
"Hai"
Sapaan suara lembut itu mampu mengalihkan pandangan Widuri yang baru bangun dari tidur lelapnya. Widuri terdiam dan menatap intens wajah pria yang berada tepat di samping wajahnya. Pria itu mengulas senyum lembut dan menjatuhkan satu kecupan di keningnya.
Saat ini mereka tidur di berdekatan. Setelah tadi Widuri selesai di bereskan. Haris meminta perawat di bertugas mengurus mereka, untuk merapatkan brankar mereka, supaya Haris bisa tidur dekat dengan Widuri.
"Trimakasih ya, sudah rela berjuang untukku dan anak kita" ucap pria itu sembari tangannya mengusap lembut ujung kepala Widuri.
Widuri mengerutkan keningnya saat teringat sesuatu. Perlahan mengangkat satu tangannya untuk meraba perutnya.
Melihat itu, Haris mengambil tangan Widuri lalu mengecupnya. Sepertinya setelah bangun dari tidur, istrinya itu lupa kalau sudah melahirkan."Bayi kita sudah lahir. Dia sangat tampan. Wajahnya Dominan mirip dengan mu."
"Aku ingin melihatnya" ucap Widuri lirih. Haris menganggukkan kepalanya.Tentu Haris mengijinkan istrinya itu untuk melihat bayi mereka. Tapi masalahnya sekarang, bayi mereka sedang berada di dalam incubator. Widuri lah yang harus mengunjungi bayi mereka ke ruang bayi.
"Dia harus mendapat perawatan khusus, dan tidak bisa di bawa ke ruangan ini. Kamu lah yang harus menemuinya." Haris berbicara dengan suara lembutnya dengan raut wajah tenang, berharap Widuri tidak khawatir dengan anak mereka.
"Apa bayi kita..."
"Dia baik dan sehat, hanya saja tubuhnya membutuhkan suhu ruang yang hangat untuk sementara waktu" potong Haris, segera menepis pikiran buruk istrinya terhadap bayi mereka."Jangan khawatir, anak kita adalah bayi yang kuat seperti Ibunya" lanjut Haris, tangannya berpindah untuk mengusap lembut kepala Widuri.
"Aku ingin melihatnya." Setelah berhasil melahirkan bayi mereka tadi, Widuri langsung ketiduran dan tidak sempat melihat seperti apa wajah bayi nya.
"Sebentar" Haris pun berusaha meraih tombol merah yang tidak jauh dari jangkauannya, dan langsung menekannya untuk memanggil perawat." Tapi aku gak bisa nemani kamu ya, gak apa apa kan?."
Widuri mengangguk sembari tersenyum. Haris lagi sakit, tentu Widuri memaklumi keadaan suaminya itu.
Tak lama menunggu, seorang perawat pun masuk ke dalam ruangan itu.
"Suster, istriku ingin melihat anak kami. Tolong antar istriku" ucap Haris pada perawat itu.
"Baik, Pak" patuh perawat wanita itu, langsung mengambil kursi roda yang tersedia di sudut ruangan itu dan membawanya mendekat ke brankar. Perawat itu juga membantu Widuri turun dari atas brankar dan membantunya duduk di kursi roda.
"Sayang, maaf ya. Aku gak bisa ikut. Padahal aku juga sangat ingin melihat bayi kita" desah Haris. Pria itu baru sekali melihat putra mereka, itu pun hanya sebentar, tentu Haris masih belum puas melihatnya. Dan bahkan Haris ingin bayi itu tidur di sampingnya.
__ADS_1
"Makanya, Pak Haris cepat sembuh" balas Widuri, tersenyum tulus ke arah pria itu.
Entahlah, semenjak kejadian itu, rasanya cinta wanita itu semakin besar pada Haris. Meski awal pernikahan mereka Widuri selalu dikecewakan, tapi sekarang Haris menunjukkan kalau pria itu sangat mencintainya.
Sepeninggal Widuri dari ruangan itu, Haris langsung meraih ponselnya dari atas nakas dan langsung melakukan panggilan ke nomor seseorang.
"Ya, Halo. Ada apa Ris?" sapa seseorang langsung dari balik telephon.
"Urus keberangkatanku, Zo. Aku ingin membawa keluarga kecil ku ke tempat yang lebih nyaman" ucap Haris.
Kanzo yang berada di balik telephon, terdiam mendengar apa yang dikatakan sahabatnya barusan.
"Aku butuh suasana baru" ucap Haris lagi. Setelah melewati semua apa yang terjadi, Haris ingin suasana yang baru. Dimana iaa dan Widuri bisa menikmati waktu tanpa ada orang orang yang ingin memisahkan mereka.
"Baiklah" terdengar Kanzo menghela napasnya di balik telephon. Kanzo berpikir, mungkin sudah saatnya Haris mulai hidup mandiri, untuk bisa membuka perusahaan sendiri.
"Trimakasih"
"Sama sama"
Semenjak kecil kedua pria itu selalu bersama. Selalu sekolah di sekolah yang sama sampai kuliah. Setelah lulus kuliah mereka sama sama belajar mengelola perusahaan yang di bangun Pak Pagus. Dan sepertinya sudah waktunya mereka hidup masing masing dengan keluarga kecil mereka.
Haris kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Tak lama kemudian, Widuri sudah kembali dari ruangan bayi. Senyum Haris langsung mengembang melihat wajah berbinar Widuri.
'Demi kamu, aku tidak akan tetap membiarkan Ayah mu bebas, Wid. Tapi aku tidak akan membiarkan Ayah mu bisa mendekati mu dan anak kita lagi. Aku gak ikhlas, Wid. Aku gak ikhlas jika kita harus berhubungan baik dengan orang yang tega mencelakai aku, kamu dan anak kita, meski itu Ayah kamu sendiri, Wid.... maafin aku. Maafin aku yang akan menjauhkan kamu dari keluarga mu' batin Haris.
"Dia sepertinya nanti sangat putih. Tapi tubuhnya terlihat sangat kurus dan kecil. Sangat berbeda dengan bayi bayi lainnya" komentar Widuri setelah kembali naik ke atas brankar.
"Kata Dokter, itu karena lahirnya prematur. Nanti seiring berjalan waktu, tubuhnya akan normal seperti bayi lainnya" balas Haris mengusap kepala Widuri dari belakang.
"Semoga saja, aku kasihan melihatnya seperti itu"ucap Widuri lagi." Oh ya, tadi Dokter di ruang bayi itu menyuruhku untuk memompa ASI, supaya bayi kita tidak perlu meminum susu botol lagi. Kata Dokternya tadi, ASI itu lebih bagus dari pada susu botol."
Wanita itu mengoceh dan terlihat sangat bersemangat untuk memeras ASI nya. Sehingga tanpa sadar, Widuri membuka kancing bajunya sampai menampakkan semua permukaan gunung kembarnya. Berhasil membuat pria di sampingnya itu menelan air ludahnya. Apa lagi saat ini Widuri duduk menghadap Haris, sehingga pria itu melihatnya sangat jelas.
__ADS_1
Meski Haris sudah sering melihatnya, tapi tetap saja pria selalu berhasil membuatnya ngiler.
"Awu" tiba tiba Widuri meringis kesakitan saat mulai memompa ASI nya. Sepertinya Nyonya Darmawan itu terlalu kencang memompanya sangking semangatnya.
"Kenapa sayang? Sakit ya?." Refleks Haris tersadar dari lamunannya dan tangannya langsung menyentuh gunung putih di depannya.
"Mungkin karena gak langsung di konsumsi dek bayi, jadi sakit dan airnya susah keluar" jawab Widuri. Meski gunung kembarnya tidak nyaman, tapi Widuri tetap tersenyum.
Haris pun berusaha mendudukkan tubuhnya supaya bisa membantu istrinya itu melancarkan keluarnya ASI.
"Sini aku bantu" ucap Haris, menyingkirkan alat sedot itu dari dada Widuri, dan Haris pun langsung melahapnya. Tentu Haris melakukan itu karena perawat yang mengantar Widuri sudah pergi.
"Pak Haris, nanti orang datang" tegur Widuri sembari melihat ke arah pintu ruangan itu. Khawatir perawat atau orang datang ke ruangan itu.
"Sudah" ucap Haris kembali menegakkan tubuhnya. Meski sebenarnya Haris ingin berlama lama menikmati benda kenyal itu, tapi Haris masih ingat, untuk dua Tahun ke depan, kedua kantong susu praktis itu akan mutlak menjadi hak milik anaknya.
Setelah membersihkan bekas suaminya dengan kain basah. Barulah Widuri mulai memompa kembali ASI nya.
"Sayang" panggil Haris manja.
Widuri yang sibuk langsung menoleh ke arah Haris. Wajah pria itu nampak menderita dan merasa tertekan batin. Widuri pun tidak tau apa penyebabnya.
"Pak Haris kenapa?" tanya Widuri benar benar tidak peka.
Haris tidak menjawab, pria itu mengacak acak rambutnya frustasi. Semakin lama semakin tidak tahan melihat kulit mulus, kenyal dan semakin jumbo itu.
Akhir akhir ini memang tubuh istrinya itu semakin berisi, tidak terlalu kurus seperti dulu lagi. Apa lagi di bagian bagian menonjol tubuh Widuri. Yang dulu tidak berbentuk, sekarang terlihat seksi. Dan wajah Widuri juga terlihat semakin cantik, apa lagi setelah melahirkan, kecantikan Widuri semakin terpancar.
"Sini biar aku yang memompanya" Haris menghela napas kasar untuk mengusir gejolak cinta di jiwanya. Kemudian mengambil kesempatan untuk menyentuh benda vaforitnya itu.
Widuri pun memberikannya dan tersenyum penuh arti ke arah Haris, membiarkan pria itu melakukan sesuka hati.
"Astaga, apa yang kalian lakukan?."
__ADS_1
*Bersambung