
'Aku harus memastikan siapa yang menculik Widuri. Apakah itu benar Pak Hilman atau hanya orang yang kebetulan mirip saja' batin Haris.
Meski tubuhnya tidak bisa berbuat apa apa, tapi otaknya terus bekerja. Haris tidak bisa hanya tinggal diam selagi istrinya belum ditemukan.
'Ponsel Widuri' batin Haris lagi.
Jika benar yang menculik Widuri adalah Pak Hilma. Pasti Pak Hilman menyimpan hape Widuri. Atau memberikan ponsel itu pada Widuri. Tapi, kalau ponsel itu sudah kembali ke tangan Widuri, pasti Widuri sudah menghubunginya.
'Lalu ponselku mana?.'
"Pak Maiman?" panggil Haris. Mungkin ponselnya ada pada Pak Maiman, pikir Haris.
Pak Maiman yang di panggil langsung masuk ke ruang perawatan Haris.
"Ada apa Pak Haris?" tanya Pak Maiman sedikit membungkuk.
"Ponsel ku mana?" tanya Haris.
"Oo sebentar, semalam aku meletakkannya di laci meja nakas." Pria paru baya itu melangkahkan kakinya ke arah meja nakas di samping brankas, lalu mengambil handphon Haris dari dalam lacin dan memberikannya pada Haris.
"Kenapa lama sekali istriku di temukan?" tanya Haris sambil menghidupkan layar ponselnya. Kening Haris langsung mengerut saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari no tak di kenal. Dan ada juga beberapa pesan. Haris langsung membaca pesan itu.
Pak Haris, aku Widuri. Tolong angkat telephonnya. Tolong aku, aku berada di depan sebuah warung yang berada di dekat perkebunan. Ini aku meminjam handphon pemilik warung.
"Widuri" gumam Haris terharu, setelah membaca pesan itu.
"Pak Maiman, tolong jemput istriku. Dia berada di warung sini." Haris heboh dan menunjukkan foto warung dimana saat ini Widuri berada.
Pak Hilman pun melihatnya, segera menghubungi anak buahnya, menyuruhnya ke tempat dimana Widuri berada saat ini.
"Kirim foto ini ke orang orang kita" perintah Haris.
"Siap, Bos. Segara dilaksanakan" ucap Pak Maiman seperti seorang angkatan yang sedang melapor pada atasannya.
"Wid, ya Tuhan" lirih Haris terharu sampai meneteskan air matanya. Haris sudah sempat putus asa karena belum menemukan Widuri.
__ADS_1
"Tenang Bos, orang orang kita sudah menuju lokasi. Kata mereka tempat itu tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini" ucap Pak Maiman.
Haris pun mencoba menghubungi nomor tak di kenal yang di pakai Widuri untuk menghubunginya. Namun tidak tersambung lagi, berhasil membuat Haris kembali khawatir.
"Pak Maiman, hubungi mereka. Sudah sampai dimana mereka. Setelah mereka sampai lakukan vidio call" perintah Haris.
Baru juga lima menit yang lalu orang suruhan mereka berangkat ke tempat tujuan, bagaimana caranya sudah sampai.
"Baik, Bos" Pak Maiman memutar bola mats malas, lantas menghubungi anggotanya yang sedang dalam perjalanan.
"Kami sedang di perjalanan,Bos!" jawab seorang pria dari balik telephon. Pak Maiman sengaja mengaktifkan loudspeaker ponselnya supaya Haris bisa langsung mendengar.
"Yang cepat" perintah Haris tak sabaran.
Di depan rumah sakit, sebuah mobil bak terbuka berhenti tepat di depan rumah UGD rumah sakit itu. Seorang pria yang menyetir langsung turun di ikuti seorang Ibu dari pintu sebelahnya.
"Suster, tolong ini ada orang sakit" Seorang Ibu itu berlari ke arah ruang UGD untuk memanggil suster meminta tolong untuk mengangkat seorang wanita dari bak mobil mereka.
Dua orang perawat perempuan langsung datang mendorong brankar, dan dua perawat laki laki naik ke atas mobil bak untuk menurunkan wanita hamil yang keadaanya lemah.
"Pak, Bu, silahkan di urus administrasinya ya. Supaya pasien segera bisa ditangani" ucap perawat itu kepada pasangan suami istri yang mengantar wanita hamil ke rumah sakit itu.
"Maaf suster, tapi kami bukan keluarganya. Dia datang ke warung kami, keadaannya sangat lemah. Kami hanya menolongnya untuk mengantarnya ke sini" ujar si Ibu pemilik warung tempat wanita hamil itu singgah.
"Pak Haris" gumam wanita di atas brankar itu lirih. Perawat yang berdiri di samping brankar langsung menoleh ke arah pasien.
"Dia sudah sadar" ucap Perawat itu.
"Tunggu sebentar, tadi dia sempat memakai ponselku untuk menghubungi suaminya, katanya. Aduh mana ponselku kok gak ada?." Si Ibu berusia paru baya itu meraba raba saku celana yang di pakaiannya. Namun tidak menemukan ponselnya." Ya Tuhan sepertinya tinggal. Bagaimana ini? kasihan wanita itu, dia sedang hamil. Apa tidak bisa ditangani dulu suster? setelah dia sehat, pihak rumah sakit bisa meminta dia yang mengurus administrasinya."
"Gak bisa Bu, harus ada yang menjamin. Ini sudah menjadi peraturan rumah saki. Kalau terjadi sesuatu pada pasien, siapa yang bertanggung jawab?" jelas perawat itu.
"Oh begitu ya?" si Ibu menggaruk leher belakangnya, berpikir.
"Suster" panggil wanita hamil itu pelan, mencoba membuka matanya yang terasa berat. Suster yang bertugas di ruangan itu langsung menoleh."Apa di Rumah Sakit ini ada pasien bernama Haris?."
__ADS_1
"Kami gak gak tau, Bu. Daftar pasien yang berobat ke sini ada di bagian pendaftaran" jawab perawat itu.
"Dia suamiku Sus. Dia luka di bagian pinggangnya. Mana tau ada orang yang membawanya kesini." Rumah sakit di daerah itu hanya satu, jika ada yang menolong Haris pasti membawanya ke rumah sakit itu.
"Sebentar ya Bu" Perawat itu pun melangkahkan kakinya keluar dari ruang UGD, untuk mencari informasi tentang pasien bernama Haris.
Sedangkan Widuri memejamkan matanya kembali. Berpikir jika Haris tidak ada di rumah sakit itu, itu artinya tidak ada orang yang datang menolong suaminya. Lalu dimana Haris? apakah dia?.
Widuri meneteskan air matanya, saat hal hal buruk menghinggapi pikirannya.
'Ini semua gara gara Ayah' batin Widuri, mengeram.
Di salah satu ruang perawatan rumah sakit itu. Dari tadi Haris terus mencoba menghubungi nomor yang tak di kenal yang di pakai Widuri. Namun nomor ponsel itu tidak bisa di hubungi dari tadi.
"Pak Maiman, bilang sama anggotamu tunggu sampai pemilik warung itu datang. Ya Tuhan, kemana istriku pergi?. Kenapa tidak menunggunya di sana." Haris mengoceh tidak jelas.
Baru orang suruhan mereka memberi informasi, kalau warung yang mereka tuju tertutup tidak ada orang di sana sama sekali. Berhasil membuat Haris tidak bisa tenang.
"Baik, Bos" patuh Pak Maiman segera menghubungi anggotanya.
"Widuri! Aaaahahaha" Haris berteriak lalu menangis pilu. Padahal tadi Haris sudah sempat merasa lega setelah mendapatkan kabar dari Widuri. Tapi sekarang keberadaan Widuri menghilang lagi. Haris khawatir, ada yang menculik Widuri lagi dan membawanya pergi.
Haris tidak bisa tinggal diam, ia pun mencoba mendudukkan tubuhnya. Haris harus mencari Widuri, bagaimana pun caranya.
"Bos, kamu masih sakit. Tenanglah, istri Bos pasti bisa di temukan." Pak Maiman menahan tubuh Haris supaya tetap berbaring. Kalau tidak, jika terjadi apa apa pada Haris, menantu durhakanya akan menyalahkannya. Mengatakan pekerjaannya tidak becus.
"Aku harus mencari istriku, Pak Maiman" Haris menghapus air matanya setelah berhasil mendudukkan tubuhnya.
"Tapi Bos, Anda masih sakit. Emang kalau musuh datang Bos bisa melawan? Bahaya Bos" ujar Pak Maiman mengingatkan.
"Tapi kalian tidak becus mencari istriku. Gerakan kalian sangat lambat" cetus Haris, menurunkan kakinya ke lantai, mencoba melangkah dengan perlahan.
Pak Maiman yang takut Haris terjatuh langsung memapah tubuh pria itu.
"Kalau begitu mari kita cari."
__ADS_1
*Bersambung