Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
Dipermainkan


__ADS_3

Turun dari dalam taxi on line yang mengantarnya. Cici langsung melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah pintu rumah sederhana itu.


"Brandon!!" teriak Cici sambil menggedor gedor pintu rumah itu.


"Brandon! keluar kau!."


"Brandon! cepat keluar atau akan ku hancur kan rumah ini!."


Cici terus memukul mukul pintu di depannya sambil berteriak, namun pintu rumah itu tak kunjung juga terbuka.


"Brandon!" teriak Cici lagi kemudian menendang pintu itu dengan sepatunya.


"Permisi Nona"


Refleks Cici menoleh ke arah pria paru baya yang berdiri di sampingnya.


"Rumah ini sudah di kosongkan, di sini sudah tidak ada orang" ucap pria yang di duga pemilik rumah kontrakan itu.


"Kemana mereka pergi?" tanya Cici.


"Saya tidak tau Nona" jawab pria itu.


'Sialan, Brandon sudah menipuku' batin Cici.


Baru semalam ia mentransfer uang dengan jumlah yang banyak kepada Brandon sebagai bayaran untuk mencuri Widuri. Tapi belum juga Brandon menculik Widuri, pria itu sudah menghilang dan tidak bisa dihubungi.


"Kalau begitu saya permisi Nona" pamit pria itu.


Cici mengangguk sembari tersenyum tipis. Sepeninggal pria itu, Cici pun melangkahkan kakinya dari depan pintu rumah itu sembari membatin.


'Aku harus mencari kemana Brandon pergi. Awas aja kamu Brandon, kamu sudah menipuku.'


Sampai di rumah, Cici langsung masuk ke dalam kamarnya mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur.


'Aku tidak boleh kalah dari Widuri. Aku harus berhasil menyingkirkannya dengan cara apa pun' batin Cici.


**


Turun dari dalam mobil yang mengantarnya, Cici langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung perusahaan. Cici langsung masuk ke ruangan Haris, untuk menunggu Haris di sana. Cici akan menghabiskan waktu bersama Haris pagi ini, ia sudah sangat merindukan belaian pria itu.


Dan tak lama menunggu, Haris pun masuk ke dalam ruangan itu.


"Haris" Cici langsung berdiri dari tempat duduknya dan tersenyum kepada Haris yang baru masuk.

__ADS_1


Setelah istirahat dua Minggu, Hari ini adalah hari pertama Haris kembali bekerja. Dan mulai hari ini adalah giliran Cici bersama Haris.


"Aku membawakan sarapan untuk mu" ucap Cici menyambut kedatangan Haris dengan ciuman penuh kerinduan.


Setelah melepas tautan bibir mereka, Cici pun membawa Haris untuk duduk di sofa ruangan itu.


"Apa kabar dengan bayi kita?" tanya Haris sambil mengelus perut Cici dengan lembut.


"Sangat baik" Cici merekahkan senyum kemudian membuka kotak makanan yang berisi bubur nasi yang di bawanya dari rumah.


"Aku udah sarapan, Ci" ucap Haris berdiri dari sofa dan melangkahkan kakinya ke arah meja kerjanya, Cici langsung mengikutinya dan duduk di pangkuan Haris untuk menggoda pria itu namun Haris langsung menurunkannya dari pangkuannya.


"Pekerjaanku sangat banyak, Ci. Kembali lah ke meja kerja mu."


"Tapi aku merindukan mu" Cici kembali mendudukkan tubuhnya di pangkuan Haris, namun Cici Haris segera berdiri mendengar handphonnya berdering dari atas meja sofa. Cici melangkahkan kakinya ke arah sofa untuk menerima panggilan telephon itu.


"Ya Pak, saya akan segera kesana" begitulah Cici menjawab panggilan telephon itu.Cici menghela napasnya dengan kasar setelah mematikan sambungan telephon itu. Niatnya ingin bermesraan dengan Haris pagi ini, namun harus gagal karena pemilik perusahaan itu memanggilnya.


"Nanti malam kan aku pulang ke rumah" ujar Haris tanpa melihat wajah Cici karena sudah mulai sibuk dengan pekerjaan di depannya.


"Ya udah, aku pergi dulu." Cici mendekati Haris kembali. Setelah mengecup bibir pria itu, Cici langsung melangkah pergi.


'Kamu bisa bermain main, aku juga bisa Ci.'


Haris membatin sembari memperhatikan punggung Cici yang menghilang di balik pintu.


**


"Wid, cari makanan yuk!"


Widuri yang duduk di kursi kerjanya, langsung menoleh ke arah wanita berperut buncit yang mendekatinya. Widuri mengulas senyum kemudian mengelus perut besar wanita itu.


"Apa kabar Adik bayi?" sapa Widuri kepada bayi yang belum lahir di perut sahabatnya itu.


"Baik Tante, bagaimana dengan Adik bayi di perut Tante?" tanya balik Marya dengan mendirikan suara anak kecil.


"Baik juga Tante Marya" balas Widuri mengusap perutnya sendiri setelah berdiri dari kursinya.


Marya pun mengelus perut Widuri yang sudah nampak mulai menonjol."Gak nyangka kalau kita akan sama sama hamil, anak kita nanti akan seumuran" ucapnya.


"Nanti mereka akan menjadi Kakak beradik" balas Widuri.


"Semoga aja bayi mu perempuan, biar bisa kita jodohin" ujar Marya.

__ADS_1


"Amin" balas Widuri.


Kedua wanita hamil itu pun meninggalkan gedung perusahaan itu. Meski belum waktunya istirahat makan siang, tapi sebagai sesama istri bos, mereka bisa bebas meninggalkan pekerjaan mereka.


Kurang lebih satu jam, baru kedua wanita itu kembali dengan menenteng plastik berisi kotak makanan di tangan mereka dan langsung membawanya ke ruang kerja suami mereka masing masing.


"Cici gak ada di mejanya, apa dia di ruangannya Pak Haris?" tanya Widuri saat mereka ke luar dari dalam lif yang mengantar mereka ke lantai teratas gedung itu.


"Gak tau, ayo keruangan Pak Kanzo dulu, nanti biar Pak Kanzo meminta Pak Haris datang ke ruangannya" jawab Marya, menarik tangan Widuri untuk masuk ke ruangannya dan Kanzo.


Sampai di depan ruangan Kanzo, setelah mengetuk pintunya, Marya langsung mendorong pintu ruangan itu sampai terbuka.


"Sayang, dimana Cici?" tanya Marya sembari melangkah masuk di ikuti Widuri dari belakang.


"Di ruangan Haris" jawab Kanzo.


"Ngapain mereka di situ?." Emosi Marya langsung naik begitu saja mendengar Haris berada di ruangan yang sama dengan Cici.


"Sayang, sini" Kanzo melambaikan tangannya ke arah Marya supaya wanita bunting miliknya itu mendekatinya.


Marya langsung menurut dan mendudukkan tubuhnya di pangkuan Kanzo. Kanzo langsung mengelus elus lembut perut Marya.


"Jangan terlalu membenci Haris dan Cici, sayang. Aku gak mau nanti sampai anak ku mirip dengan Haris" ujar Kanzo.


"Lagian, kenapa gak langsung membongkar kebusukan si Cici siluman itu. Kenapa meski harus di ladeni sih?" kesal Marya.


"Biar dia tau bagaimana rasanya di buat jadi mainan" jawab Kanzo.


'Dasar buaya darat' maki Marya dalam hati.


Kanzo pun mengambil handphonnya yang terletak di atas meja, kemudian mendial tombol panggilan ke nomor Haris.


"Ci, minggir dulu, Pak Kanzo nelephon." Haris menyingkirkan Cici dari atas pangkuannya dan segera mengangkat panggilan telephon dari Kanzo.


"Haris, keruangan saya sekarang." Begitulah perintah Kanzo untuk menyelamatkan sahabatnya itu dari jerat cinta siluman Cici.


Sambungan telephon itu pun langsung terputus, sebelum Haris sempat membalasnya.


"Ci, Pak Haris memintaku ke ruangannya. Aku pergi dulu, nanti di rumah bisa kita lanjut." Haris berdiri dari kursinya kemudian mengancing kancing baju kemeja Cici yang sempat di buka wanita itu tadi untuk menggodanya.


"Tapi Haris, aku sudah sangat merindukan mu" Cici menatap Haris penuh kerinduan. Semenjak Haris sakit dan harus menjalani operasi, mereka belum pernah bercinta.


"Nanti di rumah ya" bujuk Haris dengan suara lembut. Setelah mengusap kepala Cici, Haris langsung meninggalkan Cici di ruangan itu.

__ADS_1


'Aaakh! kenapa aku merasa seperti dipermainkan?' batin Cici menatap punggung Haris yang menghilang di balik pintu.


*Bersambung


__ADS_2