
"Haris! malam ini kamu bersamaku kan?." Cici berseru sambil berjalan cepat menyusul langkah Haris dan Widuri yang hampir masuk ke dalam lif.
"Iya, pulanglah duluan. Widuri lagi kurang sehat, aku harus mengantarnya pulang. Dan aku harus lembut lagi malam ini" jawab Haris.
Cici pun mengarahkan pandangannya ke arah Widuri yang terlihat sehat sehat aja. Malah wanita tersenyum mengejeknya.
"Tapi Ris, anak kita sudah kangen banget sama kamu" ucap Cici dengan wajah memohon.
"Ci, mengertilah di posisiku. Pekerjaan ku lagi banyak. Dan aku harus bisa mengurus kalian berdua. Kesehatanku juga belum pulih total, Ci" ujar Haris tak ingin Cici menguasainya lagi.
Pandangan Cici langsung meneduh, matanya pun mulai nampak berkaca kaca karena Haris menolaknya.
"Kamu sudah gak adil sama aku Ris" lirih Cici kemudian berlari masuk duluan ke dalam lif. Setelah menutup pintunya, Cici pun menekan tombol untuk turun.
'Kurang ajar, sepertinya Widuri sudah berhasil menguasai Haris' batin Cici menggemeletukkan giginya. Dadanya naik turun semakin marah pada Widuri.
"Aku gak menyangka banget kalau Cici sejahat dan selicik itu" ucap Widuri setelah mengenal Cici lebih jauh lagi.
Haris menghela napasnya kasar. Benar yang di katakan Widuri. Cici yang mereka kenal baik sebagai gadis ramah dan ceria, ternyata menyimpan kebusukan selama ini.
"Ini semua gara gara Kanzo, jika saja dia tidak mengatakan kalau aku menyukai Cici saat itu kepada Cici. Mungkin aku tidak akan pernah menikahi Cici."
Widuri langsung memutar bola mata malas mendengar apa yang dikatakan Haris barusan.
"Pak Haris aja yang labil, gak bisa menentukan pilihan sendiri" cibir Widuri.
"Itulah kebodohan ku" jujur Haris." Ayo kita pulang." Haris merangkul pinggang Widuri dari belakang membawanya masuk ke dalam lif.
Sampai di parkiran mobil milik Haris, pria itu membuka pintu untuk Widuri dan membantunya untuk masuk dan duduk. Setelah menutup kembali pintunya baru Haris menyusul masuk. Mobil itu pun melaju perlahan meninggalkan perusahaan. Tentu itu tidak lepas dari pandangan Cici yang berada di dalam salah satu mobil yang terparkir di parkiran perusahaan.
'Aku sadar dengan kesalahanku, Ris. Tapi tetap saja aku gak pernah rela di madu. Kalian berdua....'
Cici mengeraskan rahangnya dengan tangan terkepal sembari memperhatikan kenderaan Haris semakin menjauh.
'Akan menanggung resiko dari penghianatan kalian terhadapku' batin Cici.
"Non" panggil pria yang duduk di kursi kemudi mobil itu, melihat majikannya diam dari tadi setelah memintanya untuk tidak langsung menjalankan mobilnya.
__ADS_1
"Jalan" perintah Cici yang tersadar dari lamunannya.
"Baik Non" patuh sang supir dan langsung melajukannya.
**
Haris dan Widuri yang sudah sampai di apartement, langsung masuk ke dalam kamar mereka. Haris langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.
"Katanya Pak Haris tadi mau lembur lagi" ucap Widuri melihat Haris memejamkan mata.
Haris membuka matanya dan mendudukkan tubuhnya. Haris tersenyum ke arah Widuri lalu menarik lengan wanita itu supaya ikut naik ke atas kasur.
"Kapan aku bilang?."
Widuri memutar bola mata malas melihat Haris pura pura pikun. Perjalanan dari perusahaan ke apartement hanya memakan waktu kurang lebih lima belas menit. Tapi pria itu sudah lupa dengan ucapannya sendiri.
Haris semakin mengembangkan senyumnya saat tubuh wanita itu berhasil di dekapnya dengan erat.
"Lemburnya menemani kamu dan anak kita aja" Haris menjawab pertanyaannya sendiri.
Tanpa sadar Widuri tersenyum, senang mendengar Haris akan menghabiskan waktu bersamanya. Katakan lah dia egois karena sudah menguasai Haris. Itu Widuri lakukan karena sebelumnya terus terusan mendapat tindasan dari Cici, Ibu dan Adik Haris sendiri. Widuri ingin menang dalam memperebutkan hati seorang Haris.
"Pak Haris, kamu masih di sini." Widuri yang tidur di samping Haris bergumam saat wanita itu terbangun.
Haris yang duduk di samping Widuri mengulurkan tangan untuk mengusap usap kepala wanita itu supaya tidur kembali. Namun bukannya wanita itu tidur, tapi malah membuka matanya menatap ke arah Haris.
"Tidur lah" ucap Haris.
"Bukankah malam ini Pak Haris harus bersama Cici?" tanya Widuri sekali lagi.
Haris menghela napasnya, seharusnya malam ini ia bersama Cici, tapi rasanya malas sekali jika Haris harus tidur bersama wanita siluman itu.
"Aku malas" jawab Haris lantas menutup laptop di pangkuannya dan meletakkannya di atas meja di samping kasur. Pria itu pun membaringkan tubuhnya dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
**
Pagi hari Cici baru terbangun dari tidur lelapnya, pandangannya langsung tertuju pada jam dinding yang menempel di dinding kamar itu, ternyata sudah menunjukkan jam delapan pagi. Cici langsung membolakan matanya kemudian menoleh ke arah kasur di sebelahnya. Kasur itu terlihat rapi, tidak ada jejak Haris di sana.
__ADS_1
'Haris tidak pulang tadi malam, itu artinya dia menghabiskan waktu bersama widuri' batin Cici dengan rahang yang mengeras.
Cici pun segera turun dari atas kasur, masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sampai di perusahaan, Cici langsung melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah ruangan Haris. Dia akan menuntut keadilan pada Haris yang tidak pulang tadi malam ke rumah.
"Haris!" panggil Cici saat tangannya berhasil membuka pintu ruangan kerja pria itu.
Haris yang sibuk dengan pekerjaan di depannya langsung menoleh ke arah Cici yang melangkah ke arahnya. Haris memandang wanita itu dengan begitu santai tanpa merasa bersalah sedikit pun karena tidak pulang ke rumah tadi malam.
"Kamu mulai tidak adil, Ris" ucap Cici mulai meneduhkan pandangannya.
"Aku ketiduran di sini tadi malam" ucap Haris berbohong.
"Aku gak percaya, lihat, kamu dapat baju ganti dari mana?. Tadi malam pasti kamu menghabiskan waktu bersama Widuri, iya kan?" cerca Cici mulai terbawa emosi.
"Widuri juga istriku" balas Haris singkat.
"Aku tau, tapi...."
"Kemarilah."
Cici langsung terdiam saat Haris menepuk pangkuannya, menyuruhnya untuk duduk di pangkuan pria itu. Cici pun langsung tersenyum, dengan senang hati mendudukkan tubuhnya di pangkuan Haris.
"Emosi tidak baik untuk kesehatan bayi kita." Haris mengusap lembut perut Cici yang sudah menonjol itu.
"Aku kangen sama kamu, Ris." Tangan Cici mulai bergerak untuk menyentuh rahang Haris yang di tumbuhi bulu bulu halus itu.
Refleks Haris memejamkan matanya mulai terbuai dengan sentuhan wanita itu. Namun itu hanya sebentar, Haris langsung tersadar saat mendengar handphon nya berbunyi dari atas meja.
"Sebentar" ucap Haris mengambil ponsel itu dan langsung menerima panggilan telephonnya.
"Dimana Cici, kenapa dia tidak bisa di hubungi?. Suruh dia ke ruangan saya, kami harus pergi menemui klien di luar kan. Istri mu itu semakin hari tidak beres bekerja. Apa dia mau di pecat?" Cerca seorang pria langsung dari dalam telephon.
"Dia ada bersamaku, ada apa denganmu?. Baru pagi kamu sudah marah marah. Sebentar lagi di akan datang ke ruangan mu" cetus Haris. Padahal Haris tau kalau Kanzo menghubunginya untuk melindunginya dari godaan syaiton Cici yang terkutuk.
"Suruh dia datang kesini sekarang juga" perintah Kanzo dengan tegas.
__ADS_1
Cici yang mendengarnya langsung turun dari pangkuan Haris dan bergegas keluar dari ruangan itu. Cici gak mau sampai di pecat, meski menjadi istri dari seorang Haris, tapi Cici harus tetap bekerja.
*Bersambung