
"Kau tidak boleh menjadikan calon istriku kekasihmu!," Sentak seorang pria yang sedari tadi mendengar dengan jelas percakapan keduanya. Dan Ia adalah Kai.
Kai segera menghampiri Vio dan James disana. Sedangkan James dan Vio masih mematung melihat kedatangan Kai dan ucapan Kai yang tiba-tiba.
Sepersekian detik James berdiri dan tertawa terbahak.
"Hei kakak, Kau ini kakaknya Vio, mana mungkin kau menjadi suami Vio. Kau sungguh pandai dalam bergurau kak," ucap James masih dengan tawanya. James berfikir bahwa Kai adalah kakaknya Vio, mengingat waktu itu Vio yang mengatakan bahwa Kai adalah kakaknya.
"Saya bukan kakak Vio. Vio memang memanggil ku kakak karena saya lebih tua darinya." Ucap Kai dan James pun langsung terdiam dan menatap Vio. Mencari kebenaran dalam Apa yang diucapkan oleh Kai.
Namun Vio masih terdiam dan terbengong, Ia masih mencerna ucapan Kai yang mengatakan bahwa Ia adalah calon istrinya. Hingga Ia tidak memperhatikan percakapan antara Kai dan James.
"Vio, benarkah yang dia katakan?," Tanya James.
"A-apa James, Aku tidak mengerti." Ucap Vio yang masih belum menyadari pertanyaan James.
"Apakah benar dia bukan kakak kandungmu?," Tanya James harap-harap cemas.
Mendengar pertanyaan James, Vio menggelengkan kepalanya. Membuat James memijit pelipisnya frustasi.
"Tapi bukankah waktu itu Kau mengatakan bahwa dia adalah kakakmu?."
"Ya waktu itu Aku memang mengatakan bahwa kak Kai adalah kakak ku, tapi aku tidak mengatakan kalau kak Kai kakak kandung ku James."
James pun menepuk keningnya sendiri. "Jadi benar kalau Kau adalah calon istrinya?."
Vio melirik Kai yang saat ini tengah menatapnya, lalu Vio pun menggelengkan kepalanya.
Kai menatap tajam Vio yang sedang menggelengkan kepalanya. Berbeda dengan James yang mengembangkan senyumnya.
"Tuh kan, kakak mengada-ada. Vio saja menggelengkan kepalanya. Itu berarti kakak berbohong kan?," Celetuk James.
Kai pun kesal karena Vio malah menggelengkan kepalanya. Bukankah sebelumnya Vio meminta kejelasan tentang hubungan mereka?. Tapi kenapa sekarang Vio malah menggelengkan kepalanya di depan James tadi saat Kai mengatakan bahwa Vio adalah calon istrinya?.
Ada rasa kecewa saat melihat Vio menggelengkan kepalanya tadi.
Vio sebenarnya masih tidak percaya dengan apa yang Ia dengar tadi. Vio mengira bahwa Kai tidak serius mengatakannya. Kalaupun serius, kenapa Kai tidak pernah mengatakan perasaannya padanya. Bahkan baru kemarin Vio meminta kejelasan tentang hubungan mereka, tapi Kai menyuruhnya untuk menunggu.
Dan sekarang, tiba-tiba saja Kai mengatakan bahwa ia adalah calon istrinya. Ya, mungkin saja kan itu hanyalah selorohan dari Kai, pikir Vio.
__ADS_1
"Sudahlah kak Kai, James, lebih baik kita bergabung dengan yang lainnya saja," usul Vio karena saat ini Ia merasakan kecanggungan di antara mereka berdua.
"Tapi kau belum menjawab pertanyaanku Vio?," ucap James.
"James, bukankah waktu itu aku sudah pernah mengatakan bahwa kita hanya bisa berteman saja." ucap Vio mengingatkan.
"Jadi Kau menolak ku Vi?," tanya James dengan wajah sendu.
"Tentu saja Vio tidak menerimamu menjadi kekasihnya, karena Vio adalah calon istriku," ucap Kai begitu sumringah mendengar Vio menolak cinta James.
"Hey kak, Kau itu sudah tua, jangan mencampuri urusan anak muda seperti kami," ucap James dan mendapatkan pelototan dari Kai.
"Saya adalah pria dewasa, bukan orang tua. Kau yang anak ingusan," ucap Kai penuh penekanan.
"Hei...hei..., kalian ini bertengkar saja. Sudahlah, lebih baik kita bergabung dengan yang lain, ayolah!," ucap Vio dan berjalan mendahului kedua pria itu.
"Aku tidak akan membiarkan pria tua seperti anda mendapatkan Vio. Karena Vio lebih pantas dengan pria yang masih muda seperti ku," ucap James membanggakan diri.
"Jangan pernah bermimpi!," ucap Kai dan langsung mengikuti Vio di belakangnya.
"Aku yakin biasa menaklukkan hati Vio. Kau lihat saja nanti," gumam James.
"Lho sayang, kenapa Kai bisa bersamamu, bukankah tadi kau sedang bersama James?," tanya Nani.
"Tadi saya ke toilet bibi, dan tidak sengaja melihat Vio dan James, jadi saya menghampiri mereka," ucap Kai tersenyum.
Nani dan Ajeng hanya mengangguk-angguk mengerti.
"Lalu di mana James?."
"Saya disini bibi," ucap James yang berjalan mendekat.
"Kau sudah berbicara dengan Vio?," tanya Ajeng. Dan mendapatkan gelengan dari James.
"Belum bibi, tadi saya belum sempat berbicara dengan Vio tapi kakak Kai sudah mengganggu kami," ucap James pura-pura merajuk.
"Hei, pembicaraan kalian itu tidak penting," ucap Kai membuat dahi Vio berkerut.
"Kenapa kak Kai terlihat kesal melihat ku berbicara dengan James?, apa dia cemburu?. Ah Aku tidak ingin salah mengira seperti kemarin-kemarin," ucap Vio dalam hati menepis pemikirannya sendiri.
__ADS_1
"Kai, Kau tidak boleh berbicara seperti itu. Kalau menurut mu tak penting tapi menurut James dan Vio penting. kau harus menghormati pembicaraan seseorang," ucap Nani.
Sementara Vio sedari tadi hanya diam saja.
"Baiklah bibi, kalau begitu saya meminta izin bibi kembali. Bolehkah saya mengajak Vio untuk keluar sebentar?." tanya James meminta izin.
Namun Kai langsung memotongnya. "Tidak boleh!," Sarkas Kai.
"Kakak Kai, Aku meminta izin kepada bibi, kenapa Kau yang malah menjawabnya." sarkas James
"Karena saya mewakili bibi untuk berbicara," ucap Kai terlihat kesal.
Bagaimana tidak kesal, karena sejak kedatangan James, Vio seakan teralihkan kepada James dan seperti melupakannya. Kai tidak ingin perhatian Vio berpaling darinya. Dan lagi, saat Kai mendengar dengan jelas ucapan James yang mengatakan bahwa ingin Vio menjadi kekasihnya, Ia tidak rela.
Egois memang, Vio selalu meminta tentang kejelasan hubungan mereka. Namun Kai selalu menyuruhnya untuk menunggu. Dan bukankah kalian semua tahu bahwa menunggu adalah sesuatu sungguh melelahkan dan menyiksa.
Begitu pula dengan Vio, terkadang ia lelah menunggu sesuatu yang belum pasti. Terkadang rasa ingin menyerah datang bergelut dengan hatinya.
"Kenapa kalian berdebat?, bagaimana Vio, Kau mau pergi dengan James atau Kau bersama Kai?," tanya Nani.
"Aku akan keluar sebentar dengan James bibi," ucap Vio sehingga Kai langsung menatap Vio.
"Maafkan aku kak Kai, tapi memang ada yang harus ku bicarakan dengan James.," ucap Vio dan dia pun segera pergi bersama James.
Kai terpaku di tempatnya, Ia tidak menyangka bahwa Vio akan meninggalkannya dan pergi bersama James si anak ingusan itu.
Pikiran bahwa Vio akan menerima permintaan James untuk menjadi kekasihnya kembali terngiang dalam hatinya. Apakah Vio akan menerima cinta James?, apakah Vio akan meninggalkannya?. Berbagai macam pertanyaan muncul di kepalanya.
"Kai, apa kau baik-baik saja, kenapa kau malah melamun?," tanya Ajeng yang melihat keterdiaman Kai.
"Ah iya bibi, saya baik-baik saja. kalau begitu saya pamit duluan karena ada yang harus saya selesaikan di kantor," ucap Kai.
"Baiklah, terimakasih sudah menyempatkan datang kemari." ucap Ajeng.
"Iya bibi, kalau begitu saya permisi," ucap Kai dan langsung pergi dari sana dengan perasaannya yang bercampur aduk saat ini.
"Menurut mu siapa yang akan dipilih keponakan ku itu Je?," tanya Nani.
"Entahlah Na, semoga Vio mendapatkan pria yang baik." ucap Ajeng dan dianggukki oleh Nani.
__ADS_1
***