
Alex mengerjapkan matanya, perlahan ia mulai terbangun dari tidurnya. Ia pun segera beranjak membersihkan diri menuju kamar mandi.
Setelah dirasa sudah rapi, Alex pun melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Ia hendak menuju meja makan untuk sarapan pagi.
Namun langkahnya terhenti saat melewati kamar istrinya. Alex menatap sejenak pintu kamar Nani, lalu ia kembali melangkahkan kakinya.
Alex duduk menyantap sarapan paginya, tapi ia tidak berselera makan.Ia hanya memakan beberapa suap saja. Ia menunggu Nani yang tak kunjung muncul menyusulnya untuk sarapan.
Alex memikirkan tentang pertengkarannya dengan Nani semalam.
"Mina apakah Nyonya Nani belum sarapan?," tanya Alex kepada pelayan saat ia melihatnya.
Mina berhenti melakukan aktivitasnya kala Tuannya bertanya padanya.
"Maaf Tuan, tapi dari tadi saya belum melihat Nyonya turun. Mungkin Nyonya masih tidur Tuan," ucap Mina. Karena memang sedari tadi Mina tak melihat Nani,sebab tadi Nani pergi mengendap-endap takut kalau Mina mengetahui dirinya pergi, pasti Mina akan memberitahu kepada Alex.
"Yasudah, lanjutkan pekerjaanmu," ucap Alex. Alex pun beranjak dari meja makan dan akan langsung ke kantor. Ia berfikir Nani mungkin masih tidur.
Alex pun segera melajukan mobilnya menuju kantor. Alex tidak tahu bahwa Nani pergi berlibur meninggalkannya.
Sesampainya di kantor, Ajeng sudah menunggu Alex disana. Ia ingin meminta penjelasan kepada Alex karena telah menyakiti hati sahabatnya itu.
"Nona Ajeng?"
"Lex aku ingin berbicara denganmu mengenai kejadian kemarin. Jelaskan padaku kenapa kau bisa berciuman dengan wanita lain yang bukan istrimu di depan umum seperti itu!."
"Maaf Nona tapi itu hanyalah kesalah pahaman saja. Saya tidak pernah mencium Nona Viny. Saya sendiri juga terkejut karena tiba-tiba Nona Viny tiba-tiba melakukan itu pada saya," tutur Alex.
"Biar bagaimanapun kau bersalah Lex, Nani adalah sahabatku. Ia tidak mempunyai keluarga. Dan aku sudah menitipkannya padamu agar kau menjaga dan menyainginya. Aku tahu Nani pasti terluka saat ini.Kalau kau tidak benar-benar mencintainya tolong lepaskan dia Lex. Nani berhak mendapatkan kebahagiaannya sendiri," ucap Ajeng.
Alex membeku, ia tidak bisa membayangkan bila Nani dimiliki pria lain. Ia tidak akan pernah rela bila itu terjadi. Nani hanya miliknya dan akan selalu menjadi miliknya.
"Tidak Nona, saya tidak akan membiarkan siapapun merebut istri saya!," ucap Alex.
Ajeng tersenyum penuh arti, ia senang mendengar jawaban dari Alex. Ia yakin Alex sudah mencintai sahabatnya. Karena sebenarnya Ajeng sudah mengetahui semuanya dari asisten suaminya.
"Kalau begitu kau cepat perbaiki hubunganmu dengan Nani!. Aku pergi dulu Lex," ucap Ajeng Kemudian ia pun meninggalkan kantornya.
Alex masih memikirkan ucapan Ajeng untuk melepaskan Nani. Ia benar-benar tidak akan membiarkan itu terjadi. Alex menuju meja kerjanya. ia melihat jam tangannya yang menunjukkan sudah pukul sembilan pagi.
__ADS_1
Alex melihat meja Nani yang masih kosong. Ia berpikir kenapa Nani belum sampai ke kantor. Alex pun menghubungi ponsel Nani, namun nomor Nani tidak aktif. Dan itu membuatnya kesal. Alex pun melanjutkan pekerjaannya dengan kesal.
Karena merasa sudah siang, Alex benar-benar uring-uringan karena Nani tak kunjung datang.
"Tuan, ini laporan perusahaan bulan ini," ucap seorang karyawannya.
Alex mengerutkan keningnya. "Kely ,kenapa kau yang mengantarkannya padaku?."
" Maaf Tuan, tapi bagian HRD mengatakan bahwa Nona Nani sedang mengambil cuti satu Minggu. Jadi untuk sementara saya yang akan menggantikan pekerjaannya Tuan, "ucap Kely.
" Apa?!,"Alex begitu terkejut. Ia tidak mengetahui mengenai hal ini.
"Baiklah kembalilah bekerja!," ucap Alex.
"Permisi Tuan"
Alex pun langsung meninggalkan ruangannya, ia memutuskan untuk pulang dan menemui istrinya.
Setelah sampainya di mansionnya, Alex segera menuju ke kamar Nani. Ia mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada sahutan.
"Mina...," panggil Alex.
"Ya Tuan"
"Kemana Nyonya?,"Tanya Alex
" Maaf Tuan, tapi dari pagi saya belum melihat Nyonya turun," tutur Mina.
" Baiklah pergilah "
Mina pun pergi dari sana dan melanjutkan pekerjaannya.
Alex membuka handle pintu kamar istrinya itu. Ia merasa khawatir pada Nani mengingat pertengkaran mereka semalam.
Alex melihat kamar Nani kosong, tak ada istrinya disana. Ia pun menuju kamar mandi untuk memastikannya. Namun disana pun kosong.
Alex mengusap wajahnya kasar. Pandangannya tertuju pada lemari pakaian di kamar tersebut.
Alex pun membuka pintu lemari tersebut, Alex lega karena baju Nani masih tertata rapi disana. Tapi tunggu dulu, Alex berfikir kenapa jumlah pakaian di lemari Nani begitu sedikit. Ia juga tidak mendapati koper kecil Nani yang biasanya berada di samping lemari tersebut.
__ADS_1
"Apa dia pergi?!.Tidak.. aku tidak akan membiarkannya pergi," ucap Alex merasa cemas dan takut. Takut bila Nani meninggalkannya. Karena perkataan Ajeng tadi terus terngiang-ngiang di telinganya.
Alex menuju ruang kerjanya, ia berniat untuk melihat cctv di mansionnya. Alex melihat dalam rekaman cctv itu bahwa Nani telah meninggalkan mansion dengan membawa kopernya. Jantungnya berdetak kencang saat melihat Nani membawa kopernya dan pergi dari sana bersama Ken.
"Apakah dia akan benar-benar meninggalkanku bersama pria itu. Tidak.. tidak aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Nani hanya milikku, ya dia hanya milikku," ucap Alex. Ia mulai takut apa yang ada di pikirannya itu terjadi.
Lalu ia berusaha untuk melacak keberadaan Nani. Tapi tetap saja ia tidak bisa menemukannya. Ada seseorang yang menutupi keberadaan Nani. Ya, siapa lagi kalau bukan Ars. Karena dia juga mengetahui semuanya. Dia ingin memberikan pelajaran kepada Alex.
Alex merasa frustasi, ia tidak mengetahui dimana Nani saat ini. Ia menjambak rambutnya merasa marah, kesal dan merasa bersalah. Ia ingin memperbaiki semua hubungannya dengan Nani.
Kini ia terlihat acak-acakan, perasaan takut kehilangan terus menghantuinya.
"Aaahh...Dimana kau Na, kemana aku harus mencarimu. Kenapa kau meninggalkanku dan pergi bersama pria itu," ucap Alex tertunduk.
Tanpa terasa air matanya menetes di sudut matanya. Ia menyesal karena selalu bersikap dingin dengan istrinya itu.
*********
Sedangkan Nani saat ini sedang menikmati liburannya sendirian di sebuah pantai. Karena Ken sedang mengurus pekerjaan yang sangat penting.
"Senangnya aku tidak melihat wajah datar Alex. Aku harus berterimakasih kepada Ken karena sudah mengajakku berlibur ke sini, tapi sayang dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Tapi tidak apalah, untuk sejenak aku bisa melupakan masalahku. Tapi walaupun begitu, kenapa aku malah merasa sangat merindukannya.Oh tidak, ayolah Nani nikmati liburanmu ini," ucap Nani pada dirinya sendiri.
Nani merasa lapar, jadi ia memutuskan untuk pergi ke restoran dekat pantai untuk mengisi perutnya.
Namun ia seperti melihat kedua Paman Ajeng di restoran tersebut. Nani hendak menyapanya, ia pun berjalan mendekati meja Paman Ajeng.
Namun langkahnya terhenti saat ia mendengar percakapan antara mereka.
"Kak, aku tidak akan menundanya lagi.Kita harus cepat-cepat menghabisi anak itu," ucap Romi.
"Ya kita akan melakukannya setelah kita pulang dari sini. Orang-orang itu tidak akan pernah menyangka bahwa kitalah penghianat yang sebenarnya. Kita harus segera menghabisi Ars, cucu kecil kita." Mereka menyeringai licik.
Nani yang mendengar percakapan mereka pun menutup mulutnya. Ia tidak menyangka akan mendengar rencana pembunuhan terhadap Ars. Nani pun perlahan pergi dari sana, ia tidak menyangka kedua Paman Ajeng merencanakan pembunuhan terhadap Ars.
"Tidak, nyawa Ars dalam bahaya, aku akan pulang hari ini. Aku harus memberi tahu Ajeng mengenai hal ini," ucap Nani.
Ia pun menuju hotel tempatnya menginap dan membereskan kopernya.
****************
__ADS_1