Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Meminta bantuan


__ADS_3

Esok harinya, Widuri yang sudah selesai bersiap akan berangkat kerja, keluar dari dalam kamarnya yang berada di rumah Haris. Tadi malam Haris tidak tidur di bersamanya lagi, karena pria itu sudah menghabiskan tiga malam tidur bersamanya. Widuri tidak peduli itu, terserah pria itu mau tidur dimana.


Saat menapakkan kakinya di lantai bawah rumah itu, Ada Soodam yang menunggunya di dekat tangga. Wanita yang berusia dua Tahun di bawahnya itu, menatapnya penuh kebencian.


"Pergi kau dari rumah ini. Dan jangan pernah menginjakkan kaki di sini" ucap Soodam.


Widuri terdiam dan membalas tatapan tajam Adik iparnya itu. Widuri berpikir, sepertinya Haris sedang tidak berada di rumah itu, sehingga Soodam berani mengusirnya. Dimana Haris? ini masih pagi, tidak mungkin Haris langsung bekerja mengingat baru tadi malam Ibunya meninggal.


Setelah puas membalas tatapan Soodam, Widuri pun melangkahkan kakinya tanpa berniat mengatakan apa pun kepada Soodam. Keluarga itu masih dalam keadaan berduka, Widuri tak ingin membuat keributan di sana.


"Dengar gak aku bicara!" teriak Soodam sebelum Widuri sempat keluar dari rumah itu.


Widuri menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya ke arah Soodam yang masih berdiri di tempatnya.


"Jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Aku akan mengurus perceraian mu dengan Kak Haris. Sekarang Kak Haris sedang sakit, di rawat di rumah sakit. Dan jangan pernah menemuinya."


'Pak Haris sakit? Sakit apa?. Pantas aja Soodam berani mengusirku dari rumah ini. Dan apa maksudnya akan mengurus perceraian ku?' batin Widuri.


Tadi malam Haris mengalami sakit, tubuhnya panas tinggi, sehingga mengharuskan Cici membawanya ke rumah sakit.


Widuri pun kembali melanjutkan langkahnya tanpa mengatakan apa pun. Sebelum ke perusahaan, Widuri akan ke rumah sakit untuk menjenguk Haris. Mencari tau sakit apa suaminya itu sampai Haris dirawat di rumah sakit.


Sampai di rumah sakit, turun dari dalam mobil yang mengantarnya Widuri langsung masuk ke dalam gedung rumah sakit itu, melangkahkan kakinya ke arah meja Resepsionis yang berada di lantai satu gedung itu untuk menanyakan di kamar mana Haris dirawat.


"Suster, Pak Haris di rawat di kamar mana?" tanya Widuri kepada wanita yang berada di balik meja itu.


"Di lantai teratas Bu. Di kamar VIV no satu" jawab perawat itu.


"Trimakasih Sus." Widuri langsung melangkahkan kakinya meninggalkan meja Resepsionis itu, namun langkahnya langsung terhenti melihat seorang wanita yang sangat di kenalnya keluar dari dalam lif rumah sakit itu.


'Cici, mau kemana dia?.'

__ADS_1


Widuri membatin sambil memperhatikan Cici berjalan sambil menerima telephon dari seseorang ke arah luar gedung rumah sakit itu.


'Aku harus mengikutinya' batin Widuri lagi, melangkahkan kakinya mengikuti Cici diam diam dari belakang.


"Ini bayaran mu" ucap Cici memberikan sebuah amplop berwarna coklat kepada pria yang di temuinya di parkiran rumah sakit.


'Brandon, itu kan Brandon' batin Widuri yang melihat dari jarak yang tidak terlalu jauh.'apa yang di berikan Cici kepada Brandon?. Lalu kenapa mereka terlihat seperti orang yang berhati hati?. Apa mereka punya hubungan?.'


Widuri terus memperhatikan interaksi antara Cici dan Brandon. Entah apa yang di bicarakan kedua orang itu, kelihatannya sangat serius.


Melihat Cici sudah membalik badan, Widuri pun langsung bersembunyi, jangan sampai Cici melihatnya telah mengikutinya.


'Aku harus memberitahu ini ke Pak Kanzo dan Marya. Aku harus meminta bantuan mereka ,mencari tau apa sebenarnya hubungan Cici dan Brandon' batin Widuri. Melihat Cici sudah masuk ke dalam lif. Baru Widuri melangkahkan kakinya menyusul Cici ke ruangan dimana Haris di rawat.


Sampai di depan ruang perawatan Haris, Cici menarik napasnya dan memperbaiki sedikit penampilannya, lalu membuka pintu ruangan itu dan melangkah masuk.


"Ci, kamu dari mana?" tanya Haris yang duduk bersandar di atas brankar sambil sibuk dengan laptop di depannya.


Haris di anjurkan Dokter untuk menjalani operasi di bagian tenggorokannya, karena terjadi pembengkakan amandel yang diabaikannya selama ini.


"Kan Dokter sudah menjelaskan, radangnya harus sembuh dulu baru bisa di operasi" jelas Haris.


"Aku kasihan melihat kamu sakit begini, aku ingin kamu cepat sembuh" ucap Cici yang sudah duduk di pinggir brankar, tangannya pun terulur menyugar lembut rambut Haris ke belakang.


"Widuri mana? kenapa dia gak datang menjengukku?. Kamu kasih tau kan sama dia, kalau aku di rawat di rumah sakit?" tanya Haris.


"Tadi malam setelah sampai di sini, aku udah mengirim pesan ke handphonnya. Mungkin sebentar lagi dia datang" jawab Cici dengan tersenyum.


"Trimakasih ya, Ci. Sudah mau menerima Widuri di dalam pernikahan kita." Haris mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Cici dari samping.


"Semua kesalahan berawal dari aku, Widuri hanya korban. Dan mungkin sudah menjadi takdir kami berdua menjadi milik mu. Kamu sendiri pun kan gak bisa menentukan pilihan mu dari dulu."

__ADS_1


"Kamu memang wanita yang baik, Ci" puji Haris.


Cici pun mendekatkan wajahnya ke wajah Haris, kemudian mencium mesra bibir pria itu.


"Aku merindukan mu, Ris" gumam Cici melepas sebentar ciumannya dari bibir Haris.


Di luar ruang perawatan Haris, Widuri yang baru keluar dari dalam lif melangkahkan kakinya ke arah pintu ruangan VIV nomor satu di lantai itu. Belum sempat Widuri mengetuk pintu itu, ia langsung mengurungkan niatnya, saat tak sengaja matanya melihat Haris dan Cici berciuman dari kaca kecil di pintu ruangan itu.


Widuri menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan. kemudian memutar tubuhnya berniat untuk pergi meninggalkan tempat itu. Sepertinya ia datang di saat waktu yang tidak tepat.


"Kenapa?"


Pandangan Widuri langsung mengarah ke wajah wanita yang berjalan ke arahnya. Tidak lain adalah Soodam, Adik Haris sendiri.


Soodam pun mengarahkan pandangannya sebentar ke kaca pintu ruang perawatan Haris, lalu tersenyum mengejek ke arah Widuri.


"Lihatlah, Kakak ku sangat mencintai Cici. Dia tidak akan pernah bisa menolak pesonanya" ujar Soodam matanya menelisik memperhatikan tubuh Widuri dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.


"Lihat tubuh mu, tidak ada apa apanya. Sangat kurus, seperti tengkorak bernyawa. Mana mungkin Kakak ku selera melihat tubuh mu. Aku pikir, kamu aja yang kepedean. Kalau bukan karena anak di dalam perut mu itu, tidak mungkin Kak Haris mau menikahi mu."


Sakit, siapa pun orangnya pasti sakit hati mendapat hinaan. Apa lagi di hina karena fisik. Namun lagi lagi, Widuri harus mengontrol emosinya untuk tidak membalas hinaan wanita di depannya itu. Widuri harus bisa menjadi wanita lembut untuk menaklukkan hati seorang Haris. Dan juga mereka sedang berada di rumah sakit, tidak bagus jika menciptakan keributan.


Tak ingin membalas hinaan Adik iparnya itu, Widuri pun melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu tanpa mengatakan sepatah kata pun. Berhasil membuat Soodam heran dan gemas sekalian.


"Kenapa sekarang dia tidak melawan?" gumam Soodam.


Soodam mengintip sekali lagi ke dalam ruangan itu, ternyata sudah tidak ada orang di atas brankar lagi.


"Ya Tuhan, apa yang mereka lakukan di dalam?" ucap Soodam geleng geleng kepala.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2