
"Haris! kamu dari mana?. Cici menangis dari tadi karena tidak jadi membawanya menginap di rumah orang tuanya" cerca Ibu Ilona langsung saat Haris baru masuk rumah.
"Widuri juga membutuhkan perhatianku, Ma" jawab Haris.
"Untuk apa? belum tentu juga yang di kandungnya itu anak kamu. Bisa saja kan itu anak pria lain. Masa karena melakukan sekali, bisa langsung hamil. Emang bikin anak segampang itu" ujar Ibu Ilona lagi mencoba untuk menghasut Haris.
"Tapi aku yang mengambil kesuciannya, Ma. Dan juga Widuri itu wanita baik baik" sanggah Haris tak ingin terpengaruh dengan ucapan Ibunya.
"Mama tidak akan pernah menganggap anak yang di kandung wanita kampung itu, cucu Mama" ucap Ibu Ilona lagi langsung meninggalkan Haris.
'Aku harus berhasil menyingkirkan wanita kampung itu. Apa kata teman temanku nanti, aku punya menantu orang kampung dan miskin.'
Ibu Ilona membatin sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya.
Haris yang masih berdiri di tempatnya menyugar kasar rambutnya ke belakang, kemudian melangkahkan kakinya menaiki anak tangga rumah itu. Sampai di dalam kamarnya, di lihatnya Cici sudah tertidur pulas. Wajah saja, melihat jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
'Ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan?. Aku pusing memiliki dua istri seperti ini' batin Haris menghela napasnya kasar.
Haris pun masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya itu untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Haris melangkahkan kakinya keluar dan ikut bergabung bersama Cici di atas tempat tidur.
'Aku sudah membiarkan mu tiga malam bersama Widuri, Ris. Malam ini kamu malah mencuri waktu bersamanya lagi, dan kamu pulang tengah malam dari sana' batin Cici yang sebenarnya hanya pura pura tidur.
**
"Ris, kita mau kemana?" tanya Cici melihat Haris melajukan kendaraannya ke arah lain, bukan ke arah perusahaan seperti biasanya. Dan pagi ini mereka berangkat lebih cepat dari biasanya.
"Menjemput Widuri" jawab Haris tanpa melihat ke arah Cici.
Cici pun langsung terdiam, berpikir apakah hubungan Haris dan Widuri sudah membaik lagi?.
'Awas kamu Wid, tunggu saatnya aku akan memberimu hukuman yang tidak bisa kamu bayangkan.'
Cici mengeram di dalam hati.
Sampai di depan rumah Widuri, Haris pun menghentikan laju kendaraannya dan segera turun. Saat Haris melangkahkan kakinya, Widuri keluar dari dalam rumahnya.
__ADS_1
"Sayang!" panggil Haris mendekati Widuri.
Widuri langsung mengarahkan pandangannya ke arah pria yang masih berstatus suaminya itu dengan kening mengerut.
"Ayo kita berangkat bareng" ajak Haris meraih tangan Widuri.
"Aku gak mau" tolak Widuri menarik kasar tangannya dari genggaman Haris, karena melihat Cici ikut di dalam mobil Haris.
Haris menghela napasnya, istri mudanya itu benar benar sangat keras kepala dan pembangkang, sangat sulit di taklukkan.
Haris yang ingin kalah, pun menarik tangan Widuri lagi, memaksa wanita itu untuk ikut bersamanya.
"Lepasin! aku gak mau!" teriak Widuri saat Haris ingin memasukkannya ke dalam mobil.
"Jangan keras kepala kenapa,Wid?" kesal Haris. Istrinya itu bikin malu aja, membuat mereka menjadi pusat perhatian para tetangga.
"Ngapain maksa maksa aku ikut?. Aku gak mau satu mobil dengan istri siluman mu itu" cetus Widuri.
Tanpa ingin mendengarkan ocehan istri bar bar nya itu, Haris langsung menutup pintu yang berada di samping Widuri, dan segera menyusul masuk ke dalam mobil, langsung melakukannya.
"Dari pada situ, gak jelas. gadis merasa perawan, eh taunya udah bolong. Bodohnya lagi suaminya, mau maunya menerima wanita seperti mu. Kalau aku jadi laki, udah ku buang cewek kaya kamu ke samudra Hindia, biar dimakan sama ikan hiu" oceh Widuri tanpa takut sama sekali. Dia tidak perlu menjadi istri pura pura baik kan di depan Haris?.
"Widuri!" tegur Haris tak ingin istri keduanya itu menghina Cici.
Widuri mendengus," kalian memang pasangan yang cocok" ucap Widuri malah.
Haris menghela napasnya kasar, Widuri sangat jauh berbeda karakter dengan Cici. Widuri orangnya sangat kasar dan arogan, sedangkan Cici orangnya sangat lembut.
Sampai di perusahaan, Setelah Haris memarkirkan mobilnya dengan sempurna, Widuri yang duduk di kursi penumpang belakang langsung turun dan menutup kasar pintu mobil itu.
"Besok gak usah jemput jemput, apa lagi Pak Haris membawa siluman. Dan juga kau bisa berangkat sendiri" cetus Widuri lalu melangkahkan kakinya.
Haris yang baru keluar dari dalam mobilnya, menghela napas kasar.
'Wid, aku mencintaimu, please, berubah lah. Bantu aku untuk meluluhkan hati Mama, supaya kita mendapat restunya' batin Haris.
__ADS_1
"Ris, yang sabar ya!."
Haris yang sempat melamun, langsung menoleh ke arah Cici yang mengusap lengannya.
"Aku yakin, suatu saat hati Widuri akan luluh ke kamu. Dia juga mencintai kamu, dia hanya marah aja saat ini. Dan mungkin tertekan karena Mama belum menerimanya menjadi menantu" ucap Cici lagi dengan suara yang begitu lembut.
Haris mengulas senyumnya, lalu mengangguk.
'Benar benar siluman itu cewek' batin Marya yang baru keluar dari dalam mobil suaminya, yang sempat mendengar begitu lembutnya suara Cici merayu Haris.
"Trimakasih ya, kamu memang istri yang baik" puji Haris mengusap lembut kepala Cici dari belakang." Yuk masuk!" ajak Haris menggandeng tangan istrinya itu masuk ke dalam gedung perusahaan.
"Sayang" panggil Marya dengan suara manjanya kepada pria yang berjalan mendekatinya itu.
"Ada apa?" tanya Kanzo, mendengar suara istrinya itu, Kanzo sudah bisa mencium bau bau tak sedap dari istri tercintanya itu.
"Bagaimana? Apa orang yang kamu suruh sudah berhasil menemukan pacar Cici?."
"Belum" jawab Kanzo cepat.
"Jangan jangan kamu bohong. Pak Kanzo gak benar kan nyuruh orang untuk menyelidiki masa lalu Cici" cetus Marya tiba tiba.
"Minta di cium aja itu bibir" gemas Kanzo, lalu mencomot bibir Marya dengan jarinya.
"Terus masa sampai sekarang belum ada informasi apa apa" ucap Marya lagi.
"Sabar sayang, menyelidiki orang itu tidak mudah. Apa lagi orang yang di cari tidak tau nama dan wujudnya seperti apa. Butuh waktu istriku." Kanzo pun mengecup gemas pipi istrinya itu dari samping.
"Aku gak yakin aja kalau Cici diperkosa pacarnya. Bisa aja kan kalau dia itu wanita jajanan pria hidung belang."
"Ayo kita masuk, kita harus segera beres beres untuk memasuki gedung baru. Seminggu lagi, ruang kerja kita akan pindah ke gedung sewaan." Kanzo pun meraih pinggang Marya, mengiringnya berjalan masuk ke dalam gedung perusahaan.
Sekitar lima bulan yang lalu, gedung utama perusahaan keluarga Kanzo terjadi kebakaran, sampai hangus semua. Sehingga mengharuskan mereka pindah tempat kerja ke gedung cabang perusahaan untuk sementara waktu. Dan seminggu lagi mereka akan pindah ke gedung sewaan, supaya karyawan yang di rumahkan bisa bekerja kembali. Dan perusahaan bisa melakukan proses produksi dengan normal, sebelum gedung perusahaan pusat selesai di bangun kembali.
*Bersambung
__ADS_1