
'aku harus memastikan siapa Ayah dari bayi ku ini.'
Cici membatin sambil mondar mandir di dalam kamarnya, ragu sendiri siapa Ayah kandung dari bayi di dalam rahimnya itu.
'Bagaimana kalau bukan Haris?. Habislah aku kalau sempat bayi ini bukan anaknya. Aku harus melakukan tes DNA. Tapi bagaimana caranya?. Haris pasti curiga jika aku meminta sample darahnya. Mengambil rambutnya juga tidak mungkin. Dia pasti curiga kalau aku memintanya atau menariknya secara tiba tiba.'
Lelah mondar mandir dari tadi, Cici pun melangkahkan kakinya ke arah kasur dan membaringkan tubuhnya di sana. Malam ini Cici tidak bisa terlelap. Ia terus memikirkan soal Ayah dari bayinya itu.
**
Di tempat lain, Haris yang terus memantau Cici lewat laptop di depannya. Mengerutkan keningnya melihat Cici yang sibuk mondar mandir tidak jelas di dalam kamarnya. Wajah Cici terlihat sangat serius dan frustasi.
"Apa yang dia pikirkan?" gumam Haris.
Melihat Cici sudah membaringkan tubuhnya di atas Kasur. Haris pun menutup laptopnya melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. karena Kanzo sedang meliburkan diri untuk mengurus istrinya yang baru melahirkan, Haris terpaksa harus lembur sampai larut malam di kantor.
Setelah merapikan meja kerjanya, Haris langsung keluar dari ruang kerjanya di perusahaan milik sahabatnya itu. Malam ini masih giliran Widuri, jadi malam ini ia akan pulang ke apartement yang di tempati Widuri.
Sampai di apartement, Haris membuka perlahan pintu kamar Widuri dan melangkah masuk dengan sangat pelan dan hati hati supaya jangan sampai istrinya itu terbangun. Setelah berdiri tepat di samping ranjang, Haris terus memandangi wajah cantik Widuri. Wajah tirus, putih, bersih dan mulus.
'Aku harap kamu bersabar menghadapi ku, Wid. Sebentar saja, kita akan memulai hidup baru, Wid. Aku akan segera mengakhiri pernikahanku dengan Cici. Aku mencintaimu, Wid. Maafkan aku karena mengabaikan mu lagi. Aku lagi kesal sama kamu Wid. Kamu gak mengerti aku sebagai suami kamu. Aku sangat membutuhkan kamu, Wid. Tapi kamu gak peka' batin Haris lalu mengecup lembut kening Widuri. Setelah mengelus lembut perut menonjol istrinya itu, Haris pun melangkahkan kembali kakinya keluar dari dalam kamar itu.
Haris tidak sanggup jika harus berlama lama di samping wanita itu, sehingga setiap pulang ke apartement Haris memilih tidur di kamar sebelah. Karena tak ingin memaksa Widuri untuk melayaninya yang membuat Widuri nanti marah padanya.
Mendengar pintu kamar itu tertutup, Widuri langsung membuka matanya dan mengarahkannya ke raja pintu. Ya, Widuri terbangun saat Haris menempelkan bibirnya di keningnya. Namun Widuri pura pura masih terlelap di dalam tidurnya, tak ingi Haris tau kalau dia terbangun.
'Perasaannya selalu tidak bisa di prediksi. Tiba tiba baik, tiba tiba cinta, tiba tiba sayang, tiba tiba perhatian, tiba tiba cuek. Seenak udelnya aja memperlakukan orang. Kapan dia bisa tegas dan mempunyai pendirian. Dasar memang cowok labil, sudah tua juga' batin Widuri tidak habis pikir dengan sikap suaminya itu.
Namun mengingat Haris mengecup keningnya barusan, senyum Widuri mengembang."Lihatlah Nak, Papa kamu hanya lagi kesal sama Mama."Widuri mengusap lembut perutnya saat berbicara pada bayi nya yang belum lahir itu.
__ADS_1
**
Pagi hari, turun dari dalam mobil yang mengantar jemput nya, Widuri langsung melangkah masuk ke dalam gedung perusahaan. Meski malam ini Haris tidur di apartement tapi tetap saja Widuri berangkat sendirian karena Haris akan menjemput Cici ke rumah besar keluarga Darmawan. Hm! Cici selalu saja mendapat perhatian lebih dari Haris. Meski Haris sudah tau belang dari wanita siluman itu.
"Kak Widuri !"
Langkah Widuri langsung terhenti dan menoleh ke arah wanita yang berlari ke arahnya. wanita cantik berpakaian kantoran. Wanita itu langsung memeluk tubuhnya erat.
"Nala" Widuri sangat kaget melihat adiknya ada di perusahaan itu." Kenapa kamu bisa ada di sini?."
Wanita bernama Nala itu pun melepas pelukannya dari tubuh Widuri." Aku diterima bekerja di sini Kak."
"Diterima bekerja di sini!. Kapan kamu melamar ke sini?. Kenapa gak kasih tau Kakak?. Terus kamu tinggal dimana?."
Nala melebarkan senyumnya mendengar cercaan Kakaknya itu. Sebelum menjawab, Nala pun mengelus perut Widuri.
"Kamu kerja di bagian mana?" tanya Widuri.
"Sekretaris" jawab Nala.
"Sekretaris?" ulang Widuri.
Nala menganggukkan kepalanya," Sekretaris keuangan" jawabnya.
"Apa kabar Mama sama Ayah?" tanya Widuri lagi, meski Ibu Ranta mengusirnya Widuri masih tetap menyayangi wanita yang melahirkannya itu.
"Mama sering bersedih memikirkan kamu Kak. Mama terus kepikiran sama Kak Wid. Ya meski Mama terlihat tidak peduli. Tapi aku sering melihat Mama melamun semenjak mengusir Kakak dari rumah, Mama juga sering menangis sendiri" jawab Nala.
Widuri menghela napasnya kasar. Ia tau Ibunya tidak bermaksud untuk menyakitinya. Mungkin saat itu Ibunya tidak bisa berpikir jernih, karena shok mengetahui putrinya hamil tanpa suami.
__ADS_1
"Sampaikan salam ku pada Mama kalau kamu menghubunginya" ucap Widuri raut wajahnya berubah sedih mengingat sosok sang Mama. Mama yang galak, cerewet dan tegas.
Nala pun menganggukkan kepalanya.
"Cerita sama Kakak, siapa yang merekomendasikan kamu bekerja di sini?." Widuri tidak percaya jika Adiknya itu melamar sendiri ke perusahaan itu dan di terima begitu saja. Widuri yakin pasti sudah ada yang merekrutnya.
"Kak Haris, siapa lagi" jawab Nala tersenyum.
Widuri terdiam sejenak, lalu menghela napasnya. Berpikir, apa maksud Haris meminta Adiknya berkerja di perusahaan itu?.
"Ya udah Kak, aku ke dalam dulu. Aku harus mencari dimana ruanganku lagi" pamit Nala, melihat jam yang menempel di dinding ruangan loby itu sudah hampir menunjukkan pukul delapan.
"Ya udah, sana. Kakak gak bisa ngantar. Ruangannya di lantai dua" balas Widuri memberitahu dimana letak ruang kerja Adiknya itu.
Nala pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam lif untuk naik ke lantai dua gedung itu. Widuri pun mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya.
'Pak Haris kenapa belum datang?' batin Widuri, belum melihat Haris dan Cici masuk ke gedung perusahaan itu.
Widuri menghela napasnya kasar, saat pikiran pikiran buruk menghampiri kepalanya. Apa yang di lakukan suami istri itu di rumah sampai belum datang ke kantor di jam kerja sudah hampir masuk?.
**
Di rumah besar keluarga Darmawan. Haris meringis, kesakitan di bagian telapak kakinya yang berdarah karena tak sengaja menginjak serpihan gelas kaca. Yang kata Cici, tadi malam tak sengaja menjatuhkan gelas dari tangannya ke lantai, sehingga gelas itu pecah. Dan pagi Haris, Cici tadi menghubungi Haris, meminta Haris untuk datang ke rumah, karena perutnya terasa keram.
"Tadi malam aku langsung menyuruh pembantu untuk membersihkannya. Ternyata masih ada serpihannya yang tersisa di lantai" Ucap Cici mencabut pelan serpihan kaca yang tertancap di telapak kaki Haris, kemudian melapnya dengan kain putih.
'Baiklah, Ci. Aku akan mengikuti permainan mu. Jangan pikir aku gak tau kamu merencanakan sesuatu' batin Haris. Tentu Haris tau kalau Cici sengaja menjatuhkan gelas kaca di lantai kamar itu dari kamera tersembunyi di kamar itu.
*Bersambung.
__ADS_1