
"Jangan berbicara sembarangan James, atau Aku akan membunuhmu!," Ancam Vio bersungut kesal. Vio berfikir ucapan James hanyalah bualan saja.
Bukan tanpa alasan, tapi bukankah James adalah penyanyi terkenal?. Vio sempat mencari namanya di internet setelah pertemuannya dengan James.
Dan James juga banyak fans wanitanya, tidak menutupi kemungkinan bila James juga berkata seperti itu pada kebanyakan teman wanitanya ataupun fans wanitanya.
"Aku sangat rela bila kau yang membunuhku Vio." ucap James terus saja tersenyum menatap Vio.
"Dasar gila," ucap Vio dan langsung berdiri seraya membereskan beberapa buku di depannya dan pergi meninggalkan James.
Melihat sang gadis yang berhasil mencuri hatinya hendak pergi, James pun beranjak dari sana dan mengekori Vio di belakangnya.
"Cantik, berikan nomor ponselmu agar Aku bisa menghubungi mu dan mendengar suara indah mu itu," ucap James yang berusaha mengejar langkah kaki Vio.
Vio menghentikan langkahnya dan menatap tajam kearah James.
Namum yang ditatap malah terkekeh melihat wajah Vio yang menurutnya semakin cantik. " Lihatlah wajah mu Vio, semakin Kau marah, Kau semakin cantik," ucap James.
Vio memutar bola matanya, Ia menatap jengah pria yang mengganggunya itu. " Kumohon James, pergilah!. Apa kau tidak lelah terus mengikuti ku?!."
"Aku tidak akan pernah lelah Vio, selama Aku masih bernafas, selama kakiku masih bisa melangkah,maka Aku tidak akan pernah lelah untuk mengikuti mu. Aku tidak akan pernah lelah agar Kau menyambut cintaku," ucap James sungguh-sungguh.
Namun Vio tetap saja hanya menganggap bahwa James hanya membual saja.
"Terserah apa mau mu saja James. Jangan ikuti Aku atau aku tidak akan pernah bicara dengan mu!," ancam Vio, lalu Ia pun meninggalkan James.
"Aku yakin, Aku bisa menaklukkan hati mu cantik," ucap James seraya menatap tubuh Vio yang mulai menjauh.
James hendak kembali ke tempat duduk yang ada di perpustakaan tadi. Ia terus saja tersenyum ketika membayangkan Vio. Hingga tanpa sengaja kakinya hendak menginjak sesuatu.
Senyumannya semakin mengembang saat Ia mengambil dan melihat sesuatu yang hendak Ia injak tadi.
"Bagaimana Aku bisa berhenti mengikuti mu Vio, karena Tuhan saja mendukung ku untuk terus mengikuti mu," ucapnya seraya memasukkan sesuatu itu kedalam tas miliknya.
***
"Violetta, apakah tugas makalah yang kuberikan sudah Kau selesaikan?," tanya sang rektor.
Dengan senyum bangganya, Vio menjawab. "Sudah pak, semua tugas makalah dari bapak sudah selesai ku kerjakan. Dan bapak bisa melihat hasil kemampuan ku," ucap Vio begitu bangga.
Ia segera mencari tugas makalah miliknya diantara tumpukan buku-buku yang Ia bawa itu. Namun Vio tidak dapat menemukan tugas makalah itu.
"Tadi Aku membawanya, tapi kenapa tiba-tiba saja menghilang, Apa aku lupa membawanya?," tanyanya pada dirinya sendiri. Tangannya terus saja mencari, namun tetap saja apa yang dicarinya tidak ketemu.
__ADS_1
"Bagaimana Vio, mana tugas makalah yang kuberikan?!," tanya rektor sekali lagi.
"Sebentar pak," ucap Vio yang mulai panik.
Vio mulai panik, makalah itu sangat penting untuknya. Karena kelulusan semester ini bergantung pada makalah tersebut. Tapi sekarang seakan semesta tidak mendukungnya.
"Permisi pak, saya mau memberikan makalah milik Vio yang terjatuh di perpustakaan tadi," ucap seorang pria tampan yang tidak lain adalah James.
Rektor dan Vio menoleh ke arah pintu masuk tersebut.
"James," ucap Vio tanpa suara. Pandangannya menatap ke arah James yang berjalan menghadap rektor dan menyerahkan tugas makalah miliknya yang Ia kira hilang itu.
Lalu James berjalan keluar dengan pandangan menatap ke arah Vio dengan senyumnya. James bermaksud untuk menunggu Vio diluar.
Setelah beberapa saat, Vio pun keluar. Vio melihat James sedang tersenyum kearahnya. Dengan langkahnya, Vio pun menghampiri James yang menatapnya.
"James, Aku mau mengucapkan terimakasih karena Kau sudah mau mengantarkan makalah ku kepada rektor," ucap Vio pelan.
"Apa?, Aku tidak mendengarnya," ucap James pura-pura tidak mendengar ucapan Vio.
Vio tahu bahwa James hanya pura-pura tidak mendengar ucapannya. "TERIMAKASIH JAMES,"ucap Vio lantang di dekat telinga James, sehingga membuat James sedikit menutupi telinganya.
James lalu berdiri di depan Vio. "Aku sudah membantumu, dan sebagai imbalannya, Aku meminta satu hal darimu," ucap James membuat Vio membola.
"Hei, kenapa Kau malah menuduhku, Aku tidak pernah berbohong. Dan kalau kau tidak percaya, Kau bisa melihat dari cctv perpustakaan Vio," ucap James jujur.
Vio dapat melihat tatapan kejujuran dari mata James. "Baiklah James, Aku percaya padamu. Apa yang Kau minta dariku James?,"tanya Vio mulai melunak.
James tersenyum memikirkan apa yang ia inginkan.
"Karena Kau belum mau menjadi kekasih ku, jadi untuk mengawali semuanya Aku ingin kita berteman Vio," ucap James.
Vio menimang permintaan James. Bukankah tidak ada salahnya jika hanya berteman saja. Lagi pula hubungannya dengan Kai pun juga tidak begitu jelas.
" Baiklah kita berteman James, tapi ingat, hanya teman tidak lebih," celetuk Vio.
"Baiklah, ini lebih baik daripada tidak sama sekali. Tapi aku yakin kau nanti pasti akan jatuh cinta padaku dan mau menerimaku menjadi kekasihmu," ucap James percaya diri.
"James... jangan memulainya."
"Baiklah- baiklah, kalau begitu kita harus merayakan pertemanan kita. Aku akan mentraktir mu makan siang, bagaimana?."
Vio pun menganggukkan kepalanya menyetujuinya. Karena saat ini Ia memang sudah sangat lapar.
__ADS_1
Namun saat sampai di parkiran kampus, Vio terkejut kala melihat Kai yang menyenderkan tubuhnya di samping mobilnya dengan kacamata hitam dengan kedua tangan yang berada di sakunya.
Dan Kai pun dapat melihat Vio yang berjalan beriringan dengan tertawa bersama seorang pria tampan di sampingnya.
Dengan langkah pasti, Kai pun berjalan mendekat ke arah Vio dan James.
"Apa kuliahmu sudah selesai?," tanya Kai menatap ke arah Vio.
Dari raut wajahnya terlihat begitu tenang.
"Paman ini siapa Vio?,"tanya James kearah Vio.
Kini kedua pria tampan sama-sama menatap ke arah Vio.
"James, dia kakakku, dan kak Kai dia adalah James temanku," ucap Vio memperkenalkan keduanya.
Kai kecewa Vio mengenalkan dirinya sebagai kakaknya, namun Ia tidak memperlihatkan raut wajah kecewanya.
Sedangkan James, merasa lega mendengar ucapan Vio yang mengatakan bahwa pria yang terlihat lebih dewasa itu adalah kakaknya.
"James, sepertinya lain kali saja kita makan siang bersama. Kak Kai sudah menjemput ku," ucap Vio, membuat James merasa sedikit kecewa. Namun ponsel James bergetar tanda pesan masuk. James pun langsung membaca pesan tersebut.
Dan itu dari asistennya yang mengatakan bahwa James harus segera berangkat menuju ke konsernya.
"Baiklah Vio, tapi lain kali kita harus makan siang bersama. Mungkin juga bisa bersama kakak juga," Ucap James menatap Kai.
"Maaf anak kecil, tapi aku bukan kakak mu," kata Kai.
"Tapi mungkin sebentar lagi Aku akan menjadi adik iparmu kak," ucap James tersenyum manis menatap Vio. Dan itu membuat Kai tidak suka.
"Apa maksudmu?," tanya Kai.
"Kau tanyakan saja pada adikmu yang cantik ini kak. Maaf kak, Vio tapi aku harus segera pergi. Sampai jumpa kakak, Vio." ucapnya dan segera pergi dari sana.
***
Sepanjang perjalanan, Kai dan Vio tidak mengatakan satu katapun.
Vio berfikir kenapa Kai menjadi diam padanya setelah pertemuan dengan James tadi. Apa mungkin Kai cemburu?, benarkah Kai cemburu pada James?.
"Kak, kenapa kau diam saja sejak tadi. Apa kau tadi cemburu pada James?," tanya Vio memecah keheningan diantara mereka.
***
__ADS_1