Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Kenapa aku harus diam saja


__ADS_3

'Aku harus bisa pergi dari sini. Aku gak mau masuk penjara. Karena aku harus bisa membalas dendam ku pada Widuri.'


Cici mendudukkan tubuhnya setelah melihat di ruang perawatannya itu tidak ada siapa siapa. Cici pun melepas jarum infus yang tertancap di tangannya, lalu turun perlahan dari atas brankar. Berjalan ke arah pintu dengan sangat hati hati.


'Sial' batin Cici saat mengintip dari kaca pintu ruangan itu, melihat dua orang polisi berjaga di depan pintu ruang perawatannya.


'Ini sudah hampir pagi, kenapa mereka tidak tidur?' batin Cici lagi. Seharusnya jam segini orang orang sudah pada tidur pulas, ini malah kedua polisi itu terlihat segar tidak mengantuk sama sekali.


'Aku harus mencari cara untuk keluar dari sini.'


Cici membatin sambil mondar mandir dan menggigit ujung kukunya. Saat terpikir untuk kabur lewat jendela, Cici menghentikan langkahnya dan mengarahkan pandangannya ke arah horden yang menutup jendela ruangan itu. Cici pun melangkahkan kakinya ke arah jendela dan menyibak horden dengan pelan.


Cici berharap bisa kabur dari jendela itu, namun melihat keluar jendela, niatnya menjadi urung. Ternyata dia berada di lantai teratas gedung rumah sakit itu, dan tidak ada sama sekali akses untuk kabur, kecuali nekat melompat ke bawah.


Dan tanpa Cici sadari, jika gerak geriknya di lantai oleh petugas keamanan rumah sakit itu.


'Tidak tidak tidak, aku gak mau mati sia sia.'


Cici menggeleng gelengkan kepalanya, membayangkan jika dia akan melompat dari lantai teratas gedung itu. Dia pasti akan mati mengenaskan.


Tak menemukan cara untuk bisa kabur, Cici pun berpikir kembali. Dia harus bisa kabur dari tempat itu.


'Perawat, ya perawat. Aku harus memanggil perawat datang ke sini.' Saat menemukan ide, Cici bergegas mendekati brankar dan menekan tombol merah yang tersedia di atas sandaran brankar, untuk memanggil perawat datang ke ruangan itu. Kemudian Cici membaringkan tubuhnya kembali.


Tak lama kemudian seorang perawat perempuan pun masuk ke ruangan itu di dampingi kedua polisi yang berjaga di depan pintu ruangan itu.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya perawat itu dengan sopan.


"Aku lapar, apa kamu bisa mencari makanan untuk ku?" jawab Cici.


'Sial, kenapa kedua polisi itu ikut masuk' batin Cici.


Kalau seperti itu, bagaimana dia bisa berusaha kabur. Padahal rencana, Cici akan membuat perawat itu pingsan, kemudian mengganti pakaiannya dengan perawat itu.

__ADS_1


"Baik, Nyoya. Saya akan mencarikannya" patuh perawat itu dengan sopan dan segera undur diri. Kedua polisi itu langsung mengikutinya dari belakang dan menutup pintu ruangan itu kembali dan tidak lupa menguncinya.


'Haris benar benar ingin menjebloskanku ke penjara.'


Cici membatin dengan mengeraskan rahangnya.


'Ini semua pasti hasutan dari Widuri. Wanita itu memang sangat licik. Aku harus mencari cara supaya aku bisa lolos dari sini. Aku harus memberi pelajaran Widuri yang sudah merebut Haris dariku.'


Cici kembali turun dari atas brankar, melangkahkan kakinya ke arah pintu dan berdiri di samping pintu ruangan itu. Cici nanti akan berlari saat perawat itu datang mengantar makanan yang di mintanya tadi.


Ceklek


Cici langsung gegas berlari, namun langkahnya langsung terhenti saat tubuhnya menabrak sesuatu yang keras di depannya. Cici meringis karena merasakan sakit benturan di keningnya.


"Jangan berpikir kamu akan bisa lari dari sini."


Suara berat itu berhasil membuat Cici mendongakkan kepalanya ke arah pria bertubuh tegap di depannya.


"Pak Kanzo" gumam Cici.


Cici menelan air ludahnya, ketakutan melihat Kanzo.


"Jangan kamu pikir semua orang itu bodoh. Kamu salah Cici. Kalau kamu pikir aku dan Haris itu orang bodoh, tidak mungkin kami bisa mempertahankan perusahaan dan membuatnya semakin maju dan berkembang. Dan jangan lupa, kami juga memiliki orang orang untuk mengintai musuh musuh kami."


" Menyerah lah, jangan buat hidup mu semakin sulit" tambah Kanzo setelah sempat menjeda kalimatnya sebentar.


"Kenapa aku harus menyerah?. Widuri sudah merusak rumah tanggaku dengan Haris." Cici berbicara mengeraskan rahangnya kepada Kanzo." Widuri dan Haris sudah menghianati ku, kenapa aku harus diam aja?."


"Mereka tidak menghianati mu" tekan Kanzo." Kamulah yang mendesak Haris untuk menikahi mu, meski kamu tau Haris lebih menyukai Widuri dari pada kamu. Dan jika saja kamu tidak menipu Haris, mungkin pernikahan kalian akan baik baik saja. Dan jika kamu benar benar menerima Widuri, juga pernikahan kalian akan baik baik saja. Tapi kamu tidak koreksi diri karena terlalu serakah untuk menguasai Haris dan Hartanya." Kanzo menjeda kalimatnya lagi." Semua berasal dari kesalahan mu, Ci. Tapi malah kamu menyalahkan orang lain. Dan sekarang tanggung sendiri akibat dari perbuatan mu sendiri."


Cici terdiam tidak bisa mengatakan apa pun.


"Dan kamu harus tau. Bukan hanya Haris saja yang menuntut mu ke jalur hukum. Tapi Brandon juga akan menuntut mu karena sudah memusnahkan anaknya."

__ADS_1


Kanzo pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, meninggalkan Cici yang mematung di tempatnya.


**


Pagi hari, Widuri membuka kelopak matanya saat terbangun dari tidurnya. Senyum wanita itu mengembang perlahan saat netranya menangkap seorang pria berdiri tidak jauh dari tempat tidur. Pria tampan itu terlihat sibuk mengancing kemeja kerjanya.


"Tidur saja, hari ini kamu istirahat saja" ujar pria itu saat Widuri mendudukkan tubuhnya dan menurunkan kedua kakinya kelantai.


"Aku pasti akan bosan di rumah" balas Widuri dan melangkahkan kakinya mendekati Haris. Tepat berdiri di depan Haris, Widuri membantu pria itu mengancing kemejanya dan memasangkan dasi ke kerah bajunya.


"Kamu pasti lelah" Haris menarik pinggang Widuri pelan sampai menempel ke tubuhnya.


Jelas wanita itu lelah, karena tadi malam Haris menganiaya wanita itu tanpa memberinya ampun.


"Dek bayi nya Pengan dekat Papa nya" ucap Widuri mengulas senyumnya.


"Baiklah" Haris menurunkan sedikit tubuhnya dan langsung mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya ke kamar mandi.


Selesai memandikan wanita itu untuk pertama kalinya. Haris membawanya kembali ke dalam kamar, mendudukkannya di sofa yang berada di kamar itu.


"Tapi nanti aku akan sangat sibuk. Apa lagi sudah tidak ada sekretaris lagi. Dan Nala juga masih belajar. Kanzo masih sibuk menikmati moment bersama anak dan istrinya" oceh Haris mengeluh. Baru pagi pagi kepalanya sudah pusing sendiri mikirin pekerjaan yang tiada habisnya. Rasanya Haris ingin pensiun muda aja, jika saja dirinya punya penerus saat ini.


Widuri berdiri dari sofa, melangkahkan kakinya ke arah Haris yang berjalan ke arah lemari. Widuri memeluk tubuh pria itu dari belakang.


"Makanya aku ingin ikut, supaya ada yang menghibur suamiku ini nanti di kantor" ucap Widuri.


"Baiklah kalau begitu" Haris mengulas senyumnya, bersemangat.


Selesai bersiap siap, Haris dan Widuri keluar dari dalam kamar dan menuju meja makan yang sudah terhidang makanan untuk sarapan pagi.


"Akhirnya kalian keluar juga, dari tadi aku sudah menunggu." Nala langsung menyiapkan makanan ke mulutnya melihat Haris dan Widuri sudah duduk di kursi meja makan.


"Haris!" teriak seorang wanita dari arah depan.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2