Pria Yang Merenggut Kesucian Ku

Pria Yang Merenggut Kesucian Ku
kabar gembira


__ADS_3

Haris meletakkan tubuh Widuri dengan sangat hati hati ke atas tempat tidur, lalu mengambil Noah dari atas tubuh wanita itu memindahkannya ke atas kasur.


"Kamu mau ngapain?." Widuri panik sendiri dan menahan bajunya saat Haris akan menariknya ke atas.


Haris berdecak, melihat tingkah Widuri seolah olah masih gadis perawan, padahal mereka sudah sering saling menikmati manisnya madu cinta.


"Tentu untuk memastikan anakku baik baik saja" jawab Haris sembari menyingkirkan tangan Widuri dari atas perut wanita itu.


"Ada Noah" ucap Widuri melihat Noah duduk di sampingnya. Jangan sampai suaminya itu memakannya di samping Noah, bisa bisa mata anaknya itu ternodai.


Tak!


"Awu!" keluh Widuri langsung mengusap usap keningnya yang di sentil Haris.


"Kemana pikiran mu? Hm!" gemas Haris tersenyum." Aku hanya ingin menyapa anakku di dalam sini." Haris membungkukkan tubuhnya ke perut Widuri lalu mengecup perut wanita yang sedang mengandung anak kedua mereka itu dan mengelus elusnya lembut.


"Sudah tiga hari aku gak melihat anak anakku. Kau menjauhkan mereka dariku" ujar Haris.


"Aku pikir kalau mereka tau, Papa mereka ganjen sama wanita lain. Mereka sendiri yang akan menjauhimu" ketus Widuri, masih kesal mengingat Haris mengelus ngelus bokong Bella.


Melihat wajah Widuri masih kesal, Haris kembali meluruskan tubuhnya dan menjatuhkan satu kecupan di kening istrinya itu.


"Aku minta maaf ya. Janji, aku gak ngulangi lagi" ucap Haris dengan suara membujuk sembari tangannya mengelus pipi Widuri dengan jempol tangannya.


Malah wajah istrinya itu berubah sedih, menatap Haris dengan mata berkaca kaca.


"Ada apa? Hm!" tanya Haris, tangannya berpindah mengusap usap kepala Widuri.


"Kamu gak pernah memikirkan perasaanku dari dulu" lirih Widuri." Kamu melakukan apa yang ingin kamu lakukan, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Kamu egois."


"Aku minta maaf untuk yang kemarin. Aku mengaku salah." Haris menarik tubuh Widuri ke dalam pelukannya dengan lembut. Tangis Widuri langsung pecah. Jujur saat itu Haris tidak bermaksud menyakiti hati Widuri. Haris hanya ingin berusaha menjebak Bella.


"Apa Pak Haris pikir aku gak cemburu?. Pak Haris pegang pegang wanita lain, di cium cium wanita lain!. Dulu juga, Pak Haris menyentuh Cici meski gak cinta!. Apa di pikiran Pak Haris itu hanya nafsu aja!" oceh Widuri dalam tangisnya.


"Papa sama Momy belantem?" celetuk Noah melihat Momy nya menangis di perlukan sang Papa.


Refleks Widuri menghentikan tangisnya dan melepas tubuhnya dari pelukan Haris. Dengan cepat meraih tubuh Noah dari atas kasur.


"Ayo Nak kita pergi" ucap Widuri.

__ADS_1


"Kalian mau kemana?" Haris menarik tangan Widuri. Tentu Haris tidak membiarkan istri dan anaknya itu menjauhinya lagi.


"Suka suka kami" cetus Widuri mencoba menarik lengannya, namun tidak berhasil lepas dari genggaman pria itu.


Haris berdiri dari tempat duduknya, lalu memeluk wanita itu dari belakang. Ia harus bisa meluluhkan kemarahan istrinya itu bagaimana pun caranya. Kalau tidak, burungnya tidak akan bisa masuk sangkar lagi nanti.


"Tiga hari ini aku sangat merindukanmu, lebih tepatnya khawatir sama kamu dan anak anak kita. Kamu berhasil membuatku di hantui rasa trauma dengan apa yang pernah kita alami. Kamu membuatku ketakutan setengah mati, Wid." Haris mengeratkan pelukannya ke tubuh istrinya itu dan mengecup bahunya dengan lembut. Berhasil membuat darah Widuri berdesir menuju jantung dan hatinya.


"Kamu dan anak anak kita adalah hartaku yang paling berharga. Aku hanya punya kalian. Kalau kalian menjauhiku, aku tidak punya siapa siapa lagi" lanjut Haris.


"Pak Haris bisa mencari wanita lain yang rela di madu atau di pegang pegang pantatnya" balas Widuri tak ingin luluh dengan bujuk rayu suaminya itu.


"Aish! masalah pantat lagi" decis Haris melepas pelukannya dari tubuh Widuri. Haris pun mengambil Noah dari gendongan istrinya itu dan meletakkannya di atas tempat tidur.


"Noah main sendiri di sini dulu ya" ucap Haris pada anaknya. Kemudian menarik Widuri masuk ke dalam kamar mandi resort itu.


"Lepasin! ngapain bawa aku ke kamar mandi!." Widuri memberontak, namun itu percuma, Haris sudah berhasil membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Tanpa aba aba pria itu langsung menyerang bibirnya secara brutal, membuat Widuri kewalahan dan meronta ronta sampai Haris melepas ciumannya.


"Aku sayang banget sama kamu, Wid. Aku minta maaf. Jangan marah marah terus, kamu sedang hamil. Nanti bisa berpengaruh sama bayi kita." Haris membingkai wajah Widuri, lalu mengecup ngecup singkat bibir istrinya itu.


Widuri tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena Haris mencium bibirnya lagi.


"Kenapa masih membuatku marah?" bentak Widuri setelah bibirnya lepas dari pagutan pria itu.


Haris mencium bibirnya kembali, membuat Widuri tak bisa marah lagi."Jangan marah terus" ucap Haris setelah melepas ciumannya lagi.


Haris pun merogoh saku celananya dan mengeluarkan isinya, memberikannya ke tangan Widuri." Aku punya kabar gembira untukmu."


Widuri memperhatikan amplop putih yang di letakkan Haris ke tangannya." Apa ini?" tanya Widuri sembari menajamkan pandangannya ke wajah Haris.


"Buka aja" ucap Haris.


Widuri pun langsung membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya, berupa sebuah surat resmi. Setelah membaca isi surat itu, Widuri kembali mengarahkan pandangannya ke wajah Haris yang tersenyum padanya.


"Ini benar?"tanya Widuri, Haris menganggukkan kepalanya.


"Dia Ayah kita, seburuk apa pun dia, dia tetap Ayah kita. Seharusnya dari awal kita belajar dari Kanzo dan Nona Marya. Dan juga seharusnya kita mendengarkan alasannya menusukku, sebelum memasukkan Ayah ke penjara" ucap Haris sambil mengusap usap punggung istrinya itu dari belakang.

__ADS_1


Selain mengurus Bella dan Anita, mantan sekretaris Baim dulu, wanita yang bekerja sama dengan Bella untuk menghancurkan nama baik Marya. Haris juga mengurus Pak Hilman supaya di keluarkan dari penjara. Karena Haris tau, Widuri sangat merindukan Ayahnya itu, meski Widuri tidak mengatakan apa pun padanya. Meski Widuri marah dan kecewa terhadap Pak Hilman.


"Ayo kita jemput Ayah." Widuri melepas tubuhnya dari pelukan Haris tak sabar ingin menemui Ayahnya yang masih di dalam penjara.


"Iya sayang, tapi sekarang ada yang lebih penting dari menjemput Ayah." Haris tersenyum, lalu membingkai wajah istrinya itu. Haris juga menepis cairan bening yang mengalir di pipi Widuri, kemudian mengecup kening istrinya itu dengan sayang."Aku kangen sama kamu, Wid."


Kecupan Haris pun turun, mengecup kedua pipi Widuri, hidungnya dan terakhir bibirnya.


Tentu Widuri juga kangen dengan suaminya itu, meski marah dan kesal selama tiga hari ini.


Karena ada Noah di dalam resort, terpaksa mereka kangen kangenan di dalam kamar mandi.


"Momy! Noah pipis!."


"Aish! anak itu" kesal Haris. Baru saja di mulai kangenannya sudah di ganggu dari luar.


"Momy!"


Karena tak ada suara dari dalam, Noah pun terus memanggil sang Momy. Membuat Haris dan Widuri terpaksa berhenti kangenannya.


"Kenapa dia selalu saja mengganggu kita? Huh!" Haris menghembuskan napasnya kasar, sambil memakai pakaiannya kembali.


"Pak Haris aja yang gak lihat lihat waktu kalau pengen" cibir Widuri, memutar bola matanya malas.


"Momy! pipis Noah udah keluar!."


"Sebentar sayang!" balas Widuri berseru. Setelah selesai merapikan penampilannya, Widuri pun membuka pintu kamar mandi itu. Dan benar saja, Noah sudah pipis di celana.


"Kenapa gak memakaikannya pempers?. Kalau seperti ini kan jadi celananya basah" ujar Haris mengangkat tubuh Noah ke kamar mandi untuk membersihkannya.


"Dia gak mau, katanya dia sudah besar, sudah Abang abang" jawab Widuri. Semenjak Widuri mengatakan kalau sebentar lagi Noah akan punya Adik. Bocah berusia dua Tahun itu mendadak dewasa. Katanya dia sudah besar, gak mau pakai popok lagi.


"Anak Papa, benarkah begitu?. Anak Papa ini udah besar." Meski bau pipis, Haris tetap mencium kedua pipi bocah itu.


"Iya dong Papa, sebentar lagi kan Noah punya Adik" Widuri yang menjawab.


Cup!


Satu kecupan pun mendarat di perut Widuri.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2