Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Balas budi


__ADS_3

'Pak Haris' batin Widuri melihat Haris lah yang membuka pintu apartement itu.


Widuri mengulas senyumnya, kemudian melangkahkan kakinya mendekati Haris, layaknya seorang istri menyambut suaminya pulang kerja.


"Pak Haris udah makan?." Widuri mengambil jas yang tersampir di lipatan siku pria itu, dan kemudian mengambil tasnya.


"Kamu tidak perlu melakukan itu" ujar Haris menolak perbuatan baik Widuri kepadanya.


Widuri langsung terdiam dan memandang wajah Haris dengan mata berkaca kaca. Begitu keras kah hati pria itu membencinya?, sehingga tidak bisa memaafkan kesalahannya malam itu. Dan Tidak ingatkah pria itu dengan kesalahannya sendiri, yang telah merenggut kesuciannya?.


"Setelah anak itu lahir, kita akan bercerai sesuai dengan keinginanmu sebelum kita menikah. Jadi untuk apa kamu memperlakukanku layaknya suami?" Haris bertanya dengan nada mencibir.


"Kenapa Pak Haris begitu marah, padahal aku tak sengaja memeluk Brandon?. Bagiamana dengan Cici yang telah membohongi Pak Haris. Kenapa begitu mudah Pak Haris memaafkannya?. Dan kenapa aku juga harus memaafkan kesalahan Pak Haris yang telah merenggut kesucian ku?. Seharusnya aku menjebloskan Pak Haris ke penjara, biar semua orang tau kalau Pak Haris itu pria bajingan." Widuri menatap tajam mata pria yang tak putus memandangnya itu.


"Karena kamu mencintai ku, makanya kamu tidak menjebloskan ku ke penjara. Dan sepertinya yang di katakan Cici benar, kamu memanfaatkan ku malam itu, supaya aku menikahi mu. Sudah tau aku mabuk, seharusnya kamu yang sadar menghindari ku supaya aku tidak sampai meniduri mu. Tapi kamu malah mengambil kesempatan itu."


Sangking emosinya, tubuh Widuri terlihat bergetar, rahangnya mengeras, dadanya naik turun, dan tangannya juga terkepal erat mendengar barusan apa yang di katakan pria di depannya itu. Sangat menyebalkan. Jika saja membunuh tidak berdosa dan masuk penjara, sudah di pastikan pria itu mati di tangannya sekarang.


"Sekali lagi Pak Haris berani bicara seperti itu. Aku tidak akan segan segan membunuh istri siluman mu itu" geram Widuri melangkahkan kakinya kembali ke arah kamarnya. Sebelum membuka pintunya, Widuri memutar tubuhnya ke kembali ke arah Haris yang masih berdiri di tempatnya.


"Teruslah menguji kesabaran ku. Jika tiba saatnya kesabaran ku habis. Jangan salahkan aku, karena saat itu aku sudah tidak punya hati menerima penyesalan mu." Setelah mengatakan itu, Widuri bergegas masuk ke dalam kamarnya dan langsung menutup pintunya.


Brakk!


Pintu itu pun berdebum kencang, karena Widuri menutupnya kasar. Berhasil membuat Haris terlonjak kaget.


"Dia memang sangat berbeda dengan Cici" gumam Haris.


Haris pun melangkahkan kakinya masuk ke kamar yang di tempati Widuri. Meski hubungan mereka sedang tidak baik, tapi Haris sudah memutuskan untuk membagi waktunya tiga malam untuk menjaga bayinya yang masih di dalam kandungan Widuri itu.

__ADS_1


Di dalam kamar, di lihatnya Widuri sedang menangis duduk di atas kasur.


'Ya Tuhan, kalau bukan karena rencana untuk menyingkirkan Cici. Mungkin aku sudah pergi jauh dari sini' batin Widuri menatap Haris yang melangkah ke arahnya.


Haris mendudukkan tubuhnya di depan Widuri, kemudian mengulurkan tangannya untuk menghapus lelehan bening yang mengalir di pipi wanita itu. Wanita itu terlihat semakin kurus semenjak hamil.


"Aku minta maaf!" ucap Haris, kemudian membingkai wajah Widuri dengan kedua telapak tangannya.


Widuri menundukkan pandangannya tak ingin melihat pancaran sihir memabukkan dari bola mata pria itu.


"Aku cemburu, kamu milikku Wid. Aku yang berhak mendapat pelukanmu, bukan laki laki lain. Jangan pergi lagi dengan laki laki lain lagi." Haris membawa Widuri ke dalam pelukannya, lalu mengecup ujung kepala wanita itu dengan hikmat. Berhasil membuat Widuri terdiam dan mengerutkan keningnya, bingung dengan sikap pria yang berstatus suaminya itu.


"Katakan kamu mencintaiku, Wid. Jangan menyimpannya sendiri, karena aku juga mencintai mu. Aku menyayangi mu, Wid" Haris berbicara dengan suara lembutnya.


"Pak Haris tidak mencintaiku" bantah Widuri.


Jika pria itu mencintainya, tidak mungkin pria itu terus mengabaikannya. Dan bahkan tega menyakiti hatinya dengan kata kata kasar.


"Aku mohon, Wid. Tetaplah menjadi istri ku. Aku tidak bisa melepaskan Cici, Wid. Aku juga gak mau jika sampai kehilangan mu" ucap Haris lagi di dalam tangisnya.


Widuri pun memilih diam, mendengarkan Haris menyelesaikan ceritanya. Apa apa sebenarnya?.


"Mama sudah pergi, Wid."


Duarr!


Bagai di sambar petir, Widuri sangat kaget mendengar berita duka itu.


"Mama sudah meninggal, Wid" tangis Haris semakin pecah." Sebelum meninggal, Mama sempat sadar. Dia mengatakan sesuatu padaku, Wid. Orang tua Cici pernah mendonorkan sebelah ginjalnya pada Mama."

__ADS_1


"Aku baru tau itu, Wid. Mama gak pernah memberitahu ku selama ini. Mama memintaku untuk tetap mempertahankan pernikahanku dengan Cici, Wid."


'Pantas aja, Cici bisa mengatur Ibu Ilona dan Soodam. Mungkin Cici selalu mengingatkan Ibu Ilona tentang donor ginjal itu' batin Widuri.


"Aku gak mau kehilangan kamu, Wid. Aku mohon, jangan meminta cerai dariku. Aku mencintai kamu, Wid."


"Tapi Pak Haris tidak bisa adil kepada ku" ujar Widuri. Malah tekatnya semakin bulat ingin bercerai setelah mendengar cerita Haris barusan.


"Aku akan berusaha adil. Cici juga tidak keberatan akan hal itu."


Widuri menghela napasnya kasar, kemudian melepas pelukan pria itu dari tubuhnya." Ayo bawa aku bertemu, Mama. Untuk masalah kita, kita bisa membicarakannya nanti. Pak Haris ke sini untuk menjemput aku, kan?."


Haris menganggukkan kepalanya dan menghapus air matanya sendiri dari pipinya.


Sebenarnya tadi Haris langsung meninggalkan Widuri, Karena mendapat kabar dari Soodam adiknya, kalau Ibu Ilona telah sadar. Haris sengaja tidak mengajak Widuri, untuk menghindari keributan, mengingat Widuri dan Ibu Ilona tidak cocok.


Setelah sampai di rumah sakit. Haris dan Ibu Ilona masih sempat berbicara. Ibu Ilona yang meminta Haris untuk tetap mempertahankan pernikahannya dengan Cici, sebagai balas budi atas ginjal yang telah di donorkan orang tua Cici kepada Ibu Ilona di masa lalu.


"Aku siap siap dulu" ucap Widuri dan segera turun dari atas kasur. Setelah mengganti pakaiannya dengan yang lebih layak di pakai melayat. Haris pun membawanya dari apartement itu, untuk melihat jasad Ibu Ilona yang masih berada di rumah sakit.


Sepanjang di dalam perjalanan, Widuri diam membeku, tubuhnya sangat kaku. Merasa bersalah dan merasa sudah menjadi pembunuh. Karena sebelumnya, Widuri lah yang menyebabkan Ibu Ilona mengalami pecah pembuluh darah dan mengalami koma.


'Tuhan aku sudah membunuh Ibu mertuaku sendiri. Ampuni aku, sungguh aku tidak bermaksud untuk menyakitinya waktu itu. Aku hanya ingin melindungi bayi ku' batin Widuri sambil menggigit kuat bibir bawahnya.


Haris dari tadi diam saja dengan pandangan lulus ke depan. Entah apa yang di pikirkan pria itu saat ini. Wajahnya nampak begitu sedih dan frustasi.


"Pak, Nona, kita sudah sampai di rumah sakit" ujar sang supir yang membawa mereka, melihat kedua majikannya sama sama duduk melamun, sampai tidak menyadari kalau mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit tempat Ibu Ilona menghembuskan napas terakhirnya.


"Trimakasih" balas Haris yang tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


Haris dan Widuri pun sama sama keluar dari dalam mobil, sama sama melangkah masuk ke dalam gedung rumah sakit.


*Bersambung


__ADS_2