Putraku Adalah Mr. Zero

Putraku Adalah Mr. Zero
PAMZ 113


__ADS_3

Rai segera bergegas menuju ke rumah sakit saat mendapat telepon dari supirnya bahwa istrinya mengalami kecelakaan.


Dibelakang mobilnya ada mobil Ars dan Kai yang mengikuti mobil Raiden. Sebab, saat Rai mendapat telepon dari supirnya, mereka sedang meeting.


Rai terus saja menambah kecepatan mobilnya, pikirannya begitu kalut saat ini. Sebagian hatinya mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Namun ucapan sang supir saat menyebut nama istrinya membuat hatinya menjadi gelisah. Perasaan takut akan kehilangan Yuna terus saja menari-nari indah dalam bayangan buruknya.


Sampai di rumah sakit yang sempat supirnya katakan tadi dalam panggilan telepon. Rai segera berlari, ingin rasanya ia segera melihat dimana Yuna sekarang. Namun Ia belum tahu dimana istrinya dirawat, dan mengharuskannya untuk bertanya kepada suster yang bertugas di depan pintu masuk rumah sakit itu.


"Suster, dimana istriku dirawat?!," Ucap Rai dengan nafas yang masih ngos-ngosan karena terus saja berlari.


"Maaf tuan, pasien atas nama siapa?."


"Yuna suster, Kim Yuna. Dia korban kecelakaan siang ini dan dilarikan ke rumah sakit ini!."


"Baiklah saya akan memeriksanya." Suster itu segera mencari nama pasien. Setelah menemukan nama Yuna, suster pun segera memberitahukan dimana Yuna berada.


Dengan langkah cepat, Rai kembali berlari mencari ruangan dimana istrinya saat ini.


Dari arah belakang, Ars dan Kai melihat selulit tubuh Rai yang berlari setelah berbicara dengan suster penjaga itu. Kedua pria itu pun mencoba untuk mengikuti Rai.


Kini sampailah Rai di ruangan tempat pasien kecelakaan tadi siang. "Dokter, dimana istri saya," tanyanya saat melihat sang dokter yang kini tengah menutup seluruh tubuh pasiennya. Dokter itu menundukkan kepalanya dan meminta maaf kepada Rai.


" Maafkan kami Tuan, kami sudah berusaha sebisa mungkin, namun Tuhan berkehendak lain," ucap dokter itu sehingga membuat tubuh Rai mematung.


"Dokter jangan bercanda, Yuna ku tidak mungkin meninggalkan ku. Tidak!, Ini tidak mungkin!," Ucap Rai dengan mengguncang tubuh sang dokter.


Sedangkan dari arah belakang, Ars dan Kai pun menghampiri Rai yang mulai hilang kendali.


"Rai, hentikan sikapmu yang seperti ini. Lihatlah Yuna menunggu mu." Ucap Ars berusaha menyadarkan Rai yang hendak menyakiti sang dokter.


Sedangkan Kai mematung melihat sebujur tubuh yang sudah tidak bernyawa di atas bangkar yang tertutupi oleh seutas kain tersebut.

__ADS_1


Rai menghampiri tubuh Yuna yang terbaring kaku itu. Air matanya mengalir, belum sempat Ia mengatakan kata cinta untuk Yuna nya. Kini Ia harus dihadapkan dengan kenyataan pahit yang membuatnya seakan menyesali semuanya.


Rai menyesal tidak mengatakan bahwa ia sangat mencintai Yuna. Dan kini penyesalannya tidak berujung, karena Yuna nya telah meninggalkan dirinya.


Rai terus saja menangisi tubuh istrinya itu, tangannya tidak sanggup untuk membuka kain yang menutupi wajah Yuna. Ia tidak akan pernah sanggup menatapnya.


"Yuna... Yuna ku Aku tidak pernah menyangka bahwa kau akan meninggalkan ku. Kau tahu sayang?, Aku sangat mencintaimu, sangat sangat mencintaimu. Dan bodohnya aku tidak mampu mengatakannya saat berhadapan denganmu." Rai tertunduk. Air matanya terus saja mengalir.


Kai pun sama halnya dengan Rai, Ia tidak menyangka saudaranya yang lahir beberapa menit setelahnya pergi meninggalkannya secepat ini.


Ars pun tak kuasa melihat sang adik yang terlihat begitu menyedihkan saat ini.


"Apa yang kau lakukan di sini Rai?." Tanya Denis saat melihat Rai menangis.


Rai seketika menoleh kearah Denis. Raut wajahnya begitu berantakan. Rasa kehilangan akan istrinya membuatnya tak terkendali.


Rai menghampiri Denis dan mencengkeram kerah Denis dan menatapnya nyalang. " Kau!, Kenapa kau tidak menyelamatkan istri dan anakku huh?!. Kenapa kau membiarkannya pergi meninggalkan ku?!. Oh.. Aku tahu Kau tidak rela kan kalau Aku dan Yuna ku bersama karena Kau juga mencintainya kan. Kau tidak mau menyelamatkan istri ku karena Kau tidak rela. Katakan huh!!."


"Apa yang Kau katakan Rai?, Tenangkan hati mu. Istri mu tengah menunggumu saat ini. Apa yang Kau lakukan di sini?."


"Apa maksudmu Denis!!."


"Bukalah matamu dan lihatlah siapa yang Kau tangisi itu!," Ucap Denis tidak habis pikir dengan geleng-geleng kepala melihat temannya itu.


Mendengar ucapan dokter Denis, Kai yang berada tak jauh dari jenazah yang mereka yakini adalah Yuna, segera membuka kain yang menutupi jenazah tersebut.


Kai bernafas lega melihat jenazah wanita itu ternyata bukan sang Adik. Lalu ia kembali menutupi wajah jenazah tersebut.


"Dia bukan Yuna Rai. Aku mengenal wanita ini, tapi dia bukan Yuna," ucap Kai memberi tahu Rai.


Ars pun merasa lega mendengar penuturan Denis dan Kai.

__ADS_1


Perlahan Rai mulai melepaskan cengkeramannya pada kerah Denis. Rasa lega merasuki tubuhnya seiring kata-kata Kai yang mulai menelisik ke pendengarannya.


Kini Rai tidak ingin menundanya lagi, Ia akan mengungkapkan perasaannya pada Yuna. " Tunjukkan dimana istriku Denis." Ucapnya akhirnya.


"Mari ikuti Aku," ucap Denis. Dan ketiga pria itu pun segera mengikuti Denis untuk bertemu dengan Yuna.


Dan disinilah mereka saat ini. Di depan sebuah ruangan yang Denis tunjukkan bahwa itu adalah ruangan dimana Yuna tengah dirawat.


Saat menuju ruang rawat Yuna, Denis menjelaskan bahwa Yuna dan bayinya baik-baik saja. Hanya saja Yuna mengalami syok yang luar biasa saat ini. Karena tadi Yuna sempat histeris sebelum dirinya tak sadarkan diri.


"Masuklah, Yuna pasti menunggumu." Ucap Denis dan segera pergi dari sana.


Rai pun memasuki kamar rawat Yuna, sedangkan Ars dan Kai menunggu di luar ruangan itu.


Kai segera menghubungi Dadynya, begitu juga dengan Ars. Ars menghubungi keluarganya bahwa saat ini Yuna tengah dirawat di rumah sakit.


Rai merasa lega dapat melihat tubuh sang istri yang saat ini masih bernafas. Bahkan bayinya pun juga selamat. Rai sungguh mengucapkan syukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan untuk membuat Yuna nya bahagia.


Rai menyentuh tangan Yuna, menggenggamnya dan mengecupnya berkali-kali.


" Yuna, Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu," ucapnya seraya terus menciumi tangan Yuna.


"Rai...," Ucap Yuna yang mulai tersadar.


"Yuna sayang, Kau sudah sadar?." Ucap Rai begitu lega.


"Apa tadi aku bermimpi kalau Kau mengatakan bahwa kau mencintaiku Rai?." Ucap Yuna lemah.


" Tidak, Kau tidak bermimpi. Akan ku katakan sekali lagi Yuna. Aku sangat mencintaimu Yuna, dan aku tidak akan pernah melepaskanmu," ucap Rai penuh kemantapan.


Membuat kedua mata indah Yuna mengeluarkan likuid bening. Ya, Yuna sungguh merasa bahagia saat ini, hingga likuid bening itu lolos membasahi pipinya.

__ADS_1


***


__ADS_2