masuk ke ruang loby perusahaan itu bersama Kanzo.


"Iya, aku pasti membantu mu. Tapi katakan, siapa yang membuat mu menangis seperti ini?. Apa itu Pak Haris?" tanya Marya.


Widuri menganggukkan kepalanya.


"Sayang, bawa Widuri ke ruangan kita" suruh Kanzo dan langsung melangkah ke arah masuk ke arah lif. Langsung di ikuti Marya dengan menuntun Widuri ikut masuk.


Sampai di pantai teratas gedung itu, Kanzo melangkahkan kakinya terlebih dahulu keluar dari dalam lif menuju ruangan Haris. Tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, Kanzo membuka pintu ruangan sahabatnya itu dan langsung melangkah masuk.


"Ada apa?" tanya Haris langsung pada Kanzo yang baru masuk.


"Aku tidak ingin ikut campur urusan rumah tanggamu, Ris.Tapi, aku merasa perlu mengingatkan mu."

__ADS_1


Haris menarik napasnya dalam. Berpikir kalau Widuri sudah mengadu kepada Marya.


"Aku tidak mau kamu menyesal seperti yang ku alami, Ris. Kehilangan anak tanpa di beri kesempatan melihatnya." Bibir Kanzo nampak bergetar menahan tangis, sekelebat mengingat anaknya yang meninggal saat baru lahir, sebelum sempat di lihatnya."Widuri sedang hamil anakmu. Dia sangat membutuhkan dukungan dari kamu. Tapi kamu malah membuatnya menangis."


"Dia tidak membutuhkan dukungan dari aku, Zo. Dia tetap ingin kami bercerai. Sampai dia berani pergi jalan berdua malam malam dengan Brandon" ucap Haris tidak terima di salahkan."Bahkan dia memeluk Brandon di tengah tengah pasar malam. Dia tidak menghargai ku sebagai suaminya, Zo."


"Apa kamu sudah menanyakan kenapa dia sampai memeluk Brandon?" tanya Kanzo.


"Aku tidak membutuhkan alasannya. Sebagai istri seharusnya dia tau kalau dia tidak boleh memeluk laki laki lain" jawab Haris. Sepertinya marah dan cemburu sudah membuat hati pria itu mengeras.


"Kalau begitu, ceraikan Widuri biar aku menikahinya. Biar aku saja yang menjadi Ayah anak mu itu" cetus Kanzo, menatap marah pada Haris.


"Tidak akan" balas Haris.


"Kenapa? Kau tidak memperlakukannya dengan baik. Kau tidak pernah adil membagi waktumu dengannya. Kau slalu mementingkan Cici."


"Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku, Zo. Kalau kamu tanya kenapa aku jarang menemui Widuri, itu Karena dia tidak mau ku sentuh. Sedangkan Cici dengan senang hati selalu bersedia melayaniku. Dimana letak ketidak adilan ku?."


"Baiklah, Ris. Aku sudah mengerti sekarang." Tak ingin melanjutkan perdebatan mereka, Kanzo pun memilih keluar dari ruangan Haris. Percuma terus bicara dengan orang yang hatinya sudah buta.


Sampai di ruangannya, Kanzo langsung mendudukkan tubuhnya di kursi kebanggaannya. Di lihatnya Widuri yang di sofa masih menangis di dalam pelukan Marya, istrinya.


"Pak Kanzo, bantu aku untuk menyingkirkan Cici. Dia telah membuat Pak Haris membenciku. Dia menyuruh orang mengambil fotoku dan mengirimnya kepada Pak Haris" mohon Widuri kepada Kanzo dengan wajah mengiba.


"Wid, berhentilah menangis, kasihan bayi kamu. Tenanglah, kamu tidak menghadapi masalah sendirian. Ada aku yang selalu ada untukmu. Aku dan Pak Kanzo pasti membantumu" ucap Marya sambil mengusap usap punggung Widuri dari belakang.


Kanzo yang duduk di kursi kerjanya, menghela napasnya panjang. Kasihan melihat Widuri terus menangis terisak Isak dari tadi. Seharusnya Haris menenangkan istrinya itu, tapi sepertinya pria itu tidak punya kepedulian lagi terhadap Widuri.


"Tenanglah, lebih baik kamu fokus terhadap kehamilan mu. Untuk masalah Haris dan Cici, biar menjadi urusanku" ucap Kanzo.


"Iya, Wid. kamu tidak perlu memikirkan mereka lagi. Lebih baik kamu fokus memikirkan masa depan mu dan bayi kamu" sambung Marya.

__ADS_1


"Aku mencintainya, Marya. Rasanya berat sekali jika kami harus bercerai. Tapi, aku udah gak sanggup jika harus tetap bertahan. Aku harus bagaimana? apa yang harus kulakukan?."


*Bersambung


__ADS_2