Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Kamu mencuri ku


__ADS_3

Hari ini Haris sudah di ijinkan pulang ke rumah. Di ruang perawatan itu nampak Widuri sedang sibuk mengemas barang barang Haris.


"Wid, kamu kembali tinggal di rumah ya" ucap Haris yang duduk bersandar di atas brankar.


"Aku gak mau" tolak Widuri mentah mentah.


"Itu juga rumah mu, Wid. Kamu juga berhak tinggal di rumah itu" bujuk Haris lagi.


Widuri yang sudah selesai membereskan barang barang Haris, mendekati pria itu." Kenapa gak membeli rumah yang baru untukku, Pak Haris kan banyak uang?."


Widuri harus bisa membuat panas hati Cici. Supaya Cici semakin menampakkan belangnya di depan Haris. Dan juga Widuri tidak mau tinggal di rumah itu karena ada Soodam. Dan rumah itu adalah peninggalan orang tua Haris. Widuri sendiri tidak di anggap menantu di rumah itu. Meski sudah memaafkan Ibu Ilona, tapi rasa sakit itu masih membekas di hati Widuri.


"Aku juga memiliki rumah impian. Dimana di dalamnya aku merasa nyaman bersama anak anak dan suamiku" ucap Widuri lagi tanpa melepas netranya dari wajah Haris.


"Jadi kamu gak mau tinggal di rumah ku?." Haris sedikit kecewa mendengar apa yang dikatakan Widuri barusan.


"Aku gak mau tinggal satu atap dengan Cici. Dan juga di rumah itu ada Soodam. Pak Haris tau sendiri, jika Soodam tidak menyukai aku. Aku ingin hidup dengan tenang dan damai. Tolonglah mengerti aku" jelas Widuri.


"Haris, benarkah kamu sudah boleh pulang hari ini?. Aku sengaja datang untuk mengantarmu pulang ke rumah."


Suara wanita itu berhasil mengalihkan pandangan Haris dan Widuri ke arah Cici yang tiba tiba datang.


"Aku akan pulang ke apartement bersama Widuri, Ci" ucap Haris.


Wajah Cici yang tadinya tersenyum seketika memudar. Cici menatap teduh ke arah Haris, supaya pria itu kasihan melihatnya.


"Kan, lima malam ini aku sudah bersama kamu, Ci."Selama menginap di rumah sakit, Haris memang sudah menghabiskan waktu lima malam bersama Cici. Menurut Haris, lima malam ke depan ia akan menghabiskan malam dengan Widuri.


"Tapi kita hanya tidur aja" ujar Cici.


Widuri langsung memutar bola matanya malas. Jadi salam ini, Cici dan Haris setiap malam melakukan hubungan suami istri?. Pantas aja Haris betah tidak menyentuh Widuri. Ternyata sudah kenyang dikasih jatah terus sama Cici.


"Aku kan lagi sakit, Ci. Apa yang bisa kulakukan. Kamu juga lihat sendiri bagaimana keadaanku" balas Haris tetap mencoba menahan amarahnya pada Cici. Ia sudah berbaik hati pada Cici, mencoba menerima wanita itu apa adanya. Tapi ternyata Cici hanya ingin hartanya saja. Cici hanya pura pura menjadi istri yang baik dan tulus menerima Widuri selama ini.


"Tapi anak kita pengen tidur di dekat kamu."


"Anakku juga pengen tidur di dekat Papa nya" sambar Widuri dengan cepat. Tak ingin Cici bisa menguasai Haris lagi.

__ADS_1


Cici meneteskan air matanya menatap Haris dengan pandangan meneduh, berharap Haris akan membelanya.


"Ci, Widuri juga hamil anak ku. Aku harus adil memperhatikan kalian. Dan selama ini aku kurang membagi waktu bersama mereka" ujar Haris.


Cici yang tak ingin kalah dari Widuri, memegang kepalanya berpura pura pusing. Melihat itu, Widuri langsung beranjak dari dekat Haris dan mendekati Cici yang pura pura pusing.


"Mari aku bantu duduk di sofa" Widuri menyentuh lengan Cici dan menuntun wanita itu berjalan ke arah sofa.


"Aku juga bisa seperti kamu, Cicilia" bisik Widuri ke telinga Cici.


Setelah membantu Cici duduk, Widuri kembali mendekati Haris, membantu pria itu turun dari atas brankar dan membantunya duduk di atas kursi roda. Widuri langsung mendorong Haris keluar dari ruang perawatan itu. Sebelum ke benar benar keluar, Widuri memutar tubuhnya ke arah Cici.


"Kamu pasti lelah bekerja lembur setiap hari. Biar aku saja yang merawat suami kita" ujar Widuri lalu segera melangkah meninggalkan Cici yang mengeram dalam hati.


"Haris!" panggil Cici, namun dengan cepat Widuri membawa laki laki itu menjauh dari ruangan itu.


'Kenapa Haris berubah?' batin Cici.


Cici pun berdiri dari sofa dan langsung meninggalkan ruangan itu.


'Apa yang membuat Haris berubah?. Kenapa sekarang dia terlihat lebih peduli dengan Widuri?. Apa yang sudah dilakukan Widuri padanya?. Ini gak bisa di biarkan, Haris harus lebih memperdulikan ku' batin Cici lagi sembari melangkah dengan cepat mengejar Haris yang di bawa Widuri sudah masuk ke dalam lif.


Widuri yang berada di dalam lif bersama Haris mengulas senyum kemenangan, karena berhasil membawa kabur Haris dari Cici.


"Sayang, kamu mencuri ku" ujar Haris yang duduk di kursi rodanya.


"Aku gak mencuri Pak Haris, tapi menyelamatkannya dari siluman itu" Widuri berbicara cetus.


Haris mengulas senyumnya lalu mengecup perut Widuri yang berdiri di sampingnya.


"Papa tampan ya, Nak. Sampe Mama kamu mencuri Mama dari istri Papa."


Pluk!


Widuri memukul lengan Haris lalu mendengus." Tapi bodoh"


"Biarin aja bodoh, yang penting kamu cinta sama aku."

__ADS_1


Widuri memutar bola matanya malas


Pintu lif itu pun terbuka saat mereka sampai di lantai bawah gedung itu. Widuri langsung mendorong kursi roda Haris keluar.


"Jadi yang lebih bodoh itu kamu. Cinta sama orang bodoh" ucap Haris lagi dengan tersenyum.


"Pak Haris gak usah kepedean" balas Widuri.


Sampai di tempat mobil mereka terparkir, supir yang akan mengantar mereka langsung membuka pintu kursi penumpang belakang untuk mereka. Haris pun berdiri dan langsung masuk ke dalam mobil, di ikuti Widuri duduk di sampingnya. Di dalam mobil, Haris membaringkan tubuhnya meletakkan kepalanya di atas pangkuan Widuri.


"Aku yakin, kamu mencintai ku, Wid" ucap Haris Mengecup bertubi tubi perut Widuri dan memeluk pinggang wanita itu.


Widuri pun mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap rambut pria di pangkuannya itu dengan lembut.


"Tapi Pak Haris tidak begitu mencintai ku dengan segala kekurangan ku."


Mobil itu pun melaju perlahan meninggalkan pekarangan rumah sakit. Cici yang melihat mobil itu melaju, mengeram di dalam hati.


'Gak, aku gak boleh kalah dari Widuri. Haris hanya milik Ku" batin Cici mantap mobil yang semakin menjauh itu dengan mata memicing.


Widuri pun menghubungi nomor Brandon, namun pria itu tidak mengangkat telephonnya, membuat Cici semakin gemas.


"Kemana dia? Kenapa gak mengangkat telephonku?" gumam Cici.


**


Di tempat lain


Kanzo melangkahkan kakinya memutari seorang pria yang berdiri dengan wajah babak belur berdiri di tengah tengah ruangan itu, tak lain pria itu adalah Brandon.


"Berapa Cici membayarmu sampai kamu berani ingin mencuri Widuri?" tanya Kanzo melipat kedua tangannya di depan dada.


Brandon langsung mengarahkan pandangannya ke wajah Kanzo yang sudah berdiri di depannya.


'Dari mana dia tau kalau aku akan menculik Widuri?. Padahal itu baru rencana?, aku belum melakukan apa pun?" batin Brandon dengan dari mengerut.


"Berapa Cici akan membayar mu?" tanya Kanzo lagi dengan santai tanpa melepas netranya dari wajah Brandon.

__ADS_1


*Bersambung


# Marhaban ya Ramadan, selamat berpuasa bagi yang menjalankan.


__ADS_2