Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Tidak perlu merebutnya


__ADS_3

Plak!


"Jaga bicara mu, Ci" geram Widuri setelah melayangkan satu tamparan ke wajah Cici. Bagaimana dengan Mu, Ci?. Kamu tidak lebih baik dariku, Ci. Kamu membohongi Pak Haris, kalau kamu sudah tidak perawan lagi" ujar Widuri tersenyum miring.


"Itu urusanku. Yang yang jelas sekarang, Haris sudah menjadi suamiku. Jangan mencoba merebutnya dariku." Cici berbicara dengan merapatkan gigi giginya."Kalau kamu berani, lihat saja apa yang akan kulakukan" ancam Cici dengan mata melirik ke arah Pak Solihin.


"Aku tidak perlu merebutnya. Tanpa aku rebut pun, Pak Haris datang sendiri kepadaku. Jadi untuk apa aku harus merebutnya?" balas Widuri tidak takut sama sekali dengan ancaman Cici." Dan aku datang ke rumah Pak Haris, untuk meminta hak bayi miliknya yang ada di dalam kandunganku. Aku mengandung anak suami kamu!" tekan Widuri.


Berhasil membuat Cici terdiam dan mengarahkan pandangannya ke arah perut Widuri yang masih rata. Tidak percaya dengan apa yang baru dikatakan Widuri. Haris hanya melakukannya sekali kan kepada Widuri?.


'Gak mungkin' batin Cici. Selama sebulan ini mereka sering melakukannya dengan Cici, tapi ia belum juga hamil.


'Tidak tidak tidak, aku harus melenyapkan bayi itu' batin Cici lagi. Berpikir kalau bayi itu lahir, Haris nanti akan semakin mencintai Widuri.


Widuri dan Pak Solihin pun memilih masuk ke dalam rumah, mengabaikan Cici yang berdiri membeku di depan rumah.


'Awas kamu Wid' batin Cici lagi mengancam lalu pergi meninggalkan rumah itu.


**


Haris yang sudah sampai di kampung Widuri, turun dari dalam taxi yang mengantarnya. Tidak sulit bagi Haris mencari alamat rumah Widuri. Cukup dia kasih alamat lengkap saja ke supir taxi itu, dan supir itu langsung mengantarnya ke depan rumah orang tua Widuri di kampung.


Tok tok tok!


"Permisi!" sahut Haris sambil mengetok pintu rumah sederhana di depannya.


Tak lama menunggu, pintu rumah itu pun terbuka dari dalam. Haris melihat seorang gadis keluar dari dalam rumah, wajahnya mirip seperti Widuri, hanya saja tubuh gadis itu lebih berisi dari pada Kakaknya.


"Maaf, cari siapa ya?" tanya Nala, memperhatikan pria bertubuh tinggi dan tegap di depannya.


"Widurinya ada?" tanya Haris, tidak ragu lagi kalau rumah itu, rumah orang tua Widuri, dan gadis cantik di depannya adalah Adik Widuri sendiri.


"Anda siapa?" tanya Nala lagi mengerutkan keningnya.


"Temannya dari Jakarta" jawab Haris


"Kak Widuri sudah kembali ke Jakarta" cetus Nala, seketika menatap pria berwajah tampan itu tidak suka.


"Sudah kembali ke Jakarta?" ulang Haris.


"Mama mengusirnya dari sini, karena mengandung anak Anda. Ayah sendiri ikut mengantarnya untuk menemui Anda." Nala berbicara merapatkan gigi giginya, geram dan sakit hati melihat pria yang sudah menghancurkan masa depan Kakaknya itu. Namun Nala harus menahan amarahnya untuk tidak marah marah, Karana itu bisa memancing perhatian para tetangga.

__ADS_1


"Kalau begitu, trimakasih informasinya. Saya pergi dulu" pamit Haris melangkahkan kakinya menjauhi rumah itu, dan kembali masuk ke dalam taxi yang masih menunggunya dari tadi. Haris akan segera kembali ke Kota untuk menyusul Widuri.


'Untung Mama lagi gak di sini. Kalau gak, pria itu sudah Habil Mama injak injak.'


Nala menghela napasnya sembari membatin.


**


Sampai di Jakarta, Haris langsung ke rumah yang biasa Widuri tempati. Namun sampai di sana, rumah itu kosong, tidak ada orang di dalamnya. Haris terpaksa pulang ke rumahnya. Mungkin besok Haris bisa datang ke rumah itu lagi untuk menemui Widuri.


"Berhenti, Pak!" perintah Haris kepada sang supir yang menjemputnya dari bandara.


"Kok berhenti, Pak?. Kan mobilnya belum masuk ke dalam" ujar sang sopir. Mobil yang di kendarai ya masih di depan gerbang, namun majikannya itu minta berhenti.


"Berhenti, Pak!" perintah Haris lagi bernada kesal.


"Iya bos, berhenti" balas Pak Mamat, kemudian menghentikan laju kendaraannya.


Haris langsung keluar dari dalam mobil, melangkahkan kakinya ke arah seorang wanita bersama seorang pria yang berdiri di depan pagar rumahnya.


"Widuri!" Panggil Haris.


Refleks Widuri dan Pak Solihin menoleh ke arah Haris yang berjalan ke arah mereka.


"iya, Yah!" jawab Widuri menunduk dengan mata berkaca kaca.


Bukh!


"Ayah!" kaget Widuri, melihat Ayah nya langsung memukul wajah Haris, sampai Harus terpental ke trotoar jalan.


"Ish!" Haris meringis sambil melap darah yang mengalir dari sudut bibirnya, sambil berusaha berdiri.


Bukh! Bakh Bukh!


Belum sempat Haris berhasil berdiri, Pak Solihin sudah memukulnya kembali, dan bahkan melayangkan tendangan ke tubuhnya.


"Pak Haris!"


Si Pak Mamat seorang supir, dan Pak Satpam yang berjaga di gerbang rumah itu, serentak memanggil Haris dan berlari ke arah majikan mereka itu untuk menolong Haris.


"Beraninya kamu menyentuh putriku tanpa seijinku! Hah" marah Pak Solihin membentak Harus tanpa takut.

__ADS_1


"Aku minta maaf, Pak!. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahi Widuri" ucap Haris yang sudah babak belur.


"Saya gak setuju!."


Suara wanita yang keluar dari dalam gerbang itu, berhasil mengalihkan pandangan Pak Solihin ke arah wanita yang sudah tidak muda lagi itu.


"Kalau begitu, saya akan membunuh anak mu itu" ancam Pak Solihin.


"Satpam!, Pak Mamat. Usir mereka dari sini !" perintah Ibu Ilona kepada kedua pria yang membantu Haris berdiri itu.


"Ma!" tegur Haris tidak terima Ibunya mengusir Widuri dan Pak Solihin.


"Mama gak setuju kamu menikahi wanita itu, Haris!. Dia itu wanita kampung dan miskin yang hanya ingin memoroti kekayaan kita. Lagian sudah ada Cici, untuk apa lagi?" marah Ibu Ilona kepada anaknya.


"Kalau begitu, saya akan membunuh anakmu itu" ucap Pak Solihin.


Bukh! Bakh!


Pak Solihin melayangkan tinju dan tendangan lagi ke wajah Haris.


"Haris!" seru Cici yang baru pulang bekerja. Cici berlari ke arah Haris dan langsung memeluk pria itu." Haris, kamu kenapa?, kenapa jadi seperti ini?" tangis Cici mengusap luka di wajah Haris.


"Sudah kukatakan, saya akan membunuh suami mu itu" ucap Pak Solihin bernada santai.


"Ayah! udah, jangan membuat keributan di sini. Ayo kita pergi" ajak Widuri menarik lengan Ayah nya ,tak ingin Ayahnya terus memukuli Haris. Widuri juga malu dengan sikap arogan Ayah nya.


"Dasar orang kampung!" maki Ibu Ilona menatap remeh ke arah Widuri dan Pak Solihin.


"Kami memang orang kampung, tapi kalian tidak lebih baik dari kami. Lihatlah anakmu!, sudah punya istri, masih menyentuh putriku" ucap Pak Solihin.


"Anak mu aja yang murahan, menggoda anakku yang sudah beristri" balas Ibu Ilona tidak terima.


"Ma!" tegur Haris.


"Mama gak mau kamu menikahi wanita itu Ris. Kamu kasih aja mereka uang, sudah" ucap Ibu Ilona kepada Haris.


"Widuri sedang mengandung anak ku, Ma. Aku harus bertanggung jawab. Mama setuju atau tidak, aku tetap akan menikahi Widuri!" tegas Haris berhasil membuat Ibu Ilona terdiam.


"Haris!" Isak tangis Cici yang masih memeluk suaminya itu.


"Kita sudah membicarakan ini, Ci." Haris melepaskan pelukan Cici dari tubuhnya, dan melangkahkan kakinya mendekati Widuri yang juga menangis.

__ADS_1


"Aku akan menikahi mu sekarang."


*Bersambung


__ADS_2