Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Kecewa


__ADS_3

"Widuri!" panggil Haris menangkap tangan Widuri yang baru keluar dari gerbang rumah itu.


Widuri langsung membalik tubuhnya ke arah Haris, menatap wajah pria itu datar tanpa ekspresi.


"Ada apa?" tanya Widuri datar.


"Setelah hampir membuat Cici kehilangan bayi nya, kamu mau kabur, gitu?" ucap Haris menatap marah pada Widuri.


Widuri tersenyum miring ke arah Haris, tanpa takut sedikit pun melihat pria itu. Jelas sekali, jika pria yang berdiri di depannya itu, sudah terpengaruh dengan hasutan Cici.


"kalau iya, kenapa?. Mau marah?" tanya Widuri. Tidak perlu membela diri, kan. Toh Haris akan lebih berpihak pada Cici, pikirnya.


Haris menggeleng gelengkan kepalanya," Aku kecewa sama kamu, Wid. Padahal Cici sudah menerima kamu sekarang. Tapi kamu malah tega bertindak kekerasan pada dia."


"Kalau begitu, biarkan aku pergi." Widuri menarik tangannya dari genggaman Haris, tapi pria itu tidak melepas tangannya.


"Ikut aku" Haris menarik Widuri kembali masuk ke dalam pekarangan rumah. Kemudian membawa Widuri masuk ke dalam mobilnya.


"Aku bisa pergi sendiri, kamu gak perlu mengantarku" ucap Widuri yang sudah berada di dalam mobil.


Haris yang sudah duduk di sampingnya, diam saja dan memilih melajukan kendaraannya keluar dari dalam gerbang.


"Pak Haris!" panggil Widuri dengan suara kencang, melihat Haris diam saja tidak membalas ucapannya.


"Jangan harap kamu bisa bebas begitu saja dari aku Wid" ucap Haris melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


Sampai di sebuah parkiran apartement, Haris langsung turun dari dalam mobil, melangkahkan kakinya ke arah pintu yang berada di samping Widuri. Dan menyeret wanita itu keluar dari dalam mobil membawanya masuk ke apartement miliknya.

__ADS_1


Plak!


Haris langsung memegangi pipinya yang tiba tiba mendapat tamparan dari Widuri. Pria itu pun manatap Widuri sangat marah.


"Apa hak Anda memperlakukan saya seperti ini, Tuan Haris?" geram Widuri tidak terima diseret kasar oleh pria yang berdiri di depannya itu.


"Mentang mentang saya miskin, kamu pikir bisa berbuat sesukamu pada saya?. Saya minta di nikahi, itu karena perbuatan Anda sendiri yang telah kurang ajar merebut kesucian ku. Di sini seolah olah aku yang bersalah. Ibu mu!, istri mu!, dan sekarang Anda!" teriak Widuri di akhir kalimatnya, berhasil membuat Haris terdiam" Kalian semua menuduhku bersalah!" teriak Widuri lagi dengan air mata mengalir deras dari sudut matanya.


"Aku hanya minta di nikahi saja. Tapi Anda sendiri yang menganggap berlebihan pernikahan kita. Dan sekarang, kamu mengatakan kecewa padaku. Apa yang Anda kecewakan, Tuan?. Dan Anda pikir saya tidak kecewa dan sakit hati atas perbuatan Anda!. saya harus rela menjadi istri ke dua demi anak haram mu ini!. Anak ini yang kupikirkan, masa depan anak ini!, nama baik anak ini!."


"Dan sekarang.... biarkan aku pergi. Nanti setelah anak ini lahir, aku akan mengirim surat perceraian kita" ucap Widuri sambil menghapus air matanya, kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar apartement itu.


"Kamu harus tinggal di sini sampai anak itu lahir." Haris langsung menarik tangan Widuri yang hampir membuka pintu apartement itu."aku gak mau sampai kamu membawa kabur anakku itu" ujar Haris lagi.


"Anda tidak perlu khawatir. Aku pasti akan memberikan anak ini pada Anda setelah lahir nanti" balas Widuri, meneteskan air matanya kembali.


Sakit, pria yang pernah mengaku mencintainya itu, sudah berubah. Tidak lagi ingin mempertahankannya, walau hanya demi anak di dalam perutnya itu.


Sebenarnya meski marah dan kecewa kepada Widuri. Tapi hati kecilnya mengatakan, berat jika ingin melepaskan Widuri. Haris belum siap jika benar benar kehilangan wanita itu. Tapi melihat sikap kasar Widuri, yang berani melawan dan membangkang, sepertinya Haris akan melepasnya, karena kawatir akan menyakiti Cici lagi.


"Bagaimana dengan Anda yang telah melakukan pelecehan seksual pada saya?. Apa saya juga perlu melaporkan Anda Tuan Haris yang terhormat?" balas Widuri menatap Haris dengan tatapan menantang.


Widuri pun menarik kasar tangannya dari genggaman Haris sampai terlepas. Kemudian membuka pintu apartement itu dan langsung keluar meninggalkan Haris yang terdiam mematung di tempatnya berdiri.


Pintar sekali pria itu mengancam, apa pria itu lupa, kalau dia juga sudah melakukan tindak kejahatan?. Seharusnya Widuri saat itu langsung melaporkan perbuatan Haris ke kantor polisi.


Widuri yang sudah sampai di depan apartement langsung memesan taxi lewat on line. Dan untuk saja ada taxi yang mangkal tidak jauh dari apartement, sehingga Widuri tidak perlu menunggu lama.

__ADS_1


Sampai di rumah yang biasa di tempati Widuri di kota itu. Widuri langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya rapat rapat. Widuri menjatukan tubuhnya ke lantai, menangis sambil memegangi dadanya yang terasa berat seperti ada yang menimpanya.


Kemana dia harus pergi? dalam keadaan hamil begini, tidak ada yang menerimanya. Baik keluarganya sendiri, begitu juga dengan mertuanya. Dan sekarang, Haris satu satunya yang diharapkan, mendukungnya dalam menjalani kehamilan, sudah ikut ikutan tidak menyukainya.


Hanya Marya, sahabat satu satunya yang bisa menerimanya. Yang mengerti akan dirinya. Tapi jika ia mengadu kepada Marya Soal semua yang dialaminya. Sahabatnya itu pasti mengadu pada suaminya, sahabat Haris sendiri. Widuri tidak mau jika sampai Haris dan Kanzo bermasalah karena dirinya.


"Aakh!" Haris yang mengendarai kendaraannya menuju jalan pulang, berteriak frustasi di dalam mobil. Kenapa dia selalu bingung dan dilema menghadapi Cici dan Widuri. Haris selalu kesulitan untuk menentukan pilihannya di antara dua wanita itu.


Sampai di dalam rumah, Haris langsung masuk ke kamarnya dan Cici. Di lihatnya Cici sedang makan di suapi Ibu Ilona di atas kasur.


"Haris, kamu dari mana?. Kenapa lama, tadi Cici mengidam pengen makan markisa. Kamu di telepon, gak di angkat" cerca Ibu Ilona langsung kepada Haris yang baru datang.


"Sudah dapat markisa nya?" tanya balik Haris tanpa berniat menjawab pertanyaan Ibunya.


"Sudah, tadi minta tolong di cariin sama si Bibi" jawab Cici mengulas senyumnya pada Haris.


Untuk mendapatkan hari Harus sepenuhnya, dia harus menjadi istri yang baik dan bisa menyenangkan hati suami, kan?.


Haris yang melihat wajah Cici berbinar pun, ikut senang. Satu tangannya pun terulur mengusap kepala wanita itu.


"Biar aku yang menyuapinya, Ma" ujar Haris, mengambil piring makanan dari tangan Ibu Ilona.


"Ya udah, Mama juga belum makan malam. Tapi tadi Cici lapar setelah makan markisa nya, dan dia minta di suapi sama Mama" balas Ibu Ilona berdiri dari pinggir kasur dan langsung di gantikan oleh Haris.


"Kamu itu ada asam lambung, seharusnya tadi makan nasi dulu, baru makan markisanya" ujar Haris dengan suara lembutnya sambil menyiapkan nasi ke mulut Cici.


"Bagaimana lagi, Dede bayi nya sudah gak sabar ingin memakan markisa" ucap Cici sambil tangannya mengelus elus lembut perutnya.

__ADS_1


"Aku gak bisa membayangkan, jika sampai aku kehilangan anak kita." Cici meneduhkan pandangannya ke arah Haris dengan mata berkaca kaca.


*Bersambung


__ADS_2