
"Selamat bergabung kembali, semoga kita semua ke depannya berhasil membangun perusahaan ini lebih baik dan lebih maju dan berkembang" ucap Kanzo tanpa menyurutkan senyumnya." Saya yakin, dengan kerja keras kita semua, kita pasti bisa mengembalikan kondisi perusahaan ini seperti semua. Karena itu, saya meminta kerja keras dan dukungan dari kalian semua. Supaya perusahaan ini tetap berdiri kokoh demi bisa untuk menghidupi keluarga dan anak anak kita di masa yang akan datang." Kanzo menjeda kalimatnya sambil menatap wajah wajah para karyawannya yang berdiri di depannya. Orang orang yang bergantung hidup di pundaknya selama ini." Tidak banyak yang bisa saya sampaikan. Mungkin Pak Haris bisa menambahnya, dan sekian dari saya, trimakasih" ucap Kanzo mengakhiri kalimatnya.
"Trimakasih" ucap Haris." Ehem! selamat pagi semua" sapa Haris dengan ramah.
"Selamat pagi juga, Pak!" balas semua Karyawan.
"Selain dari doa kalian semua. Kami yakin perusahaan ini bisa bertahan juga dari doa dan harapan dari istri istri kami, dan bayi bayi kami yang masih bersemayam di perut istri istri kami" ucap Haris melanjutkan kata sambutan Kanzo sebagai orang no satu di perusahaan itu.
Haris pun mengelus perut Widuri dengan lembut di depan para seluruh karyawan perusahaan itu, kemudian mengelus perut Cici.
"Mereka adalah calon calon penerus perusahaan ini. Karena kedua calon bayiku ini, membuat saya semakin bersungguh sungguh, berusaha keras untuk tetap membiarkan perusahaan ini tetap bisa bertahan. Kedua calon anakku ini adalah penyemangat terbesarku." tambah Haris lagi. Wajahnya berbinar terlihat sangat bahagia, mengingat sebentar lagi ia akan di karuniai dua anak sekaligus.
"Seperti kata Pak Kanzo tadi, perusahaan ini adalah masa depan anak anak kita. Tempat kita mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kita. Untuk itu, mari kita semua bekerja keras untuk perusahaan ini, supaya perusahaan ini bisa lebih maju dan berkembang lagi." Haris menjeda kalimatnya sebentar." Saya rasa sekian dari saya. Dan sebelum itu, saya dan kita semua sudah seharusnya mengucapkan terima kasih kepada ketiga wanita hebat kami ini. Yang sudah membuat kami tetap bersemangat meski yang kami hadapi ini suatu hal yang berat. Tapi hanya melihat wajah mereka, berhasil membuat beban berat ini terasa ringan."
"Trimakasih untuk kedua istriku" ucap Haris mengakhiri pidatonya pagi ini. Haris pun mengecup pelipis Widuri dan Cici secara bergantian.
Prok prok prok!
Seluruh Karyawan bertepuk tangan dengan semangat. Sebagai bentuk dukungan mereka kepada para petinggi perusahaan itu. Yang telah berusaha keras untuk tetap berdiri kokoh demi kelangsungan hidup semua karyawan yang bergantung hidup pada mereka.
"Demikian sudah kata sambutan yang sudah di berikan Pak Kanzo dan Pak Haris. Sebelum kita memulai aktifitas baru di gedung ini, alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu. Dan untuk memimpin Doa, saya serahkan kepada Bu Marya, di persilahkan dengan segala hormat" ucap Cici berbicara sambil mengarahkan pandangannya sebentar ke arah Marya yang berdiri di samping Kanzo.
"Trimakasih" balas Marya tersenyum." Mati kita berdoa menurut keyakinan kita masing masing, doa di mulai" ucap Marya menundukkan sedikit kepalanya, di ikuti semua orang yang ada di ruangan itu, baik Kanzo, Haris, Widuri dan Cici. Semua berdoa menurut keyakinan masing masing.
"Doa selesai" ucap Marya lagi setelah memberi waktu beberapa menit untuk berdoa.
"Sekian dan terimakasih, dan silahkan bubar" ucap Cici setelah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan.
Seluruh karyawan pun membubarkan diri, dan pergi ke tempat kerja masing masing di dalam gedung itu. Termasuk Widuri, ia melangkahkan kakinya dari samping Harus tanpa menegur dan meminta ijin dari pria itu.
__ADS_1
"Sayang!"
Langkah Widuri langsung terhenti saat Haris menarik lengannya.
"Aku harus segera kembali ke meja kerjaku" ucap Widuri terdengar malas.
Istri mana yang tidak malas melihat suami yang tidak pernah mengunjunginya selama seminggu, dan bahkan berkirim kabar pun tidak sama sekali.
"Nanti saja, ayo ikut ke ruanganku" ajak Haris menarik paksa wanita itu untuk ikut dengannya.
"Aku gak mau" cetus Widuri.
"Ayo kita pergi duluan sayang" ajak Kanzo merangkul pinggang Marya, membawa wanita itu ke arah lif yang berada di gedung itu.
"Bagaimana? apa sudah ada hasil?" tanya Marya pada suaminya itu.
"Hasil apa?" Kanzo mengerutkan keningnya.
"Sakit, sayang" keluh Kanzo mengelus elusnya pinggangnya yang sakitnya hanya sedikit.
"Aku rasa suamiku ini dengan Pak Haris sedang melakukan persekongkolan" dengus Marya. Sudah lebih dari seminggu Marya meminta suaminya untuk menyelidiki siapa orang yang merenggut kesucian Cici, namun sampai saat ini belum ada hasil. Padahal mereka sudah lama mengenal Cici.
"Jangan terlalu ikut campur dengan masalah rumah tangga orang. Biarkan mereka yang menyelesaikan masalah mereka sendiri. Lebih baik istriku ini, fokus dengan bayi kita ini." Kanzo mengusap usap lembut perut buncit Marya.
"Au ah!" Marya kesal, ia pun melangkahkan kakinya duluan keluar dari dalam lif.
Kanzo langsung menyusulnya, dan kembali merangkul pinggang istrinya itu dari belakang.
Cup!
__ADS_1
Satu kecupan pun mendarat di pipi cabi Marya." Aku sudah menemukan orangnya" ucap Kanzo.
Marya langsung menoleh ke arah wajah suaminya itu,"Siapa?."
Kanzo pun membisikkannya ke telinga Marya, sambil membuka pintu ruang kerja mereka.
"Yang benar?" Marya tidak percaya dengan nama yang di bisikkan Kanzo ke telinganya.
"Hm! pria itu juga mengakuinya." Kanzo mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya, kemudian menarik pinggang Marya, supaya wanita bertubuh besar itu duduk di pangkuannya. Sebelum bekerja, Kanzo akan mengelus elus perut istrinya itu terlebih dahulu sebagia penyemangat kerja.
Di ruang sebelah ruang kerja Haris. Tepatnya di ruang kerja Haris. Setelah berhasil membawa Widuri ke ruangannya, Haris langsung memeluk wanita itu dari belakang.
"Wid, maafin Mama ya" lirih Haris, menjatuhkan dagunya di atas bahu Widuri.
Widuri yang berada di dalam pelukan Haris, pun terdiam.
"Mama mengalami pecah pembuluh darah, Mama sempat mengalami kritis setelah di operasi. Dan kemungkinan besar Mama tidak bisa selamat lagi, Wid" ucap Haris lagi dengan suara tercekat. Berhasil membuat Widuri semakin terdiam.
Bukankah dia yang membuat Ibu mertuanya celaka, tapi kenapa Haris tidak memarahinya, atau menuntutnya, pikir Widuri.
'Pantas aja Pak Haris tidak pernah mengunjungimu, atau mengirim kabar. Ternyata Ibu mertua mengalami kritis karena aku' batin Widuri.
"Kamu melukai Mama, demi melindungi anak kita. Aku sudah melihat rekaman cctv rumah itu. Mama yang salah, bukan kamu, Wid. Mama sudah keterlaluan sama kamu dan anak kita, Wid hiks...." tangis Haris tiba tiba.
"Aku juga gak menyangka, Mama sekejam itu sama kamu dan bayi kita, Wid. Aku minta maaf atas nama Mama Wid" tangis Haris lagi.
Mendengar Haris menangis, Widuri pun memutar tubuhnya ke arah pria itu, kemudian mengangkat kedua tangannya untuk menepis cairan bening yang mengalir di pipi Haris.
"Ssst! jangan menangis lagi ya. Aku sudah memaafin Mama meski Mama tidak meminta maaf. Dan aku juga minta maaf, karena sudah membuat Mama celaka. Aku minta maaf!" kini Widuri yang menangis, terbesit rasa bersalah karena sudah membuat Ibu Haris berada di ujung nyawa." Bawa aku bertemu Mama, aku ingin melihat Mama, dan meminta maaf langsung padanya" ucap Widuri lagi sambil menangis terisak isak.
__ADS_1
*Bersambung