Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Jangan membantah


__ADS_3

Pagi hari, Widuri terbangun dari tidurnya. Ia langsung turun dari atas kasur dan berlari masuk ke dalam kamar mandi. Sampai di dalam kamar mandi, Widuri langsung memuntahkan isi perutnya.


'Ya Tuhan, ini sakit banget' batin Widuri, sepertinya mual di pagi harinya tambah parah. Padahal semalam mual nya tidak separah ini, sampai mengeluarkan cairan asem dari dalam perutnya.


Oek oek oek!


Widuri terus mengeluarkan isi perutnya. Padahal sudah habis keluar, tapi rasanya masih mual banget. Membuat Widuri kesakitan setengah mati, namun di rumah itu tidak ada yang peduli dengannya.


Kemana Haris?, jangan di tanya. Pasti berada di kamar Cici.


Dan benar, pagi pagi begini, Haris masih tertidur pulas di dalam pelukan istri pertamanya. Apa lagi tadi malam Cici membuatnya kelelahan, sehingga Haris enggan untuk bangun, padahal hari sudah pagi.


Setelah mual nya reda, Widuri pun langsung mandi. Selesai mandi langsung bersiap siap untuk berangkat kerja. Pagi ini Widuri berangkat sangat cepat, karena ingin mencari sarapan untuknya. Dan juga Widuri tidak mau jika harus berangkat bersama Cici dan Haris.


"Haris, bangun, ini sudah pagi" ucap Cici dengan lembut sambil membelai wajah pria di sampingnya.


"Sudah jam berapa?" gumam Haris tanpa membuka matanya.


"Jam enam" jawab Cici.


Haris pun menggeliatkan tubuhnya sambil menguap, kemudian membuka matanya. Di lihatnya Cici yang duduk di sampingnya sudah selesai mandi, di lihat dari rambutnya yang basah.


"Ayo cepat mandi, nanti kita terlambat bekerja" ujar Cici, mengecup kilas bibir Haris.


Haris mengangguk sembari tersenyum. Laki laki mana yang tidak senang mendapat perhatian yang baik dari istri. Haris pun segera turun dari atas tempat tidur, dan melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi.


Selesai membersihkan diri, Haris pun langsung keluar dengan memakai handuk di lilit di pinggangnya. Di dalam kamar sudah tidak ada Cici, di lihatnya di atas kasur, Cici sudah menyiapkan pakaian kerja untuknya. Selesai berpakaian, Haris langsung keluar kamar, melangkahkan kakinya ke arah makar Widuri.


"Wid!" panggil Haris setelah membuka pintu kamar istri keduanya itu. Namun di dalam kamar sudah tidak ada Widuri." Sayang! kamu dimana?" seru Haris lagi, melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi, namun ternyata kamar mandi juga kosong.


"kemana dia?, apa sudah di meja makan?" gumam Haris dengan kening mengerut. Haris pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar Widuri, menuruni anak tangga menuju ruang makan. Namun sampai di sana, ternyata Widuri tidak ada.


"Ci, Widuri mana?"tanya Haris kepada Cici yang sibuk menyiapkan makanan di meja makan.

__ADS_1


"Bukankah dia masih di kamarnya?" tanya balik Cici, berbicara sebaik mungkin, meski sebenarnya hatinya sangat marah mendengar pertanyaan Haris barusan.


"Pagi pagi tadi, Non Widuri sudah berangkat, Pak" ucap salah seorang pembantu di rumah itu.


Haris langsung menghela napasnya kasar.' Kenapa dia keras kepala sekali' batin Haris.


"Bi, ambilkan kotak makan" suruh Haris kepada pembantu itu, lalu mendudukkan tubuhnya di kursi yang biasa ia duduki. Dan Cici langsung menyiapkan sarapan ke piringnya.


"Ini, Pak" ucap si Bibi yang di suruh Haris mengambil kotak makanan.


"Trimakasih" balas Haris, kemudian mengisi kotak makanan itu dengan makanan yang tersaji di meja makan.


"Ris, kamu makan aja, biar aku yang menyiapkannya" ujar Cici dengan lembut, mengambil kotak makan itu dari tangan Haris.


"Seharusnya, jadi istri Widuri itu harus tau tugasnya. Seharusnya melayani suami, ini malah dilayani. Pagi pagi buta sudah kabur dari rumah" celetuk Ibu Ilona yang baru masuk ke ruang makan.


Haris menghela napasnya, malas jika ingin membalas celetukan Ibunya itu yang selalu mencari cari kesalahan Widuri.


"Lihat Cici, dia mau memasak pagi pagi, menyiapkan sarapan untuk kita. Padahal Cici berasal dari keluarga berada loh!" puji Ibu Ilona kepada Cici.


"Ma!" tegur Haris tidak terima Widuri selalu di rendahkan dan di hina Ibunya.


"Emang kenyataannya seperti itu." Ibu Ilona membenarkan perkataannya.


"Itu Karena Mama gak menyukainya, makanya dia seperti itu. Coba Mama baik sama dia, pasti Widuri juga akan baik Ma."


"Kamu sudah buta menilainya, Haris!. Mentang mentang dia sedang mengandung anakmu, kamu membelanya" marah Ibu Ilona meninggikan suaranya.


"Ma, sudah Ma, sudah Ma." Sebagai menantu yang baik, Cici pun mendekati Ibu mertuanya itu untuk menenangkannya." Cici gak apa apa Ma. Cici sudah ikhlas jika memang harus di madu. Semua salah Cici Ma, yang terpenting bagi Cici sekarang, Haris masih menerima Cici" lirih Cici mendramatiskan wajahnya.


"Mama yakin, wanita murahan itu sengaja menjebak anak Mama. Supaya Haris menikahinya, dan mendapatkan uang yang banyak dari Haris" tangis Ibu Ilona.


"Gak apa apa, Ma. Ini sudah takdir Cici" ucap Cici terdengar begitu tulus.

__ADS_1


"Ci, ayo cepat sarapan, pagi ini kita ada meeting kan. Jangan sampai kita terlambat" perintah Haris, tak ingin melihat kelanjutan drama dramatis Ibunya itu.


Cici pun langsung menurut, kembali mendekati Haris dan duduk di samping pria itu.


Selesai sarapan, Haris dan Cici langsung berangkat bekerja. mereka sama sama berangkat menggunakan mobil yang sama. Sampai di perusahaan, Haris langsung mendekati Widuri yang duduk di meja resepsionis perusahaan itu.


"Wid, ke ruangan ku sekarang!" perintah Haris, sibuk menarik lengan wanita itu supaya Widuri berdiri dari tempat duduknya.


"Aku gak mau" tolak Widuri menarik kasar tangannya dari genggaman Haris, namun tidak lepas karena Haris memegang erat tangannya.


"Jangan membantah Wid" tegas Haris. Sepertinya mood pria itu tidak bagus pagi ini, sampai membuatnya mudah marah.


"Jangan memaksaku" bantah Widuri membalas tatapan tajam Haris dengan mata berkaca kaca. Setelah tadi pagi ia merasakan sakit sendiri saat muntah muntah di kamar mandi. Haris yang mengakui mencintainya, kemana?.


"Aku membawakan sarapan untuk mu. Ayo sarapan di ruangan ku." Haris merendahkan nada suaranya.


"Aku udah sarapan!" cetus Widuri menarik lagi tangannya dari genggaman Haris, namun tidak berhasil melepasnya.


"Wid" panggil Haris lembut.


Cici yang berdiri di belakang Haris, jangan di tanya. Wanita itu sudah menatap Widuri tajam dengan rahang mengeras. Memberi peringatan supaya Widuri tetap menolak ajakan Haris.


"Aku mual, gak bisa di paksa makan" ujar Widuri, tetap menolak ajakan Haris. Bukan karena takut dengan melihat Cici. Hanya saja Widuri malas jika harus berantem ribut ribut bersama Cici.


"Semenjak kapan?" tanya Haris tidak percaya.


"Pagi ini" jawab Widuri membuang muka ke arah lain.


"Aku gak percaya" Haris pun menarik tangan Widuri, memaksanya ikut ke ruangannya.


"Pak Haris!, lepasin!" teriak Widuri, terus berusaha melepaskan tangannya. Namun percuma, Haris sudah berhasil membawanya masuk ke dalam lif bersama Cici.


Sampai di ruangannya, Haris langsung mengunci pintu ruangannya supaya Widuri tidak bisa kabur. Kemudian Haris membawa Widuri ke arah kursi kerjanya dan mendudukkan tubuh Widuri di sana.

__ADS_1


"Kata si Bibi, kamu tadi berangkat subuh subuh. Kenapa?, kenapa gak menungguku dan Cici untuk berangkat sama sama. Kamu lagi hamil Wid, gak bagus kalau kamu bepergian sendiri, apa lagi masih pagi pagi buta, jalanan masih sangat sunyi, bahaya Wid. Aku gak mau terjadi apa apa sama kamu, Wid. Pagi pagi kamu sudah membuatku khawatir" oceh Haris menatap tajam wanita yang berani menantang tatapannya itu.


*Bersambung


__ADS_2