Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Menjadi penyelamat


__ADS_3

Cici memungut pakaiannya yang berserak di lantai lalu memakainya. Kemudian Cici merapikan rambutnya di depan kaca cermin yang berada di dalam kamar hotel itu.


"Mana bayaranku?" tanya Pria yang masih berbaring di atas kasur itu sambil memperhatikan Cici. Pria itu adalah pria bayaran Cici untuk menyalurkan hasratnya yang tidak tersalurkan selama hampir tiga Minggu ini.


"Nanti aku akan mentransfernya, sekarang aku lagi buru buru" jawab Cici, bergegas keluar dari dalam kamar hotel itu.


'Permainan wanita itu panas juga.'


Pria itu menarik satu sudut bibirnya ke atas sembari membatin, mengingat betapa beringasnya istri dari seorang Haris itu bermain main di atas tubuhnya.


Pria itu pun turun dari atas kasur, segera memakai pakaiannya dan langsung meninggalkan kamar hotel itu.


**


Haris yang duduk di kursi kerjanya, mengeraskan rahangnya, tangannya juga terkepal melihat foto pria yang keluar dari kamar hotel yang sama dengan Cici.


'Kurang ajar, Cici ternyata sudah menipuku habis habisan' batin Haris.


Bagaimana tidak, Cici bukan hanya istri sirih Brandon, tapi ternyata Cici juga mau menjajakan tubuhnya kepada pria lain. Cici hanya berpura pura tulus mencintainya untuk mendapatkan uang yang banyak darinya.


Haris pun menghela napasnya kasar, kemudian berdiri dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya ke arah sofa di ruangan itu. Haris pun mendudukkan tubuhnya di samping wanita yang terlelap di atas sofa. Wanita yang di cintai Haris di dalam hatinya. Haris mengulurkan tangannya mengelus lembut perut wanita itu.


'Trimakasih, Nak. Kehadiranmu di rahim Ibumu, menjadi penyelamat Papa dari wanita licik itu. Papa janji demi kamu dan Ibumu, akan menyingkirkan wanita itu secepatnya dari hidup kita.'


Haris membatin tanpa melepas netranya dari wajah lelap Widuri. Wajah itu sangat menyebalkan dan berhasil membuat rasa haru Haris menjadi kesal. Kesal karena wanita itu tidak mau di sentuh olehnya, tidak mau melayaninya, tidak mau memberinya kenikmatan. Andaikan saja wanita itu sedang tidak mengandung anaknya, sudah pasti Haris akan membuat wanita itu pasrah di bawah kungkungannya.


Haris pun menjatuhkan satu kecupan di kening Widuri, lalu keluar dari ruangan itu. Tidak lupa Haris mengunci pintu itu, khawatir ada orang yang jahil masuk untuk mengganggu istirahat istrinya itu.


Sampai di depan ruang kerja Kanzo, Cici belum kembali ke meja kerjanya. Mungkin wanita licik dan kurang ajar itu masih dalam perjalanan. Haris pun mengetuk ruang kerja Kanzo dan langsung membukanya tanpa di perintahkan masuk.


"Zo, aku gak tahan lagi jika harus berpura pura baik pada Cici" ucap Haris langsung setelah menutup pintu ruangan itu rapat rapat.


"Kamu harus tahan demi perusahaan ini, Ris. Kamu tau sendiri perusahaan ini sangat membutuhkan Cici. Meski sebenarnya kita bisa mencari pengganti Cici. Tapi Ris, kita tidak punya waktu untuk melatih sekretaris baru" ujar Kanzo menatap wajah Haris yang begitu Napak sedih dan marah.

__ADS_1


Bagaimana tidak sedih dan marah, Haris yang tulus menerima kekurangan Cici, ternyata wanita menipunya.


"Tapi Zo...."


"Pikirkan juga bayi yang berada di perut Cici?" potong Kanzo tidak membiarkan Haris menyelesaikan kalimatnya.


"Aku gak yakin lagi kalau bayi itu anakku" desah Haris wajahnya nampak sedih. Dia sangat menyayangi bayi yang berada di dalam perut Cici, karena awalnya Haris mengira itulah bayi nya. Tapi semenjak mengetahui kebusukan Cici, Haris ragu dengan bayi itu.


"Aku mengerti perasaanmu. Sebentar lagi Marya akan melahirkan, untuk sementara waktu aku pasti fokus mengurus anak dan istriku. Setelah nanti Marya pulih setelah melahirkan, baru kita bertindak menyingkirkan Cici" ujar Kanzo.


Jika bertindak menyingkirkan Cici sekarang. Nanti Haris kewalahan mengurus perusahaan sendiri. Tidak ada yang membantunya jika mereka menyingkirkan Cici.


"Berapa Bulan lagi?." Wajah Haris terlihat begitu frustasi mendengar yang dikatakan Kanzo barusan. Dan Haris juga tidak sabar lagi supaya bisa menjalani bahtera rumah tangga bersama Widuri dengan selayaknya.


"Ini sudah Bulannya melahirkan, hanya tinggal menunggu tanda tandanya saja" jawab Kanzo.


"Baiklah" pasrah Haris.


"Haris, aku membelikan puding untukmu" Cici berdiri dari kursinya dan mendekati Haris yang baru keluar dari ruangan Kanzo.


"Dari mana?" tanya Haris tetap berpura pura baik pada Cici.


"Cari makan di luar" jawab Cici.


"Bukankah kamu membawa makanan dari rumah? Kenapa masih makan di luar?." Haris menerima puding itu, meski sebenarnya Haris sudah jijik melihat Cici.


"Aku pengen makan di luar saja. Makanan yang kubawa dari rumah pasti sudah dingin" jawab Cici mengulas senyumnya.


"Ya udah, aku ke ruanganku dulu." Haris berlalu dari hadapan Cici sembari mengusap lembut kepala wanita itu.


'Akhir akhir ini Haris dan Widuri rasanya semakin dekat. Aku harus membuat Haris tidak menyukai Widuri lagi. Bagaimana pun caranya, Haris harus tetap menceraikan Widuri setelah bayi itu lahir.'


Cici membatin sambil terus memperhatikan punggung Haris yang menghilang di balik pintu ruang kerja pria itu.

__ADS_1


Sedangkan Haris yang sudah masuk ke dalam ruangannya, mendekati Widuri yang sudah bangun dan duduk di kursi meja kerjanya menatapnya dengan horor. Sepertinya wanita itu marah karena sudah terkurung di ruangan itu.


"Sudah bangun?" tanya Haris tidak takut sama sekali melihat tatapan tajam wanita itu.


"Pak Haris selalu memaksaku, aku gak suka dengan sikap Pak Haris seperti itu" ucap Widuri.


"Kalau gak seperti itu, mana mungkin aku bisa mendapatkanmu." Haris yang sudah berdiri di samping Widuri, mengusap lembut ujung kepala wanita itu, lalu mengecup keningnya.


"Tapi aku gak suka" Widuri menjadi kesal melihat ekspresi wajah Haris yang tidak merasa bersalah sama sekali kepadanya.


"Tapi aku suka." Haris menarik kasar rambut Widuri ke belakang sampai wajah wanita itu mendongak ke arahnya, kemudian Haris menyerang bibir wanita itu dengan hikmat.


Widuri meronta ronta, ia tidak mau dicium, karena Haris masih mau mencium bibir Cici. Tapi Haris tidak peduli, ia terus menikmati bibir itu sampai puas.


"Pak Haris !" teriak Widuri setelah Haris melepas ciuman mereka." Dasar Pak Haris pria pemaksa!. Aku gak mau lagi dengan Pak Haris. Udah ku bilang jangan menyentuhku sebelum Pak Haris menceraikan siluman itu!. Kenapa masih menyentuh ku!."


Teriakan Widuri berubah menjadi tangisan. Sungguh, Widuri gak mau di sentuh Haris sebelum pria itu menceritakan Cici, Widuri Jijik jika harus menikmati bekas Cici.


Oek oek oek!


Tiba tiba perut Widuri terasa mual dan muntah di kursi kerja Haris.


"Sayang, aku minta maaf" ucap Haris menyesali perbuatannya, setelah melihat Widuri muntah.


"Udah kubilang jangan paksa paksa" tangis Widuri sambil mengeluarkan isi perutnya.


Apa lagi tadi Widuri tau, Haris dan Cici sempat berciuman di ruangan itu. Haris belum mandi atau sikat gigi. Widuri menjadi tambah mual, karena ada bekas Cici di bibir Haris.


"Iya sayang, aku gak paksa lagi." Haris memijat mijat leher belakang Widuri, supaya mual dan muntah istrinya itu mereda.


'Ya Tuhan' batin Haris frustasi karena ia tidak punya tempat menyalurkan hasratnya saat ini. Ia tidak mau lagi bermain dengan Cici. Dan Widuri tidak mau di sentuhnya.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2