
Pak Hilman menghentikan laju kenderaannya tepat di depan rumahnya, langsung turun dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Pak Hilman pulang, setelah mendengar kabar Widuri meninggal.
"Ma, apa benar Widuri meninggal?. Lalu kenapa kalian masih di sini?. Kenapa gak menemuinya?" cerca Pak Hilman langsung.
Ibu Ratna yang mendengar suara Pak Hilman, langsung mengangkat wajahnya dan menatap tajam suaminya.
"Dari mana saja kamu? Ha!" bentak Ibu Ratna. Ibu Ratna memang sudah tidak heran lagi dari kebiasaan suaminya itu yang sering pergi keluar kota. Tapi Ibu Ratna tidak pernah tau apa yang di kerjakan suaminya itu di luar sana. Bahkan Ibu Ratna sempat berpikir kalau suaminya itu punya istri lain.
Dan sepertinya kali ini kesabaran Ibu Ratna sudah habis, atau wanita bertubuh gemuk itu sudah lelah menghadapi suaminya yang sering pergi pergi tidak jelas tujuannya. Jika di tanya, alasannya bekerja bersama teman.
"Pekerjaan apa sebenarnya yang kamu kerjakan di luar sana." Ibu Ratna menatapa Pak Hilman penuh selidik.
"Kenapa menatapku seperti itu?. Aku bekerja menjadi mandor di proyek milik teman ku. Pekerjaannya memang pindah pindah. Kamu tau sendiri, aku gak suka bekerja sebagai petani" jawab Pak Hilman santai dan begitu meyakinkan.
Ibu Ratna yang tadi sempat berdiri, menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas sofa dan kembali menangis terisak.
"Widuri meninggal saat melahirkan. Haris tidak mengijinkan kami untuk menemui mereka" Isak tangis Ibu Ratna.
Berhasil membuat Pak Hilman terdiam dan menelan air ludahnya bersusah payah.
"Nala juga sudah di pecat dari perusahaan" ucap Ibu Ratna lagi." Aku rasa pasti kita sudah punya salah. Atau ada orang yang memfitnah kita pada mereka."
'Widuri, pasti dia memberitahu Haris' batin Pak Hilman.
Pak Hilman pun melangkahkan kakinya keluar rumah.
"Ayah mau kemana?."
Pak Hilman langsung menghentikan langkahnya mendengar Nala berseru. Pria paru baya itu pun memutar tubuhnya ke arah Nala.
"Menemui Haris" jawab Pak Hilman lantas bergegas keluar dan masuk ke dalam mobilnya.
"Ma, sebaiknya kita menyusul Ayah. Nanti Nala akan mencoba menghubungi Kak Marya lagi. Mungkin dia bisa membantu kita" ucap Nala bergegas ke kamar untuk bersiap siap. Tak lama kemudian, Nala keluar dengan menarik travel bag di tangannya.
**
Di tempat lain, tepatnya di rumah besar keluarga Salim. Marya menghela napasnya panjang melihat Nala terus menghubunginya. Namun Marya tidak boleh mengangkatnya, karena Kanzo mengancamnya. Jika Marya berani menerima telephon dari keluarga Widuri, Kanzo akan mengurungnya di kamar dan tidak boleh tidur bersama bayi mereka.
"Sayang" rengek Marya, melihat ponselnya terus bergetar, Marya jadi merasa terganggu. Lebih tepatnya kasihan memikirkan Ibu dan Adik Widuri. Pasti saat ini kedua wanita itu sangat sedih.
"Ada apa?. Matikan saja ponsel mu" ujar Kanzo yang sibuk menimang nimang baby Gavin.
__ADS_1
"Ibu Ratna dan Nala gak salah. Kenapa kalian ikut menghukum mereka?. Apa kalian gak punya perasaan huh! kalian memang laki laki gak akan mengerti menjadi seorang Ibu" kesal Marya.
"Biarkan Pak Hilman mengakui kesalahannya pada Nala dan istrinya." Kanzo juga menghela napasnya." Biar istrinya saja yang melaporkannya ke polisi. Karena sudah melakukan tindak kejahatan kepada Haris dan putrinya sendiri" sesal Kanzo.
"Kalau begitu, aku juga akan melaporkan Pak Kanzo dan Ayah ke polisi karena sudah memperjual belikan aku." Marya memutar bola matanya malas melihat suaminya itu. Yang hanya bisa melihat kesalahan orang lain, tapi tidak bisa melihat kesalahannya sendiri.
"Tapi aku gak melakukan pembegalan sampai melukai orang." Kanzo berusaha membela diri.
"Gak melukai orang?" Marya mendengus. Kalau Kanzo tidak melukainya, tidak mungkin Marya merasakan sakit sampai berdarah malam itu."Sepertinya Pak Kanzo lupa diri."
Kanzo yang mengerti kemana arah pembicaraan Marya tertawa kecil."Kemarilah, Gavin sepertinya ingin menyusui."
Marya yang duduk di atas kasur, melangkahkan kakinya mendekati Kanzo dan baby Gavin yang duduk di sofa.
"Kamu tau sebesar apa hak seorang Ayah pada putrinya sebelum menikah?. Sebesar itulah hakku sebagai suami kepada mu" ucap Kanzo sambil mengusap lembut rambut Marya yang sudah duduk di sampingnya." Kalau saja malam itu kamu tidak merasakan sakit, tidak mungkin aku mempertahankan mu, apa lagi sampai mencintai mu" tambah Kanzo lagi.
"Tapi Pak Kanzo memaksaku menikah dengan mu" cetus Marya.
"Semakin lama kamu memang semakin berani melawan ku." Ingat dulu saat Kanzo memintanya membayar denda kerusakan mobilnya kepada Marya. Wanita itu sangat ketakutan, sampai wajahnya pucat.
"Memang kenyataannya seperti itu." Marya membuang wajahnya ke arah lain.
Kanzo langsung meraih dagu wanita yang sedang memberi ASI anak mereka itu. Dengan lembut langsung menyapu bibir wanita itu dengan benda kenyal miliknya.
Marya langsung terdiam dan menundukkan pandangannya. Sikap lembut Kanzo memperlakukannya, dari dulu itu yang membuat Marya jatuh cinta pada pria itu, meski dulu Kanzo memiliki istri lain.
Kanzo pun menarik tubuh Marya ke dalam pelukannya."Kamu tau Marya?." Marya yang bersandar di dadanya diam, tidak menjawab dan menunggu lanjutan kalimat suaminya itu."Ketika seorang pria memperjuangkan seorang wanita, itu artinya wanita itu sangat berharga bagi pria itu" jawab Kanzo sendiri setelah sempat menjeda kalimatnya."Ya cara setiap pria memperjuangkan wanitanya berbeda beda" lanjut Kanzo lagi.
"Tapi tidak harus dengan memaksa." Ah! Marya masih kesal jika mengingat kejadian itu.
Kanzo terkekeh lalu mengecup ujung kepala wanita itu dengan sayang."Tapi kamu sendiri juga jatuh cinta denganku."
Marya mendengus, tidak bisa mengelak dengan apa yang di katakan pria itu benar adanya.
**
Di belahan Bumi lain.
Widuri duduk termenung menatap lurus ke depan keluar dinding kaca di depannya. Sudah dua Minggu Widuri berada di tempat yang asing baginya itu. Meski belum pernah keluar rumah, Widuri tau jika saat ini ia berada jauh dari Indonesi.
"Ada apa? Aku melihat mu sering melamun sendiri."
__ADS_1
Widuri menoleh sebentar ke wajah pria yang memeluknya itu dari belakang, dan kembali menatap lurus pemandangan kota di depannya itu.
"Apa kita akan selamanya tinggal di sini?" tanya Widuri. Di lihat dari gerak gerik Haris selama seminggu Minggu ini, sepertinya mereka tidak sedang liburan. Karena hampir setiap hari Haris pergi berangkat kerja. Entah kerja apa, Widuri tidak tau.
Haris yang di tanya diam dan mengikuti arah pandang Widuri yang sangat jauh.
"Kita tidak akan kembali lagi ke Indonesia" jawab Haris.
"Aku kangen dengan Mama"ucap Widuri. Kalau memang mereka harus pindah ke luar Negri, Widuri sebenarnya tidak keberatan. Tapi yang tidak di sukainya, Haris membawanya dalam keadaan tidur terlelap.
Haris mengeratkan pelukannya ke tubuh Widuri."Ada saatnya kita akan bertemu Mama."
"Jangan menghukum Mama atas kesalahan Ayah, aku mohon Pak Haris." Setelah mereka sampai di luar Negri, Widuri sudah memberitahu Haris kalau Ayahnya lah yang menculiknya dan menikam Haris, meski sebenarnya Haris sudah tau.
"Setelah Ayah mengakui perbuatannya pada Mama. Aku akan membawa Mama dan Nala ke sini. Kita akan tinggal bersama di sini" ujar Haris, sudah berencana akan tinggal di luar Negri selamanya.
"Mama pasti gak mau."
Oe oe oe!
Mendengar suara tangisan bayi di kamar itu, Haris langsung melepas pelukannya dari Widuri dan melangkahkan kakinya ke arah box bayi, langsung di ikuti Widuri dari belakang.
"Anak Papa kenapa menangis?" tanya Haris dengan suara lembutnya sembari mengambil bayi laki laki itu dari dalam box bayi.
"Sepertinya dia pup" ucap Widuri.
Saat Haris memeriksa popoknya dan benar saja, aroma tak sedap langsung menusuk masuk ke rongga hidungnya.
Widuri pun mengambil bayi itu dari gendongan Haris, namun Haris menolaknya.
"Biar aku aja" ucap Pria itu. Istrinya itu pasti lelah seharian menjaga bayi mereka. Tak apa jika harus gantian mengurusnya.
"Pak Haris juga pasti lelah, dan pinggang Pak Haris juga masih sakit, biar aku aja yang mengurusnya."
"Jangan khawatir, pinggangku sudah baikan. Mandilah duluan, ini sudah sore" suruh Haris. Dari aroma tubuh istrinya itu tadi saat memeluknya, Haris bisa tau kalau istrinya itu belum mandi.
"Baiklah suamiku yang baik hati" balas Widuri. Saat melangkahkan kakinya Haris langsung menarik lengannya, membuat tubuhnya terjatuh ke pangkuan pria itu.
"Sekalian buang ini" Haris meletakkan popok yang sudah kotor di tangannya ke tangan Widuri. Berhasil membuat wanita cantik itu mendengus. Ingin menyuruh membuang sampah aja, harus pakai romantisan.
"Berbagi aroma" ucap Haris lalu terkekeh melihat wajah istrinya yang sempat salah tingkah saat tubuh wanita itu jatuh ke pelukannya.
__ADS_1
Widuri mengerucutkan bibirnya, lantas berdiri dari atas pangkuan Haris, membawa sampah beraroma tak sedap itu, untuk membuangnya ke tempat sampah.
*Bersambung