Putraku Adalah Mr. Zero

Putraku Adalah Mr. Zero
PAMZ 39


__ADS_3

Ars dan Alex pun dengan cepat menuju ke tempat dimana Ajeng dibawa.Tak menunggu beberapa lama mobilnya pun sampai disana.Alex memarkirkan mobilnya agak jauh, agar tidak diketahui.


Dapat dilihat dari kejauhan baku tembak, baku hantam tak terelakkan lagi. Kedua kubu sama kuat.


Sedangkan orang-orang Ars masih menunggu komando dari Ars. Mereka masih mengintai pertikaian antara kubu Jonathan dan kubu Harold. Namun beberapa dari mereka berpencar mencari dimana Harold menyembunyikan Ajeng.


"Alex, suruh mereka menyerang sekarang, kita tidak punya banyak waktu!," ucap Ars mulai memberikan perhatian.


"Baiklah Ars!." Alex pun memerintahkan para anggotanya untuk menyerang.


Sedangkan Jonathan masih bergelut memberontak menembak para musuhnya.Dengan Vino yang melindunginya di belakangnya.


"Tuan, sepertinya Harold menambah pasukannya, mereka terlihat sangat banyak. Sepertinya orang-orang kita kalah jumlah." Tutur Vino.


Vino menghadap kebelakang berlawanan arah dengan Jonathan, dia berjalan mundur dan Jonathan berjalan kedepan.Sedangkan punggung mereka dekatkan, sehingga Jonathan menumpas lawan dari depan dan Vino dari belakang.


"Kenapa kau jadi pesimis seperti itu Vin, apa kau meragukan kekuatan kita dan orang-orang kita?!," ucap Jonathan seraya menembakki lawannya di depannya.


Vino terdiam, walaupun ia yakin akan kekuatan kelompoknya, tapi kalau jumlah lawan bertambah dua kali lipat dari kelompoknya. Tetap saja Vino khawatir tidak akan mampu untuk melawannya.


Tapi tunggu, Vino melihat orang-orang yang baru datang malah menembaki para musuhnya. Vino bingung, siapa sebenarnya mereka.


"Tuan jumlah orang-orang yang bertambah justru menembaki para musuh Tuan," ucap Vino.


Jonathan mengernyitkan dahinya."Tetap waspada Vin, kita tidak tahu apakah mereka kawan atau lawan," ucap Jonathan mengingatkan.


"Baik Tuan!."


Jonathan melihat beberapa pintu tak jauh dari sana. Dia yakin bahwa istrinya berada di salah satu pintu tersebut.


"Vin, aku serahkan mereka padamu!, lindungi aku untuk sampai ke pintu didepan sana!," ucap Jonathan.


"Baiklah aku akan melindungimu Tuan!," ucap Vino.


Jonathan segera berlari menuju salah satu pintu disana. Vino melindungi Tuannya dengan menembak musuh yang hendak mendekati Jonathan.


Dan akhirnya Jonathan pun sampai di salah satu pintu tersebut. Tapi sayang, istrinya tidak ada disana.


"Sial!, kemana mereka membawa istriku!," ucap Jonathan kesal.


Sedangkan di sisi lain, Harold sedang mengagumi kecantikan Ajeng. "Beruntung sekali Jonathan memilikimu Baby," ucapnya seraya menyentuh pipi Ajeng.


"Cih, wanita seperti itu kau bilang cantik, apa matamu telah buta?!," cibir Shela.


"Diam kau!, bahkan kau tidak lebih cantik dari pada dia!," bentak Harold.

__ADS_1


Namun Shela hanya memutar bola matanya.


"Lepaskan tangan kotormu brengsek!," pekik Ajeng.Dia pun meludahi Harold, membuat Harold begitu murka dan memberikan satu tamparan keras di pipi Ajeng.


Darah segar keluar di sudut bibir Ajeng akibat kerasnya tamparan Harold, membuat Ajeng mendesis sakit.


"Lihat sayang, aku jadi menamparmu, menurut lah maka aku tidak akan menyakitimu," ucap Harold menyeringai.


Shela pun tersenyum melihat Harold menampar keras pipi Ajeng. Ia merogoh tas kecilnya dan tiba-tiba mengeluarkan sebuah pisau kecil di sana.


"Hary sayang, aku ingin bermain-main sebentar dengannya, bolehkah?!," rengeknya.


"Apa yang ingin kau lakukan, apa kau ingin menyakiti dia?!."


"Tenanglah aku hanya ingin bermain-main saja agar dia mau menurut denganmu," rayunya. Dan Harold pun menyeringai setuju dengan Shela. Dia pun segera menjauh dari Ajeng dan duduk di kursi sudut ruangan itu memperhatikannya.


Shela pun duduk di samping Ajeng, dia menyodorkan pisau kecil itu kewajah Ajeng dan bergerak memainkannya disana. "Hai Ajeng, atau bisa ku panggil istrinya calon suamiku hahahaha," ucapnya tertawa mengerikan.


"Kau!,memang perempuan gila!," pekik Ajeng, namun ia juga ketakutan.


"Ya, kau benar aku memang sudah gila, dan itu karena suamimu itu!. Aku sangat mencintainya dan aku pasti akan mendapatkannya setelah aku menghabisimu," bisiknya ditelinga Ajeng.


"Kau gila!,kau tidak akan pernah mendapatkannya, dia sangat mencintaiku, ucap Ajeng yakin.


" Oh ya, kalau begitu kau lihat ini!,"Shela menunjukkan ponselnya kepada Ajeng dia memutar video mesum dirinya dan Jonathan. Sebenarnya itu adalah Vidio yang sudah ia edit, itu adalah Vidio mesum dirinya dan Harold saat bergelut di atas ranjang.


"Dasar wanita bodoh!," cecar Shela dalam hati.


Dia pun tersenyum puas melihat Ajeng percaya dengan Vidio yang sudah ia edit.


"Apa yang tidak mungkin, suamimu itu tidak mencintaimu. Dia hanya bertanggung jawab karena kau telah mengandung putranya. Dia akan membuang mu kau tahu?!, lalu dia akan menikahiku hahahaha."


Ajeng menangis mendengar ucapan Shela, dia tidak ingin percaya. Namun Shela adalah orang yang pernah sangat dicintai suaminya. Tidak menutup kemungkinan kalau suaminya akan meninggalkannya dan kembali kepada masalalunya. Ya, begitulah Ajeng berfikir.


Shela pun mulai sedikit menekankan pisau itu di wajah Ajeng. Hingga darah segar mengalir di wajahnya.Ajeng merasakan perih di wajahnya, tapi itu tidak sebanding dengan perih di hatinya.


"Hey!,Kau jangan menyakitinya, dia milikku!," teriak Harold saat melihat apa yang dilakukan Shela. Dia pun mulai berdiri hendak menuju Shela.


Namun tiba-tiba Shela tergeletak tak sadarkan diri. Membuat Harold terkejut, tak terkecuali Ajeng.


Sudah bisa ditebak bahwa itu perbuatan siapa, tentu saja itu perbuatan Ars dan jam tangan biusnya.Dan dalam sekejap Ajeng pun tak sadarkan diri.


"Lepaskan wanita itu!," ucap Alex yang keluar dari balik pintu menodongkan pistol kearah Harold. Namun Ars masih disana, dia tidak ingin Maminya melihatnya disana.


"Siapa kau berani melawan ku!," ucap Harold menodongkan pistol kearah Alex.Mereka saling menodongkan senjata.

__ADS_1


"Alex, tolong saya Lex," teriak Ajeng.


"Tenanglah Nona, saya akan menyelamatkan Anda."


Alex menendang tangan Harold sehingga pistol Harold terjatuh terlempar. Alex pun menendang dada Harold sehingga Harold terjatuh kebelakang.


Namun tanpa Alex duga Harold bergerak cepat dan juga menendang tangan Alex sehingga pistol sama-sama terlempar.Dan pertarungan sengit itupun terjadi. Mereka berkelahi dengan tangan kosong.


Disaat pertarungan sengit itu berlangsung tanpa disadari, ada seseorang berbaju hitam muncul di sana melalui celah jendela yang ada di sana. Dia membekap Ajeng sehingga Ajeng tak sadarkan diri. Dengan cepat dia pun membawa tubuh Ajeng dari sana.


Ars pun tidak menyadarinya, karena sedari tadi ia sibuk memperhatikan pertarungan Alex dan Harold.


Alex terjatuh saat Harold mengambil gerakan memutar.Namun Alex terjatuh tak jauh dari pistol yang terlempar tadi. Sehingga dia mengarahkannya pada Harold dan dorr....


Suara tembakan menggema di ruangan itu. "Ahhh...," teriak Harold saat kakinya tertembak.


"Menyerahlah!," ucap Alex yang masih menodongkan pistol kearah Harold. Alex hendak membebaskan Ajeng, namun ia terkejut tidak mendapati Ajeng lagi.


"Ars, dimana Mamimu!," teriak Alex kepada Ars.


Ars melihat kearah Maminya diikat di sebuah kursi tadi.Diapun juga terkejut tidak mendapati Maminya. "Kenapa aku bisa kecolongan," ucap Ars. Dia merutuki dirinya sendiri karena tidak memperhatikan Maminya. Diapun keluar dari tempat persembunyiannya.


Harold yang kesakitan terkejut melihat anak kecil keluar dari balik pintu."Si..siapa kau!,"ucap Harold pada Ars.


Ars mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kalung dari seseorang yang menolongnya waktu itu. Dia pun melemparkan kalung itu kepada Harold.


"Ini dari seseorang yang telah menolong ku, aku tahu kalung ini berkaitan denganmu," ucap Ars dingin.


Harold mematung melihat kalung tersebut.


"Aku tidak akan memaafkanmu karena telah menculik Mami ku," ucapnya kemudian.


"Ars, jendelanya terbuka, aku yakin ada seseorang yang membawa Mamimu. Ayo kita kejar sebelum dia jauh!," ucap Alex diangguki oleh Ars. Mereka pun keluar dari jendela tersebut berusaha mengejar seseorang yang membawa Ajeng.


Tepat disaat Alex dan Ars keluar melalui jendela, Jonathan sampai di ruangan tersebut. Jonathan melihat Harold terduduk menangis memegangi sebuah kalung dengan kaki yang tertembak. Dia juga melihat Shela tergelak tak sadarkan diri.


"Dimana kau sembunyikan istriku hah!," bentak Jonathan pada Harold.


Namun Harold tak menjawab pertanyaan Jonathan, pikirannya masih tertuju pada kalung yang ia pegang.


Tak berapa lama orang-orangnya datang. "Bawa dia dan wanita itu ke markas," suruh Jonathan.


Orang-orangnya segera membawa Harold dan Shela pergi dari sana.


"Kemana kau sayang," ucap Jonathan memegang tali yang mengikat Ajeng tadi. Jonathan yakin ada orang lain yang membawa istrinya pergi dari sana.

__ADS_1


************


Jangan lupa like komen dan votenya ya😘😘😘😘😘


__ADS_2