Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Ada di sisi ku


__ADS_3

Saat berjalan, Widuri menyematkan jemarinya ke jari tangan Haris yang berjalan di sampingnya. Widuri paham saat ini, Haris membutuhkan dukungan darinya. Haris lagi berduka, butuh dikuatkan hatinya.


"Trimakasih" ucap Haris.


"Untuk apa?" Widuri mengerutkan keningnya ke arah Haris.


"Kamu ada di sisiku saat aku berduka seperti ini. Kamu tidak dendam pada Ibu ku" jawab Haris.


Widuri mengulas senyumnya." Aku yang menyebabkan Mama meninggal. Aku kesini untuk meminta maaf untuk yang terakhir kalinya pada Mama."


"Kamu tidak sengaja melakukannya. Kamu melakukannya juga demi menyelamatkan anak kita. Dan mungkin ini hukuman buat Mama yang sudah pernah berniat ingin memusnahkan anak kita" ucap Haris.


"Jangan membicarakan keburukannya lagi. Urusan Mama di Dunia ini sudah selesai. Lebih baik kita doakan Mama, supaya arwahnya tenang" balas Widuri.


"Kamu benar, seburuk apa pun Mama, dia tetap Ibuku. Hanya segelintir kesalahannya, tidak mungkin aku bisa melupakan kebaikannya yang sudah merawat dan membesarkan ku."


"Sebentar lagi juga aku akan menjadi seorang Ibu. Mungkin nanti juga aku akan melakukan apa yang menurutku yang terbaik buat anakku."


"Anak kita" ralat Haris, tidak terima Widuri mengatakan anak di dalam perutnya, anaknya sendiri.


'Kalau kita berpisah, mungkin dia akan menjadi anakku sendiri. Atau akan menjadi anakmu dan Cici. Bukan menjadi anak kita' batin Widuri tersenyum miris.


'Awas kamu Wid' batin Cici melihat Haris dan Widuri datang dengan bergandengan tangan.


"Ini dia pembunuhnya." Soodam berdiri dari tempat duduknya melangkahkan kakinya mendekati Widuri dan Haris."Ngapain kamu datang ke sini?" geram Soodam, menatap marah pada Widuri.


"Soodam" tegur Haris melihat Adiknya itu begitu marah pada Widuri.


"Gara gara dia Mama meninggal Kak!. Dia sudah membunuh Mama!" teriak Soodam tiba tiba, berhasil membuat Widuri terlonjak kaget.


"Mama sendiri yang membuat dirinya celaka!. Itu hukuman untuk Mama, Soodam. Hukuman untuk Mama yang ingin membunuh anakku" geram Haris.


" Kak Haris membela wanita itu?." Soodam menggeleng gelengkan kepalanya." Mama sudah tiada, Mama kita sudah pergi. Kita gak punya siapa siapa lagi, Kak. Itu semua gara gara wanita ini!." Soodam menarik rambut Widuri dengan gerakan cepat dan tak terelakkan.


"Aaaa!" teriak Widuri kesakitan.


"Aku akan membunuh mu" garam Soodam.


"Soodam!" bentak Haris, menarik tangan Soodam dari rambut Widuri, tapi tidak berhasil karena wanita itu semakin mengencangkan tarikannya.


"Sakiiiit!" tangis Widuri histeris.

__ADS_1


'Rasain, itu masih kurang Wid. Hati ini lebih sakit lagi di banding kepala mu itu' batin Cici penuh dengan dendam.


"Soodam, lepaskan tanganmu itu dari rambut istriku. Atau kamu ku masukkan ke penjara" ancam Haris, memeluk Widuri dan terus berusaha melepas tangan Soodam.


"Soodam!" tegur Cici dengan suara lembutnya saat akan berdiri dari tempat duduknya. Cici mendekati Soodam, untuk menenangkan Adik iparnya itu." Soodam, jangan seperti ini, Mama bisa sedih melihat kamu seperti ini."


"Gara gara dia, Mama sakit dan meninggal" geram Soodam.


"Bukan Soodam, bukan karena siapa siapa. Mungkin memang sudah takdirnya Mama pergi" bujuk Cici, membantu Haris melepas tangan Soodam dari rambut Widuri.


"Selama ini aku hanya punya Mama. Tapi wanita ini membunuh Mama!" tangis Soodam tidak mau melepas cengkeramannya dari rambut Widuri. Ayah mereka sudah meninggal sejak Haris lulus SMA, dan saat itu Soodam baru berusia tiga belas Tahun.


"Aku tidak sengaja melakukannya. Jika saja Mama dan kamu tidak ingin mencelakai bayi ku. Tidak mungkin aku menendang Mama waktu itu" ujar Widuri di selah selah rasa sakitnya.


"Cici, panggil Dokter" suruh Haris, karena tidak berhasil melepas cengkraman Soodam dari rambut Widuri.


"Untuk apa?" tanya Cici.


"Memberi Soodam obat penenang, biar dia melepas rambut Widuri."


Mendengar jawaban Haris, Soodam langsung melepaskan cengkeramannya dari rambut Widuri. Tidak mau sampai Dokter memasukkan obat penenang ke tubuhnya.


"Haris!"


Haris, Soodam dan Cici langsung menoleh ke arah sumber suara itu.


"Tante Liana, Om Bagus" ucap Haris melihat kedua orang tua itu berjalan ke arah mereka.


"Bukankah kata mu tadi, Mama kamu sudah sadar?. Terus kenapa bisa meningal" tanya Ibu Liana dengan air mata yang sudah mulai menganak sungai.


Ibu Ilona adalah istri dari sahabat Pak Bagus, Ayah dari Kanzo sahabatnya. Mereka sudah seperti keluarga dari dulu.


"Aku gak tau, Tante. Tadi kami masih sempat berbicara. Tapi tiba tiba Mama kejang kejang Tante" jawab Haris.


"Kamu yang sabar ya, Nak" Ibu Liana mengusap lembut bahu Haris. Haris pun menganggukkan kepalanya." Mana Soodam?" tanya Ibu Liana memutar tubuhnya ke arah Soodam yang sudah kembali duduk di kursi tunggu. Wanita tua itu pun memeluk Soodam dan mengusap usap lembut punggungnya.


"Yang sabar ya, Nak" ucap Ibu Liana.


"Aku udah gak punya siapa siapa, Tante" tangis Soodam.


"Sssst! jangan bicara seperti itu. Masih ada Tante, Om Bagus, Kanzo, Haris dan istri istri mereka. Kamu tidak sendirian, sayang"ucap Ibu Liana lagi menenangkan.

__ADS_1


"Haris, apa kepulangannya sudah di urus?" tanya Kanzo yang datang bersama Marya.


"Sudah" jawab Haris.


Kanzo menganggukkan kepalanya.


"Widuri kenapa?, kenapa dia berantakan?" tanya Marya menajamkan pandangannya ke arah Haris.


Ibu Liana pun langsung menoleh ke arah Widuri yang berada di dalam pelukan Haris.


"Aku gak apa apa, Mar" jawab Widuri sambil membersihkan sisa sisa air mata di pipinya. Tak ingin memperpanjang masalah saat itu.


Marya pun mengambil Widuri dari pelukan Haris, membawa sahabatnya itu untuk duduk di kursi tunggu yang berada di lorong rumah sakit itu.


"Haris, duduklah, biar aku yang mengurus semuaya" ujar Kanzo, menarik sahabatnya itu supaya duduk juga. Dan Haris langsung menurut.


Tak lama menunggu, jenajah Ibu Ilona pun sudah siap untuk di bawa pulang. Mereka semua segera meninggalkan rumah sakit, menuju rumah Haris.


Malam itu, mereka hampir tidak tidur. Meski mata mengantuk, namun enggan untuk terpejam.


"Nona Marya, istirahatlah ke kamar tamu. Anda sedang hamil, tidak bagus kalau ikut begadang." Cici berbicara begitu ramah dan santun kepada Marya.


"Iya sayang, istirahatlah ke kamar" sambung Kanzo, kemudian membantu Marya untuk berdiri dari tempat duduknya.


"Kamu juga, Wid. Istirahatlah ke kamar kamu" suruh Cici mengulas sedikit senyumnya, meski hatinya begitu membenci Widuri.


"Iya, Wid. Kamu istirahat aja. Nanti kamu bisa sakit kalau gak istirahat" sambung Haris yang duduk di samping Widuri dari tadi.


Widuri pun menganggukkan kepalanya tanpa berniat membantah. Selain sudah mengantuk, kembali ke misi awal. Widuri harus menjadi istri yang penurut demi bisa mengambil seluruh hati Haris untuknya.


"Kamu juga Ci, istirahatlah" suruh Haris."Kamu baru sakit, aku gak mau kamu dan anak ku kenapa kenapa lagi."


"Tapi aku pengen tidur sambil perutnya di elis elus" manja Cici.


Widuri yang baru berdiri dari samping Haris, langsung memutar bola matanya malas. Cici sangat pandai mengambil hati Haris. Wanita itu akan melakukan banyak cara untuk menguasai Haris sendiri.


"Ya udah, ayo biar kutemai sebentar" Haris pun berdiri dari tempat duduknya, membawa Cici ke dalam kamar mereka.


'Sabar ya, Nak' batin Widuri mengusap lembut perutnya yang mulai nampak menonjol.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2