
Kanzo melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi di jalan raya sambil membunyikan klakson supaya kenderaan lain menyingkir untuk memberinya jalan. Sekarang juga, Kanzo harus berangkat ke Pulau dimana Haris dan Widuri berada saat ini. Tentu Kanzo sangat berhati hati, dan bahkan membawa orang lebih banyak untuk menjaganya.
Tiba di bandara, setelah memarkirkan mobilnya di depan pintu keberangkatan. Kanzo langsung keluar dan berjalan cepat masuk ke dalam bandara bersama orang orangnya, karena pesawat yang akan menerbangkan mereka akan segara berangkat.
"Perintahkan kepada sebagian orang kita untuk segera menangkap Baim dan Pak Dirga" Kanzo menghela napasnya kasar. Dia juga heran, kenapa orang orang yang di tugaskannya sampai saat ini tidak bisa menemukan kedua orang itu?." Saya sudah membayar mahal kalian, tapi kalian bekerja tidak becus" maki Kanzo, geram.
Wajar saja pria berusia tiga puluh empat Tahun itu geram. Dia sudah menghabiskan banyak uang untuk membayar orang orang, tapi untuk menangkap Baim dan Pak Dirga saja, tidak beres.
"Maaf, Pak Bos.Sepertinya orang orang kita ada yang berhianat, atau salah satunya adalah penyusup untuk mengawasi gerak gerik kita."
"Kalau kamu tau, kenapa tidak menghabisi orang itu saja. Dasar bodoh!" maki Kanzo lagi, emosi.
"Ini baru pemikiran saya, Bos" orang yang berjalan di samping Kanzo itu menundukkan kepalanya, takut bos besar itu semakin marah.
Kanzo pun masuk ke dalam pesawat yang sengaja di sewanya bersama beberapa orang orang yang mengawalnya. Dan pesawat pun langsung lepas landas.
**
"Ma! Mama!" panggil Marya kepada mertuanya sambil menuruni anak tangga rumah keluarga suaminya itu.
"Iya, Marya. Ada apa?. Kenapa kamu berteriak teriak memanggil Mama." Ibu Liana yang sedang menimang nimang cucunya itu di ruang tamu, berdiri dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya mendekati Marya yang sedang menuruni anak tangga rumah itu.
"Widuri di culik, Ma. Dan Haris di serang dengan pisau" tangis Marya." Kanzo sekarang sedang di perjalanan ke Pulau itu."
"Apa yang terjadi? kenapa kamu menangis?. Apa tadi kamu bilang? Haris di serang?" tanya Pak Bagus dengan suara beratnya. Mendengar suara Marya berteriak teriak, berhasil mengundang pria tua itu keluar dari kamarnya.
"Barusan Kanzo memberitahuku. Dan sekarang Kanzo sudah berangkat kesana untuk menyusul Haris. Dan Ayah juga terluka" jawab Marya. Biar bagaimana pun dulu Ayahnya tidak perduli padanya. Tetap saja Marya khawatir mendengar Ayah nya terluka.
__ADS_1
"Tenanglah, Nak. Mereka pasti baik baik saja." Itu adalah doa dan harapan keluarga yang mendengar keluarganya yang lain mendapat musibah.
"Kenapa orang orang tidak berhenti jahat sama kita, Pa?." Marya menghapus air matanya sendiri dari pipinya. Semenjak berhubungan dengan Kanzo, rasanya masalah terus bertubi tubi datang ke kehidupan mereka. Marya sempat berpikir, apa keluarga Kanzo mempunyai banyak musuh?.
Pak Bagus malah mengulas senyum mendengar pertanyaan menantunya itu. Menantunya itu memang masih polos di Dunia bisnis.
"Karena hanya pohon yang berbuah yang di lempari batu" jawab Pak Bagus dengan kalimat kiasan.
Marya pun langsung terdiam mendengar jawaban Ayah mertuanya itu dan memperhatikan Pak Bagus yang berjalan ke arah sofa.
"Kalau kita bangkrut sampai tidak punya apa apa, orang orang tidak akan mengusik kita. Bahkan orang orang terdekat kita bisa pergi menjauh sampai tak mengenal kita" tambah Pak Bagus lagi saat bokongnya mendarat di sofa.
'Iya, kalau benar begitu, Pa. Buktinya aku gak punya apa apa di lempari hutang sama anak papa, sampai aku terpaksa menjadi istri simpanannya' batin Marya, mendengar apa yang di tuturkan Pak Bagus barusan. Belum tentu benar semua.
Selain mengkhawatirkan Widuri dan juga Haris. Saat ini Marya lebih mengkhawatirkan keselamatan suaminya yang menyusul ke Pulau tersebut.
Marya pun melangkahkan kakinya ke arah sofa, mendudukkan tubuhnya di sana. Membiarkan sang Kakek bermain dengan baby Gavin.
**
Kanzo yang sudah mendarat di Pulau kecil itu, langsung menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Haris. Sedangkan sebagian orang yang di bawanya, bertugas mencari Widuri.
"Ayah, bagaimana keadaan Haris" tanya Kanzo langsung setelah sampai di depan sebuah kamar ICU di rumah sakit itu.
"Kamu memang menantu yang durhaka. Aku di depan mata mu tidak kamu tanya kabarnya. Malah duluan menanyakan kabar sahabatmu itu, padahal aku juga terluka" ketus Pak Maiman. Jika bukan Karena campur tangannya, tidak mungkin pria gagah perkasa itu bisa menikahi Marya, putrinya.
"Aku lihat Ayah baik baik saja, dan hanya luka sedikit. Untuk apa aku bertanya lagi." Kanzo juga sering kesal dengan Ayah mertuanya itu, sering meminta uang padanya lalu menjudikan nya.
__ADS_1
"Dia di dalam" ucap Pak Maiman tanpa melihat Kanzo.
Kanzo langsung mendorong pintu di depannya. Masuk ke ruang ICU tempat Haris di rawat.
"Haris, apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa sampai tertusuk?" cerca Kanzo tanpa peduli Haris yang terbaring tidak berdaya di atas brankar.
"Istriku di culik, Zo" lirih Haris dengan mata terpejam. Haris tadinya tidur, tapi terbangun saat mendengar suara besar Kanzo masuk ke dalam ruangan itu.
Kanzo menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya dengan kasar."Tenanglah, aku sudah menyuruh orang untuk mencarinya. Istrimu akan baik baik saja."
Haris hanya bisa diam dan meneteskan air matanya. Rasanya Haris baru merasakan kebahagiaan dalam menjalani rumah tangga bersama Widuri. Tanpa di duga, musibah datang secara tiba tiba untuk merusak moment kebahagiaan mereka.
"Fokuslah dengan kesehatan mu. Aku berjanji akan membawa Widuri kembali pada mu, Ris. Tetaplah tenang dan terus berdoa." Kanzo mencoba untuk menenangkan sahabatnya yang terlihat resah memikirkan Widuri.
"Aku hanya punya Widuri dan bayi kami, Zo. Kalau aku kehilangan mereka, aku gak punya keluarga lagi." Ibu dan Ayahnya sudah meninggal, dan Soodam Adiknya sekarang sudah menjadi orang lain baginya.
"Kau bicara apa? Apa aku, Papa dan Mama bukan keluarga mu lagi? Kau jangan lupa itu" ketus Kanzo. Selama ini siapa yang peduli padanya?. Kalau bukan Kanzo dan kedua orang tuanya.
"Aku tidak akan lupa itu. Sama seperti kamu, Nona Marya pasti berbeda bagi mu."
"Kau sudah sehat sepertinya. Cepatlah sembuh, biar kita memberantas orang orang yang ingin menghancurkan kita sampai habis. Istirahatlah, aku pergi dulu ke perusahaan. Di luar ada Ayah mertua yang menjaga mu." Kanzo menepuk pelan bahu Haris lantas pergi meninggalkan ruangan itu. Selain perlu mengurus apa yang menimpa Haris dan Widuri, Kanzo juga perlu mengurus anak cabang perusahaannya yang sedang bermasalah.
'Apa yang harus kulakukan, Zo?. Jika yang menikam ku dari belakang adalah Ayah mertuaku sendiri' batin Haris.
Meski hanya sekilas, tadi Haris sempat melihat cincin yang di pakai pria bertopeng itu, mirip dengan cincin Ayah mertuanya, begitu juga dengan jam tangan pria itu, sama persis dengan milik Pak Hilman, Ayah Widuri sendiri. Bentuk tubuh dan mata pria bertopeng itu juga sangat jelas Haris mengenalnya. Tidak mungkin kan, hanya secara kemungkinan, mirip?.
*Bersambung
__ADS_1