Putraku Adalah Mr. Zero

Putraku Adalah Mr. Zero
PAMZ 105


__ADS_3

Dan pagi ini pun Yuna kembali terlelap karena merasa sangat lelah setelah melakukan pertempuran panas di pagi hari.


Namun, berbeda sebaliknya dengan Rai. Ia malah tersenyum puas seraya mendekapnya erat dalam pelukannya.


Rai dapat merasakan dengkuran halus dari nafas Yuna, yang Ia pastikan bahwa Yuna saat ini tengah tertidur pulas. Rai pun perlahan melepaskan pelukannya dan memandangi wajah Yuna.


Rai tersenyum samar, tangannya berusaha menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya itu.


Satu kata yang keluar dari mulut Rai saat ini, yaitu "cantik".


Lalu pandangannya beralih pada bibir merah Yuna, hingga membuatnya kembali merasakan bibir manis istrinya itu.


Rai mencuri ciuman disaat sang pemilik bibir itu tengah tertidur. Namun Rai segera melepaskan ciumannya kembali. Ia takut bila tidak dapat menahan has..ratnya kembali. Tubuh Yuna mulai menjadi candu untuknya.


"Shiit... Aku tidak boleh melakukannya lagi, ada anakku di dalam perut Yuna." umpatnya. Lalu Rai segera pergi dari ranjangnya menuju bathroom. Namun sebelumnya Ia mencium perut Yuna dan mengusapnya pelan.


Setelah Rai sudah mandi dan sudah rapi, Ia melihat kearah Yuna yang saat ini masih asik dengan tidurnya. Lalu iapun mengulas senyumnya.


Perlahan Ia mendekati Yuna dan mengecup sekilas keningnya. Setelahnya baru Ia keluar dari kamarnya dan berangkat ke kantornya.


Sepanjang perjalanan, kedua sudut bibir Rai terus terangkat. Kejadian semalam terus terngiang-ngiang di pikirannya saat ini.


Sesampainya di kantor, Rai menyapa seluruh karyawan yang berpapasan dengannya. Hingga membuat karyawannya pun saling berbisik.


Karena sebelumnya Rai tidak akan menyapa karyawannya duluan.


Rai pun langsung memasuki ruangannya. Sudah saatnya kini Ia harus bekerja. Mencari nafkah untuk istrinya dan juga calon anaknya kelak. Rai sungguh merasa geli bila memikirkan hal itu sehingga membuatnya terkekeh.


Dan tepat di saat itu, pintu ruangannya pun terbuka. Ars masuk ke dalam ruangan Rai dengan membawa sebuah dokumen penting. Namun Ars mengerutkan keningnya saat melihat sang adik terus saja tersenyum.


"Apa kau sedang kerasukan?, kenapa kau terus tersenyum Rai?," tanya Ars begitu heran dengan tingkah sang adik.


"Kak Ars tidak perlu tahu, karena aku sedang memikirkan hal yang begitu menggelikan," ucapnya terkekeh.


Ars hanya menggelengkan kepalanya, mungkin Sang adik sedang keseleo otaknya.

__ADS_1


"terserah lah, sekarang tandatangani dokumen ini, aku perlu tanda tangan mu," ucap Ars.


Rai langsung meraih dokumen yang Ars berikan, senyumnya masih saja terbit dari ujung bibirnya.


setelah menandatanganinya, Ars kembali membawa dokumen itu dan keluar dari ruangan Rai dengan terus berfikir kenapa sang adik terus saja tersenyum.


Sedangkan Rai, ia masih saja memikirkan tentang kejadian semalam bersama dengan istrinya. Namun tiba-tiba saja ponselnya pun berdering tanda panggilan masuk dari seorang.


Diraihnya ponselnya yang tergeletak di meja kerjanya, Rai melihat siapa orang yang yang tengah menelponnya.


Satu nama yang tertera yaitu Celine. Rai segera mengangkat panggilan dari Celine. Ia tahu kemarin telah berjanji akan menemui kekasihnya itu. Namun, entah mengapa rasanya ia enggan untuk pergi menemui Celine.


"Maafkan aku Celine, hari ini aku banyak sekali pekerjaan. jadi maafkan aku tidak bisa menemuimu." bohong Rai. Karena hari ini dirinya tidak ada pekerjaan yang begitu penting.


Lalu ia segera menutup ponselnya sebelum Celine marah kepadanya.


baik kembali meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya, ingatannya kembali ke kejadian semalam bersama dengan Yuna.


"Yuna," ucapnya tersenyum.


***


entah mengapa, Yuna begitu menikmati apa yang suaminya lakukan kepadanya. tapi seketika ia teringat akan suaminya yang masih memiliki seorang kekasih. Dan ia juga mengingat tentang perjanjian yang mereka buat saat menikah.


Rasanya hatinya begitu nyeri kalau mengingat semua itu. Mungkin mulai tumbuh rasa tanpa Ia sadari. Yuna pun memutuskan segera bangun dari tempat tidurnya, oh tidak, lebih tepatnya adalah tempat tidur Rai.


Yuna teringat semalam iya tidur di kamar suaminya karena takut dengan petir, melakukan sebuah kegiatan yang membuatnya benar-benar merasakan hal yang yang sulit untuk diungkapkan. Namun Ia juga begitu menikmatinya.


Yuna segera memasuki bathroom yang ada di kamar Rai, Ia memutuskan untuk berendam di sana. Lagipula ia yakin bahwa Rai saat ini sudah berangkat bekerja. Jadi di apartemen itu hanya ada dia Dan mungkin juga pelayan yang biasanya membersihkan apartemen.


Yuna mengisi bathtub dengan air hangat. lalu ia masuk ke dalamnya dan merendam tubuhnya, membuat tubuhnya sedikit lebih rileks.


Ia perlahan memejamkan matanya, hingga tanpa Ia sadari perlahan kesadarannya pun mulai menghilang. Seluruh tubuhnya bahkan kepalanya pun terperosot ke dalam bathtub.


Sedangkan Rai memutuskan untuk pulang lebih cepat. Bagaimana tidak?, setiap karyawan wanita yang Ia temui bahkan setiap wanita wajahnya berubah menjadi sosok istrinya.

__ADS_1


Jadi Rai pun memutuskan untuk kembali pulang, lebih baik saat ini Ia menghabiskan waktu bersama Yuna, pikirnya.


Rai mempercepat langkahnya saat sudah memasuki apartemennya. Rai pun langsung memasuki kamarnya berpikir Yuna masih disana. Namun Yuna tidak ada di sana, hanya ada ranjang kosong yang masih terlihat acak-acakan saja disana.


Rai langsung melangkah keluar dan mencoba untuk membuka pintu kamar Yuna, dan ternyata tidak di kunci. Rai memasuki kamar Yuna mencari keberadaan sang istri. namun kamar Yuna pun kosong.


"Kemana Yuna?," ucap Rai heran karena tidak mendapati sang istri di manapun. Lalu ia kembali melangkahkan kakinya menuju meja makan, Rai pikir Yuna sedang menyantap sarapan saat ini.


Dengan cepat Rai menuju ruang makan, namun tetap saja tidak ada istrinya disana. Yang ada hanya seorang pelayan yang sedang membersihkan dapur disana.


"Ela, apa kau tahu dimana istriku?," tanya Rai.


"Tidak Tuan, sejak pagi tadi, Nona Yuna tidak terlihat keluar dari kamarnya." ucap pelayan itu menundukkan kepalanya.


Rai benar-benar bingung, kemana Yuna pergi?. Iapun memutuskan untuk ke kamarnya kembali dengan langkah gontai.


Rai duduk di pinggir ranjangnya, lalu Ia mengeluarkan ponselnya berniat untuk menelpon Yuna. Namun tidak ada jawaban.


"Kemana kau Yuna!," ucapnya frustasi. Lalu Rai memutuskan untuk mencuci wajahnya ke dalam bathroom.


Rai pun membuka pintu bathroom dan masuk kedalamnya, namun Rai heran saat tirai bathtub tertutup. Lalu ia pun berjalan ke arah bathtub dan membuka tirai tersebut.


Srrek


Rai terkejut melihat pemandangan disana, tubuhnya terpaku untuk sesaat. Lalu kepanikan mulai melanda hatinya, istrinya tengah tenggelam di dalam bathtub saat ini.


Dengan gerakan cepat, Rai mengangkat tubuh Yuna yang lemah itu dan membawanya ke atas ranjang. Rai menyelimuti tubuh Yuna, dilihatnya bibir Yuna yang mulai memucat. Bahkan kini tubuh Yuna menjadi begitu dingin. Jemari tangannya pun terlihat begitu pucat.


Rai mengusap-usap telapak tangan Yuna dengan cepat, suaranya bergetar memanggil nama Yuna. Ketakutan dan kecemasan menggerogoti hatinya saat ini.


Rai memberikan nafas buatan beberapa kali kepada istrinya, namun tidak ada respon dari tubuh Yuna. Rai juga menekan dada Yuna beberapa kali namun tetap sama.


" Yuna, kumohon Yuna jangan menakutiku seperti ini!, bangunlah Yuna kumohon!!," ucapnya seraya terus memberikan nafasnya untuk Yuna.


***

__ADS_1


__ADS_2