
Vio begitu menikmati ciuman hangat yang membuat hatinya berdesir begitu indah. Namun saat Ia menyadari sesuatu, Vio pun berusaha untuk mendorong tubuh kekar di depannya. Hingga terlepaslah ciuman yang begitu memabukkan itu.
Sedangkan Kai merasa ada sesuatu hal yang hilang saat Vio berusaha melepaskan pagutannya.
"Kak Kai, siapa Aku?," Tanya Vio.
Kai mengerutkan keningnya. Bukankah sudah jelas gadis di depannya itu adalah Vio, lalu untuk apa Vio menanyakan siapa dirinya kepadanya?, pikir Kai.
"Kenapa kau bertanya seperti itu Vio?."
"Jadi kak Kai mengenaliku sebagai Vio, dan bukan sebagai kak Lexa?." Tanya Vio penuh harap ingin mendengar jawaban dari Kai.
"Apa maksudmu?, tentu saja Aku mengenalimu. Pertanyaan mu itu sungguh konyol Vio" ucap Kai membeo.
"Aku hanya takut kalau Kau salah mengenali ku seperti waktu itu," ucap Vio lirih.
Kai tidak mengerti akan ucapan Vio. " Waktu itu?"
"Apa kak Kai tidak mengingatnya?."
"Mengingat apa Vio?."
"Waktu kak Kai mabuk di club malam waktu itu. Kak Kai tidak mengingatnya?." Ucap Vio.
Kai mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat ia pergi ke suatu club malam yang mengakibatkan dirinya mabuk dan tidak sadarkan diri.
Tapi yang membuat Kai bingung adalah, saat dirinya terbangun di pagi hari, dirinya sudah berada di apartemennya. Namun Ia sempat menyangka bahwa Alexa lah yang membawanya pulang.
Namun itu sungguh tidak mungkin karena Alexa pasti sedang bersama suaminya. Dan mana mungkin juga suaminya akan mengizinkannya untuk keluar di malam hari.
Dan yang paling menggelikan adalah saat dirinya bermimpi seperti mencium Alexa. Tapi Kai menganggapnya itu hanyalah mimpi.
Tapi sekarang, tiba-tiba saja Vio mengingatkan dirinya akan kejadian waktu dirinya mabuk beberapa hari yang lalu.
"Tunggu Vio, jangan bilang kalau Waktu itu Kau yang membawaku pulang ke apartemen?!," Tanya Kai penuh selidik.
"Ya kak, waktu itu memang Vio yang membawa kakak pulang ke apartemen kakak."
Mendengar jawaban Vio membuat Kai terkejut, pikirannya tertuju pada sebuah mimpinya yang sedang mencium Alexa.
__ADS_1
"A-apa waktu itu Aku berbuat sesuatu yang aneh Vio?."
Vio terdiam menundukkan kepalanya, hatinya tiba-tiba saja menjadi rapuh saat mengingat Kai yang menciumnya dan menganggap dirinya sebagai Alexa waktu itu.
"Apa kak Kai tahu kalau ini adalah ciuman kita yang kedua?."
"Ma-maksud mu, ja-jadi waktu itu..."
"Ya, kak Kai menciumku. Dan kakak tahu?, waktu itu Aku sungguh merasa bahagia karena kak Kai adalah pria pertama yang sudah mencuri ciuman pertama ku. Tapi, seketika Kau menghempaskan hati ku hingga ke titik terendah dalam hidup ku saat kak Kai tidak menyebutkan namaku melainkan nama kak Lexa. Dan itu sungguh sangat menyakitkan kak," ucap Vio dengan mata yang berkaca-kaca.
Kai terpaku, Ia menganggap semua itu hanya sebuah mimpi. Mimpi yang ternyata membuat gadis di depannya itu merasakan sakit hati karenanya.
Ia dapat melihat raut kekecewaan dari wajah Vio. Tangannya mengulur dan mengusap cairan bening dari sudut mata gadis itu.
"Maafkan aku Vio. Aku sungguh tidak menyangka bahwa kau yang datang dan membawaku pulang waktu itu." Ucap Kai sendu.
"Itu karena kak Kai mengira bahwa Aku adalah kak Lexa kan. Kak Kai sangat mencintai kak Lexa sehingga di saat mabuk dan tak sadar pun nama kak Lexa yang ada di bibir dan hati kakak," ucap Vio menumpahkan Apa yang ia pendam di hatinya beberapa hari ini.
Kai langsung merengkuh tubuh Vio dan memeluknya erat. Ia dapat merasakan sakit hati yang Vio rasakan saat ini. Karena dirinya juga pernah berada di posisi yang Vio rasakan sekarang.
"Vio, kumohon maafkan Aku, Aku sungguh tidak tahu kalau itu adalah Kau. Aku berfikir itu hanyalah sebuah mimpi saja. Mungkin waktu itu Aku memang masih terpaku pada satu wanita. Tapi satu hal yang harus kau tahu Vio. Aku tidak ingin kehilanganmu, Aku mau Kau menikah dengan ku," ucap Kai membuat Vio melepaskan pelukannya dan menatap kedalam manik mata Kai.
"Ya, apakah kau bersedia menikah dengan ku Vio?."
"Apa kakak sudah mencintaiku?."
Kai terdiam sejenak, Ia belum tahu apakah yang Ia rasakan kepada Vio adalah perasaan cinta. Tapi yang jelas Ia tidak ingin kehilangan gadis manis di depannya itu.
"Ya, Aku mencintaimu," ucap Kai sedikit ragu.
Mendengar penuturan dari Kai membuat Vio sungguh merasakan suatu kebahagiaan yang membuncah di hatinya. Akhirnya pria yang Ia cintai membalas cintanya.
Vio pun menganggukkan kepalanya pertanda bahwa ia menyetujui ajakan Kai untuk menikah dengannya.
Kai yang melihat Vio menganggukkan kepalanya pun merasakan sesuatu yang begitu lega. Karena Vio memilihnya, bukan James si artis itu.
Kai kembali memeluk tubuh Vio kedalam pelukannya, keduanya merasakan kebahagiaan yang begitu indah malam ini.
"Terimakasih Vio, terimakasih sudah mau menerimaku, terimakasih sudah mau menungguku, dan terimakasih karena sudah memilihku," ucap Kai bahagia.
__ADS_1
Dan disaat mereka tengah saling berpelukan, tiba-tiba saja suara bariton mengagetkan keduanya.
"Apa yang kalian lakukan dimalam seperti ini?!."
Keduanya menoleh ke arah suara, disana sudah ada Alex yang menatap keduanya dengan tatapan yang begitu tajam.
"Paman"
"Vio, masuk kedalam!," Perintah sang paman begitu penuh intrupsi.
"Tapi paman kami..."
'"Vio!."
"Baiklah Paman," ucap Vio dan langsung masuk ke dalam mansion dengan tak semangat.
"Kai, Aku mendengar semua ucapan mu tadi bersama Vio. Apakah kau benar-benar serius dengan hubungan kalian?." Tanya Alex datar.
"Saya serius paman," ucap Kai.
"Kau tahu Kai, Vio adalah keponakanku dan sudah ku anggap seperti putriku sendiri. Aku juga tahu bahwa kau mencintai putriku Alexa sebelumnya." Ucap Alex dan membuat Kai begitu terkejut.
"Maksud paman"
"Ya, Aku mengetahui semuanya. Aku tidak ingin kau menikahi keponakan ku karena hanya sebagai pelampiasan saja. Lebih baik kau pikirkan baik-baik lagi." Ucap Alex dan langsung masuk ke dalam mansionnya. Meninggalkan Kai yang masih terdiam.
Tapi Kai sudah bertekad untuk melamar Vio, Ia tidak ingin lagi kehilangan Vio seperti dirinya yang kehilangan Alexa.
Kai langsung meninggalkan mansion Alex menuju ke mobilnya. Sebelum menjalankan mobilnya, Kai mengambil ponselnya dan melihat sebuah nama yang membuatnya tersenyum. Lalu iapun segera menelepon seseorang itu.
Sedangkan Vio yang saat ini berada dalam kamarnya sedang mondar mandir merasa cemas dengan Kai. Pamannya terlihat marah tadi, dan itu sungguh membuat Vio gelisah.
Namun tiba-tiba saja ponselnya berdering, Vio segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya.
Melihat siapa yang menelponnya, Vio segera mengangkat panggilan tersebut.
"Kak, Apa kakak baik-baik saja, paman tidak melakukan sesuatu pada kakak kan?," tanya Vio cemas.
"Kau terlalu berfikir macam-macam Vio. Aku tidak apa-apa, mungkin paman Alex masih ragu padaku. Tapi Kau tenanglah, Aku akan membujuknya untuk merestui kita. Sekarang tidurlah cantik, dan mimpikan Aku," ucap Kai.
__ADS_1
***