
Haris bukan tidak adil padanya saja, tapi pada anak yang di dalam perutnya juga. Haris lebih memperhatikan anaknya yang ada di dalam perut Cici, dari pada yang berada di dalam perutnya.
Widuri menghapus air matanya saat akan membuka pintu kamar yang pernah di tempatinya di rumah itu. Widuri juga sering kali menginginkan Haris mengelus perutnya saat akan tidur. Dan di perhatikan saat bangun pagi, apa lagi saat memuntahkan isi perutnya di pagi hari. Tapi Haris tidak pernah berpikir apa yang di alami Widuri semenjak hamil. Haris bersikap seolah olah Widuri tidak membutuhkannya.
Setelah berada di dalam kamar, Widuri langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Tidak lama kemudian, Widuri langsung ketiduran. Wajah saja, malam sudah menunjukkan jam satu dini hari.
Di kamar sebelah, Haris turun dari atas kasur, setelah melihat Cici tidur terlelap. Haris berdiri di samping ranjang, dan memandangi wajah wanita yang pertama di nikahinya itu dengan pandangan yang tak bisa di artikan. Kemudian Haris keluar dari kamar itu, melangkahkan kakinya ke arah kamar yang di tempati Widuri.
**
Pagi hari, Widuri langsung terbangun dan membuka matanya, saat merasakan perutnya yang tiba tiba bergejolak ingin muntah. Saat Widuri akan mendudukkan tubuhnya, pergerakannya terkunci oleh tangan dan kaki yang melilit tubuhnya.
'Pak Haris' batin Widuri melihat wajah Haris tepat berada di samping wajahnya.
"Oek!" Widuri langsung membungkam mulutnya yang hampir menyemburkan isi perutnya lewat mulut.
"Oek oek oek!" tidak bisa menahan gejolak dari dalam perutnya, akhirnya Widuri pun memuntahkan isi perutnya di kasur itu.
Haris yang tadinya masih terlelap, menjadi terbangun dan mendudukkan tubuhnya.
"Sayang, kamu muntah?" ucap Haris.
"Maaf, tadi aku ingin ke kamar mandi. Tapi Pak Haris mengunci pergerakan ku. Jadi aku gak bisa berlari ke kamar mandi." Widuri menjadi merasa tidak enak hati, mungkin Haris risih dan jijik melihat muntahannya di atas selimut.
Haris menghela napasnya, mendengar Widuri meminta maaf.
"Kenapa kamu minta maaf?" ujar Haris mengulurkan tangannya untuk memijat leher belakang Widuri.
"Aku sudah memuntahi selimutnya" jawab Widuri. Selimut yang di pakai mereka itu pastilah harganya mahal. Mungkin lebih mahal dari gaji Widuri bekerja sebagai resepsionis.
"Gak apa apa, muntahkan saja. Selimutnya bisa di cuci nanti." Melihat Widuri selesai muntah, Haris pun membuka selimut mereka, kemudian mengangkat tubuh Widuri dan membawanya ke kamar mandi.
__ADS_1
"Aku mandi sendiri aja" ucap Widuri saat Haris akan membuka pakaiannya.
"Aku hanya ingin memandikan mu." Haris terus menarik baju Widuri sampai lepas dari tubuh wanita itu, kemudian memandikan wanita itu sampai bersih, membuat Widuri pasrah menerima perlakuan pria itu.
Setelah selesai memandikannya, Haris membawa wanita itu kembali keluar dari dalam kamar mandi.
"Aku gak membawa pakaian" ucap Widuri. Barang kali pakaiannya yang di dalam lemari sudah di buang.
"Pakaian mu banyak di lemari." Haris melangkahkan kakinya ke arah lemari di kamar itu untuk mengambil pakaian untuk Widuri.
'Pak Haris, kenapa kamu baik seperti ini setelah aku memutuskan ingin bercerai dengan mu setelah anak ini lahir?.'
Widuri membatin sambil memperhatikan punggung Haris dari belakang.
Setelah melahirkan, Widuri sudah memutuskan untuk bercerai dengan Haris. Karena Widuri berpikir, Haris tidak akan bisa berlaku adil padanya. Haris akan tetap menjadi pria labil yang tidak bisa menentukan arahnya. Tidak bisa tegas dalam menjadi kepala rumah tangga. Haris akan selalu lebih condong kepada Cici. Tapi melihat Haris memperhatikannya seperti lagi ini, jujur rasanya berat sekali jika harus bercerai. Apa lagi Widuri masih mencintai pria itu.
"Aku tau kalau aku ini tampan"ucap Haris, berhasil menyadarkan Widuri dari dalam lamunannya.
**
Kamar yang berada di samping kamar Widuri, Cici yang terbangun dari tidurnya langsung mengeraskan rahangnya, melihat Haris tidak ada di sampingnya.
'Pasti dia pergi ke kamar Widuri' batin Cici. Berpikir kalau hubungan Haris dan Widuri sepertinya sudah membaik. Ini tidak bisa di biarkan. Haris harus membenci Widuri.
'Sabar sabar sabar' batin Cici, menarik napasnya panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Cici harus bisa mengontrol emosi, dia harus tetap menjadi istri yang baik, patuh dan lemah lembut. Karena ia belum berhasil menyingkirkan Widuri dari hidup Haris.
Cici pun segera turun dari atas kasur, melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Cici langsung keluar. Di dalam kamar sudah ada Haris, sudah mandi dilihat dari rambutnya yang lembab, dan juga sudah rapi dengan kemeja kokoh berwarna putih di tubuh pria itu.
'Apa yang sudah terjadi tadi malam? Apa mereka melakukannya?' batin Cici.
"Cepatlah berpakaian, Kanzo dan Nona Marya sudah menunggu kita di meja makan untuk sarapan." Haris mendekati Cici setelah mengambil pakaian yang sudah di siapkannya di atas sofa.
__ADS_1
"Rasanya tidurku baru sebentar, hari sudah pagi. Huh, aku jadi terlambat bangun" Cici menghembuskan napasnya kasar, menyesali dirinya yang terlambat bangun pagi ini.
"Gak apa apa" balas Haris.
Setelah Cici selesai berpakaian, Haris pun membawa istrinya itu keluar dari dalam kamar, ikut bergabung di meja makan rumah itu untuk sarapan pagi. Meski tak selera, tapi mereka harus tetap mengisi nutrisi ke tubuh mereka untuk energi mereka hari ini.
"Selamat pagi" sapa Cici ramah saat akan mendudukkan tubuhnya di kursi yang biasa di duduki nya, tepatnya di samping Haris.
"Selamat pagi juga" balas Kanzo dan Marya bersamaan. Sedangkan Widuri hanya diam saja, enggan melihat ke arah Haris dan Cici.
Dan Soodam yang duduk di samping Kanzo, hanya diam termenung dengan pandangan kosong lurus ke depan.
Waktu sarapan itu pun berlalu dengan hening, tidak ada yang berbicara. Semua mengunyah makanan di mulut masing masing dengan sangat hati hati.
"Saya rasa, kalian bertiga tidak perlu ikut ke pemakaman. Kalian sedang hamil, nanti mental kalian tidak kuat di sana" ujar Kanzo, setelah menghabiskan sarapan di piringnya dan meminum segelas air putih yang tersedia di depannya.
"Aku ikut, ini hari terakhir aku melihat Mama" ucap Cici dengan suara manjanya kepada Haris.
Marya langsung saja memutar bola mata malas. Emang dasar siluman, pintas sekali membuat drama dramatis di depan Haris.
"Cici, keadaan kandungan mu lagi lemah. Gak usah ikut ya. Aku gak mau terjadi apa apa lagi sama kamu dan bayi kita" bujuk Haris mengusap lembut kepala Cici dari belakang.
"Ikut" lirih Cici, berbicara dengan bibir di tekuk ke bawah di iringi air mata mengalir dari sudut matanya.
Widuri yang malas melihatnya, memilih berdiri dari kursinya dan meninggalkan meja makan. Widuri melangkahkan kakinya ke ruangan yang sudah di siapkan untuk para tamu melayat.
Widuri mendekati jasat Ibu Ilona yang di tutup kain, mendudukkan tubuhnya di sampingmya. Kemudian membuka kain yang menutup wajah wanita yang tak berdaya itu.
'Demi cucu mu yang berada di dalam perutku ini. Aku akan menyingkirkan menantu kesayangan mu itu' batin Widuri memandang wajah Ibu Ilona dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Bersambung
__ADS_1