Putraku Adalah Mr. Zero

Putraku Adalah Mr. Zero
PAMZ 103


__ADS_3

Entah sudah berapa lama mereka berciuman, seakan waktu berhenti berputar. Rai masih menikmati lembutnya bibir istrinya yang seakan membuatnya tidak mau untuk mengakhirinya.


Bahkan Yuna pun seakan tersihir, Ia sendiri juga tidak tahu kenapa ia begitu menikmati ciuman Rai.


Hingga ponsel Rai pun berdering menyadarkan keduanya akan kelakuan nakal mereka.


Nafas Yuna masih begitu menderu disaat sang suami melepaskan ciumannya itu. Rai pun sebenarnya masih ingin meraup bibir manis Yuna.


Rai meraih ponselnya, Ia melihat satu nama yaitu Celine. Hatinya berkecamuk. Ia ingin mengangkat telepon itu namun Ia juga tidak ingin mengakhiri ciumannya. Terdengar egois memang, Rai sudah memiliki istri, namun dia masih menginginkan wanita lain.


" Tunggulah sebentar, Aku akan mengangkat telepon sebentar," ucap Rai. Ia bermaksud untuk meneruskan ciumannya kembali nanti.


Namun wajah Yuna berubah menjadi masam, saat melihat sekilas dari siapa panggilan itu.


"Tidak usah!, Kau angkatlah telpon dari Celine. Setelah itu kita pulang saja," ucap Yuna datar. Lalu Yuna membuka pintu mobilnya dan beralih ke kursi depan.


Mendengar ucapan Yuna, Rai pun begitu kecewa. Rai pun langsung mengangkat panggilan dari Celine.


"Iya sayang, iya Aku akan langsung pulang ke rumah."


"............."


"Kau jangan marah dong sayang, besok Aku akan menjemputmu."


"............"


" Iya, bye sayang."


Rai langsung menutup panggilan dari Celine. Kemudian iapun segera kembali ke kursi kemudinya.


Yuna mendengar percakapan Rai dengan Celine, entah mengapa ada rasa sedikit sesak yang ia rasakan. Namun Yuna tidak ingin larut dengan perasaannya. ia pun segera mengalihkan pandangannya kearah jendela dan menatap jalanan saat Rai mulai menjalankan mobilnya.


Sepanjang perjalanan tidak ada satu katapun yang terucap dari mulut keduanya. Rai sesekali melirik ke arah Yuna, namun Yuna tak pernah melepaskan pandangannya dari arah jalanan.


Rai sendiri tidak mengerti dengan perasaannya. Ia menginginkan Celine, tapi akhir-akhir ini Ia merasakan kenyamanan saat bersama dengan istrinya.


Hingga mobil mereka pun telah sampai di parkiran apartemen Raiden.


Setelah mobil berhenti, Yuna segera membuka pintu mobil dan langsung berjalan menuju apartemen meninggalkan Rai.


Rai pun tercengang saat Yuna turun lebih dahulu tanpa menunggunya. Lalu Rai segera turun dari mobilnya dan langsung berlari mengejar Yuna.


Namun sejauh apapun ia melangkah, Ia tidak dapat mengejar Yuna. Karena Yuna saat ini sudah berada di kamarnya. Ia menutup dan mengunci pintu kamarnya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja air matanya luruh. " Kenapa Aku?. Tidak!, Aku tidak boleh menyukainya. Yuna berusaha menepis perasaan yang muncul untuk suaminya.


Rai memasuki apartemennya, kini Ia berdiri tepat berada di depan pintu Yuna. Perlahan Rai mulai mengetuk pintu tersebut.


" Yuna, Apa Kau baik-baik saja?," tanya Rai khawatir.


Yuna menghapus air matanya, Ia mendengar ketukan pintu itu, Ia mendengar suaminya bertanya kepadanya. Tapi Yuna enggan untuk menjawab Rai.


"Biarkan saja dia terus mengetuk pintu itu. Aku tetap tidak akan membukanya. Dasar pria mesum brengsek!, Aku membencimu!." umpat Yuna begitu kesal.


Sedangkan Raiden yang tidak mendapat jawaban dari kamar Yuna pun akhirnya berhenti mengetuk pintu kamar istrinya.


"Mungkin Yuna sudah tidur," gumam Rai


Iapun segera memasuki kamarnya yang tepat berada di depan kamar Yuna.


Malam ini turun hujan, begitu deras dan disertai dengan petir yang begitu keras. Membuat wajah cantik sang sedang tidur pulas itupun terbangun.


Yuna menyadari bahwa ternyata saat ini sedang turun hujan. Dan suara petir itu seolah semakin mengeraskan suaranya. Sehingga Yuna dapat mendengarnya.


Yuna menutup telinganya rapat-rapat, lalu ia memejamkan matanya. Yuna begitu ketakutan saat ini.


" Dady, Yuna takut," ucapnya seraya menutupi telinganya dengan erat.


Yuna segera membuka handle pintu kamarnya dan segera keluar dari sana. Ia berniat untuk membangunkan suaminya.


Yuna dengan cepat menggedor pintu kamar Rai. Seluruh kekesalannya seakan hilang termakan ketakutannya.


"Rai,buka pintunya!!," Yuna terus saja menggedor pintu kamar Rai. Namun tidak ada tanda-tanda Rai akan membukakan pintu.


Yuna semakin ketakutan saat mendengar suara petir yang begitu keras. Dan bersamaan dengan itu, listrik apartemen pun padam. Membuat Yuna menjerit ketakutan.


"Aaaaaaa, Rai!!!," teriaknya sambil berjongkok di depan pintu kamar Rai.


Sedangkan Rai saat ini tengah berada di bath room. Ia begitu kesal disaat listrik tiba-tiba padam.


"Shiit!, kenapa listrik ikutan padam!," umpatnya. Lalu Ia segera meraba dinding bath room dan mencari dimana pintu.


Rai mencoba meraba semuanya untuk mencari dimana ponselnya berada. " Ah, ketemu," ucapnya senang.


Rai langsung menyalakan flash di ponselnya itu. Namun samar-samar Ia mendengar suara wanita sedang menangis di depan pintu kamarnya.


Karena penasaran, Rai pun membuka pintu kamarnya itu. Dan saat Rai membuka pintu itu, Ia begitu terkejut saat mendapati Yuna yang sedang menangis berjongkok sambil menutupi telinganya.

__ADS_1


"Yuna" panggil Rai.


Namun Yuna begitu ketakutan, Ia terus menutupi telinganya hingga membuatnya tidak bisa mendengarkan Rai yang sedang memanggilnya.


Rai pun ikut berjongkok, Ia menatap wajah Yuna yang tengah ketakutan saat ini. Rai menyentuh pundak Yuna, membuat Yuna seketika menatap ke arah Rai.


Yuna begitu ketakutan sehingga refleks Ia langsung memeluk Rai. Membuat keduanya hampir saja terjungkal seandainya saja Rai tidak menopang tubuhnya dengan menumpukan tangannya.


"Rai, Aku takut jangan pergi. Jangan tinggalkan aku," racau Yuna seraya memeluk erat tubuh suaminya.


"Tenanglah Yuna, kau bersamaku. Aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Rai berusaha membuat istrinya lebih tenang.


Dan benar saja, Yuna merasa sedikit lebih tenang. Ucapan dan pelukan hangat suaminya membuatnya merasakan ketenangan.


Hingga beberapa saat, Rai merasa pinggangnya mulai sakit karena harus menahan tubuhnya dan Yuna.


" Yuna, bisakah kau melepaskan pelukan mu? pinggangku sudah tidak biasa lagi menopang tubuh kita." ucap Rai.


Yuna pun langsung tersadar dan perlahan melepaskan pelukannya. "Maaf," ucap Yuna canggung.


Mereka pun segera berdiri, namun tiba-tiba saja petir kembali bersuara. Menyebabkan Yuna kembali memeluk tubuh Rai dengan begitu erat.


Senyum tipis tersungging di wajah Rai. "Apa kau begitu menginginkan tubuh ku sehingga kau memelukku berkali-kali Yuna," ucap Rai dengan tawanya.


"Tutup mulutmu itu Rai, kalau bukan karena petir, Aku Ju tidak mau memeluk mu," ucap Yuna Tanpa melepaskan pelukannya.


Yuna harus menahan rasa malunya akibat suara petir yang membuatnya begitu ketakutan.


"Baiklah, baiklah..., lebih baik kau tidur di kamarku saja." tawar Rai.


" Tidak mau, nanti pasti Kau akan berbuat macam-macam padaku. Aku tidak mau!."


"Kau itu terlalu percaya diri Nona. Mana mungkin Aku akan tertarik padamu Yuna. Kau tidak secantik Celine," kilah Rai.


"Cih, tidak tertarik Kau bilang?!. Aku memaklumi yang kita lakukan di hotel waktu itu adalah karena di jebak. Tapi setelah itu kau menciumku 2 kali. Apa kau lupa?!," ucap Yuna mengingatkan.


Dan itu sungguh membuat Rai bingung harus menjawab apa. Rai gelagapan saat akan menjawab ucapan istrinya.


****



Jangan lupa tengokin karya othor yang ini ya 😘😘

__ADS_1


__ADS_2