
Dua Tahun kemudian
Ceklek!
Mendengar suara pintu terbuka, Widuri langsung menoleh ke arah pintu. Wanita itu langsung mengulas senyum melihat kedua pria tampan miliknya masuk ke dalam kamar.
"Momy" panggil balita di gendongan suaminya itu sambil mengulurkan tangan.
Widuri langsung mendekati kedua pria itu, meraih bayi laki laki itu dari gendongan Haris.
"Gantengnya anak Momy" Widuri pun mengecupi kedua pipi bayi itu.
"Kan Papa nya juga ganteng, Momy" sambung Haris mengecup kedua pipi Widuri bergantian. Meski anak mereka itu wajahnya kebanyakan mirip Widuri, tapi tetap saja pria itu mengatakan kalau anak mereka itu ganteng seperti dirinya.
"Tapi gantengan Noah, Papa."Widuri mengecup kembali pipi putranya itu. Ya, Widuri memberi nama anak mereka itu, Noah Xavier Darmawan, setelah Haris memberinya ijin menamai anak mereka itu.
"Iya deh, gantengan Noah." Pria berusia 35 Tahun itu selalu saja cemburu pada putra mereka. Karena Widuri selalu saja mengatakan kalau Noah lebih ganteng dari pada Haris.
Cup!
Satu kecupan pun Widuri daratkam di pipi pria yang memeluknya dari belakang itu.
"Suamiku ini juga gak kalah ganteng di banding suami suami orang di luar sana" puji Widuri, supaya wajah suaminya itu tidak cemberut lagi.
Pria berusia matang itu pun menjadi senang karena baru mendapat pujian dari Widuri. Narsis memang, tapi itulah Haris, dia ingin Widuri mengatakannya menjadi pria tertampan dan terganteng sedunia.
"Kak Wid, Kak Haris. Dari tadi di tungguin gak turun turun. Kita udah mau berangkat loh."
Mendengar suara Nala berseru dari ambang pintu. Haris langsung melepas pelukannya dari tubuh Widuri dan menoleh ke arah Nala, begitu juga dengan Widuri.
Hari ini mereka akan pulang ke Indonesia setelah dua Tahun menetap di luar Negri. Mereka harus menghadiri undangan Kanzo dan Marya atas pembukaan gedung perusahaan pusat, yang sudah berhasil di bangun kembali setelah di hancurkan oleh Baim dan Pak Dirga.
"Dari tadi aku dan Mama menunggu di bawah. Malah kalian asyik asyik mesra mesraan di sini" sungut Nala memutar tubuhnya segera kembali turun ke lantai bawah rumah itu.
Setelah dua Tahun meninggalkan Negara tercinta, tentu Nala sangat merindukan kampung halamannya itu. Nala tidak sabar untuk bisa bertemu dengan teman temannya.
"Ayo sayang, sepertinya Adik mu itu sudah gak sabar untuk bertemu pacarnya di Indonesia" ajak Haris, merangkul pinggang Widuri, membawa wanita itu keluar kamar.
__ADS_1
"Pacarnya yang mana?. Aku rasa dia gak punya pacar" tanya Widuri. Selama ini Nala tidak pernah memberitahunya soal hubungan Adiknya itu dengan pria manapun.
"Aku juga gak tau pasti, tapi aku pernah mendengarnya berbicara lewat telepon dengan seorang pria. Nala memanggil pria di telepon itu dengan panggilan my honey" jawab Haris.
"Masa sih?."
"Hm!" Haris menjawab dengan berdehem, karena mereka sudah sampai di lantai bawah rumah itu. Di sana sudah ada Ibu Ratna menunggu mereka.
"Kalian lama sekali, nanti kita ketinggalan pesawat. Sayang tiketnya jika kita harus memesan tiket baru lagi" tegur Ibu Ratna, berdiri dari sofa lalu meraih cucunya dari gendongan Widuri, membawanya keluar kamar. Di ikuti Haris, Widuri dan Nala dari belakang.
**
Di Indonesia
Dari tadi Marya sibuk berkutat di dapur dari tadi, untuk menyiapkan beberapa masakan untuk menjamu kedatangan Widuri dan keluarganya dari luar Negri. Setelah dia Tahun berjauhan dengan sahabatnya itu, ini pertama kalinya mereka akan bertemu kembali.
"Huaaaa Mama. Sama Mama!."
Suara tangisan bocah laki laki itu langsung mengalihkan perhatian Marya ke arah sumber suara itu.
"Sayang, sudahlah masaknya. Yang datang itu hanya Haris, tapi kamu menyambut mereka seperti tamu istimewah saja, sampai kamu memasak makanan sangat banyak" ujar Kanzo yang datang menggendong putranya yang menangis itu.
Wajar saja bocah laki laki itu lebih dengan dengan Marya, karena hampir dua puluh empat jam, bayi itu setiap hari bersama Ibunya. Sedangkan Kanzo yang sangat sibuk mengurus perusahaan, sangat jarang bisa membagi waktu dengan anaknya.
"Tinggal sedikit lagi, sebentar ya sayang" ucap Marya sembari mengaduk aduk rendang di dalam kuali di depannya. Rendang itu hampir tanak, kalau di tinggal sebentar saja, bisa langsung gosong di bagian bawahnya.
"Mama!" bocah itu terus menangis meronta ingin turun dari gendongan Kanzo.
"Mama lagi masak, sayang. Sebentar ya. Sebentar lagi Noah akan datang ke sini loh" bujuk Kanzo. Meski belum pernah bertemu, tapi Gavin dan Noah sering bervidio call, sehingga media balita itu bisa saling mengenal.
"Noah?"
Mendengar nama Noah, Gavin langsung menghentikan tangisnya.
"He um" Kanzo mengangguk anggukkan kepalanya, kemudian menghapus air mata Gavin dengan jari tangannya."Jangan menangis lagi, ya. Main sama Papa mau?" bujuk Kanzo lagi. Berharap Gavin mau bermain dengannya. Namun balita itu kembali menangis, ingin bersama Ibunya.
Kanzo pun menghela napasnya pasrah, karena Gavin tidak ingin bermain dengannya.
__ADS_1
"Setelah ini, sering seringlah meluangkan waktu untuk Gavin. Dia masih kecil, dia juga butuh perhatian dari Papanya. Dia tidak akan mengerti kesibukan orang dewasa" ujar Marya.
Setelah keputusan Haris pindah keluar Negri, suaminya itu memang sangat bertemu dengan Gavin. Hampir setiap hari Kanzo pulang malam bahkan larut malam, terkadang Kanzo tidak pulang ke rumah sangking banyaknya pekerjaan.
"Aku kan, bekerja sayang. Kamu tau sendiri semenjak Hari pindah, aku sendiri yang mengurus semua. Meski aku punya asisten baru, tapi aku belum bisa mempercayakan semua kepadanya, tidak seperti kepada Haris" balas Kanzo, wajahnya tampak marah.
"Iya, aku tau. Kan aku bilang setelah ini, setelah perusahaan bisa berjalan kembali normal." Marya menghela napasnya melihat wajah Kanzo yang nampak tidak terima dengan apa yang dikatakannya tadi.
Melihat masakannya sudah matang, Marya pun mematikan api kompor di depannya. Dan langsung mendekati Kanzo, meraih Gavin dari gendongan pria itu.
"Maksudku, Gavin juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang mu" ucap Marya lagi, lantas membawa Gavin keluar dari dapur.
Sebagai istri, Marya juga sedikit kecewa dengan Kanzo, yang lebih mementingkan pekerjaan dari pada istri dan anak. Padahal dulu Kanzo sudah berjanji akan selalu mengutamakannya dari pada pekerjaan, tapi selama dua Tahun ini, pria itu ingkar dengan janjinya.
Sampai di dalam kamar, Marya langsung membawa Gavin masuk ke dalam kamar mandi, untuk memandikan balita itu. Setelah selesai, langsung membawanya keluar.
Di dalam kamar, sudah ada Kanzo duduk di atas sofa. Wajah pria itu terlihat sangat lelah. Wajar saja, pria itu kebanyakan menghabiskan waktunya bekerja dan bekerja. Marya menjadi kasihan melihatnya, tapi terkadang Marya kesal dan kecewa terhadap suaminya itu.
"Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untuk mu" ujar Marya, mendudukkan Gavin di atas kasur, lalu mengambil perlengkapan balita itu di dalam lemari.
"Terkadang aku juga merasa jenuh bekerja setiap hari. Tapi aku tidak punya pilihan selain tetap harus bekerja. Seandainya aku punya saudara, aku akan punya teman untuk berbagi tugas"ucap Kanzo dengan posisi kepala bersandar ke sandaran sofa.
Marya pun mendekati Kanzo dan mengelus lembut bahu pria itu.
"Jangan terlalu mengejar Dunia. Perkerjaan itu tidak akan ada habisnya, kalau kita tidak menghentikannya sendiri" ucap Marya dengan suara lembutnya.
Kanzo mengangkat kepalanya dari sandaran sofa dan langsung menoleh ke arah Marya.
"Kamu juga butuh istirahat yang cukup setiap harinya. Sisakan sebagian waktu mu untuk kesehatan tubuh mu di masa tua. Aku juga membutuhkan mu, kasih sayang dan perhatian mu. Butuh di bawa liburan juga, seperti istri istri di luar sana" ucap Marya dengan gaya manjanya." Jangan hanya menjadikanku istri di atas ranjang. Kalau pengen tinggal tancap aja, selesai" Rajuk Marya.
Selain di atas ranjang, pria itu tidak punya cerita lain lagi bersama istrinya itu. Karena lelah dan waktu yang sulit dibagi.
"Mama, basah."
Pandangan Marya dan Kanzo langsung mengarah ke arah bocah yang berdiri di depan mereka. Tidak pakai baju sama sekali, terlihat persis seperti tuyul. Dan yang paling menarik perhatian Kanzo dan Marya. Balita itu mencubit cubit, tititnya yang basah karena baru siap pipis.
"Astaga, jadi aku lupa memakaikannya baju."
__ADS_1
*Bersambung