
Pak Hilman yang baru sampai di depan rumah Haris, langsung turun dari dalam kenderaannya. Saat melihat rumah besar di depannya tampak gelap, langkahnya langsung terhenti.
'Kenapa rumah ini kosong? Bukankah mereka sudah kembali dari pulau B?' batin Pak Hilman.
Melihat satpam ada yang berjaga di pos security rumah itu, Pak Hilman melanjutkan langkahnya kembali.
"Permisi" ucap Pak Hilman pada pak satpam itu.
"Iya, Pak. Ada yang bisa di bantu?" tanya Pak Satpam itu sembari memperhatikan wajah Pak Hilman dengan intens.
'Bukankah ini Ayah mertuanya Pak Haris?' batin Pak satpam itu,mengingat ingat Poto yang di kirim ke ponselnya. Orang yang tidak di ijinkan masuk ke rumah itu.
"Haris mana?" tanya Pak Hilman tanpa basa basi.
'Ah! ya benar, orang ini mertuanya Pak Haris' batin Pak satpam itu lagi setelah pria di depannya menanyakan majikannya tanpa embel embel 'pak.'
"Saya gak tau Pak. Semenjak Pak Haris dan istrinya pulang kampung, mereka tidak kembali ke sini" jawab Pak Satpam itu.
'Lebih baik aku pura pura tidak tau saja. Dari pada orang ini nanti semakin banyak bertanya.'
Pak Hilman pun terdiam menatap security itu menelisik. Pak Hilang yakin, Pak Security itu sudah berbohong. Karena menurut informasi dari istrinya dan Nala. Haris tidak mengijinkan mereka untuk bertemu Widuri. Itu artinya, Haris dan Widuri sudah kembali ke rumah itu.
"Saya ini Ayah dari istrinya Haris. Kabarnya, putriku meninggal dan Haris tidak mengijinkan kami melihat jasatnya" ucap Pak Hilman mencoba menahan amarahnya.
"Masalah itu saya gak tau, Pak. Di sini saya di tugaskan hanya untuk menjaga rumah ini. Dan saya mendengar kabar, Pak Haris tidak membawa jasad istrinya ke sini. Dari rumah sakit mereka langsung memakamkannya." jelas Pak Satpam itu mencari aman. Mengingat pria di depannya itu sangat arogan. Jangankan menikam orang lain, menikam menantunya sendiri pria itu tidak segan sama sekali. Seharusnya, pria itu tidak di biarkan berkeliaran lagi.
Pak Hilman pun terdiam sambil berpikir.
'Aku gak yakin kalau Widuri sudah meninggal. Aku yakin mereka pasti bersembunyi sekarang.'
Tanpa mengatakan apa pun lagi,Pak Hilman pun meninggalkan tempat itu.
**
__ADS_1
"Kenapa gak melaporkan Ayah saja ke pihak berwajib?" tanya Widuri pada Haris.
"Apa kata orang nanti kalau aku memenjarakan mertuaku sendiri" jawab Haris, menarik tubuh wanita di depannya itu supaya bersandar ke dadanya.
Sekarang ini, pasangan suami istri itu sedang duduk bersantai kursi yang berada di pinggir kolam renang rumah mereka.
"Sebisa mungkin, aku tidak ingin membuat malu Mama dan Nala dengan apa yang sudah di lakukan Ayah" lanjut Haris menjatuhkan dagunya di Bawu wanitanya itu.
Widuri terdiam, salut dengan kebesaran hati suaminya itu. Dengan apa yang sudah di lakukan Ayahnya, Haris masih memikirkan nama baik keluarganya.
"Terutama Nala" ucap Haris lagi dan menjeda kalimatnya sebentar."Nala masih seorang gadis. Jika Ayah aku penjarakan, itu bisa menjadi aib buat Nala. Pria lain akan berpikir seribu kali untuk menikahinya, jika orang tau dia adalah putri dari seorang penjahat. Mungkin calon suaminya bisa menerimanya dengan alasan cinta, tapi bagaimana dengan calon mertuanya?. Mereka pasti akan malu berbesan dengan seorang napi." Haris menjeda kalimatnya lagi sebentar." Tidak semua orang punya pemikiran yang luas seperti Om Bagus dan Tante Liana. Bisa menerima Nona Marya meski tau kalau Pak Maiman seorang penjudi sampai sekarang."
Widuri mengulas senyumnya, lalu melepas pelukan Haris dari tubuhnya, menukar posisi duduknya, duduk di pangkuan Haris dan menghadap pria itu.
"Kau terlalu baik jadi pria, tapi kadang kau terlalu bodoh." Widuri menaikkan satu tangannya untuk meraba bulu bulu halus yang tumbuh di sebagian wajah pria itu.
Haris mengambil tangan Widuri dari wajahnya, lalu mengecup telapak tangan wanita itu. Tidak tersinggung sama sekali Widuri mengatakannya bodoh.
"Tidak masalah kau mengataiku pria bodoh. Yang penting aku berhasil menjebak mu menjadi milik ku" balas Haris mengulas senyumnya dan mengedipkan mata genitnya ke arah Widuri.
"Berapa hari lagi aku harus menunggu?" ternyata pria itu sudah mulai tak tahan untuk berbuka puasa.
"Mungkin tiga Minggu lagi " jawab Widuri.
"Itu sangat lama, sayang."
"Sabar, Setelah aku selesai nipas, kau bisa menikmatiku sepuasnya." Widuri tersenyum dan mengusap lembut kepala pria itu, menatap kasihan pada pria yang harus menahan hasratnya itu.
Mendapat perhatian kecil seperti itu, berhasil membuat Haris merasa di cintai. Apa lagi sekarang ini, Widuri berubah menjadi wanita lembut dan perhatian. Tidak seperti awal awal mereka menikah, Widuri selalu marah dan galak.
Haris pun mengecup bibir wanita di depannya itu. Bukan hanya mengecup tapi menciumnya dalam, hanya sebentar.
"Sekarang ini, Mama dan Nala sedang perjalanan ke sini" ucap Haris setelah melepas pagutan bibirnya. Pria itu pun melap sudut bibir Widuri yang basah dengan jempolnya.
__ADS_1
Kanzo yang mengirim Ibu Ratna dan Nala ke tempat mereka. Karena tidak tega melihat kedua wanita itu terus menangis dan memohon pada Kanzo.Terlebih ada Marya yang terus membujuknya.
Widuri pun terdiam dan menajamkan pandangannya ke wajah Haris.
"Mereka akan tinggal bersama kita di sini" ucap Haris lagi. Seperti yang sudah dikatakan Haris lagi. Nala dan Ibu Ratna pasti malu dengan perbuatan Pak Hilman. Dari pada melihat orang tanpa muka, lebih baik mencari lingkungan yang baru.
"Trimakasih" ucap Widuri lirih.
"Kanzo dan Marya yang melakukannya" balas Haris, menarik tubuh Widuri ke dalam pelukannya.
"Tentu itu atas ijin Pak Haris juga" ucap Widuri lagi.
"Mama dan Nala tidak bersalah. Aku yang terlalu terburu emosi untuk menjauhkan mu dan anak kita dari keluarga mu. Aku minta maaf sebelumnya, Wid. Seharusnya aku memikirkan perasaan mu, Mama dan Nala sebelum bertindak."
Widuri pun menganggukkan kepalanya di dalam pelukan Haris, memaklumi apa yang sudah dilakukan pria itu.
"Seharusnya dulu kamu menembakku, Wid. Biar aku gak keduluan di embat wanita lain" Haris mengulum senyum nya melihat besarnya cinta Widuri kepadanya, Widuri sangat mudah memaafkannya, meski selama ini Haris sering menyakitinya, membiarkan wanita itu menjalani kehamilan sendirian.
Mendengar ucapan Haris, Widuri langsung mengangkat kepalanya dari dada pria itu. Menatap pria itu dengan berkacak pinggang.
"Dasar kadal" maki Widuri berbicara gemas pada Haris.
Di bilang kadal, pria itu malah tertawa cekikikan."Tapi kadalnya ganteng kan?."
"Itu dia, untung kadalnya ganteng. Jadi gak rugi juga di kadalin." Widuri berbicara dengan bibir atas menjuntai.
Selama ini, Haris yang di nilainya, pria bodoh, labil, gak punya pendirian, ternyata pria berjenis cap kadal.
"Ukh! gemas banget sih istriku ini." Melihat wajah Widuri kesal seperti itu, membuat Haris menjadi gemas sendiri.
Haris kembali menarik Widuri ke dalam pelukannya, lalu mengecup kening wanita itu dengan sayang.
"Trimakasih ya, sudah menjaga anakku selama ini dengan baik." Raut wajah Haris berubah menjadi serius, pria itu begitu terharu mendapatkan istri seperti Widuri. Wanita yang tulus mencintainya tanpa memandang apa yang dia miliki."Aku sangat mencintai kamu, Wid. Aku berjanji, tidak akan pernah lagi mengabaikan mu dan membuatmu sakit hati, Wid. Aku berjanji, sayang."
__ADS_1
*Bersambung