Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Butuh sedikit hiburan


__ADS_3

Haris menarik napas dalam dan menghembuskan napasnya kasar dari mulut setelah melihat Cici menghilang di balik pintu ruangannya.


'Hampir aja aku tergoda. Ya Tuhan. Coba aja Widuri mau melayaniku, mungkin aku pasti bisa menahan diri' batin Haris, menggaruk garuk kasar kepala bagian belakangnya. Dia laki laki normal dan memiliki istri, tapi dia harus tetap menahan hasratnya meski rasanya sudah sampai di ubun ubun.


Di ruang sebelah, tepatnya di ruang kerja Kanzo. Cici yang baru masuk langsung menerima tugas dari Kanzo. Pria pemilik perusahaan itu memberinya setumpuk berkas yang menggunung.


"Seminggu kamu harus selesai mengerjakan itu. Nanti aku akan memberimu gaji lebih. perut istri ku sudah sangat besar, dia sudah tidak bisa bekerja lama lama" ujar Kanzo saat Cici mengambil tumpukan berkas itu dari atas meja kerjanya.


"Tapi Pak, ini sangat banyak aku juga lagi hamil" Cici mencoba membantah.


"Kalau kamu tidak sanggup, silahkan buat surat pengunduran diri kamu Ci. Dan aku bisa menggantikan orang lain di posisimu" ujar Kanzo menatap tajam pada Cici.


"Saya akan mengerjakannya." Cici menundukkan pandangannya tidak berani membalas tatapan tajam Kanzo.


"Hm, segera siap siap kita akan pergi menemui klien sekarang"ujar Kanzo lagi.


"Baik, Pak" patuh Cici dengan suara lemas dan langsung meninggalkan ruangan itu.


"Sayang, sepertinya aku harus menyuruh Ayah untuk mengikuti kalian. Aku gak mau sampai Cici menggoda mu" ujar Marya dari sofa yang berada di ruangan itu, wajahnya nampak sedikit cemberut.


"Kamu lebih dari segalanya dari pada Cici. Jika pun aku tergoda pada wanita lain, aku akan tergoda kepada wanita yang lebih dari kamu" balas Kanzo sibuk kembali dengan berkas berkas di atas mejanya.


Marya mendengus dan langsung beranjak dari tempat duduknya untuk meninggalkan pria angkuh itu. Marya pergi ke lantai bawah gedung itu untuk mengajak sahabatnya Widuri mencari makanan.


"widuri! cari makanan yuk!."


Refleks Widuri yang sedang sibuk bekerja menoleh ke arah Marya yang barusan berseru memanggilnya.


"Ini masih pagi, dan kerjaan ku banyak kamu sudah mengajakku bolos" ujar Widuri masih betah duduk di kursi kerjanya.

__ADS_1


Marya tidak peduli itu, ia pun menarik tangan Widuri supaya wanita itu berdiri dari kursinya.


"Dek bayi nya pengen risol. Ayo kita ke pasar, biasanya di sana banyak jual kue dan gorengan" ucap Marya.


"Baiklah Bu bos, ayo kita pergi." Kalau sudah alasan dek bayi, Widuri selalu tidak bisa menolak ajakan sahabatnya itu.


Kedua wanita hamil itu pun pergi meninggalkan perusahaan dengan menggunakan mobil yang di setir seorang supir wanita.


Sampai di sebuah pasar tradisional, kedua wanita itu langsung turun dari dalam mobil dan melangkah ke arah penjual beraneka ragam kue dan gorengan. Kedua wanita itu pun sibuk memilah Milah makanan.


Pulang dari membeli kue, Kedua wanita itu langsung kembali ke perusahaan. Baru sampai di loby, tangan Widuri langsung di tarik Haris, membawa wanita itu untuk ikut ke ruangannya. Haris pikir ini kesempatannya untuk berdua duaan dengan Widuri, mumpung Kanzo membawa Cici pergi keluar perusahaan.


"Pak Haris, aku gak enak sama temanku kalau aku sering meninggalkan meja resepsionis terus" ucap Widuri setelah mereka sampai di ruang kerja Haris.


"Kalau begitu sekarang kamu ku pecat" Haris tersenyum dengan mata menyipit ke arah Widuri.


"Aku gak mau" tolak Widuri.


"Kenapa perutmu belum juga membesar, padahal bayi kita sudah hampir berusia empat Bulan. Bahkan kamu tidak terlihat seperti orang hamil" ucap Haris. Dari penampilan luar, Widuri memang tidak terlihat seperti orang hamil, apa lagi Widuri memakai pakaian sedikit longgar, membuat perutnya tidak terlihat menonjol sama sekali. Terkadang membuat Haris khawatir dengan pertumbuhan bayi mereka. Sangat berbeda dengan Cici, yang perutnya sudah terlihat jelas kehamilannya, apa lagi Cici memakai pakaian sedikit pas di tubuhnya.


"Itu karena tubuhku terlalu kurus" jawab Widuri, tangannya ikut mengelus perutnya.


"Padahal makan mu banyak, tapi kenapa tubuhmu gak mau gemuk. Kemana semua makanan yang kamu makan itu?." Haris heran melihat tubuh Widuri yang porsi makannya banyak, tapi tetap kurus.


"Aku gak tau, dari dulu memang tubuhku seperti ini" jawab Widuri lagi.


"Sepertinya aku perlu membawamu ke ahli gizi. Mungkin ada makanan khusus untuk membuat tubuhmu bisa lebih berotot."


Widuri langsung memutar bola mata mendengar apa yang dikatakan Haris barusan. Jadi menurut suaminya itu dia kurang gizi makanya kurus?. Meski tidak berasal dari keluarga kaya raya, untuk soal makanan, sepertinya dari dulu Widuri tidak pernah kekurangan. Orang tuanya masih bisa mencukupinya.

__ADS_1


"Kalau gak terima yang udah, setelah aku melahirkan kita bercerai" ketus Widuri.


"Bukan begitu maksudku, Wid." Sebelah tangan Haris yang berada di perut Widuri, terangkat untuk merapikan rambut wanita itu yang berantakan di wajahnya." Kalau aku bisa membuatmu lebih cantik lagi, kenapa nggak? Aku ingin membuatmu terlihat lebih indah, lebih bersinar dari pada wanita lain."


Widuri pun terdiam dan mengarahkan pandangannya ke arah kedua bola mata Haris yang menatapnya penuh cinta. Kali ini, Widuri benar benar terharu mendengar kalimat gombalan Haris barusan.


"Jangan panggil aku Pak Haris lagi. Kamu itu istriku, aku gak suka mendengarnya" ucap Haris lagi.


Dug dug dug....!


Entah kenapa? Seketika jantung Widuri berdetak bertalu talu menciptakan irama melodi cinta di dalam dadanya.


"Jadi aku harus manggil apa?" tanya Widuri menundukkan pandangannya tidak berani menatap lebih lama lagi mata pria itu.


"Masa kamu gak tau?. Panggil sayang gitu seperti Kanzo dan Marya" jawab Haris mengecup kilas bibir Widuri. Sontak Widuri menjauhkan wajahnya dan melap bibirnya dengan tangan. Berhasil membuat Haris yang tadinya manis, berubah menjadi kesal dengan wanita di pangkuannya itu.


"Apa aku sangat menjijikkan, Wid?. Aku melakukannya dengan Cici di dalam ikatan pernikahan, itu hal yang wajar. Dan aku bukanlah pria yang suka jajan di luar sana. Aku juga sudah tidak pernah melakukannya dengan Cici." Haris berbicara cetus.


"Tapi Pak Haris masih menciumnya" jawab Widuri.


"Oke!" Haris menurunkan Widuri dari pangkuannya lantas keluar dari ruangan itu meninggalkan Widuri yang terdiam berdiri di samping kursinya.


Kenapa Widuri tidak mengerti padanya?. Tidak taukah wanita itu, kepalanya sering terasa pusing, sampai tidak bisa tidur malam gara gara menahan hasrat?. Ia sudah berusaha keras untuk tidak menyentuh Cici, seharusnya Widuri bersedia melayaninya.


Sampai di salah satu ruangan kosong di dalam gedung itu, Haris menyalakan sebatang rokok dan langsung menghisapnya dalam dan menghembuskan asapnya dengan kasar, Haris pun mengacak acak rambutnya kasar.


Bukanlah mereka sudah sepakat akan memperbaiki hubungan pernikahan mereka?. Kenapa Widuri masih bersikap egois dan engkan menerimanya?. Apa Widuri saat ini sedang mempermainkannya?.


'Wid, apa kamu tidak benar mencintaiku?' batin Haris tanpa sadar meneteskan air matanya.

__ADS_1


Haris sangat berharap saat ini Widuri bisa menjadi sandaran hatinya, menjadi temannya berbagi kasih sayang, bisa mengerti dirinya, menjadi penyemangat ya dalam menghadapi masalah. Haris sangat mengharapkan dukungan semangat dari Widuri, setelah tidak ada keluarga berada di sisinya. Tapi Widuri seolah olah menarik ulur dirinya, mempermainkan perasaannya.Sebagai laki laki, Haris butuh sedikit hiburan dari istrinya, apa itu salah?.


*Bersambung


__ADS_2