
Haris menggendong tubuh Widuri yang pingsan di pelukannya. Membawa ke ruang IGD di rumah sakit itu untuk di periksa.
"Tolong periksa istri saya Dok, dia tiba tiba pingsan" ujar Haris meletakkan tubuh Widuri di atas brankas pemeriksaan.
Dokter yang berada di dalam ruangan itu langsung berdiri dari kursinya dan mendekati Widuri yang sudah di baringkan. Kebetulan saja tidak ada pasien di ruangan itu, sehingga Dokter yang bertugas langsung bisa memeriksanya.
"Sepertinya istri Anda kurang istirahat, dan makan tidak teratur, membuat tubuhnya lemah. Di tambah lagi, hormon kehamilan membuatnya tidak bisa mengontrol emosi. Jangan membuat istri Anda banyak pikiran, bisa berpengaruh dengan bayi di dalam kandungannya" ujar Dokter itu setelah selesai memeriksa keadaan Widuri.
Haris menghembuskan napasnya kasar. Memiliki dua istri yang sama sama hamil. Jujur, membuat Haris kewalahan mengurusnya. Belum lagi Haris harus bekerja keras membantu Kanzo sahabatnya untuk memulihkan kembali keadaan perusahaan. Dan Haris juga harus mengurus Ibunya yang sedang sakit parah dalam seminggu ini. Sehingga ia terpaksa mengabaikan Widuri untuk sementara waktu.
'Ya Tuhan, aku benar benar tidak sanggup berada di dalam posisi ini' batin Haris frustasi.
"Untuk mengetahui kondisi bayi kalian. Bawa istri Anda periksa ke Dokter kandungan. Melihat kondisi istri Anda yang lagi lemah seperti ini, saya khawatir dengan kondisi bayinya" ujar Dokter pria itu lagi, sambil berusaha menyadarkan Widuri dari pingsannya.
"Baik, Dok" patuh Haris. Mendengar apa yang di katakan Dokter barusan. Membuat Haris menjadi sangat khawatir kepada Widuri dan kandungannya.
Mencium aroma menyengat masuk ke dalam rongga hidungnya, Widuri pun langsung terbangun dari pingsan nya. Perlahan Widuri membuka kelopak matanya yang tertutup rapat dari tadi.
"Wid!" panggil Haris dengan suara lembutnya sambil mengusap kepala Widuri.
Widuri yang belum kembali kesadarannya seratus persen, langsung menoleh ke arah Haris yang berdiri di sampingnya, kemudian memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan serba putih itu.
"Kenapa aku ada di sini?" tanya Widuri setelah melihat Dokter yang masih berdiri di sampingnya sambil menyuntikkan obat ke selang infus yang tersambung langsung ke tangannya.
"Kamu tadi pingsan, sayang. Kamu lagi kurang sehat. Dan kata Dokter kamu harus di rawat untuk sementara waktu" jawab Haris.
"Aku gak mau. Aku mau pulang" bantah Widuri dengan cepat menarik jarum infus yang tertancap di tangannya.
"Sayang" kaget Haris langsung menangkap kedua tangan Widuri yang hendak turun dari atas brankar.
"Aku gak mau di rawat di rumah sakit" ujar Widuri lagi.
"Kamu lagi kurang sehat, makanya kamu pingsan" jelas Haris dengan suara membujuk, supaya Widuri tetap mau di rawat.
"Aku gak mau! jangan memaksaku!" teriak Widuri tiba tiba.
__ADS_1
"Kenapa?" Haris mengerutkan keningnya, heran melihat Widuri marah karena akan di rawat di rumah sakit.
"Di sini banyak hantu."
Haris langsung mengulas senyumnya kemudian tertawa kecil. Lucu sekali istrinya itu bertingkah. Padahal sudah dewasa, tapi masih bersikap seperti anak kecil. Masih bilang takut hantu di rumah sakit. Sepertinya istrinya itu kebanyakan menonton film horor. Padahal istrinya itu sangat galak, mana berani hantu mendekat.
"Ya udah, kamu di rawat di rumah aja." Mungkin dengan cara menuruti kemauan wanita itu, Haris lebih mudah mendapatkan hatinya. Haris tidak mau kehilangan Widuri. Setelah melahirkan nanti, Widuri harus tetap menjadi istrinya sampai selamanya.
"Dokter, tolong kirim tenaga medis ke rumah istri saya ini. Dia akan di rawat di sana" perintah Haris kepada Dokter di ruangan itu.
"Baiklah" patuh Dokter itu.
Rumah sakit itu adalah warisan peninggalan mendiang Ayah Haris sendiri. Jadi siapa yang berani menolak pemerintah tuan muda dari keluarga Darmawan itu.
"Dan tugaskan satu orang Dokter ahli gizi di rumah istri saya nanti. Dan satu orang perawat untuk mengurus istri saya" perintah Haris lagi.
"Baiklah" patuh Dokter pria paru baya itu tanpa protes.
"Kalau begitu, kami permisi dulu" pamit Haris dan langsung menggendong tubuh Widuri dari atas brankar, membawanya ke arah parkiran mobilnya.
"Mereka lebih tau cara mengurusmu dengan baik" jawab Haris.
"Pasti nanti mereka akan memakai seragam serba putih. Aku gak mau. Nanti bisa bisa rumahku kelihatan seperti rumah sakit."
"Meraka akan memakai pakaian bebas."
"Aku tidak begitu membutuhkan mereka." Widuri meneduhkan pandangannya ke wajah Haris yang sudah memasukkannya ke dalam mobil.
"Wid" tegur Haris lembut." Aku juga ingin bisa menghabiskan waktu sepanjang hari bersama kamu. Tapi, Wid" Haris membalas tatapan Widuri dengan tidak kalah teduhnya." Ada Cici di antara kita. Aku harus adil pada kalian berdua" jelas Haris.
"Tapi Pak Haris lebih banyak menghabiskan waktu bersama Cici" lirih Widuri perlahan lahan matanya pun nampak berembun.
"Aku minta maaf. Mulai sekarang aku akan adil membagi waktuku untuk kalian berdua."
"Ah, paling hanya gombal aja. Sebentar lagi istri siluman mu akan menghubungi Pak Haris untuk menyuruh pulang. Lihat aja, aku yakin Pak Haris pasti meninggalkan aku" cetus Widuri berbicara dengan bibir mengerucut.
__ADS_1
Haris tersenyum lebar, melihat begitu menggemaskannya Widuri saat berbicara. Coba boleh di sentuh, pasti Haris sudah melahap habis tubuh istrinya itu. Tapi Haris harus bersabar menunggu Widuri memberi ijin. Meski sebenarnya Haris bisa memaksanya. Tapi Haris tidak ingin melakukannya lagi secara paksa.
Dan benar saja, baru saja Widuri mengatakannya. Ponsel Haris sudah berbunyi dari kantong celana pria itu.
"Sebentar sayang" ucap Haris setelah mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
Widuri mendengus dan membuang muka.
"Halo Ci, ada apa?. Kamu sudah pulang?" cerca Haris langsung kepada Cici di balik telephon.
"Ris, aku mengalami pendarahan." Cici menangis dan terdengar merintih dari dalam telephon.
"Kamu dimana? aku akan segera kesana" Haris langsung panik dan khawatir mendengar Cici menangis dan kesakitan.
"Menuju rumah sakit di antar supir" tangis Cici lagi.
"Ya udah, aku akan tunggu di sini. Kebetulan aku dan Widuri masih di rumah sakit" ucap Haris.
"Sakit Ris, aku gak tahan lagi" isak tangis Cici lagi.
"Sabar ya, kamu harus kuat" hanya itu yang bisa Haris katakan untuk menenangkan Cici.
"Ada apa?, Cici kenapa?" tanya Widuri yang mendengar sedikit pembicaraan Haris dan Cici.
Haris langsung menoleh ke arah Widuri. Wajahnya terlihat begitu khawatir sampai mata pria itu berkaca kaca.
"Cici pendarahan" ucap Haris menatap teduh ke arah Widuri.
Widuri pun terdiam, bisa menebak kalau Haris akan memilih menemani Cici dari pada dirinya.
"Aku minta maaf, Wid. Cici sangat membutuhkanmu saat ini" ucap Haris mengiba, melihat wajah Widuri yang nampak kecewa padanya.
"Gak apa apa" Widuri mengulas senyum terpaksa. Baru saja Widuri ingin menerima pernikahannya dengan Haris, meski hanya menjadi istri kedua. Tapi lagi lagi Haris lebih mementingkan Cici dari padanya.
*Bersambung
__ADS_1