
"Mana Widuri? Kamu gak membawanya?" tanya Kanzo melihat Haris datang sendirian.
Haris yang di tanya merekahkan senyumnya, jelas sekali di wajah pria itu kalau ia sedang bahagia Sekarang.
"Widuri hamil lagi" jawabnya.
"Widuri hamil lagi?" tanya Marya menimpali, wajahnya terlihat senang mendengar kabar bahagia itu.
Haris menganggukkan kepalanya tanpa menyurutkan senyumnya dari tadi.
"Kalau begitu selamat." Kanzo memeluk sahabatnya itu, menepuk nepuk punggungnya dari belakang.
"Trimakasih" balas Haris.
"Oo ya, dimana mereka?" tanya Kanzo, tidak melihat para teman mereka di ruangan itu.
"Mereka lagi di perjalanan" jawab Haris yang sudah mendapat informasi dari rekan bisnis merek yang mengajak mereka ke club itu.
Kanzo pun menganggukkan kepalanya, kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa ruang VIV itu. Tangannya menarik lengan Marya supaya duduk di sampingnya.
"Gavin pasti mencariku" desah Marya, kepikiran dengan Gavin yang di tinggal di rumah.
"Sesekali, kamu juga perlu bersantai. Gavin akan aman bersama Neneknya." Kanzo mengusap lembut kepala Marya dari belakang. Istri keduanya itu sangat bertolak belakang dengan sifat mantan istri pertamanya dulu.
Jika dulu Bella mantan istrinya tidak peduli sama sekali dengan anak mereka. Berbeda dengan Marya yang sangat peduli dengan anak mereka, bahkan hampir seluruh waktunya habis untuk mengurus kedua anak mereka, Gavin dan Areta.
"Apa lagi tujuan hidupku kalau bukan untuk anak anakku?" ujar Marya.
"Tapi kamu juga butuh untuk menghibur diri kamu sesekali. Kamu juga jangan lupa, aku juga membutuhkan mu." Kanzo mendenkatkan wajahnya ke wajah Widuri, lalu menyapu lembut bibir wanita itu.
Marya langsung mendorong tubuhnya.
"Apa kamu ingin memperlakukan ku sebagai wanita penghibur?" cetus Marya. Bisa bisanya suaminya itu menciumnya di depan halayak ramai. Meski di tempat itu banyak orang berciuman, tapi Marya tidak terbiasa seperti itu.
Kanzo malah tertawa kecil, lalu mengambil sebotol minuman yang baru diantar bartender ke meja mereka, menuangnya ke dalam gelas dan menyesapnya sedikit.
Haris yang duduk di samping mereka tidak perduli dengan apa yang dilakukan suami istri itu. Ia memilih sibuk memperhatikan foto USG bayinya di layar ponselnya.
"Wah, ternyata kalian sudah datang."
Suara seorang pria itu berhasil mengalihkan pandangan Haris, Kanzo dan Marya. Kanzo dan Haris pun berdiri untuk menyambut tamu mereka itu dengan bersalaman.
"Pak Darren, silahkan duduk" sambut Kanzo ramah.
"Trimakasih" balas Pak Darren lalu mendudukkan tubuhnya di samping Kanzo.
__ADS_1
"Kamu juga membawa istrimu?" tanya Kanzo melihat wanita di samping Pak Darren.
"Tau aku ke sini, dia gak membiarkanku pergi sendirian" jawab Darren tersenyum. Wanita di sampingnya itu langsung mendengus. Bukan seperti itu ceritanya, Pak Darren yang memaksanya ikut, dengan alasan di club malam banyak wanita wanita penggoda, takut tergoda nantinya.
"Istrimu sangat cantik keibuan" puji Kanzo."Awu sayang" tiba tiba Kanzo meringis kesakitan merasakan sakit di bagian pinggangnya karena Marya mencubitnya.
Darren mengulas senyum melihat tingkah suami istri itu.
"Pak Haris, dimana istrinya? Gak dibawa?" tanya Pak Darren melihat Haris sendirian.
"Istriku sekarang lagi hamil, jadi aku gak membawanya" jawab Haris masih tidak bisa menyembunyikan rona bahagia di wajahnya. Padahal ini kehamilan istrinya yang kedua, tapi kebahagiaan pria itu seperti baru pertama ingin memiliki anak.
"Oo kalau begitu selamat Pak Haris." Pak Darren mengulurkan tangannya untuk menyalam Haris.
"Trimakasih" balas Haris.
"Dimana teman mu itu?, seharusnya aku gak usah ikut kesini. Aku malu bergandengan dengan kamu, wajah mu sudah terlalu tua dibandingkan denganku" kerutu seorang wanita yang datang bergandengan dengan seorang pria hampir berusia enam puluh Tahun.
"Kau itu cerewet sekali" ketus pria itu.
"Pak Chandra, aku pikir kau gak akan datang" Kanzo berdiri dari tempat duduknya untuk menyambut Pak Chandra, di ikuti Haris dan Pak Darren.
"Seharusnya kita tidak membuat acara di sini. Kenapa kita gak ngopi di rumah aja" ujar Pak Chandra.
"Seharusnya begitu, tapi sesekali saja tidak masalah. Ayo Pak Chandra, silahkan duduk" balas Kanzo.
"Minumlah kalau kau mau, tapi jangan sampai mabuk"ujar Pak Chandra kepada istrinya itu yang dari tadi ngomel ngomel tidak jelas.
"Silahkan Bu Hajar, minuman di sini di jamin aman" ucap Kanzo tersenyum ramah, lalu matanya melirik ke arah Haris yang duduk enteng terus memandangi layar ponselnya. Pria itu tidak ada ramah ramahnya dari tadi.
"Trimakasih" wanita bernama Hajar itu langsung meraih gelas yang sudah dituangi minuman di atas meja, dan langsung menyesapnya.
"Pak Darren" Tegus Kanzo melihat Pak Darren belum menyentuh minuman di depannya.
"Saya tidak meminum itu" tolak Darren. Dia kesana hanya memenuhi undangan saja, tidak berniat mencicipi minuman memabukkan itu.
"Haris, tolong perankan minuman non alkohol untuk Pak Darren dan istrinya" Perintah Kanzo pada Hsris.
Haris langsung menoleh, menatap Kanzo malas. Kenapa harus dia, bukankah Kanzo juga bisa memesannya?.
"Kau dari tadi hanya diam dan sibuk dengan ponselmu" tegur Kanzo.
"Tinggal pesan, apa susahnya." Haris memutar bola mata malas.
Haris pun melambaikan tangannya ke arah seorang bartender yang sedang membawa nampan berisi minuman.
__ADS_1
"Iya Pak, ada yang bisa di bantu?" tanya bartender itu ramah.
"Antarkan ke sini minuman non alkohol" ucap Haris.
"Baik Pak" patuh pria itu langsung pergi.
Tak lama kemudian, seorang wanita berpakaian pas body dan kurang bahan datang berjalan lenggak lenggok tersenyum ramah ke arah mereka. Melihat Haris tidak memiliki pasangan, wanita itu pun mendudukkannya di pangkuan Haris.
Bruk!
"Awu!"
Seketika wanita itu meringis kesakitan saat tiba tiba tubuhnya terjatuh kelantai.
"Dasar wanita murahan!."
"Wid!" gumam Haris, kaget melihat istrinya sudah ada di tempat itu.
Widuri langsung menoleh ke arah Haris, menatap Haris dengan sorot mata tajam.
"Enak di belai belai wanita itu?" tanya Widuri, berbicara dengan merapatkan gigi giginya.
Haris menelan air ludahnya, tidak bisa menjawab. Enak atau tidak, Haris juga tidak tau, karena wanita itu baru duduk di pangkuannya.
"Dasar, laki laki kadal" maki Widuri lantas pergi dari tempat itu. Haris langsung menyusulnya.
"Sayang."
Belum sempat Widuri keluar dari bar, Haris sudah berhasil memeluk tubuh wanita itu.
"Jangan marah, aku juga tidak menyangka kalau wanita itu akan duduk di pangkuan ku" jelas Haris.
"Bohong!" sanggah Widuri tidak percaya.
"Sepertinya aku mengenal wanita itu" bisik Haris ke telinga Widuri."Sepertinya dia Bella, mantan istri pertama Kanzo."
Widuri langsung memutar tubuhnya ke arah Haris dan memperhatikan wajah pria itu.
"Meski dia memakai make up tebal, tapi aku bisa mengenalinya" ucap Haris lagi.
"Kenapa Pak Kanzo membiarkannya berkeliaran?" tanya Widuri.
Wanita itu juga terlibat kerja sama dengan Baim untuk menghancurkan nama baik Marya sahabatnya.
"Aku pikir wanita itu sering melakukan penyamaran" jawab Haris." Ayo kita masuk lagi, kita jebak dia supaya tidak bisa lolos." Haris membawa Widuri kembali ke meja mereka tadi.
__ADS_1
*Bersambung