
Setelah kejadian tadi, Yuna dan Rai memakan kotak bekal yang Yuna bawa dari rumah. Rai terus saja menatap wajah cantik Yuna yang tengah asik memakan makanan dari suapannya.
Tadinya Yuna menolak untuk memakannya, namun Rai terus saja memaksa Yuna untuk makan bersamanya.
"Rai, aku sudah kenyang," ucap Yuna. Karena saat ini perutnya merasa bergejolak. Rasa mual mulai melandanya.
"Tapi Kau baru memakannya sedikit Yuna. Bagaimana nanti kalau anakku kelaparan?."
"Tapi Rai....uwek...uwek...," Yuna segera berlari menuju kamar mandi di ruangan itu.
"Yuna Kau kenapa?," Ucap Rai dan langsung mengikuti Yuna.
Yuna memuntahkan isi perutnya kedalam wastafel, wajahnya terlihat pucat menahan rasa mual yang menderanya.
Sedangkan Rai langsung mendekati Yuna dan memijit tengkuk istrinya agar merasa lebih baik.
"Jangan mendekat Rai pergilah, Apa Kau tidak jijik?." Ucap Yuna sedikit lemas.
"Tidak, Kau itu sedang mengandung anakku, jadi Aku harus selalu menjagamu." Ucap Rai lembut.
Yuna kembali memuntahkan isi perutnya kembali. Hingga kini tubuhnya terasa begitu lemas.
"Apa sudah merasa lebih baik?," Tanya Rai dan dianggukki oleh Yuna.
Rai langsung mengangkat tubuh Yuna dan membawanya menuju ruang istirahatnya.
"Rai Aku bisa jalan sendiri," ucap Yuna seraya menyembunyikan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Lihatlah kau begitu pucat Yuna, lebih baik Kau istirahat, Aku akan menemanimu," ucap Rai membawa tubuh istrinya menuju ruang istirahat yang ada di ruangannya.
Rai meletakkan tubuh Yuna dengan hati-hati. "Apa Kau menginginkan sesuatu?, aku akan menyuruh OB untuk membawakannya untukmu," tanya Rai.
Yuna menggelengkan kepalanya. "Aku mau istirahat saja Rai."
Rai tersenyum, lalu ia mulai membaringkan tubuhnya di samping Yuna dan memegang tangan istrinya.
"Ke-kenapa Kau ikut berbaring Rai?," Tanya Yuna terkejut.
"Bukankah tadi Aku sudah mengatakan bahwa Aku akan menemanimu. Lagi pula aku sudah menyuruh kak Ars menghandle semua pekerjaan. Jadi aku bisa menemanimu di sini," ucapnya seraya menarik Yuna kedalam pelukannya.
"Rai aku mencintaimu, semua sikapmu ini sungguh membuat ku begitu bahagia. Tapi apakah kau juga mencintaiku Rai. Ataukah hanya Aku saja yang merasakan cinta ini?." Ucap Yuna dalam hati.
Sungguh, Yuna begitu merasakan kenyamanan dan kehangatan saat suaminya memeluknya. Hingga perlahan matanya mulai terpejam. Pelukan Rai membuatnya terbuai menuju alam mimpi.
__ADS_1
Sedangkan Rai terus saja mengecup kepala Yuna berkali-kali. Dalam hati Rai begitu menyesali dirinya dulu yang selalu memakai Yuna.
Namun kini, ia tidak rela bila ada seseorang yang menghina sang istri, apalagi menyakitinya. Hatinya pun akan merasa sakit bila melihatnya.
"Yuna, Aku tidak mau kehilanganmu. Kau telah berhasil mengobrak-abrik hatiku. Kau tahu?, Melihat pria lain mengatakan cinta padamu benar-benar membuatku naik darah. Melihat mu menangis membuatku sakit, sungguh ini adalah perasaan yang begitu rumit yang pernah kurasakan. Dan anehnya hanya padamu Aku merasakan semua itu. Apakah ini yang disebut cinta?, Entahlah Aku tidak tahu Yuna." Gumam Rai. Lalu ia pun menyusul istrinya terlelap dalam tidurnya.
Sedangkan disisi lain saat ini Vio dan Kai sedang duduk di antara banyaknya orang-orang yang sedang melihat sebuah layar besar di depannya.
Ya, saat ini mereka sedang nonton di bioskop. Kai ingin mencoba membuka hatinya untuk gadis disampingnya. Walaupun perasaannya untuk Alexa belum sepenuhnya hilang dari hatinya, tapi Kai akan berusaha untuk melepaskan semua rasa cintanya kepada Alexa.
Dan pilihannya berhenti pada gadis disampingnya yang saat ini tengah mencengkeram lengannya karena merasa tegang sekaligus ketakutan saat melihat film horor yang ada di depannya.
Kai terkikik geli saat melihat ekspresi wajah Vio yang begitu berubah-ubah saat melihat beberapa adegan di film yang Ia lihat.
Dan beberapa saat kemudian filmnya pun akhirnya selesai. Vio mengelus dadanya lega karena film horor itupun akhirnya berakhir.
"Kak Kai, Apa Kau melihatnya tadi saat adegan pembunuhan yang dilakukan oleh kekasihnya saat mengetahui kejadian yang sebenarnya?, Itu sungguh mengerikan." Ucap Vio kembali membayangkan saat adegan dalam film tersebut.
"Aku senang Kau menikmati acara nontonmu Vio. Kau tahu?, Kau begitu menggemaskan saat wajahmu mengeluarkan ekspresi yang berbeda-beda," ucap Kai terkekeh.
"Jadi dari tadi kak Kai tidak melihat filmnya?, Kau malah sibuk melihat wajahku?," Tanya Vio dengan wajah memerah karena malu.
Kai menggelengkan kepalanya, Hingga membuat Vio mencubit pelan lengan Kai.
"Ampun kak, sudah kak. Vio tidak akan nakal lagi," ucap Vio masih terbahak karena Kai belum berhenti.
"Permisi Tuan, Nona kami akan membersihkan tempat ini. Silahkan kalian berpacaran di tempat lain," ucap petugas kebersihan yang akan membersihkan ruangan itu.
Sejak lampu di nyalakan dan orang-orang mulai keluar, Vio dan Kai masih disana. Sedangkan sedari tadi petugas kebersihan itu hendak membersihkan tempat itu dan menunggu mereka sejenak. Namun yang ditunggu malah tak kunjung keluar dari sana.
Kai dan Vio segera berdiri. "Maafkan kami pak, kami akan pergi dan berpacaran di tempat lain," ucap Kai menahan tawanya. Entah mengapa Ia sangat menyukai saat melihat wajah Vio yang bersemu merah.
Mata Vio membola menatap Kai. Ucapan Kai benar-benar membuat wajahnya memerah.
Mereka pun segera keluar dari sana dengan Kai yang menggandeng tangan Vio. Seakan-akan mereka benar-benar pasangan kekasih.
Sampai di luar Vio segera melepaskan tangan Kai. "Kenapa kak Kai mengatakan kita akan berpacaran di tempat lain kepada mereka kak?. Mereka kan jadi berfikir kalau kita itu pacaran." Ucap Vio mengerucutkan bibirnya.
"Apakah kau tidak mau menjadi pacar ku?," Goda Kai. Dan itu membuat pipi Vio pun kembali bersemu.
"Ma-maksud kak Kai?."
"Sudahlah Vio, ayo Aku akan mengantarkan mu pulang. Aku tidak mau aunty Nani memarahiku karena terlalu malam mengantarmu," ucap Kai kemudian.
__ADS_1
Sungguh, ucapan Kai yang menggantung barusan membuat Vio bertanya-tanya mengenai bagaimana sebenarnya perasaan Kai kepadanya.
***
Yuna mulai terbangun dari tidurnya, ia menatap ke sekeliling dan menyadari bahwa saat ini Ia sudah berada di kamarnya dan Rai.
"Kenapa Aku bisa berada di sini, bukankah tadi Aku berada di kantor Rai?," ucapnya seraya menyibakkan selimutnya.
"Kau sudah bangun Yuna?," tanya Rai yang baru saja keluar dari bathroom.
"Kenapa Aku bisa berada di sini Rai?, siapa yang memindahkan ku kemari?."
"Siapa lagi, tentu saja suamimu ini yang sudah menggendong mu. Dan Kau terlihat seperti bayi saat sedang tertidur." ucap Rai terkekeh.
Namun Yuna malah mematung. " A-apa Rai?, apa para karyawan melihat Kau sedang menggendong ku tadi?," tanya Yuna.
"Ya, mereka melihatnya. Ada apa Yuna," ucap Rai mengerutkan keningnya.
"Bagaimana kalau mereka tahu itu Aku Rai. Aku malu sekali."
"Apa?, jadi Kau malu kalau mereka tahu bahwa Aku adalah suamimu?."
"Bukan begitu Rai, hanya saja Kau itu tampan dan banyak karyawan yang menyukaimu. Mereka juga sangat cantik," ucap Yuna menundukkan kepalanya.
Rai berjalan mendekati Yuna, lalu Ia menaikkan dagu istrinya agar menatapnya. " Apa kau tidak sadar bahwa kau juga cantik Yuna," ucapnya seraya mengecup lembut bibir merah Yuna.
Yuna tersipu mendapatkan kecupan lembut dari suaminya.
"Apa kau mencintaiku Rai?," tanya Yuna pada akhirnya. Yuna ingin mendapatkan kepastian dari Rai.
"A-aku tidak tahu Yuna, Aku akan mengambilkan makan malam untuk mu," ucap Rai tergagap saat mendapat pertanyaan dari Yuna.
Dengan cepat Rai pun keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk mengambil makan malam untuk istrinya.
Yuna kecewa dengan jawaban Rai. "Apakah hanya Aku yang mencintaimu Rai?," gumamnya.
Sedangkan saat ini Rai berusaha untuk menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Ia merutuki dirinya yang tak mampu mengatakan bahwa ia mencintai Yuna. Ya, Rai sudah menyadari perasaannya pada Yuna. Namun kata itu sungguh sangat sulit untuk Ia ucapkan.
***
Masih dalam suasana hati yang rumit gengks. Entahlah, otak sama hati othor lagi gak sinkron 😥😥
Happy reading...
__ADS_1