Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Jangan pernah ucapkan kata bercerai lagi


__ADS_3

Mendengar kabar Haris sudah selesai di operasi. Kanzo dan Marya membawa Widuri ke rumah sakit untuk menjenguk Haris. Mereka sengaja datang mendampingi Widuri, supaya Cici dan Soodam tidak berani menekan Widuri.


Setelah Kanzo menghentikan kendaraannya di parkiran rumah sakit. Mereka bertiga langsung turun melangkah masuk ke gedung rumah sakit itu. Sampai di depan ruang perawatan Haris, tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, Kanzo langsung mendorong pintu ruangan itu sampai terbuka. Membuat kaget Cici dan Soodam yang menunggu Haris di dalam.


"Pak Kanzo" ucap Cici mengulas senyumnya ramah.


"Bagaimana keadaan Haris?" tanya Kanzo melangkahkan kakinya ke arah Haris yang tidur di atas brankar.


"Operasinya berjalan lancar, sekarang dia sedang tidur karena baru di kasih obat penenang sama Dokter. Karena tadi sempat merasakan sakit di bekas operasinya" jawab Cici apa adanya.


"Hm!" Kanzo menghela napasnya, saat banyak pekerjaan menumpuk di perusahaan. Kenapa sahabatnya itu harus sakit?. Belum lagi Kanzo harus membereskan masalah rumah tangga Widuri dan Haris. Kanzo menjadi sakit kepala sendiri.


"Besok kembalilah ke perusahaan, saya keteteran mengerjakan semuanya. Biarkan Widuri yang menjaga Haris di sini" ujar Kanzo.


Cici langsung terdiam.


Kanzo memutar tubuhnya ke arah Soodam yang duduk sambil bermain HP di tangannya. Wanita itulah terlihat cuek aja, seperti tidak peduli dengan kedatangan mereka.


"Soodam" panggil Kanzo.


"Iya, Kak" Soodam yang kaget langsung menjawab dan menoleh ke arah Kanzo.


"Gantikan Haris untuk sementara waktu" perintah Kanzo. Dia sengaja melakukan itu, untuk memberikan waktu kepada Widuri dan Haris.


"Tapi Kak...."


Soodam tidak berani melanjutkan bicaranya melihat tatapan mematikan Kanzo padanya.


"Iya, Kak" patuh Soodam akhirnya.


**


Esok harinya


Pagi pagi sekali, Widuri sudah berangkat ke rumah sakit untuk menggantikan Cici menjaga Haris. Sampai di rumah sakit, Widuri langsung masuk ke ruang perawatan Haris, di sana masih ada Cici sedang bersiap siap untuk berangkat kerja. Sedangkan Haris masih tidur dengan lelapnya. Wajar saja, Haris berada di bawah pengaruh obat obatan rumah sakit.


"Wid, kamu sudah datang?" tanya Cici matanya melirik ke arah Haris yang masih tidur.


"Iya, aku pikir jangan sampai kamu berangkat kerja, aku belum sampai di sini" jawab Widuri.


Cici melangkahkan kakinya mendekati Widuri yang sudah berdiri di samping brankar Haris.

__ADS_1


"Sampai kapan pun, aku tidak pernah rela berbagi suami dengan mu, Wid." Cici menatap Widuri dengan mata memicing." Kalau kamu masih bertahan menjadi istrinya Haris, lihat saja apa yang bisa ku lakukan."


Setelah mengancam Widuri, Cici langsung keluar dari ruang perawatan itu.


"Aku juga bisa melakukan apa saja untuk menyingkirkan mu, Ci" gumam Widuri, kemudian mengalihkan pandangannya ke wajah Haris.


Widuri pun meletakkan tasnya di atas meja nakas, lalu mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di samping brankar itu. Widuri menatap wajah Haris lalu menghela napas agak kasar.


'Pak Haris, aku memilih bertahan, karena aku tidak mau menyesal di kemudian hari. Meninggalkan mu tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Aku berharap kamu bisa berubah, dan mata hatimu terbuka untuk melihat siapa Cici yang sebenarnya. Dia tidak sebaik yang kamu pikirkan. Aku juga pun tidak menyangka, jika Cici yang ku kenal baik, ramah dan ceria, ternyata sekejam dan selicik itu.'


Widuri mengambil tangan Haris yang di tusuk jarum infus, lalu mengecup punggung tangan pria itu cukup lama.


"Aku mencintaimu Pak Haris. Jika nanti kita harus tetap berpisah. Aku mohon, jangan mengambil anakku dariku. Biarkan anakmu ini nanti menemani hidupku" lirih Widuri tanpa sadar meneteskan air matanya.


"Wid, kita tidak akan berpisah."


Suara lirih Haris berhasil mengalihkan pandangan Widuri ke wajah Haris. Ternyata pria itu sudah bangun.Widuri pun melepas perlahan tangan Haris, namun Haris menahannya.


"Ayo naik" ucap Haris, ia tidak bisa berbicara banyak karena tenggorokannya masih sakit. Melihat Widuri diam saja, Haris melepas pegangan tangan mereka, kemudian menepuk kasur di sampingnya supaya Widuri berbaring di sampingnya.


"Widuri" panggil Haris melihat wanita masih tak bergerak dari kursinya.


"Aku kangen sama kalian, Wid. Ehem! hem Hem hem!."


"Jangan dipaksakan bicara kalau belum bisa" ucap Widuri sambil menyendokkan air putih ke mulut Haris.


Haris mengulas senyumnya, wajahnya nampak senang mendapat perhatian seperti itu dari Widuri.


"Sudah" ucap Haris setelah merasakan tenggorokannya baikan.


Widuri pun mengembalikan gelas dan sendok di tangannya ke atas meja nakas. Saat Widuri akan kembali duduk di kursi tadi. Haris langsung menahan pinggangnya, kemudian mengelus elus perutnya yang mulia membuncit.


"Anak Papa" ucap Haris.


Widuri langsung melengkungkan bibirnya ke atas, sepertinya anak di dalam perutnya senang berada di dekat Ayahnya, apa lagi di ajak berbicara seperti itu.


"Dia sering merindukan Pak Haris. Selalu berharap Pak Haris datang memberi perhatian padanya" ucap Widuri ikut mengelus perutnya. Berharap Haris mengerti dan mulai lebih memperhatikan anak di dalam perutnya.


"Bagaimana dengan Ibunya?" tanya Haris semakin melebarkan senyumnya.


"Kalau Ibunya juga merindukan Ayahnya. Apa Ayahnya peduli?" tanya Balik Widuri membalas tatapan Haris padanya.

__ADS_1


Haris kembali menepuk kasur di sampingnya, supaya Widuri naik dan berbaring di sampingnya. Kali ini Widuri menurut, ia pun naik ke atas brankar dan membaringkan tubuhnya di samping Haris.


"Jangan pernah ucapkan kata bercerai lagi, Wid. Kasihan anak kita" lirih Haris memeluk tubuh Widuri dan mulai mengelus elus perutnya.


Widuri diam, dan memilih menikmati hangatnya pelukan pria itu ke tubuhnya, sangat nyaman.


**


'Aku gak boleh kalah, aku tau ini semua idenya Pak Kanzo, menyuruhku dan Soodam bekerja' batin Cici yang mulai sibuk di meja kerjanya.


Ya Tuhan, pekerjaan di mejanya sangat banyak menumpuk. Bukan hanya pekerjaannya sebagai Sekretaris lagi, melainkan dia harus mengerjakan sebagian pekerjaan Haris.


Sambil bekerja, Cici berpikir bagaimana caranya supaya Widuri tersingkir dari hidup Haris. Cici harus membuat Haris membenci Widuri, supaya Haris menceraikannya.


'Aku harus meminta bantuan Brandon lagi' batin Cici.


Cici mengambil handphonnya yang terletak di atas meja kerjanya, kemudian mengetok sebuah pesan lalu mengirimnya ke nomor pria bernama Brandon.


'Kamu yang membuat aku menjadi jahat, Wid.'


Cici memicingkan matanya dengan satu sudut bibir tertarik ke atas.


**


"Sayang, lihat ini. Apa yang sedang di rencanakan Cici" ucap Marya mengarahkan laptopnya ke arah Kanzo yang duduk di sampingnya, menunjukkan ekspresi wajah Cici di rekaman cctv yang tersambung ke laptopnya.


"Biarkan saja, dia tidak akan bisa merencakana apa pun lagi" ujar Kanzo.


"Aku khawatir dia akan membahayakan hidup Widuri" ucap Marya.


"Jangan khawatir, sayang. Aku sudah menyuruh orang untuk menjaga Widuri dari jarak yang tidak terlalu jauh."


"Siapa?"


"Ayah"


Marya menghela napasnya kasar. Sekarang Ayah nya yang pernah menjualnya kepada pria di sampingnya itu, sudah menjadi anak buah suaminya itu sendiri.


"Dari pada Ayah pengangguran, lebih baik aku kasih pekerjaan" ucap Kanzo.


"Iya, tapi kalau Ayah punya uang, pasti dia bermain judi lagi Huh!" Marya menghembuskan napasnya kasar dari mulut. Sampai sekarang Ayah belum juga berubah, masih suka bermain judi.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2