Putraku Adalah Mr. Zero

Putraku Adalah Mr. Zero
PAMZ 112


__ADS_3

Vio hendak memejamkan matanya setelah selesai membersihkan badannya. Seharian beraktivitas membuat tubuhnya sedikit kelelahan.


Namun Ia tidak merasa seperti itu, karena cinta mengalahkan semua rasa lelahnya. Ia merasa bahagia Kai kembali mengajaknya untuk keluar jalan-jalan.


"Sedikit lagi, ya sedikit lagi pasti kak Kai akan jatuh cinta padaku," ucap Vio sebelum memejamkan matanya.


Namun beberapa saat kemudian, ponsel yang Vio letakkan di atas nakas itupun berdering. Sehingga membuatnya kembali membuka matanya dan mengurungkan niatnya untuk tidur.


"Siapa yang menghubungi ku?," Tanyanya pada dirinya sendiri. Lalu iapun segera melihat siapa yang memanggilnya.


" Kak Kai?," Ucapnya dengan senyumnya. Vio pun segera mengangkat panggilan tersebut. Sungguh Ia tidak menyangka Kai akan menghubunginya malam-malam seperti ini.


"Ya kak Kai,ada apa?," Ucapnya saat mengangkat panggilan tersebut.


"Maaf Nona saya hanya ingin memberitahu bahwa pemilik ponsel ini sedang tidak sadarkan diri karena terlalu mabuk. Jadi kami menghubungi nomor terakhir yang ada di log panggilan. Bisakah anda menjemput Tuan yang sedang mabuk ini?," Ucap seseorang dari panggilan sebrang.


"Baiklah saya akan segera kesana, dimanakah tempatnya?."


"D'Monte club Nona."


"Baiklah saya segera kesana." Ucap Vio dan langsung menutup panggilan tersebut.


Vio sungguh terkejut mendengar bahwa Kai kini tengah dalam kondisi mabuk. Bukankah tadi baru saja Kai mengantarnya pulang?.


Vio segera mengambil jaket miliknya dan keluar dari kamarnya. Sebelumnya Ia juga meminta izin kepada Nani untuk pergi keluar diantar supir karena ada kejadian mendesak. Dan Nani pun mengizinkannya.


"Pak tolong ke D'Monte club," ucap Vio pada supir bibinya.


"Baiklah Nona."


Tak berapa lama kemudian, mobil yang ditumpangi Vio sampai di depan D'Monte club. Vio segera bergegas masuk kedalam club tersebut.


Hingar bingar musik dan aroma alkohol menyeruak, membuat Vio menutup hidungnya. Vio melihat bartender di sana dan ingin menanyakan dimana Kai berada.


"Tuan, tadi ada yang menghubungi ku untuk menjemput seorang teman saya yang sedang mabuk dan tidak sadarkan diri. Apa kau tahu dimana dia?," Tanya Vio kepada bartender itu.


"Jadi anda wanita yang saya hubungi tadi?, Saya akan menyuruh Taylor untuk mengantarkan Anda," ucap bartender itu ramah.

__ADS_1


Lalu bartender itu menyuruh pria bernama Taylor untuk mengantarkan Vio ke ruang VVIP yang ada di club tersebut.


Vio terkejut saat melihat tubuh Kai yang tergeletak di kursi panjang ruangan tersebut. Vio pun membawa tubuh Kai dengan di bantu oleh pria bernama Taylor itu menuju mobilnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mu kak sehingga Kau mabuk seperti ini?," Ucap Vio setelah masuk kedalam mobil.


"Pak, kita ke apartemen kak Kai," perintah Vio.


"Baik Nona"


Mobil melaju menuju apartemen Kai. Sesampainya di sana, Vio meminta tolong kepada supir untuk membawa tubuh Kai menuju apartemen Kai.


"Terimakasih pak, Kau boleh menunggu ku di mobil." Titah Vio. Setelah supir itu pergi, Vio segera melepas sepatu Kai yang masih terpakai. Lalu ia pun melepaskan jas Kai dan menyelimuti tubuh Kai.


"Tidurlah kak, semoga besok kau menjadi lebih baik," ucap Vio dan hendak berjalan meninggalkan Kai.


Namun sebuah tangan menarik pergelangan tangan Vio dan menariknya hingga kini Vio berada di atas tubuh Kai. Tangan yang menarik Vio adalah tangan Kai. Dan kini wajah mereka begitu dekat.


Entah sadar atau tidak, mata Kai yang terpejam tiba-tiba saja terbuka dan menatap wajah Vio yang begitu dekat dengannya.


"Kak Kai"


Tanpa babibu Kai tiba-tiba saja mencium bibir Vio hingga membuat Vio terpaku dan membelalakkan matanya terkejut. Ini adalah ciuman pertamanya, dan sudah diambil oleh Kai.


Perlahan Vio memejamkan matanya menikmati setiap detik ciumannya dengan Kai. Vio merasa bahagia, mungkinkah Kai mencintainya?.


Setelah melepaskan ciuman itu keduanya tersenyum saling menempelkan kedua kenig mereka. Mata Kai pun kembali terpejam, namun senyumnya terus terukir di wajahnya.


"Aku mencintaimu Alexa, Aku mencintaimu," ucap Kai dan iapun kembali tertidur.


Deg...


"Apa?, Apa telinga ku tidak salah dengar?. Jadi kak Kai menganggap ku kak Lexa. Dan wanita yang kak Kai cintai selama ini adalah kak Lexa?," Ucapnya dengan air mata yang menetes di pipinya.


Vio segera berdiri, hatinya sakit mendengar sebuah kenyataan itu. "Kenapa harus kak Lexa, Apa kak Lexa mengetahui hal ini?," Gumamnya dan langsung pergi meninggalkan Kai.


Vio berlari, sedetik tadi Ia bahagia karena Kai telah mengambil ciuman pertamanya. Namun sekarang Ia merasa sakit setelah mengetahui yang sebenarnya.

__ADS_1


Mungkinkah Kai mabuk seperti itu karena tak bisa menggapai cintanya?. Banyak pertanyaan yang ada di hati Vio mengenai Kai. Namun apakah Ia akan meneruskan cintanya untuk pria itu?. Entahlah, tidak ada yang tahu tentang isi hati Vio saat ini.


Vio pun akhirnya segera pulang untuk meredam hatinya yang terasa begitu sakit malam ini.


***


Seperti kemarin, Yuna hari ini pun memutuskan untuk mengantarkan makanan siang Rai ke kantornya. Namun ditengah perjalanan ban mobilnya tiba-tiba bocor.


"Nona, bagaimana kalau saya memesankan Anda taksi, sepertinya ini akan lama," ucap sopir yang diutus oleh Rai.


Yuna melihat jam tangannya, dan akhirnya Ia pun menyetujui tawaran dari supirnya.


"Baiklah Paman," ucap Yuna menyetujui.


Yuna pun keluar dari mobilnya dan menunggu di luar. Tak berapa lama kemudian ia menunggu, tiba-tiba saja ada seorang perempuan muda yang menghampirinya.


"Nona Yuna," panggil perempuan muda itu.


Yuna menoleh, namun matanya membola saat melihat wanita tersebut. "Kau!," Ucap Yuna terkejut.


Yuna mulai memundurkan tubuhnya, rasa takut mulai menghantuinya. "Pergi!, Kenapa kau mengikuti ku menjauh lah dariku," teriak Yuna membuat sang supir menoleh kearah Yuna.


"Nona Yuna, tolong maafkan saya dan kakak saya Nona," ucap wanita itu berusaha mendekati Yuna.


Yuna pun terus memundurkan tubuhnya hingga ke jalanan. " Pergi!!," Pekik Yuna.


Dan dari arah samping ada sebuah truk yang melaju dengan cepat. Bunyi klakson truk itu pun terus saja berbunyi, hingga truk itu semakin mendekati tubuh Yuna.


Dan bruuak...


"Aahh..," pekik Yuna.


Sang supir berlari dengan cepat namun tidak dapat menyelamatkan tubuh yang terkapar bersimbah darah itu.


***


Othor tambahin nih, sampai jari-jari othor menjadi kriting. Sampai otak othor pun mengebul 🤕🤕 masih kurang kah??🤧🤧

__ADS_1


__ADS_2