
Keesokan harinya, Ars, Raiden dan Trisya menuju ke markas musuh. Raiden juga sudah mengumpulkan kelompok Jonathan.
Sedangkan Ars telah menghubungi pasukan khususnya.
"Hey nak, kau sudah besar sekarang. Sudah lama kau tidak menghubungi kami. Kami sangat menantikan pertarungan seperti saat ini," ucap Alan, kapten pasukan khusus itu.
"Itu karena aku ingin keluar dari dunia gelap itu Paman. Aku tidak ingin membahayakan keluargaku kelak," ucap Ars.
"Tapi Lihatlah Ars, kau tidak akan pernah bisa keluar dari lingkaran dunia gelap Papimu. Kau juga sudah menciptakan alat-alat yang berguna dalam dunia gelap maupun yang lainnya." ucapnya dengan senyum seringai.
"Diamlah Paman, dan lakukan bagianmu!," ucap Ars.
"Sesuai perintah mu Ars," ucapnya terkekeh.
Tak berapa lama pun mereka sampai di markas musuh.
Semua bergerak cepat di pimpin oleh Raiden. Sedangkan Ars seperti biasa, ia mengarahkan mereka untuk masuk kedalam dengan mengawasi dari cctv yang ia retas.
"Paman Alan, cepatlah!, musuh ada di arah jam 2." ucap Ars melalui earphone.
"Baiklah Ars!."
Pasukan khusus itu pun segera mengepung tempat itu. Sedangkan kelompok Raiden, sebagian ikut kedalam. Sebagian lagi berada di luar.
Perkelahian sengit pun terjadi saat musuh menyadari keberadaan mereka. Baku tembak dan hantam tak terelakkan lagi.
Semua itu seperti Dejavu, bedanya saat ini kelompok Raiden dan pasukan Ars lah yang menyerang.
"Rai, hati-hati di belakangmu!," Ars memperingatkan.
Raiden mengerti, ia menundukkan kepalanya saat musuh di belakangnya hendak memukulnya.
Di saat semua saling berkelahi baku hantam dan tembak. Ada seorang yang memakai jubah menembakkan pelurunya kearah pasukan Ars dan Raiden.
Banyak yang sudah tertembak, kini hanya tinggal beberapa saja yang masih bertahan.
Hingga seorang itu membuka jubahnya. Sebuah wajah yang begitu mirip dengan seorang Rudolf.
Dia adalah putra kandung dari Rudolf. Ia pun memanggil seseorang untuk datang membawa beberapa sanderanya yaitu Alex Nani dan Jonathan.
"Lihatlah Putraku, lihatlah wajah orang-orang yang telah membunuh Kakek mu!," ucap Jak.
Pria yang membawa sandera itu tidak lain adalah putra Jak dan Trisya. Jak terus saja menghasut pikiran putranya untuk membalaskan dendamnya pada Jonathan dan Alex.
Alex menatap nanar Jak, ia akan langsung membunuh Jak bila dirinya tidak terikat seperti sekarang ini.
"Jangan dengarkan papamu nak, aku adalah pamanmu." ucap Alex.
"Jangan terperdaya oleh ucapnya Ben, walaupun dia pamanmu, tapi dia sudah bersekongkol dengan namamu untuk membunuh kakekmu!."
"Nak jangan dengarkan Dia!"
"Diam!!, Aku akan membunuhmu!," ucap Ben dingin. Kini ia menodongkan pistol ke arah Alex.
"Bagus Ben, bunuh dia sekarang juga!"
Ben menarik pelatuk pistol tersebut ke arah Alex, namun Nani mendorong tubuh Alex sehingga lengannya tertembak.
"Nani!," teriak Alex.
__ADS_1
"Hahahaha, itu baru Putraku!," ucap Jak.
Sedangkan saat ini Trisya hendak keluar dari mobil saat melihat semua itu dari cctv di laptop Ars.
"Ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi Ars, aku harus kesana!," ucapnya memaksa. Karena Ars melarang Trisya untuk kesana.
"Aunty tenanglah, kita harus menunggu sebentar lagi. Aku merasa seperti ada yang janggal dengan semua itu," ucap Ars.
Entah mengapa Ars merasa ada sesuatu yang janggal.
"Tapi Ars, apa Kau tidak melihat Putraku sudah menembak bibinya. Dia mertua mu Ars, apa kau tidak perduli dengan mertuamu?!."
"Kita tunggu sebentar Aunty."
Trisya pun dengan terpaksa menuruti ucapan Ars. Mereka kini kembali menyaksikan yang terjadi di dalam.
"Ben!,apa yang kau lakukan, Dia ini Bibi mu nak. Dan kau tega menembak nya?!," ucap Alex.
Sedangkan Ben hanya diam tak bergeming. Jonathan yang melihat kejadian di depannya hanya menghembuskan nafasnya jengah melihat sebuah drama tersebut.
"Dasar keluarga drama, dan sekarang aku terpaksa harus mengikuti drama mereka," ucap Jonathan dalam hati.
"Bunuh mereka semua Ben!." ucap Jak kembali.
"Baiklah, aku akan membunuh orang-orang yang sudah membuat ku kehilangan semuanya," ucap Ben dingin.
Jak tertawa puas mendengar ucapan Ben. Namun ia terkejut saat Ben menodongkan pistol padanya.
"Apa yang kau lakukan Ben!," tanya Jak terkejut.
"Bukankah tadi Ben mengatakan akan membunuh orang-orang yang telah membuat keluarga ku hancur?!,Papa," ucap Ben menyeringai.
Namun Ben malah terbahak-bahak mendengar perintah Papanya.
"Aku bukan orang yang bodoh papaku tersayang. Kau pikir aku adalah orang bodoh yang kau jadikan boneka mu dan sesuka hati kau menyuruhku berbuat kejahatan!?. Aku sudah mengumpulkan informasi tentang kejadian lalu. Kau sudah memisahkan seorang anak dari ibunya. Dan sekarang kau menyuruhku untuk membunuh mereka?!. Kau yang seharusnya ku bunuh!."
"Kau!...Aku sudah membiarakan mu hidup selama ini. Aku juga yang merawat mu, dan sekarang kau nenusukku dari belakang. Dasar anak kurang ajar!!," ucapnya marah.
"Kau tidak ingat sudah membuat hidup ibuku menderita,kau adalah pria terbejat yang pernah ku kenal. Dan sayangnya kau adalah Ayah ku. Kau harus membayar semuanya!!"
Ben langsung menarik pelatuknya dan menembak ke arah dada Papanya. Sehingga Jak langsung tumbang.
Dan tepat saat itu juga orang-orang Jak menodongkan senjata kearah Ben.Namun sebagian dari orang-orang itu melindungi Ben. Sehingga kembali terjadi baku tembak disana.
Ben segera melepaskan ikatan di tangan Alex, Nani, dan Jonathan.
"Maaf Paman, aku dan bibi tidak memberitahu rencana kami padamu," ucap Ben seraya melepaskan ikatan Alex.
"Jadi kalian bekerja sama melakukan semua itu. Lalu bagaimana dengan luka tembak bibimu ini?," tanya Alex. Ia tidak menyangka kalau semua ini adalah setingan istri dan keponakannya.
"Ini palsu sayang, lihatlah," ucap Nani memperlihatkan kantung berisi cairan yang mirip dengan darah.
"Hey!, jangan bicara terus, cepat lepaskan ikatan ku!," perintah Jonathan.
"Maaf Paman," ucap Ben terkekeh.
"Ars, lihatlah, Ben Putraku Ars. Dia adalah Putraku," ucap Trisya merasa bahagia. Ternyata putranya adalah orang yang baik.
Sementara itu, Raiden langsung menghampiri Papinya. Kini mereka pun berusaha keluar dari tempat itu. Namun tiba-tiba orang-orang Jak kembali muncul dan menyerang mereka.
__ADS_1
Ars yang melihatnya dari cctv pun memimpin pasukannya dan sebagian orang-orang Papinya untuk menyerang mereka.
dor...dor... dor...
Suara tembakan nyaring terdengar dalam ruangan tersebut. Ars menembaki musuhnya tepat sasaran. Berkat latihan yang diberikan oleh Jonathan dan Alex, Ars pun kini pandai menembak musuh tepat sasaran.
Seketika para musuh pun tumbang, kemenangan kembali berpihak kepada Ars dan keluarganya.
"Papi,Paman, Aunty, kalian tidak apa-apa?," tanya Ars.
"Kami tidak apa-apa Ars. Kau datang tepat waktu." ucap Alex.
"Kalau begitu kita harus keluar dari sini secepatnya."
Mereka semua pun keluar dari sana, namun Ben terdiam saat melihat semuanya keluar dari tempat itu.
Ars menoleh ke belakang saat menyadari Ben hanya terdiam.
"Kau, ada seseorang yang sedang menunggumu di luar.Apa kau tidak ingin ikut dengan kami?," ucap Ars pada Ben.
"Aku, ah baiklah," Ben pun akhirnya mengikuti mereka keluar dari sana.
"Kak Ars, aku dan Papi akan menjemput Mami dulu." ucap Raiden.
"Baiklah, nanti kita bertemu di mansion." ucap Ars dan diangguki oleh Jonathan dan Raiden.
Sementara itu, Trisya keluar dari mobil. Ia ingin memeluk putranya saat ini.
"Ben," panggil Trisya.
Ben pun menoleh ke arah suara. Ia mengerutkan keningnya melihat wanita paruh baya yang sedang menatapnya dengan air mata.
"Siapa Anda, apa saya mengenal Anda?," ucap Ben.
Trisya langsung berlari memeluk sang putra. Ia menangis menumpahkan kerinduan pada putranya yang baru di ketahui nya.
"Nak, ini Mama, aku Mama mu," ucap Trisya menangis, namun ia juga bahagia.
Ben mematung, ia tidak menyangka akan bertemu dengan Mama yang telah melahirkan dirinya. Ia sempat ragu apakah Mamanya mau menerima dirinya karena dia adalah anak dari seorang pria bejat dan jahat.
"Benarkah kau Mama ku?, Ben mempunyai Mama. Apakah Mama mau menerimaku sebagai putramu?," ucapnya ikut menangis dalam pelukan Mamanya.
"Apa yang kau katakan Ben?, kau Putraku dan selamanya akan menjadi Putraku. Jangan pernah berpikir Mama akan membuang mu. Mama sangat menyayangi mu. Andai saja mereka tidak membohongi Mama, pasti Mama akan membawamu ikut bersama Mama," ucap Trisya kembali. Kini ia bahagia bisa berkumpul bersama keluarganya setelah sekian lama.
Alex dan Nani ikut menitihkan air matanya melihat pertemuan anak dan ibu yang telah lama di pisahkan itu.
"Sudah, kalian jangan bersedih lagi. Kita sudah berkumpul sekarang. Lebih baik kita pulang sekarang." ucap Alex. Ia pun memeluk sang Adik yang telah lama tak pernah bertemu.
"Kakak, aku merindukanmu.Semoga sekarang tidak akan ada lagi musuh yang mengganggu keluarga kita," ucap Trisya.
"Baiklah, kalau begitu Paman, Aunty dan Ben, kita harus pulang sekarang. Aku tidak ingin membuat istriku cemas," ucap Ars yang sudah menaiki mobil.
"Istri?, kau sudah menikah Ars?," tanya Alex dan Nani. Mereka terkejut mendengar ucapan Ars.
"Sudahlah Paman, aku akan membicarakannya dalam perjalanan pulang."
Alexa dan Nani pun menuruti ucapan Ars. Mereka semua pun masuk kedalam mobil dan pulang dengan membawa kemenangan.
***
__ADS_1
Selanjutnya tidak akan ada perkelahian, ataupun musuh lagi genks. Kepala othor pusing dibuat pusing nulisnya 😢.