Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Berubah pikiran


__ADS_3

"Kurang ajar!"


Plak!


Widuri langsung memegangi wajahnya yang tiba tiba terasa panas karena mendapat satu tamparan dari Cici. Dan menatap horor pada Cici dengan tubuh bergetar menahan amarah.


Padahal awalnya mereka berteman dekat, tapi semenjak malam itu, dimana Haris menghabiskan malam yang panjang bersama Widuri, mereka menjadi musuh sampai saat ini. Sepertinya tidak akan ada lagi kedamaian di hati mereka.


"Aku bukan orang yang memiliki stok sabar yang banyak, Ci. Aku diam, aku mengalah, bukan berarti aku takut melawan mu. Tapi aku berpikir, andaikan saja aku berada di posisimu, aku pun pasti marah. Tapi, pernahkah kamu berpikir berada di posisi ku?" lirih Widuri dengan air mata bercucuran dari sudut matanya.


Cici berdecih, ia tidak percaya jika Haris datang ke kamar Widuri, kalau bukan karena mendapat undangan dari Widuri. Karena Cici juga tau selama ini Widuri juga menyukai Haris.


"Kamu pikir aku percaya?. Itu cuma alasanmu aja. Cewek kampung memang seperti itu, datang merantau ke kota untuk mengait pria pria tajir, untuk di jadikan mesin ATM dengan cara menjual diri."


Plak!


Brukh!


"Awu!" keluh Cici yang tubuhnya terbentur pinggiran washtapel di toilet itu."Awu! sakit!" rintih Cici tiba tiba sambil memegangi perutnya. Wajahnya mulai nampak pucat dan berkeringat.


"Cici" ucap Widuri mendekati Cici, namun Cici langsung mendorongnya."Kamu kenapa?" melihat Cici kesakitan Widuri menjadi khawatir.


"Tolong!" teriak Cici melangkahkan kakinya berusaha keluar dari dalam toilet itu untuk mencari bantuan.


"Ci, kamu kenapa Ci?" Widuri langsung mengikuti Cici untuk membantu Cici berjalan mencari bantuan.


"Tolong!" teriak Cici lagi setelah keluar dari dalam toilet.


"Cici!" seru Haris langsung mendekati Cici yang merintih kesakitan. Saat ribut ribut dengan Widuri, ternyata sudah ada karyawan yang melapor kepada Haris."Kamu kenapa?" tanya Haris khawatir dan langsung mengangkat tubuh Cici, membawanya berlari keluar gedung.


"Widuri" ucap Cici.

__ADS_1


"Kamu yang duluan, Ci" sahut Widuri yang mengikuti langkah Haris keluar gedung perusahaan.


"Sakit!" jerit Cici.


"Sabar, Ci. Kita ke berobat ya" ucap Haris wajahnya terlihat begitu panik dan khawatir.


Setelah memasukkan Cici ke dalam mobilnya, Haris pun langsung menyusul masuk dan segera melajukan kendaraannya, mengabaikan Widuri yang hendak akan membuka pintu mobil penumpang belakang. Widuri ingin ikut membawa Cici ke rumah sakit, tapi sepertinya Haris tidak melihatnya.


Akhirnya Widuri hanya bisa berdiri mematung memandangi mobil Haris yang keluar dari gerbang perusahaan.


'Ya Tuhan, sandiwara apa yang akan di permainkan Cici. Kenapa dia sangat berubah sekarang?, tidak seperti Cici yang ku kenal selama ini. Cici yang terlihat baik dan ramah' batin Widuri.


Sore hari, pulang kerja Widuri melangkahkan kakinya masuk ke rumah mewah milik Haris. Atau tepatnya rumah yang di bangun oleh orang tua Haris. Melihat tadi Haris dan Cici tidak kembali lagi ke perusahaan, Widuri yang sudah sampai di lantai dua rumah itu, pun melangkahkan kakinya ke arah kamar Cici. Widuri ingin melihat Cici, untuk meminta maaf kepada Cici, Karena tak sengaja tadi membuat Cici kesakitan.


"Ya ampun! sebentar lagi Mama akan punya cucu. Gak sabar deh Mama ingin melihat anak kalian lahir."


Mendengar suara Ibu Ilona berada di dalam kamar Cici, Widuri langsung mengurungkan niatnya mendorong pintu yang tidak tertutup rapat itu.


"Aku pikir setelah pulang berbulan madu, aku belum hamil, ternyata...." ucap Cici tidak melanjutkan kalimatnya.


"Iya Ma" balas Haris mengulas senyum bahagianya.


Widuri yang melihat Haris dari selah pintu, tanpa sadar meneteskan air matanya melihat Haris begitu bahagia akan memiliki anak dari Cici.


"Saran Mama, lebih baik Cici dan Widuri jangan lagi sama sama tinggal di rumah ini. Mama khawatir, Widuri akan membuat celaka bayi Cici, seperti tadi. Untung Cucu Mama masih bisa diselamatkan" ujar Ibu Ilona lagi.


"Iya Ma" balas Haris.


Widuri yang mendengar Haris menyetujui apa yang di katakan Mamanya, menggeleng gelengkan kepalanya sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Lagian kamu menikahi Widuri kan hanya untuk sementara. Menurut Mama lebih baik Widuri aja yang pindah dari sini. Sedangkan Cici kan, akan menjadi istrimu selamanya" ujar Ibu Ilona lagi, yang tidak menyukai Widuri sama sekali.

__ADS_1


"Ma, kasihan Widuri Ma. Widuri juga lagi hamil Cucu Mama" ucap Cici lembut kepada Ibu mertuanya itu.


"Mama benar, sayang" ucap Haris mengecup punggung tangan Cici sambil mengelus perut wanita yang berbaring di atas kasur itu.


"Gak Haris, biar Widuri yang tinggal di sini. Aku bisa tinggal di rumah orang tuaku. Kasihan Widuri, dia juga membutuhkan tempat tinggal yang nyaman" tutur Cici, memengang tangan Haris dengan lembut.


"Aku akan memindahkan Widuri ke apartement. Dan kamu akan tetap tinggal di sini, okeh!."


'Apa yang sudah dikatakan Cici pada Pak Haris sampai Pak Haris berubah pikiran. Padahal sebelumnya aku sudah meminta pindah dari rumah ini. Tapi Pak Haris kekeh menginginkan ku untuk tetap tinggal di sini' batin Widuri yang masih menguping di balik pintu.


Tak ingin membuatnya sakit hati lagi, Widuri pun melangkahkan kakinya ke arah kamar yang di tempatnya. Setelah sampai di dalam, Widuri langsung menyusun barang barangnya memasukkannya ke dalam koper. Hanya pakaian yang di bawanya ke rumah itu, tidak ikut dengan pakaian yang di siapkan Haris untuknya. Setelah selesai, Widuri langsung keluar dari kamar itu melangkahkan kakinya menuruni anak tangga ke lantai bawah. Sebelum di usir, lebih baik Widuri minggat sendiri.


Tok tok tok!


"Pak Haris!, Non Widuri keluar rumah dengan membawa kopernya!" lapor seorang pembantu di rumah itu setelah mengetuk terlebih dahulu pintu kamar Cici.


'Widuri?' batin Haris mengerutkan keningnya. Berpikir kenapa Widuri pergi membawa barang barangnya?. Padahal tidak ada yang mengusirnya, apa....


Haris langsung turun dari atas tempat tidur, bergegas keluar kamar.


"Haris mau kemana?, biarkan saja dia pergi!. Itu lebih bagus!" seru Ibu Ilona. Namun Haris tidak mendengarnya lagi.


"Biarkan saja Ma" ucap Cici menyentuh lembut tangan Ibu Ilona.


'Akhirnya aku bisa menyingkirkan Widuri. Hm! untung tadi aku sudah tau kalau aku hamil. Jadi aku bisa memanfaatkannya, dengan pura pura sakit perut. Biar di kira kandunganku sakit, karena terkena benturan' batin Cici mengulas senyumnya.


"Mama heran, bisa bisanya Haris mempertahankan wanita seperti itu. Sudah miskin, kampungan, kurus dan gak ada apa apanya" hina Ibu Ilona.


"Aku juga gak tau, Ma" Cici menghela napasnya kasar." Andai saja aku jujur dari awal, mungkin Haris tidak akan tergoda dengan rayuan Widuri malam itu."


"Memang dasar wanita murahan. Mama rasa, wanita itu juga sudah tidak suci. Bisa saja darah di alas kasur hotel itu, darah halangan nya, atau mungkin darah hewan. Haris kan mabuk katanya malam itu, jadi gak tau apa apa" ujar Ibu Ilona.

__ADS_1


"Entahlah, Ma. Semua berawal dari salah Cici. Cici udah ikhlas kok jika harus berbagi suami" Cici meneduhkan pandangannya ke arah wanita yang tidak lagi muda itu.


*Bersambung


__ADS_2